
Dimana aku??? batin Arumi.
Arumi mengedipkan matanya beberapa kali, matanya menyapu seluruh lingkungan yang ada di sekitarya. Puluhan orang terbaring di atas blankar di sampingnya.
Ya ampuun.. Apa aku menjadi korban longsor ? berapa lama aku tak sadarkan diri? motor kuu..
"Neng, udah sadar?" tanya seseorang mengejutkan Arumi yang sedari tadi berperang dengan fikirannya sendiri.
"Eh, Bidan Erna... Alhamdulillah..." Arumi mencoba bangun dari tempatnya.
"Bu, saya korban longsor ? tapi kok badan saya baik-baik saja?" tanya Arumi.
Pertanyaan Arumi malah disambut dengan tawa yang menggema.
"Bukaaannn... Kamu mah di temuin pingsan di dekat area longsor, Neng" timpal Bidan Erna.
Arumi mencoba mengingat kembali kejadian apa yang sudah berlangsung. Usut punya usut, ternyata... ketika warga berbondong-bondong untuk lari, Arumi yang panik langsung mengikuti massa yang berlari meninggalkan motornya. Arumi pingsan saat menerobos hujan deras yang terus mengguyur lokasi tersebut.
Arumi membatin. Bodoh sekali kau Arumi.. kenapa malah ikut lari sama warga ? naik motor kan lebih cepat..
Bidan Erna yang melihat Arumi tertawa pun malah ikut tertawa.
"Kalo udah baikan. nanti, tolong ibu buat periksa yang lain. Teman mu semua di lokasi kejadian, lagi bantu evakuasi korban" Bidan Irma meninggalkan Arumi yang masih duduk di atas blankar.
Ya ampuunnn, sinyal mana ??? duh mama pasti sangat khawatir. Arumi mengacung-acungkan hand phonenya. Namun, tak merubah keadaan. sinyal yang terpampang di hand phonenya masih tetap bergambar silang.
Ah.. Iya.. mungkin perlistrikan di sini padam.
Arumi merasa sudah baik-baik saja. meskipun Arumi adalah seorang mahasiswi Kebidanan, jika sudah menghadapi situasi ini Arumi berkewajiban membantu sepenuhnya pada Puskesmas yang ia tempati dan mengikuti segala kebijakan di lapangan. Kali ini, tugas memanggilnya untuk merawat seluruh korban.
Sejauh ini, laporan yang berhasil Arumi kumpulkan ada 20 orang luka ringan, 10 orang meninggal dunia dan 15 lainnya masih dinyatakan hilang.
Ini adalah kali pertamanya Arumi praktik dengan lokasi yang terkena musibah. Di depan posko banyak warga yang mengungsi. alas seadanya menjadi tempat ternyaman untuk menghilangkan lelah. hari mulai malam dan angin dingin menelusup kedalam raga. Cemas, sedih dan kelaparan nampak jelas pada para pengungsi. tangisan bayi yang tak henti seakan menjadi back sound para penghuni posko.
Banyak wartawan yang sedang meliput kejadian tersebut. Berita longsor dengan mudah dan cepatnya menyebar ke seluruh pelosok negeri.
hmmm.. sepertinya sedang menjadi berita hangat yang paling di bahas di TV.. semoga saja di wawancara biar masuk TV... Arumi cengengesan sendiri sambil berjalan menuju pusat tenaga medis. Dari jauh terlihat beberapa temannya dari desa sebelah yang turut membantu di posko kesehatan.
Arumi segera bergabung bersama dengan teman-temannya. Ternyata memang benar asumsi Arumi tentang sinyal. Sedari siang, mereka tidak bisa mendapatkan akses jaringan. Tanpa perintah, perut Arumi mengeluarkan suara-suara bak cacing yang sedang berdemo. Arumi baru sadar bahwa hari mulai larut dan belum sama sekali mendapatkan makan.
Arumi bergegas menuju dapur umum. disana tersedia makanan seadanya sebagai sumbangan dari para relawan yang sudah terkumpul. Akses jalan menuju desa tertutup longsor dan harus memutar sejauh 10x lipat jalan biasanya.
"Mi, situ makan kaya ga nemu nasi dari lahir.." ejek Putri.
__ADS_1
"Heh, gak usah ngomen.. yang penting aku hidup..." dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Eh, lu udah ngasih kabar keluarga belum ?"
