Bumantara

Bumantara
Skandal


__ADS_3

Kenangan semalam membekas manis dalam ingatan, hari ini adalah hari terakhir Arumi berada di Puskesmas. Pagi buta, Arumi dan kawannya langsung bersiap untuk pulang, menyiapkan segala hal yang harus di bawa pulang, termasuk kenangan.


Pagi menuju siang masih harus Arumi lewati dengan dinas terakhirnya berjaga di Poli KIA. Hari Sabtu tidak seramai hari biasanya, pendaftaran yang biasanya sudah penuh, hari ini hanya terdapat beberapa gelintir orang yang duduk di depan pendaftaran.


Setiap sudut Arumi pandangi setiap detil dari Poli KIA dan menyimpannya dalam ingatan. Rasa berat menyelimuti hati Arumi untuk segera berpisah dari tempat yang telah banyak memberi pengalaman dalam hidupnya. Sesekali Arumi berjalan memungut sampah kecil yang terbawa angin. Cuaca masih saja tidak bersahabat. Musim penghujan ditambah dengan angin kencang masih melanda seluruh penjuru negeri.


Bruukk.... angin kencang tiba-tiba menghantam pintu, mengejutkan seisi puskesmas. Awan hitam mulai berarak menyelimuti puskesmas. Arumi dan kawan-kawannya seketika cemas jika hujan akan turun dengan lebat dan terjadi hal di luar keinginannya. Ruangan pun seakan gelap gulita, Arumi segera bangkit untuk menyalakan listrik di samping troli tindakan, begitu pun dengan ruang lainnya. Putri yang sedang berjaga di ruang MTBS pun segera bergegas menghampiri Arumi.


"Mi, coba lu telpon pak Supri. Udah jalan kemari apa belom?" tanya Putri.


Tanpa menjawab Arumi segera menghubungi pihak kampus untuk menanyakan supir kampus yang akan menjemputnya. Beberapa kali Arumi mencoba menghubungi tak satu pun panggilannya terjawab. Arumi hanya menggelengkan kepala dan memasang wajah pasrah. Putri yang kecewa langsung merebut ponsel Arumi dan mencoba menghubungi kembali, namun masih tetap tak ada jawaban.


"Eh, Put. Coba minta nomer Pak Supri ke Rina. Kali aja dia masih nyimpen" celetuk Arumi.


"Bener lu, kenapa gak kepikiran dari tadi?" jawab Putri sambil tersenyum dengan beribu makna.


Rina adalah salah satu mahasiswa yang sama-sama praktik bersama mereka, Rina adalah orang yang mabuk kendaraan jika perjalanan jauh. Saat pemberangkatan Rina duduk di jok paling depan di belakang kursi sopir. perjalanan memang menghabiskan waktu cukup lama dan menguras seisi perut. Tanpa aba-aba Rina muntah dan tepat mengenai jok supir yang ada di depannya. Pusing dan malu pun melebur menjadi satu. seisi mobil langsung panik melihat kejadian itu. Seusai kejadian tersebut Rina mendapatkan chat dari Pak Supri yang merupakan seorang duda beranak satu. Rina yang merasa terkejut dengan chat yang di kirim Pak Supri langsung membanting ponselnya ke arah dinding. Tak ada seoang pun yang tahu isi pesan tersebut, Rina hanya bercerita bila yang mengirim pesan adalah Pak Supri.


Arumi dan Putri berjalan melewati kursi tunggu yang sepi, hanya terdapat segelintir orang yang mengantri di poli umum. tak ada anak bayi, balita, ibu hamil atau pun pasien yang berbau ranah kebidanan. Mereka berada di depan ruang Apotik dan menemukan Rina yang sedang menggerus obat. Kuliah menjadi seorang Bidan memang di tuntut untuk serba bisa, saat praktik kali ini pun semua yang ada di puskesmas mereka tempati termasuk pendaftaran, rekam medis, apotik dan tentunya ruangan yang bersangkutan dengan kebidanan.


Putri memijat bel yang berada di jendela yang membuat Rina langsung bergegas menuju alur penyerahan resep. Arumi dan Putri hanya tersenyum melihat temannya yang mengira pasien yang memijat bel tersebut.


