
Di kantor Bryan duduk melamun,layar laptopnya masih menyala tapi pikiran nya entah kemana. Sejak memutuskan menikahi Jeny ia merasa ada yang aneh. Ia merasa tak nyaman berada di dekat istrinya itu,itulah mengapa ia terus menghindari wanita itu. Ia sadar akan sikap dingin nya pada Jeny tapi dia harus apa jika hatinya tak pernah menginginkan semua ini.
"Sayang...." Sapa seorang wanita yang membuat Bryan tersadar dari lamunannya.
Ia menoleh ke arah sumber suara ,dengan tatapan penuh cinta ia lalu menarik wanita itu duduk di pangkuannya,sembari memeluknya dari belakang .
Sang wanita hanya diam saja membiarkan Bryan meraba tubuhnya,ia hanya tersenyum sembari mencium bibir sang kekasih.
"Aku lelah,sayang...aku sudah tidak bisa seperti ini terus." Ujar Bryan mengeluarkan keresahan hatinya.
Wanita itu hanya tersenyum sembari kembali mencium bibir Bryan yang Kali ini tak di lepas Bryan begitu saja. Bryan menekan tengkuk sang wanita lalu membalas ciuman wanita itu, sejenak mereka tenggelam dalam api cinta yang begitu membara.
" apa karena wanita itu?" Tanya sang wanita setelah melepas kecupan bibirnya dari bibir Bryan.
Bryan hanya mengangguk pelan sebagai jawaban,ia memang tak pernah menginginkan pernikahan ini,dan ia pun sama sekali tidak tertarik pada Jeny sedari awal,hanya karena sebuah janji dan perjodohan amanat sang kakek sebelum meninggal yang membuatnya terpaksa menjadikan Jeny sebagai istrinya. Sedangkan dia sendiri telah memiliki kekasih,wanita yang sangat di cintainya selama tiga tahun ini.
" Aku tidak betah berada dirumah sekarang,Mon...setiap melihat wajahnya entah mengapa aku justru merasa tidak nyaman ."
"Aku pun sama,sayang..tapi kita bisa apa,jika tidak menepati amanat opa maka kamu akan kehilangan semua harta warisan itu,dan aku tidak mau kamu kehilangan semua itu setelah kamu bekerja keras untuk mengembangkannya sampai seperti saat ini."
Bryan menghela nafas berat,ia lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Mona beranjak dari pangkuan Bryan,ia lalu berdiri menghadap kearah Bryan sembari melingkarkan kedua tangannya di leher Bryan.
" Kita tunggu sampai setahun ini,bukankah setelah setahun pernikahan kalian,maka semua harta warisan itu akan jatuh ke tanganmu."
__ADS_1
" Ya memang seperti itu,tapi setahun itu lama sayang,sehari saja aku bersama nya membuatku tidak betah apalagi jika harus menunggu setahun." Keluh Bryan dengan wajah tak bersemangat.
Mona hanya tersenyum tipis melihat sikap Bryan dan ini ia semakin yakin untuk tidak khawatir akan posisinya di hati Bryan setelah mendengar penuturan Bryan secara langsung.
Dirumah aku baru saja selesai membuat kue dan memasukkannya ke dalam lemari es, nantinya kue itu akan ia sajikan setelah makan malam.
"Sudah selesai sayang." Ucap Bu Ratna ibu mertua ku yang baru saja berpapasan dengan Jeny diruang tengah.
"Sudah Ma." Jawab ku sembari menghentikan langkah kaki sat berpapasan dengan ibu mertua.
"Jeny,ke atas dulu Ma,mau bersih-bersih." Pamitku lagi karena aku merasa tubuhku sudah lengket,dan juga hari sudah sore tidak lama lagi mas Bryan pulang dari kantor.
"Ya sudah."