"Lah.. kan kamu sendiri yang bilang gak ada akses jaringan" timpal Arumi.
"Ah iya.. maaf gue bingung.. sebenernya lagi sedih sih dapet musibah kaya gini" ceplos Putri.
"Lah ?? masa ??" ejek Arumi.
"Iiih.. bener... gue lagi berantem sama si Farhan, terus gue ngancem putus.. eh belum dapet balesan keburu gak dapet jaringan" dumel Putri.
"Waahh.. siap siap jadi JOMBIII !!!" ledek Arumi.
"Jomblooooo!!!!!!" solot Putri.
"Kamu sendiri yang bilang jomblo looh" tawa Arumi meledak.
Arumi menghabiskan sisa malamnya dengan berbaur bersama para pengungsi lainnya.
🍭🍭🍭
Dari jauh terlihat seseoang yang nampak familiar. Seorang lelaki berperawakan tinggi, berambut cepak dan berisi berjalan memakai topi hitam yang menutupi wajahnya. Arumi bergegas menghampiri lelaki tersebut.
"Ayaaaaahhhhhhhh!!!!" teriak Arumi penuh haru.
Arumi langsung berlari dan menghambur memeluk ayahnya. Belum juga usai melepas rindu ada hal yang lebih menarik yang membuat Arumi melepaskan pelukannya.
"Mamamaaaaaa!!!" teriak Arumi. Hal yang sama pun ia lakukan pada mamanya.
Arumi adalah anak semata wayang. Wajar saja bila keluarganya sangat mengkhawatirkannya. Setumpuk makanan di keluarkan dari mobil ayahnya. Kata Ayahnya sih, itu adalah hasil dari donasi kantornya. Para relawan dengan segera mengambil dan menyimpan sumbangan terdebut ke gudang makanan. Arumi mengajak Ayah dan mamanya untuk berkeliling posko dan mengenalkan pada teman-temannya. Wajah Arumi sangan mirip dengan mamanya. "Bak pinang di belah dua" kata Putri.
"Reza udah kesini?" tanya mama.
"Emang dia peduli?" Arumi memalingkan wajah dari mamanya yang mulai berkaca.
"Uuh.. Cantik mama lagi marahan nih sama Reza??" goda Mama.
"Tau ah.. Gelap... Arumi sebel sama ---" belum selesai bicara, Arumi di buat terkejut dengan segerombol orang yang turun dari truk dan salah seorang menghampiri Arumi.
"REZAAAAAA????" tanya Arumi seraya tak percaya.
"Hai, apa kabar?" sapa Reza.
__ADS_1
"Ya.. Beginilah. Kabar buruk.." jawab Arumi ketus.
"Ceileeh.. Si cantik marah tuh, Yah" goda Mama.
Arumi mengajak Reza mencari tempat yang lebih tenang untuk bicara. Rasa rindu yang menggebu bercampur dengan gengsi yang memuncak. Lama Arumi hanya menatap wajah Reza. Tetesan air mata tak dapat lagi di bendung oleh Arumi. Rindu yang serindu rindunya tak bisa lagi di tahan. Tatapan Reza membuat egonya luluh. Arumi mulai menangis dan memeluk Reza, seorang lelaki yang berhasil membuatnya merasakan beban rindu yang teramat dalam.
"Kamu jahat!!" isak Arumi.
"Maaf.." lirih Reza.
Sepanjang perbincangan Reza hanya bisa mengucapkan maaf untuk Arumi. Sifatnya yang acuh, keegoisannya dan juga segala hal yang membuat Arumi sebal seakan hilang hanya dengan pertemuan.
Bahagia bukan kepalang, hidup Arumi serasa lengkap. Kedua orang tuanya yang sangat ia cintai dan juga Reza kini hadir menemani harinya.
Evakuasi korban masih di lakukan. Reza yang datang bersama sukarelawan lainnya mulai gencar mencari 15 orang yang masih hilang. Saat pertama kali Reza mendengar berita longsor di daerah praktik Arumi, Reza langsung menghubungi Arumi. Namun, pesannya tak kunjung sampai. Saat mendengar Himpunan Mahasiswa jurusannya mengadakan rekrutmen relawan, Reza adalah orang pertama yang mendaftarkan diri dengan sukarela.
