Bumantara

Bumantara
Kecambah Rindu


__ADS_3

"Bila bumi saja setia pada langit, mengapa aku tidak?"-Arumi


Menjadi seorang perempuan dengan usia kepala dua memang tidak semudah yang orang kira. Apalagi masalah asmara, bukan hanya tentang "aku dan kamu" tapi juga masalah "keluarga".


Arumi Thufaillah, seoang mahasiswi jurusan kebidanan tingkat akhir yang sedang sibuk-sibuknya menjalani proses perkuliahan masih saja tidak bisa keluar dari kisah percintaannya bersama Fahreza Awali (Reza) yang di pisahkan oleh jarak yang membentang. hubungannya dengan Reza sudah berlangsung 6 tahun lamanya. ya, bayangkan saja mereka sudah bersama sejak SMA.


Arumi terlahir dari keluarga yang masih percaya dengan mitos, sedangkan Reza terlahir dari keluarga sibuk dan broken home. Reza pun merupakan mahasiswa tingkat akhir Adminstrasi Publik.


memang benar kata orang, lelaki hanya perhatian di awal saja dan cuek jika sudah mendapatkan sesuatu yang ia dapatkan. mungkin tidak semua sama seperti itu. Tapi, ini lah yang Arumi rasakan dengan Reza. Sikap Reza tak lagi seperhatian dulu, bahkan sikap dinginnya membuat Arumi gerah. Reza sempat berterimakasih pada Arumi karena telah mengenalkan kembali apa artinya perhatian, namun kini perhatiannya hanya sia-sia. dulu memang Reza tak pernah mendapatkan perhatian. Ibunya terlalu sibuk untuk memberikan perhatian, Ayah tiri tentu tidak bisa memberi perhatian layaknya ayah sendiri. sedangkan ayah kandungnya sudah sibuk dengan isteri barunya.


🍭🍭🍭


Suara sirine Ambulance meraung memecagkan heningnya malam, Arumi berpegangan erat sambil sesekali melirik pasien bersama bidan pembimbing yang ada di belakangnya. Pasien dengan Preeklamsia Berat dengan pembukaan aktif kini sedang berjuang mempertahankan hidupnya.


Ambulance terparkir sempurna di depan pintu IGD. Arumi dengan cepat membuka pintu dan membantu supir menarik blankar dengan pasiennya. Bidan yang ikut merujuk pasien pun langsung memberitau keluarga untuk segera mendaftarkan pasien dan langsung menyusul Arumi dan Mang Enda Supir Ambulance.


Sampiran di tutup, Arumi dan bidan Erna masuk kedalam ruangan untuk menyerahkan pasien.


"Tensi terakhir 160/110 mmHg, TFU 30 Cm, PUKA, DJJ 158x/m, v/v t.ak, v/t ketuban negatif, portio tebal lunak, pembukaan 5cm, presentasi kepala, protein +2. infus terpasang MGSO4 dosis pemeliharaan labu 1" jelas Bidan Erna pada bidan jaga yang sedang melakukan pemeriksaan pada pasien tersebut.


Pemeriksaan berlangsung dengan cepat, pasien langsung ditangani sesuai prosedur. seuasai serah terima pasien, Arumi dan Bidan Erna langsung kembali menuju Ambulance.


"Bu, langsung pulang?" tanya mang Enda.


"Iya mang, kita langsung ke Puskesmas lagi. Arumi mau jajan dulu gak ?" timpal Bidan Erna pada Arumi

__ADS_1


"Tidak. Terimakasih,bu. Arumi masih ada makanan di Puskesmas, sayang kalo gak dimakan" jawab Arumi.


Kini arumi duduk di belakang, di samping blankar yang kosong. Bergantian dengan Bidan Erna yang kini duduk di samping Mang Enda. perjalanan pulang berlangsung lebih lama, hal ini karena Mang Enda tidak memacu Ambulance secepat saat berangkat.


Sesampainya di Puskesmas Bidan Erna langsung menuju kamar bidan dan meringkuk bersama rekannya yang lain meninggalkan Arumi yang sendirian. Arumi duduk di balik meja Bidan dan kembali menulis setumpuk laporan Asuhan Kebidanan. Arumi melupakan hand phonenya yang sedari tadi sedang di charger di ruang mahasiswa. Sebenarnya sih bukan ruang mahasiswa, melainkan mushola. Namun, karena jarang di gunakan kini beralih fungsi sebagai ruang mahasiswa. Di tempat itulah Arumi akan tertidur.


