
"Neng, satu bantu rangsang taktil dan satunya PTT!" perintah Bidan Erna.
Arumi bergegas memindah bayi yang lahir tidak langsung menangis. warna kulit kebiruan, tonus otot lemah A/s 0. Di meja resusitasi Arumi mengeringkan bayi kemudian menghisap lendir dari hidung dan mulutnya serta terus merangsang bayi agar segera menangis. Namun, bayi masih tetap tidak menangis. Arumi mencoba menepuk dan menyentil telapak kaki bayi dan masih belum berhasil. Bidan Erna datang dengan membawa Ambu bag dan segera mengeluarkan dari bungkusnya.
"Neng, VTP!" perintah bidan Erna.
Arumi segera menyambat Ambu bag yang di bawa Bidan Erna dan segera memberikan VTP. Bayi mulai merengek lemah dan dadanya mulai mengembang. keringat dingin mulai mengucur dari pelipis Arumi. Si ibu terus memperhatikan dan memantau kondisi bayinya. Bidan Erna terus memberikan rangsangan pada bayi. sedikit demi sedikit warna kulit bayi memerah dan mulai menangis. Si Ibu bernafas lega melihat anaknya mulai bisa bernafas dan menangis.
"Pasang O2 1 Lpm, observasi ketat denyut jantung dan respirasi!" perintah Bidan Erna pada Arumi.
Arumi yang sedang memakaikan baju pun menjawab hal tersebut di ikuti dengan anggukan.
15 menit berlalu, plasenta masih saja belum lahir.
Putri bersiap memberikan oksitosin kedua.
"Bu, maaf saya suntik dulu ya" ucap Putri.
Putri langsung melakukan PTT kembali. sedikit demi sedikit tali pusat mulai memanjang, nampak semburan darah dari jalan lahir. Putri langsung menarik searah jalan lahir dan memutar plasenta searah jarum jam. Putri langsung melakukan Massege uterus. Perdarahan terus mengalir dari jalan lahir, plasenta lahir lengkap. Uterus lembek dan tidak teraba.
"Bu, Atonia Uteri!!" Teriak Putri.
Bidan Erna yang sedang memperhatikan pun langsung memakai sarung tangan panjang. Tangannya masuk menelusuri jalan lahir dan melakukan KBI.
"Bu, tarik nafas panjang. Saya akan membantu untu menghentikan perdarahan"
"Neng infus plus Oksitosin 2 ampul, suntik ergometrin!" perintah Bidan Erna.
Arumi langsung menyiapkan infus set dan Putri langsung menyiapkan obat-obatan. Dengan cepat mereka langsung melakukan hal yang di perintahkan Bidan Erna. Infusan di pasang dengan tetes cepat.
"Neng, pantau tensi ibu!" perintah Bidan Erna.
Secara perlahan mulai terdapat kontraksi uterus, bergantian mereka menghela nafas panjang. Perdarahan mulai terhenti mengalir dari jalan lahirnya. Bidan Erna tetap mempertahankan posisi KBI dan terus memperhatikan keadaan umum pasien.
"Bu, jangan tidur!" perintah Bidan Erna.
"Pak, beri teh manis hangat buat ibu" lanjut Bidan Erna.
Perintahnya pun di sambut suami pasien dengan mengambil minuman di sampingnya. Secar perlahan Bidan Erna mulai melepas dan mengeluarkan tangannya dari dalam jalan lahir.
Arumi masih terus memantau tekanan darah pasien, sedangkan Putri mulai mengecek perdarahan kembali. Kontraksi uterus mulai kuat, TFU sepusat, masih terdapat perdarahan segar dari jalan lahir. Putri mengecek robekan jalan lahir. Terdapat robekan pada kulit, mukosa dan otot perineum.
"Bu, laserasi grade 2" ucap Putri.
"Siapkan Hecting set, tanpa anastesi aja biar cepat kering" jawab Bidan Erna.
Arumi langsung mengasisteni Putri untuk menyiapkan semua peralatan dan kelengkapan Hecting. Lampu sorot sudah terpasang menerangi jalan lahir. Putri sedari tadi terus menahan robekan agar tidak terus berdarah. Setelah semua alat siap, Putri langsung menjahit robekan pada perineun yang terus di bimbing oleh Bidan Erna.