"Iih iseng banget sih kalian, langsung masuk aja bisa kan?" omel Rina.


omelannya hanya di tanggapi dengan senyuman seraya penuh kemenangan. Rina langsung berjalan kembali menuju mejanya diikuti oleh Putri dan Arumi.


"Ada apa sih ? gak ada pasien emangnya?" tanya Rina membuka pembicaraan.


"Engga, sepi. Tadi lewat pendaftaran pun gak ada orang sama sekali" jawab Arumi.


"Hmmm. Mau bantu gue?" tanya Rina


"Iih ogah, kita kemari mau nanyain nomer Pak Supri" jawab Putri.


Rina yang mendengar hal tersebut langsung terlihat Syok, wajahnya pun pucat pasi mendengar hal tersebut.


"Gak ada, udah gue blokir! udah di hapus! PUAS?" jawab Rina.


"Ceileh ngambek nih, padahal kita cuman mau nanyain soal kepulangan kita ke Pak Supri" jawab Putri


"Halah.. males gue denger nama tu orang" jawab Rina.


Arumi dan Putri yang melihat gelagat tidak baik pada Rina pun segera menutup pembicaraan tersebut.

__ADS_1


🍭🍭🍭🍭


Jam sudah menunjukan pukul 13.30 WIB yang menandakan jam operasional piskesmas sudah berakhir, Arumi pun sudah menyelesaikan penginputan data pasien di e-puskesmas di meja pendaftaran. Beberapa pegawai yang berlalu melewatinya pun sesekali terhenti sekedar bertanya "Kapan pulang?" atau "Hati-hati di jalan".


Setelah semua selesai Arumi dan kawannya bergegas menuju PONED dan mengeluarkan koper serta seluruh perintilan yang akan di bawa pulang. Bidan Erna yang masih berjaga di PONED hari itu pun turut membantu Arumi dan kawannya mengangkut semua barang bawaan. Maklumlah, namanya anak perempuan segala di bawa. Termasuk magicom, dispenser, dan beberapa peralatan masak. Tidak lupa mereka pun memberi kabar pada orang rumah jika sebentar lagi akan berangkat pulang dan meminta jemputan di kampus.


Semua sudah selesai pindah di luar PONED, Arumi terus menghubungi pihak kampus yang masih belum ada jawaban sama sekali. Dengan tekad kuat akhirnya Arumi memberanikan menelpon dosen pembimbing dan hasilnya nihil, beliau sedang berada di luar kota dan tidak tahu menahu perihal pemulangan. Memang hal tersebut adalah urusan bagian umum di kampusnya yang sudah sedari awal menjadwalkan pemulangan mereka pada hari itu. Arumi dengan pasrah segera menggiring temannya untuk menunggu di dalam poned dan duduk di kursi tunggu.


Adzan asar berkumandang, mereka masih tetap setia dengan penantiannya. Bidan Erna yang sedari tadi harusnya pulang pun masih menunggu untuk mengantarkan mereka pulang. Dengan cemas Bidan Erna menghampiri Arumi dan kawannya.


"Gimana neng, udah dimana jemputannya?' tanya Bidan Erna.


Namun tak satu pun bisa menjawab dengan pasti keberadaan jemputan mereka. Tak lama berselang, Arumi menerima sebuah panggilan tak terjawab dari nomer yang tak dikenal. Arumi mencoba menghubungi balik nomer tersebut, namun tidak ada jawaban. Firasatnya nomer tersebut adalah pihak kampus yang akan memberikan informasi kepadanya.


Tak lama berselang, muncul panggilan masuk dan Arumi langsung mengangkat telpon tersebut.


"Halo, Assalamualaikum. Dengan Arumi, Ada yang bisa saya bantu?" jawab Arumi


"Waalaikumsalam, Neng. Saya Ibunya Reza, kira-kira neng kapan pulang?"


Arumi diam mematung mendengar jika itu adalah ibunya Reza. Sedari dulu memang Arumi tidak pernah berhubungan dengan ibunya. Bagaikan matahari di dalam badai salju itulah yang kini Arumi rasakan.


