
Tetesan air masih membasahi dedaunan yang rimbun di samping kiri dan kanan jalan, kabut masih menutupi jalanan meski matahari mulai menyibak kegelapan dan langit mulai sedikit terang. hembusan angin pagi bertabrakan dengan Arumi yang sedang memacu kendaraaan bermotornya dengan keceptan 60 Km/jam. Jalanan yang sepi, sempit dan berliku menuntut Arumi untuk selalu waspada dalam setiap keadaan. Helm bogo pink, Jaket parasut pink, masker pink, sarung tangan pink, dan kaos kaki pink adalah atribut yang kini Arumi kenakan, hal ini senada dengan motornya yang berwarna hitam berpolet pink. Berbeda halnya dengan Rina yang sedang duduk manis di balik Arumi, Rina hanya menggenakan jaket dan helm seadanya tanpa masker dan sarung tangan, bahkan sesekali Rina menggosokkan tangannya untuk membuat kehangatan dan meneluspkan di balik jaketnya.
"Mi, pantat gue pegel" keluh Rina.
"Sabar, sabar, bentar lagi masuk kota kok, nanti kita istirahat di sana" jawab Arumi.
Perjalanan mereka lalui dengan penuh keheningan, Rina bukan orang yang pandai berbicara dalam mengisi waktu, sesekali Rina hanya bertanya sudah sampai mana mereka berkendara dan sisanya Rina lebih banyak memperhatikan pemandangan jalanan sekitar yang masih rimbun dengan pepohonan dan terlihat jelas tebing tebing yang curam dan jurang di sampingnya, bahkan nampak jelas plang peringatan rawan kecelakaan yang membuat Rina bergidik dan terus berdoa meminta keselamatan sepanjang jalan. Jam sudah menunnjukkan pukul 07.00 WIB, dua jam sudah mereka berkendara, namun jalanan masih saja sepi, sempit dan berliku tida ada tanda-tanda kota sama sekali. Entah apa yang ada dalam benak Arumi, Arumi menepikan kendaraannya hal itu membuat Rina kebingungan dengan yang terjadi.
"Kenapa, Mi. Kita istirahat di sini?" tanya Rina.
"Aku kebelet, Rin. Gak tahan nih." jawab Arumi sambil melepasan atribut berkendaranya.
"Parah lo, Mi. Disini gak ada toilet, lo mau kencing di semak-semak?" timpal Rina.
"Iya, kamu tutupin aku pake jaket ini, ya. Cepet, udah gak tahan" perintah Arumi.
"Sialan, gue harus nutupin lo. Jangan sama boker juga!" saut Rina.
Rina menuruti perintah Arumi dan sesegera mungkin Rina menutupi Arumi dari arah depan, seusai itu, mereka langsung bergegas kembali untuk melanjutkan perjalanan. Setengah jam berlalu, Arumi menyalakan lighting kanan, mereka tengah di persimpangan jalan dan kini mulai terlihat kendaraan lain yang berlalulalang. Rina mulai sumringah melihat situasi itu, pertanda sebentar lagi Rina bisa meluruskan badannya yang sudah mulai terasa remuk. Baru saja Arumi memasuki bahu jalan, sebuah truk dengan berkecapatan tinggi dari arah kanan melaju dengan kecepatan tinggi, kelakson panjang pun terdengar begitu nyaring dan menggema. Jantung Arumi berpacu dengan kencang, dengan kecepatan tinggi Arumi masuk ke lajur kiri jalan di sertai dengan teriakan Rina.
__ADS_1
“Aaaaaaaa...... Gila lo, Mi. Nyawa gue cuman punya satu” teriak Rina dengan badan yang bergetar.
“Iya, maaf. Tau sendirikan itu truk jalannya kenceng amat. Padahal muatannya banyak” jawab Arumi.
“Enteng banget tuh truk, bawa muatan kapas kali bisa jalan secepet itu” oceh Rina.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, Arumi memarkirkan kendaraannya di sebuah kedai sederhana di samping jalan. Rina yang sedari tadi tidak sabar ingin segera meluruskan kembali badannya yang sudah tak karuan segera turun dari motor dan melakukan peregangan badan. Arumi memesan secangkir teh manis panas dan mie semangkuk mie kuah sedangkan Rina memesan es jeruk dingin dan satu porsi nasi rames. Mereka dengan lahap menyantap hidangan sederhana tersebut, maklum saja tadi pagi tidak sempat sarapan karena berangkat berburu pagi. Padahal teman-temannya yang lain masih menunggu jemputan kampus yang menurut perkiraan kedatangannya pukul 08.00 WIB. Namun hal itu tidak berlaku pada Arumi yang harus pulang membawa kendaraannya dan tentunya ditemani Rina karena skandalnya dahulu.
