Bukan Wanita Pilihan

Bukan Wanita Pilihan
Bab 5


__ADS_3

  Setelah makan malam, semua kembali berkumpul di ruang tengah sembari menikmati teh dan kue buatan Nayra sore tadi.


" Kue ini sangat enak loh sayang." Puji mama mertuaku saat ia memakan kue buatan ku.


"Makasih Ma." Ujar ku senang karena mendapat pujian dari ibu mertua.


" Kamu bisa loh,buka toko kue.. bagaimana menurut papa."


Aku melongo tak percaya mendengar saran dari mama tadi.


"Ya...kalau papa sih setuju-setuju saja,sekalian biar kamu ada kesibukan juga,biar nggak bosan di rumah ."


Aku semakin senang kala papa pun memberi dukungan, padahal niatku membuat kue ini hanya ingin mereka mencicipi nya saja .


"Bagaimana menurutmu, Yan?" Tanya papa pada Mas Bryan yang memang sedari tadi sibuk dengan ponselnya,ia sama sekali tak terlibat dengan obrolan kami.


Mas Bryan menoleh,dengan wajah kebingungan saat papa meminta pendapat nya.


" Terserah Jeny saja Pa, kalau dia minat ya silahkan di coba saja ."


Aku menoleh ke arah mas Bryan,ada rasa bahagia karena mas Bryan tak menekan keinginanku,sejak dulu aku memang bercita-cita memiliki toko kue atau restoran sendiri tapi karena terkendala biaya terpaksa impian itu ku kubur dalam - dalam,tapi malam ini di tempat ini impian itu kembali setelah mama mertuaku memberikan saran dan semua keluarga pun menyetujuinya.


"Nah...sekarang tinggal kamu yang memutuskan sayang,kapan kamu bisa memulai bisnis ini." Ujar mama bersemangat.


Aku mengembangkan senyum,raut bahagia tak bisa ku sembunyikan dari mereka.


"Akan Jeny pikirkan Ma,semua harus di persiapkan dengan matang dulu kan." Jawabku senang.


" Ya,kamu betul ...semua harus kita siapkan dulu. Mama bantu Jeny cari tempat nya dulu,setelah itu kita menyiapkan yang lainnya." Mama semakin bersemangat menyusun rencana pembukaan toko kue.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum melihat kebahagiaan dan sangat mama ,saat menoleh ke arah mas Bryan senyum yang tadinya terpancar di bibirku kini redup saat melihat mas Bryan justru kembali sibuk dengan ponselnya,entah dengan siapa ia berkirim pesan. Tak terlihat dari raut nya yang ikut dengan kebahagiaan kami. Aku sedih melihat nya tapi aku pun tak ingin egois,pikiran positif terus aku dengungkan mungkin saja saat ini ia tengah sibuk dengan pekerjaan nya.


...****************...


" kamu tidak sarapan Mas?" Tanya ku saat melihat mas Bryan yang terlihat terburu-buru sembari menenteng tas kerjanya keluar ,ia hanya meminum susu saja tanpa menyentuh sarapan yang sudah aku siapkan di piring.


" Tidak ,aku ada pertemuan dengan klien pagi ini,aku sarapan di kantor saja." Jawabnya sembari berjalan menuju pintu dan aku mengikutinya dari belakang.


"Ya sudah, hati-hati Mas.." Baru saja aku ingin menarik tangannya untuk aku cium tapi seketika ia melepas nya dan langsung pergi begitu saja.


Sedih,tentu saja aku merasa sedih...semakin hari sikap mas Bryan semakin dingin padaku,aku pun tak tahu harus berbuat apa lagi.


"Sayang ,kamu di sini?" Sapa mama yang berdiri di ambang pintu,menatapku yang berdiri di teras.


"Aku habis ngantar mas Bryan Ma." Jawabku sembari tersenyum menutupi rasa sedih karena diabaikan mas Bryan,aku tidak ingin kedua mertuaku ini mengetahui hubungan Ki dengan mas Bryan yang tak seperti pengantin baru.


"Dia sudah berangkat? Sepagi ini?" Mama terlihat terkejut mendengar mas Bryan sudah ke kantor .


"Katanya mas Bryan ada janji sama klien pagi ini,jadi sarapannya di kantor saja." Jelasku mendudukkan mama di kursi.


