Can I Lose You?

Can I Lose You?
Bab 1_Pertemuan Kita


__ADS_3

    “Tiaa kamu jadi pulang bareng tidak?!” kata teman baikku yang semula kita pernah bermusuhan sampai akhir musim lalu. “Ehhh iya-iya, huh dasar ga sabaran banget jadi orang!” balasku dengan nada yang sedikit geram.


    (Tringg... suara bel sekolah)


    “Ehh kamu tau ga Tia? Kemarin nihh si Kevin, dia bilang kalo bakal ngajak aku jalan ke pantai lohh bulan depan.” Katanya dengan nada sedikit menahan senyum.


    “Terus, dia bakal jemput aku pakek mobil barunya ituu yang kemarin dia bawa ke sekolah!” Tambahnya dengan jemari yang mulai menunjukkan penuh harap dan wajah yang mulai tak bisa membendung rasa senangnya itu.


    (Berjalan menelusuri terotoar di luar sekolah)


    Kami berempat, awalnya hanya sebatas orang yang tak bisa saling menyebutkan namanya satu sama lain di depan kelas. Namun, kejadian itu telah merubah alur cerita kami. Kami yang semula dingin tak ingin menyapa, menjadi satu yang tak bisa terpisah. Akupun yang hanya bermental bulir padi, menjadi sebesar kerikil batu karena ulah mereka yang selalu menjadi tameng bagiku mengatasi rasa takutku akan berjalannya waktu.


    Dua orang lagi, Ela dan Zahra? Mereka sedang belajar di perpus, dikarenakan hidupnya yang selalu diisi dengan belajar ala-ala anak profesor jurusan S4. Sedangkan aku dan Riska, hanya sebatas mengerjakan ujian dan esoknya melupakan saja semuanya.

__ADS_1


    Akupun tak tau lagi bagaimana temanku yang satu ini, si neneng Riska yang semula diam bagai tak mengerti apa itu cinta atau bahkan tak mengerti apa itu lawan jenis. Mulai perlahan ia meninggalkan dunia kecilnya yang penuh dengan kebosanan itu. Akupun sebagai temannya hanya bisa berharap, semoga apa yang ia harapkan tidak sepenuhnya jauh dari ekspektasi angannya itu.


    Mengingat dirinya pernah menjadi korban dari laki-laki seumurannya dikarenakan rasa berharapnya yang terlalu tinggi. “Yahh namanya juga lagi jatuh cinta ya kan Ris?” ucapku dengan nada sedikit meledek.


    “Hihh apaan sih kamu Tiaa.” ucapnya dengan nada malu-malu.


    “Yaa aku kan cuman menebak saja kok Ris wkwk.” balasku sambil menyenggol bahunya.


    (Suara bisingnya kota)


    “Iya deh iya, maaf ya neneng jago” ucapku sambil menyatukan kedua telapak tanganku dan berharap semoga dia memaafkan kelakuanku beberapa detik yang lalu.


    Akupun hanya mengangguk dan bergumam “Ya ya yaa” mendengar celoteh ala neneng Riska yang akupun tak tau kapan akan berakhir.

__ADS_1


    Berjalan bersamanya, sambil sesekali memandang indahnya langit kala itu membuatku menikmati obrolan kami meskipun hanya sebatas membicarakan laki-laki idamannya itu. Entah karena perasaanku saja atau langit sudah mulai tertutupi oleh awan.


    Perlahan namun pasti kami berjalan pulang sambil sesekali bergandengan tangan. Eratnya gandengan tangan kami seakan membuat dunia tak bisa memisahkannya.


    (Suara hujan)


    “Ehhh cepat-cepat, kebawah halte itu Tiaa!” ucap neneng Riska dengan tangannya yang tak ingin melepaskanku. “Aduhh jadi basah kann.” Tambahnya sambil mengusap usap bajunya.


    Derasnya hujan dan suara yang tak asing di telinga kami mulai perlahan menurunkan niat untuk segera pulang ke rumah. Berlindung di bawah halte tua yang mulai lapuk diterjang derasnya hujan membuatku teringat akan kejadian itu.


    Kejadian beberapa bulan yang lalu.


    ****

__ADS_1


 


 


__ADS_2