"Halo, neng?" tanya ibunya Reza di balik telpon.


"Eh, iya bu. Rencananya hari ini pulang, tapi sampai saat ini masih belum ada jemputan bu" jawab Arumi


"Ada apa bu?" tanya Arumi penuh kebingungan.


"Ah pokoknya cepat kemari saja. Nanti kamu juga tau sendiri ada apa" jawab ibunya Reza.


Percakapan singkat itu membuat imajinasi Arumi menari liar, membayangkan semua kemungkinan yang akan terjadi, dimulai hal indah sampai hal buruk sekalipun. Banyak hipotesis yang sudah Arumi siapkan untuk waktu yang belum pasti kapan terjadi.


Baru saja Arumi menutup telponnya, di layarnya muncul kembali panggilan masuk dari nomer yang tak dikenal.


"Halo, Bu. Ada yang bisa di bantu lagi?" tanya Arumi.


"Neng, saya Pak Supri. Maaf ya neng bapak telat menjemputnya. mungkin sekitar jam 10 malam baru sampai lokasi, bapak masih jauh dan mobilnya mogok" jelas Pak Supri.


"Yah gimana dong pak ? posisi bapak masih di mana ?" tanya Arumi


"Masih di kota, Neng. Deket bunderan Perum Mas" jawab Pak Supri.


" Wah itu sih baru beberapa kilo dari kampus dong pak" jawab Arumi

__ADS_1


"Iya neng. Ini udah service yang ke dua kali tapi masih lama beresnya, gimana neng ? mau di jemput malam ini atau mau besok pagi aja?"


Arumi tidak menjawab pertanyaan Pak Supri, Arumi langsung berdiskusi bersama temannya. Terjadi pertarungan argumen yang sangat berat dan sengit, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk tetap tinggal sampai besok pagi. Hal ini bukan tanpa alasan, masih ada satu agenda yang belum terlaksana dan ingin mereka capai.


🍭🍭🍭


"Totalnya Rp. 250.250" ucap kasir di salahsatu minimarket di desa tersebut. Arumi langsung menyodorkan sejumlah uang yang diminta dan menenteng sejumlah belanjaan bersama Putri. Arumi langsung menaiki motor dan melaju menuju rumah Bidan Hesti, dalam perjalanan Arumi sesekali tersenyum kecil.


"Assalamualaikum" teriak Arumi


teriakannya di saut dengan salam dan pintu yang terbuka mempersilahkan masuk pada Arumi dan Putri.


"Ya ampun... Arumi?? Putri?? Kalian kenapa belum pulang?" Tanya bidan Hesti.


Arumi dan Putri segera menceritakan kronologi kejadian batalnya pemulangan mereka hari ini.


"Bu, Febrian dimana ?" tanya Arumi.


Bidan Hesti dengan segera mengajak Arumi dan Putri menuju sebuah kamar kecil. Disana terlihat seorang bayi laki-laki yang tertidur lelap, dia adalah bayi yang saat longsor lalu selamat dari bencana tersebut, yang saat ini masih berusaha untuk di adopsi oleh ibunya. Untuk sementara waktu, bayi tersebut di asuh oleh Bidan Hesti yang merupakan bidan koordinator di Puskesmas tersebut. Arumi segera menggendong bayi tersebut tanpa membangunkannya. Putri dan Bidan Hesti meninggalkan Arumi sendirian dikamar tersebut. Sesekali Arumi mengecup dan menyubit pelan pipi bayi tersebut. Arumi sudah tak sabar menanti keputusan mengenai adopsi tersebut. Setelah puas dengan bayi tersebut, Arumi langsung menidurkan kembali dengan perlahan dan menuju ruang tamu bergabung bersama Bidan Hesti dan Putri. Arumi segera bergegas mengambil keresek yang yang beberapa waktu lalu ia beli di minimarket dan menyerahkannya pada Bidan Arumi. Keresek tersebut berisi popok dan perlengkapan bayi. Bidan Hesti dengan senang menerima pemberian Arumi untuk Febrian. Setelah semua selesai Arumi dan Putri segera berpamitan menuju PONED kembali. Tidak lupa sebelum berpamitan mereka ber selfie ria dengan Bidan Hesti dan tentunya Febrian.