Arumi kembali pada rugasnya untuk mengobservasi bayi dan juga tekanan darah ibu. Bayi sudah bernafas normal, Arumi langsung melakukan pengukuran LK, LD, LILA, TB, BB. Hasil pemeriksaan bayi dalam batas normal. Arumi bergegas melakukan pemeriksaan tekanan darah ibu, hasil pemeriksaan pun menunjukan dalam batas normal.
hecting telah selesai, Putri langsung membersihkan tempat dan ibu. Arumi langsung memasukkan semua alat yang di pakai kedalam larutan clorin. Setelah semua rapih, Arumi masih terus memantau kondisi ibu dan bayi selama 2 jam pertama pasca lahirnya plasenta. Sedangkan Putri mulai membersihkan alat dan mensterilkan alat.
Hari yang mereka lalui begitu heboh dan penuh perjuangan. Kedua nyawa sedang di pertaruhkan dan di perjuangkan. Lelah bukan kepalang, setelah seharian penuh menjadi relawan masih di suguhkan dengan persalinan yang penuh resiko. Bidan Erna nampak tertidur di meja reseptionist dengan tumpukan ASKEB yang belum selesai.
Arumi dan putri merebahkan diri sejenak di mushola yang beralih fungsi menjadi ruangan mahasiswa. Evakuasi korban longsor masih berlangsung hingga dua hari kedepan. Baru saja Arumi merebahkan diri, terdapat panggilan masuk.
Reza... Tumben nelpon jam segini, batin Arumi.
Arumi langsung mengangkat telponnya.
"Hallo, Assalamaualaikum" jawab Arumi.
"Waalaikumsalam, yang cepet keluar. aku depan PONED!" seru Reza.
"Demi apa?" pekik Arumi tak percaya.
"Aahh.. Pokoknya cepet keluar!" perintah Reza. Telpon langsung dimatikan secara sepihak oleh Reza.
__ADS_1
Arumi bergegas menuju keluar PONED meninggalkan Putri yang sudah tertidur.
Saat membuka pintu PONED Arumi celingukan mencari sesosok Reza. Benar kiranya, Reza sedang duduk di kursi tunggu prioritas dan tersenyum pada Arumi.
"Kamu ngapain duduk di situ?" tanya Arumi sambil berjalan mendekati Reza.
"Ya, kan lagi nunggu kamu" jawab Reza.
"Maksudku, ngapain duduk di kursi prioritas? itu tulisannya buat lansia, ibu hamil dan menyusui" papar Arumi.
"Ya biar jadi prioritas kamu lah.. kan lagi kosong juga.." goda Reza.
"Iishh.. serius.. kamu ngapain kesini ?" tanya Arumi kembali.
Reza mengasongkan sebungkus kotak nasi. Arumi langsung menyambar kotak nasi tersebut.
"Tau aja.. aku laper banget " ucap Arumi.
Tanpa berfikir panjang Arumi langsung meninggalkan Reza dan menyimpan kotak nasi tersebut di samping Reza. Tak berselang lama, Arumi datang dengan tangan yang sudah basah.
"Makan yuk, kamu makan belum?" tanya Arumi.
"Udah.. sebelum kesini aku makan sama relawan yang lain. Eh, pas udah selesai ada warga yang ngasih makan lagi. jadi aku bawain buat kamu aja" jelas Reza.
Arumi langsung memakan nasi dengan lahapnya, baru beberapa suap Arumi terhenti dan berlari kedalam PONED. Reza yang melihatnya pun kebingungan dan terheran-heran.
Tersedak? Mau minum? Mau muntah? batin Reza.
Tak berselang lama, Arumi kembali keluar dari dalam PONED menuntun Putri dengan wajah bantalnya.
"Ayoo cepet.. Kita makan" ujar Arumi
Oohh mau bagi-bagi makanan toh, Reza terkekeh mengingat beberapa hipotesis yang ternyata salah besar.
"Rezaa?? " pekik Putri.
Arumi langsung duduk di samping Reza di susul Putri yang duduk di samping Arumi.
Arumi dan Putri langsung menyantap kembali makanan yang ada di hadapannya.
"Astagfirulloh.. Gue lupa Mi.." ucap Putri.
"Apa?? jangan bilang kamu lagi puasa senin kamis" jawab Arumi resah.
