
Beberapa bulan kemudian.
Taehyung's POV
Tidak terasa, aku semakin dekat dengan Seolhyun. Apakah ini waktu yang pas untuk aku menyatakan perasaanku? Ah, tidak.. aku akan menanyakan pendapat Jimin dan Yoori.
Aku segera menelepon Jimin dan Yoori untuk mengajak mereka bertemu, aku ingin membicarakan ini secepatnya. Aku tidak sabar menjadikan Kang Seolhyun sebagai milikku.
Mereka pun mengiyakan ajakanku. Kita bertemu di Cafe milik Seokjin hyung, tempat biasa kita bertemu. Aku langsung menuju tempat itu.
.
.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Jimin membuka pembicaraan.
"Cepat lah, Taehyung ah. Kau mengganggu jam tidurku". Gerutu Yoori.
"Ekhmm" aku berdehem membenarkan suara ku dan bersiap menerima hinaan dari mereka berdua. "Sebenarnya, aku ingin menanyakan tentang pendapat kalian. Apa kalian setuju jika aku menyatakan perasaanku pada Seolhyun? Aku ingin segera dia jadi milikku." Lanjutku.
"Ne, mengapa tidak? Aku sudah berusaha mengenalkanmu dan Seolhyun. Tentu aku setuju." Ucap Yoori sambil mengacungkan jempolnya.
"Apa kau tidak ingin mengenalnya lebih jauh, Tae?" Tiba-tiba Jimin angkat bicara.
"Apa maksudmu? Kau cemburu Taehyung akan segera melepas masa jomblonya? Sedangkan kau masih menjomblo? Iya?" Tanya Yoori dengan wajah heran.
"Tidak. Bukan itu Yoori-ya. Aku tidak pernah mempermasalahkan statusku." Bantah Jimin dengan muka serius. Wow, aku terkejut melihat Jimin bisa serius.
"Lalu apa? Apa yang kau permasalahkan?" Tanya Yoori kembali dengan nada yang mengintimidasi.
Jimin berdehem. "Taehyung-ah, apa kau tidak sadar?Kau menjadi orang yang boros semenjak kenal Seolhyun. Dan kau, Yoori. Apa kau juga tidak sadar? Kau sekarang jadi tameng bagi Seolhyun. Dimana ada kasus pembullyan, pasti ada dia. Dan kau yang menjadi tamengnya, Yoori-ya!" Ucap Jimin naik satu oktaf.
"Ya Park Jimin! Mworago?! Apa masalahmu dengan Seolhyun sampai kau berbicara seperti itu?!" Jawab Yoori dengan nada yang tak kalah tinggi.
Aku hanya terdiam melihat perdebatan serius antara temanku.
"Tidak. Aku tidak ada masalah dengannya. Aku hanya ingin melindungi kau dan kau." Ucap Jimin penuh penekanan sambil menunjuk ke arah ku dan Yoori.
"Mianhae, Jimin-ah. Aku hanya menanyakan pendapat kalian. Aku tidak ingin kalian bertengkar." Akhirnya aku angkat bicara.
Lalu Jimin berdiri dari duduknya, mengambil kunci mobilnya, "Ah, jika kau masih ingin berteman denganku, jadilah orang yang pintar, Taehyung-ah. Jangan bodoh karena wanita" ucapnya tiba-tiba. Ia langsung jalan menuju pintu keluar.
"Tunggu!" Cegah Yoori pada Jimin. "Taehyung-ah, kau harus buktikan kalau omongan yang keluar dari mulut Park Jimin itu salah! Buktikan kalau Seolhyun tidak seperti yang Jimin katakan." Ucap Yoori tiba-tiba, "Dan kau! Park Jimin! Buktikan kepadaku dan Taehyung kalau ucapanmu tentang Seolhyun itu benar." Tambahnya dengan penuh penekanan.
"Deal." Jawab Park Jimin dengan tersenyum sinis dan meninggalkan Cafe.
Yoori pun juga keluar dari Cafe tanpa berpamitan. Aku langsung menoleh ke arah Seokjin hyung yang sedari tadi berdiri.
"Hyung, kau mendengar semuanya?" Tegurku. Ia hanya mengangguk.
"Bagaimana menurutmu?" Tanyaku.
"Menurutku? Menurutku Jimin terlalu sayang padamu. Ia tidak mau kau memilih wanita yang salah. Jadi, apa salahnya kan kau mencari tau kebenarannya? Lakukan yang menurutmu benar, tapi jangan lupakan nasihat dari temanmu." Ucap Seokjin hyung sambil berjalan ke arahku.
"Aku yakin kau menemukan yang benar. Aku akan kembali kerja, Taehyung-ah" tambahnya lalu ia menepuk pundakku.
Aku hanya duduk memikirkan perkataan Jimin. Memang, aku merasa sedikit berfoya-foya. Tapi aku begitu karena aku ingin membahagiakan wanitaku. Ayolah, aku juga tidak lagi memakai uang orang tuaku untuk bersenang-senang. Apa itu salah?
Ah, daripada aku memikirkan hal seperti ini lebih baik aku bertemu kesayanganku.
__ADS_1
Aku segera meneleponnya dan mengajaknya bertemu. Aku akan menjemput kesayanganku. Aku pun langsung menuju rumahnya.
.
Sesampainya dirumah Seolhyun, tanpa menunggu lama dia sudah berada di dalam mobilku sekarang.
"Mau kemana hari ini cantik?" Tanyaku sambil tersenyum ke arahnya.
"Emm, parfumku habis. Apakah kau mau membelikannya?" Jawabnya dengan nada memohon.
"Tentu, hanya itu?" Ucapku.