Dinas malam berlangsung dari pukul 21.00 - 08.00, waktu berjalan serasa sangat lambat bagi Arumi. Dinginnya malam menelusup kedalam raga Arumi yang hanya memakai baju VK. Arumi mengumpulkan niatnya untuk mengambil jaket dan hand phone.


5 panggilan tak terjawab. Notifikasi pertama yang Arumi lihat.


"Tumben Reza nelpon, biasanya di telpon juga di tolak" Arumi tersenyum kecil.


Arumi kembali menuju meja Bidan untuk menyelesaikan tugasnya. Sekotak susu stroberi menemani malamnya. Jam menunjukan pukul 01.30 WIB, Arumi segera membereskan seluruh laporan yang berserakan di meja. Dasar wanita, bukannya langsung tidur. Arumi terus saja membuka sosial media dan stalking teman-temannya Reza. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada sama sekali hal yang di maksud oleh Arumi. Reza termasuk lelaki yang tidak suka selfie dan juga posting fotho, bahkan update status pun jarang Reza lakukan. berkebalikan dengan Arumi yang apapun kegiatannya selalu di upload.


Arumi tertidur pulas berselimut rindu, dinas malam kali ini tidak ada lagi pasien bersalin yang datang ke PONED. Tidurnya sangat pulas hingga adzan subuh kembali membangunkannya. Waktu berlalu begitu cepat, para petugas yang dinas pagi beserta rekannya pun sudah datang. Tidak ada operan pasien hari ini, Arumi hanya mengoperkan alat yang belum ia sterilkan karena gasnya semalam habis. Seusai jam dinas, Arumi berpamitan pada seluruh pegawai PONED.


REZA


Kamu kemana aja ?


sebuah chat masuk mengurungkan Arumi untuk mandi, Arumi langsung menyambar hand phone dan hanya membacanya saja. Arumi langsung bergegas kembali membulatkan niatnya untuk mandi, makan kemudian tidur.


guyuran air yang mengalir membasuh setiap keringat Arumi, rasa lelah yang Arumi pendam serasa hilang tak berbekas.


🍭🍭🍭

__ADS_1


Hari-hari berlangsung begitu lambat. Semakin hari komunikasi Arumi dan Reza pun semakin terbatas. Tidak ada telpon dan chat sama sekali. Arumi kini telah mengurungkan niatnya untu menghubungi Reza terlebih dahulu. hal ini berawal dari pesan yang selalu berujung centang dua tanpa berubah menjadi centang biru. Sesibuk itukah Reza dengan dunianaya ? Arumi tak lagi banyak berharap akan indah seperti dahulu. Masa dimana bunga, coklat dan boneka selalu ia dapatkan di setiap ulang tahunnya. Kini hanya doa yang bisa terpanjat untuk selalu membersamai.


Langit hari ini begitu kelam, menggambarkan hati rena yang semakin hancur. untaian kalimatnya hanya bisa ia tumpahkan dalam puisi-puisi indah dan berakhir dengan insta story. petir saling menyambar menandakan hujan akan segera turun, Arumi terus berjalan mengunjungi satu persatu pasiennya. Baru saja selesai di satu rumah hujan turun dengan lebat, Arumi hanya bisa menepi. Tatapan matanya kosong, tak ada satu pun orang yang berlalu-lalang di jalanan kampung. Arumi memakai earphonnya dan memutarkan lagu yang sangan ia sukai. sekelibat kenangan 5 tahun yang lalu muncul di ingatannya, Arumi tersenyum sendiri dengan dunianya.


"Longsoooorrr!!!!!!!" teriak warga membuyarkan lamunan Arumi.


Arumi melihat dengan jelas di depan matanya, puluhan rumah tertimpa tanah. Banyak warga yang keluar dari rumah dengan pakaian seadanya, panik dapat di lihat dari seluruh orang yang berada tak jauh di depannya.


"Lariiiii!!!" teriak banyak warga yang saling bersautan.


Arumi bingung dengan situasi ini, Arumi terpaku dan kalap dengan hal ini. Ia hanya diam mematung melihat bebatuan diatas tebing berjatuhan menuju segala arah


🍭🍭🍭


TFU\= Tinggi Fundus Uter


PUKA\= Punggung Kanan


DJJ\= Denyut Jantung Janin


v/v \= Vulva / **


t.a.k \= Tidak Ada Kelainan


v/t \= ** Tusi

__ADS_1


PONED\= Pelayanan Obstetri Neonatal Esensial Dasar


__ADS_2