Setelah berbincang dengan mama,aku lalu melanjutkan langkah menaiki tangga menuju kamar . Baru sehari di rumah ini rasanya aku sudah tinggal bertahun-tahun lamanya,ada ingatan masa lalu yang membuatku merasa tidak asing dengan semua isi rumah ini,tapi masa lalu siapa aku pun tak tahu,yang jelas aku merasa tidak asing dengan rumah ini.
Baru saja kaki ini menginjak anak tangga terakhir,suara mesin mobil terdengar dari luar, membuat ku mengembangkan senyum karena sudah pasti yang datang itu adalah mas Bryan,aku hapal betul suara mesin mobilnya.
"Mas...sini aku bawa tasnya." Ujar ku saat melihat mas Bryan baru saja masuk ke rumah dengan wajah kusut tapi tidak mengurangi ketampanan nya. Tanpa menjawab ia memberikan tas kerjanya setelah sebelumnya aku mencium tangannya.
Jelas wajahnya terlihat begitu lelah,aku merasa kasihan padanya yang bekerja keras demi keluarga ini di tambah lagi dengan tanggung jawab barunya padaku.
"Papa sama papa kemana?" Tanya mas Bryan sembari berjalan menuju sofa yang ada diruang tamu.
__ADS_1
"Ada di kamar." Jawab ku singkat sembari meletakkan tas kerjanya di atas meja,lalu aku meninggalkan nya sebentar untuk memberinya air putih sepertinya ia begitu lelah dan kehausan.
"Di minum dulu Mas." Ujar ku memberikan segelas air putih,mas Bryan mengambil nya dari tangan ku lalu meneguknya hingga tandas, seperti dia benar-benar kehausan.
" Mandi dulu mas,biar badanmu lebih segar ,aku sudah menyiapkan air mandi mu." Lanjut ku lagi.
Mas Bryan tak menjawab ia beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan ku yang masih berdiri di tempat. Aku mengikuti langkahnya dari belakang dengan membawa tas kerjanya menuju kamar.
Sesampainya di kamar aku tak melihat mas Bryan,tapi suara air dari kamar mandi membuatku lega karena sudah pasti ia ada di dalam,sembari menunggu nya aku menyiapkan baju ganti untuknya dan meletakkannya diatas tempat tidur,setelah itu aku pun kembali ke bawah untuk menyiapkan makan malam.
Tak lama setelah Jeny keluar dari kamar,Bryan pun keluar dari kamar mandi dengan wajah dan tubuh lebih segar. Saat baru saja keluar dari kamar mandi matanya langsung tertuju pada pakaian yang sudah siap di atas tempat tidur.
"Dia sudah menyiapkan semuanya." Gumam Bryan lalu berjalan mengambil pakaian itu dan memakai nya.
Ada rasa tak suka jika melihat Jeny terus memberikan nya perhatian seperti ini. Tapi ia pun tak bisa melarang Jeny untuk tidak melakukan nya karena pasti akan membuat Jeny bertanya dan bisa menimbulkan rasa curiga di hatinya.
Makan malam telah tiba,semua keluarga sudah berada di meja makan dan menyantap makan malam yang kali ini begitu special karena semua makanan itu adalah masakan Jeny.
"Makanan ini begitu berbeda kali ini,ini sangat enak cocok dilidahku." Ujar Bryan sembari makan begitu lahap seolah ia tak pernah makan saja.
Bu Ratna dan Jeny saling berpandangan lalu mereka tersenyum bersama.
"Siapa dulu dong kokinya,mantu nya papa."
__ADS_1
"Huk....huk...huk..." Bryan yang baru saja memasukkan makanan ke mulutnya tersedak saat mendengar penuturan sang ayah. Dengan sigap Jeny memberikan air minum untuk Bryan.
"Makanya kalau makan itu pelan-pelan,tersedak kan jadinya." ucap Bu Ratna mengingatkan,namun senyumnya tak lepas dari bibirnya,ia merasa begitu bahagia karna setelah sekian lama akhirnya putranya itu menemukan makanan yang cocok di lidahnya,selama ini Bryan hanya makan apa adanya saja meski tak cocok di lidahnya.