Can I Lose You?

Can I Lose You?
Bab 3_The Another Option


__ADS_3

    Singkat cerita, aku dan neneng Riska sudah kembali ke rumah masing-masing. Hanya saja dikarenakan Riska yang terlalu sibuk melamun memikirkan pujaan hatinya di mana kelak akan mengajaknya pergi ke pantai, ia sampai lupa untuk menghindari genangan air yang dibuat oleh hujan beberapa waktu yang lalu.


    Di saat yang sama, sebuah mobil melaju dari arah utara dan melewati genangan air yang ada di sampingnya. Alhasil ia pun basah kuyup dikarenakan seluruh genangan air yang dilewati mobil itu membasahi tubuhnya.


    “Yaa ampunn, dasar mobil payahh. Masa ga tau sih kalo ada orang yang lagi lewat!” Omelnya sambil mencoba menahan tangis dikarenakan baju sekolahnya yang kotor terkena genangan air.


    “Hwaa... gimana nih Tiaa?? Nanti Mamaku bisa marahh.” Tambahnya seraya mulai merengek seperti anak kecil yang ingin kue dari Ibunya.


    “Dah-dah ga papa, yuk kita pulang nakk. Cup cup cupp.” Jawabku mencoba menenangkannya bak seorang Ibu saat melihat anaknya yang sedang menangis.


    Di perjalanan ia pun tetap saja menangis, tersedu-sedu sampai aku tak tega melihat sahabatku yang satu ini. Akupun mencoba untuk terus menenangkannya sambil kuantar pulang ke rumahnya.


    ****


    Di esok harinya, waktu berjalan seperti biasa. Bangun pagi dan berangkat ke sekolah. Hal yang sama sepanjang harinya ditemani bumi dan atmosfer yang sama.

__ADS_1


    (Tringg... suara bel sekolah)


    “Selamat pagi anak-anak, hari ini kita akan belajar mengenai apa itu trigonometri. Nahh trigonometri sendiri adalahh...” Tutur guru matematika yang selalu menghampiri kelasku setiap minggu terkecuali hari Jumat.


    Akupun hanya memperhatikan papan tulis yang sama sepanjang hari. Hingga pada saat itu. Ela, teman kelas sekaligus sahabatku mengerjakan soal latihan yang diberikan Ibu Hanif selaku guru matematikaku. Akupun hanya dapat melihat kepiawaiannya mengerjakan soal di depan papan putih yang berbentuk persegi itu.


    Zahra dan neneng Riska? Mereka di sekolah ini kok, hanya saja berada di kelas yang berbeda. Itupun hanya berjarak 2 kelas saja dari sini. Cukup dekat tentunya, mengingat kami yang selalu berkumpul bersama setelah bel istirahat pertama berbunyi.


    Mengenai favorit kami di kantin? Tentunya membeli jajanan Pak Danang dengan porsi ala penjabat dengan harga merakyat. Ditambah es teh anget dari Mbak Yuk yang menghilangkan dahaga setelah sehari menguras otak.


    Di pikiranku hanya ada bel istirahat yang sebentar lagi akan segera berbunyi. Tapi entah kenapa, 3 menit terasa seperti 3 tahun lamanya layaknya mendekam di balik jeruji.


    Mungkin hanya sahabatku Ela yang tidak memikirkan semua itu. Bayangkan saja semua permasalahan matematika dapat ia selesaikan dengan baik. Berlawanan sekali denganku yang memiliki kemampuan pas-pasan ini. Serasa berbeda jauh ya? Mungkin benar, tak salah jika aku memikirkan hal ini sejak beberapa hari sebelumnya.


    Bagaimana mungkin seorang sahabat tega beranggapan buruk pada temannya sendiri dikarenakan lebih mendahulukan pelajaran di sekolah dibandingkan waktu untuk dihabiskan bersama.

__ADS_1


    Sepertihalnya waktu itu. Ela menganggap jika pertemanan yang sedang kami jalani hanyalah omong kosong belaka seperti celoteh anak kecil yang dilontarkan tanpa berpikir terlebih dahulu.


    Akibatnya, Riska yang begitu peka akan sahabatnya sendiri mulai berlinang air mata saat mereka beradu mulut setelah pulang dari sekolah.


    Akupun masih teringat kalimat yang Ela tuturkan sedikit demi sedikit mulai merusak pertemanan kami.


    “Tidak ada yang bisa diharapkan kalau kita hanya bermain seperti anak kecil!” Tuturnya di depanku dan juga Riska saat hendak mengajaknya pulang bersama.


    “Kamu bicara apa sihh La?! Kok tiba-tiba jadi emosional begitu?!” Balas Riska sambil berusaha mendekati Ela yang mulai menjauh sambil meneteskan air mata.


    Akupun hanya diam. Diam dalam artian tidak bisa berkata apa-apa. “Payah sekali kau, benar-benar payah sekali. Hanya diam saja seperti ini!” Gumamku dalam hati seraya menggenggam erat tanganku yang mulai bergetar.


    Namun, semua itu hanyalah kejadian di masa lalu. Di mana kami masih memiliki beberapa pilihan. Entah memilih terperangkap di dalamnya atau mulai menghargai perbedaan yang ada.


    ****

__ADS_1


__ADS_2