
Kejadian saat seseorang berteriak untuk menolongku dikarenakan terjatuh dan kepalaku terbentur keras ke tanah. Kerasnya benturan itu membuatku harus mendapatkan perawatan khusus dan harus segera dibawakan ke rumah sakit.
“Toloongg, siapapun tolongg panggilkan ambulan!!” Suara itulah yang aku dengar saat mataku mulai terpejam karena tak kuat menahan sakit kala itu. Bagaimana mungkin seseorang dapat mengingat sesuatu saat kepalanya terbentur ke tanah hingga pingsan beberapa hari.
Namun herannya hanya suara itulah yang aku ingat. Sisanya? Akupun juga tak tau, semakin aku berusaha mengingatnya rasa trauma yang mendalam mulai menyelimuti. Semakin aku ingin melupakannya, rasa penasaran pun mulai datang menghampiri. “Aneh memang” Pikirku.
“Hah, aneh apanya? Kamu bicara apa toh Tiaa?” Ucap sahabatku keheranan yang saat ini sedang menemaniku di bawah hujan deras dengan atap reyot beralaskan ubin di halte tua.
“Ehh maaf-maaf, penyakitku kambuh lagi nih hehe” Elakku agar ia tidak khawatir.
“Ya ampunn Tiaa, trauma itu lagi?” Balasnya sambil mengenggam tanganku erat-erat.
Akupun hanya mengangguk dan berharap semoga rasa ini segera memudar seiring berjalannya waktu. Meskipun bertentangan dengan rasa penasaranku soal suara itu teman-temanku selalu melarangku dan meminta agar aku tidak pernah mengingat kejadian buruk yang menimpaku beberapa bulan yang lalu.
Ingatanku seakan tersamarkan mendengar derai hujan yang perlahan mulai berhenti. Sesekali tetesannya masih tersisa walaupun sang awan hujan telah pudar terganti oleh sinar mentari. Suara katak yang semula diam, kini ikut mewarnai menyambut mentari yang mulai menyinari bumi.
(Suara katak pasca hujan dan burung-burung yang berkicauan)
“Eh Ris, hujannya udahh re.. hmm malah tidur nih anak Pak Jokoo.” Keluhku sembari melihat neneng Riska sedang tertidur di bahuku.
__ADS_1
“Ehh ayuk Ris bangun bangunn, hujannya udah berhenti ini lohh.” Panggilku sambil menggoyangkan bahunya dan berharap agar ia segera bangun dari tidur indahnya itu.
“Hahh, gimana-gimana??” Ucapnya sambil berusaha untuk membuka matanya.
“Si Kevin, barusan lewat depan sini” ledekku sambil berusaha membuatnya terbagun.
“Ehhhh serius?! Kamu kok ga bangunin aku sih Tiaa, huhh gimana sihh.” hiraunya dengan nada kesal.
“Hadehh, nggak-nggak, si Kevin sekarang lagi bubuk di rumahnya.” Balasku sambil menepuk punggungnya.
****
“Hashiim..” Suara Kevin sedang bersin.
“Loh, kamu lagi flu kah Dek? Itu di meja makan ada wedang jahe, ndang diminum ya.” Kata Ibundanya seraya khawatir akan kesehatan putranya.
“Habis ini deh Bund, ga tau nih tiba-tiba adek serasa ingin bersin. Ada apa ya?” ujarnya kebingungan.
****
__ADS_1
(Kembali lagi ke Tiaa dan Riska di halte tua)
“Udah-udah, maaf yaa neneng cantikk. Kalo ga gitu, kapan kamu bangun hah putri tidurr??” Sambungku sambil mencubit pipinya.
“Ihh Tiaa mahh, kadung aing jadi panik gituu. Kang ga lucu kalo Kevin tau wajah aing pas lagi tidur gini.” Ucapnya sambil berusaha menahan malu.
“Wkwk iya-iya, maaf atuh.” Tuturku seraya memohon maaf dan berharap ia akan berhenti untuk mengomel soal tadi.
(Suara katak dan tetesan air menyentuh. genangan)
Kamipun mulai berjalan kembali. Meskipun begitu, butuh waktu sekitar 30 menit bagiku agar neneng Riska dapat memaafkan tindakanku. “Susah memang ya Ris kalo berhadapan sama kamu wkwk.” Ucapku dengan nada bercanda.
“Ga tauk, pokoknya Tiaa punya hutang beliin aing cimol di warung besok.” Ucapnya dengan nada masih ngambek.
“Iya-iya, tenang aja paduka ratu wkwk.” Balasku sambil menunduk bak pelayan di sebuah kerajaan.
Meskipun kami berjalan bersama pada saat itu, sebenarnya ada perasaan yang aneh sedang terjadi. Semula yang berkesan penuh tawa dan senda gurau serasa berubah menjadi diam dan kaku. Perasaan antar sahabat yang mulai khawatir akan kejadian yang akan datang. Entah cuman diriku saja atau neneng Riska juga merasakannya. Tapi kami yakin bahwa sesuatu telah terjadi.
Perasaan yang berbeda mengenai Ela dan Zahra.
__ADS_1
****