"Gue belum cuci tangan. Hahaha"
Arumi menggelengkan kepalanya dan Putri melanjutkan makannya.
"Udah Put, makan aja. Vitamin tuh" timpal Reza.
Ucapannya di sambut tawa oleh Arumi dan Putri. Tak memerlukan waktu lama satu kotak nasi pun habis oleh mereka berdua, bersih tanpa sisa.
"Za, sering sering bawa giniannya ya" ucap Putri
Reza hanya mengacungkan jempol dan tersenyum simpul. Putri mrninggalkan Arumi dan Reza di ruang tunggu. Arumi asyik berbicara dengan Reza, banyak hal yang mereka bicarakan.
🍭🍭🍭
Kondisi Puskesmas dipenuhi oleh para relawan dan keluarga korban. Semua korban sudah di temukan. Akses jalan menuju kota sudah mulai bisa dilalui, kendaraan berat pun sudah berhenti beroperasi. Listrik sudah mulai pulih dan jaringan pun mulai bisa di gunakan krmbali. Truk mulai berdarangan menjemput para relawan yang surah menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Arumi terus terpaku melihat Reza yang sudah siap menggendong ranselnya dan beberapa jinjingan alat evakuasi. Reza yang melihat Arumi terpaku pun datang menghampirinya.
"Jangan sedih gitung dong sayang, beberapa hari lagi kamu juga kan pulang" hibur Reza.
Namun, bukan tawa yang di dapat. Arumi malah meneteskan airmata. Reza mengusap air mata yang jatuh di pipi Arumi.
"Kamu kenapa?" tanya Reza.
__ADS_1
"Aku cuman gak mau aja kamu pergi. Abisnya kalo jauh kamu suka dingin, susah di hubungi" rengek Arumi.
Reza tersenyum mendengar pengakuan jujur dari Arumi
"Dengerin ya. meskipun aku gak ada, aku akan selalu ada" jawab Reza.
Truk memberi klakson menandakan siap berangkat. Reza berpamitan pada Arumi dan kembali mengusap air matanya. Reza berpamitan juga kepada seluruh masyarakat yang berada di tempat itu. Dengan berat hati, Reza melangkahkan kakinya untuk pulang kembali. Tatapan matanya tak sekali pun terlepas dari Arumi. Hingga truk melaju pun Reza terus menatap Arumi. Reza melambaikan tangannya, jelas terlihat jika Arumi madih meneteskan airmatanya. Semakin lama truk yang membawa Reza hilang dari pandangannya. Reza sudah pergi kembali, Arumi langsung masuk ke dalam PONED diikuti seluruh warga yang tanpa komando membubarkan diri.
🍭🍭🍭
Sesuai dengan firasatnya, Reza kembali menghilang dari dunianya. Chat yang di kirim pun tak pernah berujung centang dua. Telpon biasa pun tak pernah bisa terhubung.
Putri dan teman-trmannya yang lain bergerombol datang menghampiri Arumi yang sedang duduk di balik meja Receptionist.
"Kita punya kabar gembira loohh.. Jangan murung teruuss" goda Putri
"Ah.. awas aja kalo ga bikin gembira" timpal Arumi.
"Penutupan di majukan hari besok! sorenya kita bisa pulang" jawab Putri.
Secara perlahan bibir Arumi mulai mengembang membentuk senyum simpul penuh kemenangan. Arumi langsung memeluk Putri dan teman yang lainnya. Arumi langsung bergegas memasuki kamar yang disediakan untuk mahasiswa. Arumi bergegas membereskan semua barang bawaannya dan bersiap untuk pulang. Dari jauh Putri berlari mengejar Arumi
"Woy.. Curang!! Ngambil start beres-beres duluan lo" omel Putri.
Temannya yang lain pun turut berlari mengejar Arumi dan Putri dan langsung memenuhi kamar yang penuh dengan barang bawaan masing-masing.
Dengan cepat, kondisi kamar yang penuh sesak mulai kosong dan nampak di pojokan tetumpuk koper dan beberapa tas jinjing yang tertata rapih. begitu pula dengan beberapa buah ember, bantal dan guling yang sudah siap untuk mereka bawa pulang.