Arumi mengeluarkan Hp dan mulai melihat satu persatu notifikasi yang masukk pada Hp-nya. Terdapat 3 panggilan tak terjawab dan 2 chat masuk dari Putri.
Putri
07.20 : Heh, jemputan mana sih? Kok belum nyampe juga?
Arumi segera menjawab pesan tersebut dan memberi tahu jika perkiraan sampai jemputan adalah pukul 08.00 dan memberi tahu posisinya sekarang yang sudah mulai memasuki kota dan sekitar satu jam lagi sampai di kampus.
__ADS_1
🍭🍭🍭
Arumi memejaman matanya, sesekali notifikasi di Hp-nya membangunkan dari tidurnya, Rina yang berada di sampingnya pun melakukan hal yang sama. Mereka sudah sampai 30 menit yang lalu di kampus dan kini tengah berada di masjid kampus sambil menunggu teman-temannya yang baru berangkat satu setengah jam yang lalu. Periraannya merea masih harus menunggu satusetengah jam kemudian, buan akrena alasan ia tidak langsung pulang ke rumahnya. Arumi dan Rina harus menunggu barang bawaan yang mereka titipan pada temannya.
Setiap 30 menit sekali Arumi terbangun dan melirik telponnya, namun tak ada satupun notifikasi masuk, apalagi yang harus Arumi tunggu selain kabar dari Putri yang sedang dalam perjalanan pulang, keluarganya yng sudah menunggu untuk menjemput dan Reza yang entah dimana kabarnya, seketika Arumi teringat dengan undangan dari ibunya Reza untuk segera berkunjung kerumahnya. Beribu bayangan mulai mucnul memenuhi fikirannya dimulai dengan adegan sinetron romantis sampai tragis ia bayangkan, fikirannya terus melayang dan berimajinasi. Gimana kalo udah ketemu ibunya malah bilang jangan pernah hubungun Reza lagi, atau jangan-jangan Reza sudah di jodohkan dengan orang lain? Batin Arumi.
Matahari mulai berada dipuncak pertengahan bumi, namun hingga kini rombongan temannya masih belum datang juga, entah apa yang terjadi sehingga perjalanan begitu lama bagi mereka. Berulangkali Arumi mencoba menghubungi, namun selalu berakhir dengan jawaban seorang wanita yang meminta maaf karena tidak dapat dihubungi. Arumi mulai hawatir dengan keadaan tersebut, Rina yang sudah terbangun sedari tadi pun sudah mulai memasang raut wajah yang cemas dan panik. Beberapa jam lagi orangtua Arumi dan Rina akan datang menjemput, namun sampai saat ini barang dan teman yang mereka tunggu masih belum datang juga.
“Gimana, Mi. Lo bisa hubungi mereka?” tanya Rina
“Nihil, Rin” jawab Arumi sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka akhirnya memutuskan untuk menari makan siang dan beranjak menuju warung syang berada di sebrang kampusnya
“Gila, gue bener-bener kangen dengan jajanan di sini” ujar Rina
Mereka memutuskan untuk memesan satu mangkok Coto Makassar yang menjadi makanan favorit mereka di kampus. Banyak pedagang yang berjualan di temapat tersebut. Meskipun kampus libur namun mereka tetap mengais pundi-pundi rupiah, jmenurut Bi Anti sih mereka masih berdagang karena merasa penghasilan di hari minggu masih lumayan karena berada dekat dengan asrama dan anak-anak yang tidak pulang pasti akan membeli makanan keluar juga di dekat kampus ini banyak terdapat kos-kosan sehingga meskipun perkuliahan dalam keadaan libur warung masih dalam keadaan ramai.
Kemanakah perginya mereka yang sedari tadi Arumi tunggu, tak satu pun dari mereka bisa di hubungi berikut supir yang hilang kontak pula dengan pihak kampus. Arumi sudah memberitahu pihak Umum dengan keterlambatan kedatangan bus kampus tersebut agar bisa menghubungi sopir batau pun yang membantu dalam perjalanan pulang praktik lapangan hari ini. Namun semua tak berbuah hasil. Setelah parah menunggu hingga sore, begitu terkejutnya Arumi saat membuka notifikasi, wajahnya berubah menjadi pucat pasi, air mata jatuh begitu saja.
__ADS_1
“Kalian kenapa?” lirih arumi