" Papa mama Ma?" Tanya ku mengalihkan pembicaraan agar mama tidak memikirkan mas Bryan lagi.


"Masih di kamar , sebentar lagi turun...ya sudah ayo kita sarapan." Ajak mama yang sudah kembali ceria lagi setelah sempat wajahnya di tekuk karena mas Bryan berangkat pagi-pagi.


"Pagi semua." Sapa papa mertuaku sembari berjalan mendekati kami yang sudah berada di meja makan.


"Pagi,Pa."Balasku sedangkan mama hanya diam tak menjawab.


"Kemana Bryan?" Tanya papa ketika menyadari Bryan tak ada di antara kami.

__ADS_1


"Sudah berangkat katanya?" Mama yang menjawab ketus, sepertinya ia masih marah dengan sikap Bryan pagi ini.


Papa hanya mengangguk,lalu melahap sarapannya.


Seketika suasana jadi hening,hanya suara dentingan sendok dan garpu yanng saling bersahutan. Setelah Papa berangkat tinggallah aku dan mama di rumah. Aku mulai merasa bosan karena aku tidak punya kesibukan apapun di rumah ini,ingin bantu-bantu para pelayan tapi di larang mama.


"Bosan ya?" Suara mama mengagetkanku yang termenung di taman sembari menatap ikan-ikan yang sedang berebut makanan.


Aku menoleh dan melihat mama duduk di sampingku.


" Bagaimana kalau kita keluar saja,mama juga bosan di rumah,kita cari lokasi untuk toko kue saja, sekalian kita belanja,kamu belum belanja kan?" Cerocos mama membuatku hanya bisa tersenyum melihat nya.


" Mama, serius ingin membukakan Jeny toko kue?" Tanya ku serius,aku merasa tak enak hati jika mereka yang harus mengeluarkan uang untuk aku membuka toko kue. Baru beberapa hari jadi menantu dirumah ini aku sudah membuat mereka harus mengeluarkan uang yang tentunya bukanlah jumlah sedikit.


Mama menatapku serius,ia lalu tersenyum kala melihat wajahku yang mungkin aneh.


" Kamu pikir kami ini hanya bercanda,kamu punya bakat yang sangat menjanjikan,sayang kalau tidak di kembangkan."


"Tapi Ma,untuk membuka toko kue pasti membutuhkan banyak modal,aku tidak ingin merepotkan kalian,biarlah aku mengumpulkan uangnya dulu." Ujarku merasa tak enak.


" Kenapa memikirkan hal itu,jika ada jalannya kenapa harus di tunda,dan lagian semua yang ada di rumah ini,uang ,harta semua juga milikmu mu kan,dan kamu punya hak yang sama dengan kami semua ."Jelas mama, mendengar nya membuatku begitu terharu,aku sangat beruntung karena di berikan keluarga yang begitu baik dan peduli padaku.


"Sudah jangan nangis,ayo kita berangkat sekarang,nanti keburu malam lagi." Mama beranjak dan aku mengikuti langkahnya,untungnya aku sudah rapi dan memakai pakaian yang layak untuk di pakai keluar jadi tidak perlu berganti pakaian lagi.


Kami memutari jalan raya, mencari-cari lokasi strategis yang cocok untuk usaha yang baru akan kami rintis. Namun meski sudah berkeliling kami belum juga menemukan lokasi yang cocok, akhirnya kami memutuskan untuk mencari mall karna sudah siang sekalian kamu ingin makan siang dan juga berbelanja.


Mama membelokkan mobilnya masuk ke halaman salah satu mall terbesar di kota ini,kami pun keluar dan tujuan pertama kami mencari makanan.


Aku dan mama memilih masuk ke cafe,dan memesan makanan dan minuman serta cemilan.

__ADS_1


Tak jauh dari meja Jeny dan Bu Dewi ,nampak seorang Bryan sedang duduk bersama wanita yang memakai pakaian seksi hingga menampilkan lekuk tubuhnya,mereka pun tak menyadari jika ada Jeny dan Bu Dewi ,begitu pun dengan Jeny dan Bu Dewi tak menyadari adanya Bryan di tempat yang sama dengan mereka.


__ADS_2