Rencananya, Bus kampus akan menjemput mereka besok siang berbarengan dengan datangnya dosen untuk melakukan penutupan dan penarikan kembali mahasiswanya dan pulang setelah acara penutupan selesai.
Malam ini adalah malam terakhir bagi mereka. Bidan Erna yang sudah mengetahui rencana kemajuan penutupan mahasiswa pun sengaja membuat acara makan malam bersama seluruh staff Puskesmas sebagai perpisahan.
Arumi yang mendapatkan tugas untuk belanja pun segera berbelanja menuju desa sebelah. Ya, perekonomian desa memang belum berjalan dengan baik sehingga bila membutuhkan keperluan sehari-hari harus menuju toko di desa sebelah. Pasar yang berpusat di desanya masih tutup dan belum ramai seperti sedia kala.
Malam mulai tiba, para pegawai pun datang bersama beberapa anggota keluarganya. Hidangan nasi liwet sudah tersaji siap untuk di makan. Beberapa pegawai lelaki pun sudah mulai menyalakan pemanggang. Jagung manis sudah siap untuk di bakar bersama beberapa potong sosis yang sengaja di siapkan untuk anak-anak para pegawai yang ikut acara malam itu.
Kekeluargaan sangat melekat, tak ada kata tanya siapa pada mahasiswa yang baru beberapa bulan terakhir bergabung bersama. Bagi mereka, siapa pun yang sudah turut bergabung dalam kegiatan puskesmas adalah bagian dari keluarga.
semakin lama, para pegawai semakin banyak berdatangan. Kepala Puskesmas pun turut hadir dalam acara malam ini dan di buka langsung oleh kepala Puskesmas. Beberapa prakata dari perwakilan Puskesmas menyampaikan permintaan maaf dan memberi motivasi pada mahasiswa. Tak lupa prakata juga di sampaikan oleh Arumi sebagai perwakilan dari mahasiswa. Tak banyak hal yang di sampaikan, Terimakasih dan ucapan maaf terus terulang dari mulut Arumi. Ini merupakan pengalaman yang tak akan pernah bisa terlupakan. Arumi juga menceritakan sekilas kejadian longsor yang menimpa desa tersebut, banyak sekali pelajaran yang bisa di ambil.
Setelah di tutup dengan do'a, tiba acara puncaknya yaitu makan bersama. Semua staff mengantri untuk mengambil makanan masing-masing. Antrian diawali oleh kepala puskesmas dan di akhiri oleh mahasiswa. Beberapa staff laki-laki memilih untuk segera pergi keluar dan membakar jagung.
Seusai makan , sambil menunggu jagung yang sedang di bakar mereka menyanyi bersama. melantunkan beberapa lagu lawas, dangdut dan juga berbagai macam jenis lagu lainnya. Hari mulai larut, makanan pun sudah mulai habis. Satu persatu staff berpamitan untuk pulang. Kini yang tersisa hanya piring kotor dan sampah yang berserakan. Arumi dan semua kawannya langsung bergegas mencuci piring dan membereskan kembali tempat pada keadaan sediakala.
Setelah semuanya selesai, Bidan Erna berpamitan pada seluruh mahasiswa dan 3 orang bidan yang berjaga di malam itu. Malam berlalu dengan cepat, tak ada pasien sama sekali yang datang di malam itu. Arumi dan yang lainnya tertidur pulas. Suara dengkuran pun saling bersautan menjadikan sebuah melodi yang indah. Arumi yang terbangun pun dengan iseng merekam kejadian tersebut sebagi kenang-kenangan. Arumi tertidur kembali menunggu mentari pagi. Arumi berharap jam berlalu dengan cepat, hatinya sudah tak dapat menahan rasa rindu ingin segera pulang ke rumahnya. Mimpi indah yang dirajutnya kini hanya seputar rumah, kamar dan kasur kesayangannya.
Glosarium
PTT\= Penegangan Tali Pusat Terkendali
VTP\= Ventilasi Tekanan Positif
Lpm\= Liter per Menit
KBI\= Kompresi Bimanual Internal
TFU\= Tinggi Fundus Uterus
LK\= Lingkar Kepala
LD\= Lingkar Dada
LILA\= Lingkar Lengan Atas
BB\= Berat Badan
PB\= Panjang Badan
__ADS_1
ASKEB\= Asuhan Kebidanan