Sepanjang perjalanan, Putri tak hentinya bercerita tentang pembicangannya dengan Bidan Hesti saat Arumi tengah asyik menggendong Febrian di kamar. semua tentang gosip pegawai puskesmas, kejadi mistis di desa tersebut dan informasi rentang pemuda yang sering menjaili mereka saat sore hari di puskesmas.


Awan hitam yang sedari siang menggulung menjatuhkan air hujan dan mulai membasahi tanah. Arumi mulai memacu kendaraan bermotornya dengan kecepatan tinggi, Putri yang berada di belakangnya pun dengan sigap mencengkram baju Arumi, hijab yang di pakainya pun mulai berkelebat oleh angin.


"Mi, Cepet ! hujannya keburu gede!" teriak Putri.


Arumi terus memacu kendaraannya. tanpa sadar Arumi melewati puskesmas dan terus melaju dengan kencang.


"Mi, woy... Arumi Thufaillah !!! Puskesmasnya kelewatan begoo" teriak Putri.


Seketika badan Putri terpental ke depan, Arumi mengerem secara mendadak dan berhenti tepat di tengah jalan. Beruntung suasana jalan sepi tak ada kendaraan yang berlalulalang.


"Iih, bukannya dari tadi kek ngomongnya!" gerutu Arumi


"Ya elu yang bawa motor kenceng ga liat-liat! cepet putar balik!" timpal Putri.


Akhirnya Arumi memutar balik kendaraan dan mendarat dengan selamat, tepat setelah Arumi dan Putri memasuki ruangan hujan turun dengan derasnya diikuti sambaran petir dan angin kencang.


Hari mereka habiskan dengan berkumpul dan bercerita bersama, semangkuk mie kuah rebus dengan topping telur dan cabai menemani sisa hari yang dengan terpaksa makan seadanya karena cuaca di luar tak bersahabat. Air minum pun tepaksa merebus air dan mendinginkannya, padahal sebelum mereka mengangkut dispenser keluar tadi siang masih tersisa banyak air dalam galon yang terpaksa mereka buang. Tak ada penyesalan dari mereka, hanya saja penantian berasa panjang menuju pagi. Mereka tidur seadanya tanpa sprai dan selimut dengan alasan harus membuka kembali barang bawaan yang sudah rapih dan siap. Barang yang sudah di luar pun mereka masukkan kembali kedalam ruangan PONED. Tidur berdempetan dengan posisi meringkuk membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa iba. Hujan deras yang mengguyur tidak membuat mereka kedinginan.


Sebelum mentari menyingsing mereka sudah terbangun dan bersiap untuk pulang, satu demi satu mengantri untuk mandi. Hari minggu puskesmas nampak sepi tidak ada pelayanan rawat jalan dan tidak ada pula pasien yang di rawat atau pun melahirkan hari itu. Pagi buta mereka sudah mengeluarkan kembali barang yang akan mereka bawa dan menunggu kedatangan Pak Supri. Mereka pun sudah berpamitan pada bidan yang berjaga sejak dari malam hari. Arumi sudah bersiap memanaskan motornya dan memakai kelengkapan berkendara. Hanya Arumi dan Rina yang pulang dengan kendaraan bermotor. Barang bawaan mereka titipkan pada temannya, motor Arumi sengaja di paketkan dari kota saat pembukaan dahulu. Medan yang terjal dan jarak dari satu penduduk menuju penduduk lainnya sangat berjauhan sehingga memerlukan satu kendaraan bermotor untuk keperluan mereka selama berada di Puskesmas, motornya sudah semacam motor inventaris untuk digunakan bersama oleh seluruh kawannya. Namu. sayang, untuk kepulangnnya harus ia bawa sendiri karena tidak ada jadi pengiriman motor di desa tersebut. Belum ada pom bensin atau pommini di desa tersebut, hanya ada penjual bensin eceran tak jauh dari puskesmas tempatnya berada.


🍭🍭🍭🍭

__ADS_1


poli KIA\= poli Kesehatan Ibu dan Anak


MTBS\= Manajemen Terpadu Balita Sakit


__ADS_2