Beberapa malam terakhir Reza sering teringat dengan Arumi. Namun, Reza langsung menepis fikiranya dan mengalihkan dengan kesibukannya. Game online selalu setia menemaninya menghilangkan firasat buruk tentang Arumi.
Arumi termenung melihat Reza yang sangat semangat menggali dan mengevakuasi korban. Satu persatu korban hilang di temukan. Dan.... sebuah keajaiban, seoranga bayi laki-laki berhasil selamat dari bencana. Namun, kedua orang tuanya meninggal dunia. Saat pertama kali di temukan, sang bayi berada dalam dekapan ibu dan ayahnya. Bayi yang selamat langsung di tangani oleh tenaga kesehatan yang sedang berkumpul di posko.
Berita itu langsung menjadi perbincangan seluruh bidan yang bertugas, bahkan masuk kedalam berita. Belum sempat satu hari dari waktu di temukannya, sudah banyak warga yang mengajukan diri untuk mengadopsi anak tersebut. Termasuk orang tua Arumi, mereka mengajukan diri untuk mengadopsi bayi laki-laki tersebut adalah suatu hal yang sangat di dambakan oleh kedua orang tuanya. Arumi pun menyetujui hal tersebut. Bahkan Arumi sangat berharap bila anak tersebut menjadi adiknya.
Menjadi anak semata wayang sangat membosankan. Apalagi kini Arumi sudah beranjak menuju dewasa. Rumah sangat sepi, hanya ada Arumi dan kedua orang tuanya. Bahkan sudah tiga tahun terakhir, di rumahnya hanya berpenghuni kedua orang tuanya saja.
🍭🍭🍭
Mama memeluk Arumi erat-erat dan mencium kening serta kedua pipinya. Begitu pula dengan ayahnya. Hari ini adalah hari ketiga pasca kejadian. Kedua orang tuanya harus kembali menjalankan pekerjaannya.
"Za, mama titip Arumi" ucap Mama.
"Iya. Insyaallah Reza jagain" jawab Reza dengan tegas.
Mama dan Ayah berpamitan pada seluruh relawan dan juga warga. Sedangkan Reza masih akan tetap tinggal bersama Arumi sampai hari ke-7 bersama dengan relawan yang lain.
Arumi pun masih akan tetap tinggal hingga 12 hari kedepan sampai masa praktiknya selesai. Sebulan sudah Arumi berada di desa tersebut dan semua target capaian berubah menjadi kegiatan kemanusiaan. Tak lagi di hiraukan apa yang menjadi capaian kompetensi akademik. Bahkan, akademik pun sudah berkunjung dan menyarankan agar mahasiswinya tetap terlibat dengan segala hal yang bersangkutan dengan bencana tersebut. Tidak akan ada sanksi yang di berikan bila target kompetensi tidak tercapai, mereka sudah mendapatkan tatget yang lebih penting dari yang sudah di tentukan sebelumnya, yaitu turut memulihkan kembali kondisi masyarakat pasca longsor.
Hari ketiga, bantuan mulai banyak berdatangan. Media pun masih sangat gencar menyiarkan keadaan setempat. Kondisi jaringan mulai bisa terhubung kembali, meskipun masih belum mendukung untuk mengakses internet. Batang demi batang sinyal mulai terbaca oleh hand phone.
Tim medis pun mulai lengkap dengan segala dukungan alat dan obat. Perangkat pemerintahan pun satu persatu mulai mengunjungi posko. Dimulai pejabat kecamatan hingga gubernur turut datang. Dan wacananya presiden pun akan turut datang untuk memberikan sumbangan untuk warga.
Setiap hari, Arumi mengunjungi bayi laki-laki yang ingin orang tuanya adopsi. Namanya adalah Febrian Alamsyah, bayi yang kuat dan tenang. Selama masa perawatannya Febrian tidak rewel. Proses pengajuan adopsi sedang di usahakan oleh kedua orang tuanya. Arumi mulai menyayangi Febrian. Menggendong, memandikan dan mengganti popok sudah biasa bagi Arumi. Tak ada rasa takut untuk menggendong bayi yang berumur satu bulan tersebut. Tatapan matanya bulat dan bersih, sorot matanya bersinar menggambarkan bayi yang polos tak berdosa yang menanggung luka yang dalam atas kejadian naas yang menimpa keluarganya.
🍭🍭🍭
__ADS_1