Can I Lose You?

Can I Lose You?
Bab 5_Antara Langit dan Bumi


__ADS_3

    Sudah lebih dari satu minggu semenjak terkuaknya hubungan Kevin dan Gisel yang membuat sahabatku Riska harus rela menelan pahitnya cinta. Beberapa hari setelah kejadian itu Riska pun jatuh sakit dan harus menjalani perawatan khusus.


    Akupun sangat khawatir sampai-sampai perasaan ingin makan pun terasa hilang dari benakku. Bahkan makanan terenak dari warung Pak Danang dipadu es teh hangat ala warung Mbak Yuk pun tidak bisa menghilangkan rasa cemasku pada sahabatku.


    Mungkin hanya aku saja yang benar-benar memahami perasaan Riska sebelum dirinya dilarikan ke rumah sakit. Bahkan orang tuanya, nyaris tidak tau apa yang tengah dialami oleh putri semata wayang mereka.


    Dua hari setelahnya ia mengalami demam, nyeri pada otot, dan sakit kepala yang berkepanjangan. Semakin hari pula berat badannya kian menurun. Aku sempat menanyakan apakah ia tengah baik-baik saja pada saat itu. Namun jawabannya selalu sama.


    “Aku ga papa kok Tiaa hehe.” Dengan wajah pucat lesu ia berkata demikian.


    Menurut dokter, Riska sedang mengalami gejala demam tifoid yang mengharuskannya mendapat perawatan khusus di rumah sakit. Namun menurutku, penyebab ia sakit tak lain adalah rasa kecewa yang sudah menggerogoti perasaannya.


    Dalam hatiku, aku ingin sekali memeluk dan menemuinya. Namun sayangnya, dokter melarang kami untuk menemui Riska dikarenakan kondisinya yang masih belum stabil.


    Hanya dapat berdoa dan berharap, sembari menunggu hari-hari berganti. Wajah ceriaku yang selalu ada saat bersamanya kian hari makin memudar. Hanya perasaan sedih yang ada meskipun sahabatku masih tersisa dua di sekolah ini.


    “Riska akan sembuh.” Itulah yang selalu aku pikirkan saat mengingat kembali wajah lesunya kala itu.


    ****


    (Tringg… bunyi bel pulang sekolah)

__ADS_1


    Sambil berjalan pulang aku memikirkannya. Memikirkan perihal sahabat terbaikku Riska. “Mungkin antara langit dan bumi saja yang memahami perasaanku saat ini.” Gumamku dalam hati.


    “Kami seperti api dan minyak saat tertawa, seperti air dan es saat merenung, dan seperti petir dan angin saat bersedih.” Tambahku saat menyusuri kembali jalan yang kami lalui bersama.


    Mungkin hari ini tak ada dia, tapi perasaanku meyakini bahwa Riska akan segera datang menemaniku kembali. Entah kapan hal itu akan terjadi, alangkah baiknya aku memikirkan hal yang baik daripada memikirkan yang tidak-tidak tentangnya.


    Namun apa hanya aku, yang merenung saat sang sahabat sedang pergi. Dan apa salahkah saat seseorang yang paling berarti dalam hidup tengah izin meskipun hanya sehari. Saat canda dan tawa yang semula ada, kini lapuk bagaikan kayu yang dimakan api.


    (Merenung…)


    ****


    (Tinnn… suara klakson mobil)


    Akupun hanya terdiam dan menarik kembali kakiku di belakang garis terotoar. Terkejut? Tidak, aku sama sekali tak merasakan hal itu. Hanya ada angan-angan soal sahabatku yang saat ini tengah di rawat di rumah sakit.


    ****


    Tibalah aku, di sebuah halte yang biasa aku datangi bersama Riska saat menunggu bis di sana. Sembari menunggu, kami pun bersenda gurau dan memulai obrolan yang tiada habisnya saat itu. Sampai-sampai membicarakan para guru yang ada di sekolah kami.


    “Namun hari ini berbeda. Ini hukumanku, kualat gara-gara membicarakan Pak Bambang, guru seni kami yang

__ADS_1


selalu memberikan tugas yang tak masuk akal.” Gumamku.


    ****


    (Suara langkah kaki…)


    “Jamuu jamuu…” Suara ibu penjual jamu yang sedang menjajakan jamunya.


    “Jamunya nengg??” Tawarnya kepadaku.


    “Ngga bukk, terimakasih." Balasku dengan nada lesu.


    “Loalahh kamu kenapa atuh neng? Kok kelihatannya sedih begitu?” Ucapnya kepadaku saat diriku tengah duduk di bawah halte sembari menunggu bis tiba.


    “Bukan apa-apa kok bu, hanya memikirkan seseorang hehe.” Tuturku mencoba menenangkan suasana.


    “Owalahh masalah seseorang ya? Ga perlu terlalu dipikirkan atuh nengg, hidup itu mah dibawa enjoy aja. Kalo dipikir terus, ga akan selesai-selesai. Malah nambah beban kalo ditahan lama-lama, yakan? Mending sekarang neneng cantik tebar senyum, biar orang yang neneng pikirin, ga ikut susah…”


    “Terus nih neng, hidup itu kayak jamu. Pas kita minum nihh, kan kadang kala ada pahitnya tohh. Tapi… yang pahit-pahit itu bakal bermanfaat buat kehidupan kita kelak. Ya kann?” Sambungnya kepadaku sembari tersenyum.


    Akupun merenung, terdiam sesaat, dan mulai tersenyum.

__ADS_1


    Mungkin benar, apa yang aku lakukan selama ini hanyalah berfokus akan masalahku dan melupakan kewajibanku untuk memikirkan hal yang baik tentang sahabatku. Biarpun hal itu terjadi, ia pasti akan baik-baik saja di sana. Begitupula denganku yang selalu menunggunya sampai ia pulih kembali.


    ****


__ADS_2