"Aku akan melihat-lihat disana. Kau siap membelikanku apa saja?" Tanya nya sambil memelukku dari samping.
"Apapun itu akan ku belikan, Nyonya." Jawabku. Ia langsung berteriak antusias. Aigooo, menggemaskan.
.
.
Setelah berbelanja semua yang ia inginkan, aku merasa lapar. Sangat.
"Emm, Seolhyun-ah. Apakah kau lapar?" Tanyaku.
"Ah, ne. Aku lapar. Bagaimana kalau sekarang kita makan?" Jawabnya. Aku hanya mengangguk antusias.
"Bagaimana kita makan mandu? Aku tau tempat makan mandu yang enak sekali." Tawarku.
"Hmm, aku tidak ingin makan itu. Aku ingin makanan bergaya Barat. Kau bilang kan ingin membelikan semua keinginanku." Rengeknya sambil memajukan bibirnya.
"Ah.. yasudah, kalau begitu kita makan Steak saja. Bagaimana?" Tanyaku. Ia langsung mengangguk antusias.
.
Aish! Mikir apa kau Kim Taehyung?! Di depanmu sedang ada Kang Seolhyun! Wanita dambaanmu. Bagaimana kau bisa memikirkan wanita setengah iblis itu?
.
.
.
Setelah semua urusan di mall selesai, aku langsung mengantarnya pulang. Aku merasa lelah sekali hari ini. Dan merasa.. aku sangat menghambur-hamburkan uang. Apakah semua perkataan Jimin benar? Ah tidak. Tidak! Aku tidak boleh berpikiran negatif seperti itu.
Aku merindukan Jimin.
Aku menelepon.
Tidak ada jawaban.
Aku hanya bisa mengirimkan pesan.
"Jimin-ah, kau masih temanku kan?" Aku merutuki diriku sendiri. Nasib apa yang terjadi padaku.
Ah persetan dengan pendapat orang lain! Aku harus memutuskan ini sendiri.
Aku harus menyiapkan segalanya agar Seolhyun menerimaku.
.
__ADS_1
.
Kebesokan harinya, aku langsung menelepon Yoori untuk meminta bantuan. Aku ingin menyatakan perasaanku.
"Ne, yeoboseyo" sapanya disebrang sana.
"Ah, ne. Yoori-ya! Aku akan menyatakan perasaanku hari ini!" Ucapku antusias.
"Eoh? Ah? Jinjja? Woah.. semangat Taehyung-ah" jawabnya terbata.
"Bagaimana? Aku harus apa?" Tanyaku.
"Ya kau ungkapkan! Apalagi, bodoh?!" Jawabnya kasar.
"Maksudku, aku harus membelikan bunga atau apa?" Tanyaku lagi.
"Aish. Kau ini Kim Taehyung. Wanita yang ditembakmu pasti akan menerimanya tanpa seikat bunga pun" jawabnya sambil menghela napas.
"Yasudahlah. Kau tidak membantu! Payah." Ucapku lalu memutuskan teleponnya.
Ada apa dengan Yoori? Kenapa suasana itu canggung sekali? Apa ia cemburu? Aish. Bicara apa kau Taehyung? Yoori sudah bersama Namjoon hyung.
Ah, ya, aku lupa. Benar. Yoori dan Namjoon hyung sudah memiliki status beberapa bulan belakangan ini. Yoori akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan. Aku juga harus bisa mendapatkan apa yang aku dambakan.
.
.
Aku langsung bersiap untuk menyatakan perasaanku pada Seolhyun. Sebelum ke rumah Seolhyun, aku mampir ke sebuah tempat untuk membelikan sesuatu.
Semoga Seolhyun suka dan selalu memakainya.
.
.
.
Sesampainya dirumah Seolhyun, aku langsung turun dari mobilku.
Dia langsung membuka kan pintu untukku. Ia tersenyum sangat manis.
Tanpa ba-bi-bu aku langsung ke intinya.
"Seolhyun-ah.. aku.. aku memang bukan lelaki yang romantis. Jauh dari kata romantis. Tapi, aku suka padamu. Aku mencintaimu. Aku mendambakanmu dari awal aku melihatmu. Jadi, apakah kamhhh" ucapanku terpotong saat sesuatu yang kenyal dan lembut menempel dibibirku. Astaga. Aku kaget melihat Seolhyun mencium bibirku.
Lalu ia melepaskan ciuman kita. "Ne, Taehyung-ah. Nado saranghae. Aku mau. Aku mau tanpa kau tanya lagi" jawabnya antusias. Aku senang, aku pun langsung memeluknya erat.
"Ah, aku hampir lupa. Aku membelikan mu sesuatu." Ucapku sambil mengeluarkan kotak yang berisi gelang tadi. "Bukalah" ujarku. Wajahnya sangat antusias. Ia perlahan membuka kotaknya. Tapi ketika kotak sudah terbuka sempurna, ia terdiam. Menampakkan wajah kecewa.
"Wae? Kau tidak suka?" Tanyaku khawatir.
"Mmm, aku suka. Tapi ku kira kau akan menghadiahiku kalung mutiara atau anting berlian" ucapnya cemberut.
Hatiku sakit. Seperti terbang tinggi, lalu aku jatuh diantara batu-batu yang langsung menancap ke dadaku.
Aku hanya tersenyum, "Baiklah. Akan ku berikan padamu itu. Nanti. Kau harus menunggu, Chagiya." ucapku akhirnya sambil membelai rambutnya serta mencium keningnya.
__ADS_1
Aku berusaha menutupi kekecewaanku. Ah, tapi dia mungkin juga kecewa. Hadiahnya tidak sesuai apa yang ia harapkan.
Jimin-ah, aku membutuhkanmu sekarang juga.