
Keesokan harinya Park Jimin langsung mendatangi ruangan Ayahnya yang berada di sekolah. Ia ingin mencari tau tentang Kang Seolhyun dengan bantuan Ayahnya.
Jimin mengetuk pintu ruangan Ayahnya.
"Appa." Sapanya.
Lelaki paruh baya yang di panggil itu hanya menengok dan kaget melihat anaknya.
"Eoh, Jimin-ah. Ada apa? Tumben sekali kau mengunjungiku disini." Jawab Ayahnya.
"Hm.." Jimin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Aku ingin minta bantuan." Ucap anaknya sambil tersenyum kikuk.
"Katakanlah, Appa akan membantu sebisanya." Ujar Ayahnya.
"Bisakah aku melihat data milik Kang Seolhyun? Teman sekelasku." Tanya Jimin pada Ayahnya.
"Tentu. Tapi kenapa? Kau suka padanya sampai kau harus lihat data pribadinya?" Tanya Ayahnya sambil senyum meledek.
"Appaaa.. yang benar saja. Aku tidak akan suka dengan wanita iblis itu." Rengek Jimin.
"Wanita iblis?" Tanya Ayahnya heran. Jimin pun menjelaskan apa yang terjadi beberapa bulan belakangan ini. Ayahnya mengangguk mengerti dan mencarikan data-data milik Kang Seolhyun.
"Ah.. ini dia. Kang Seolhyun." Ucap Ayahnya yang membuat mata Jimin berbinar tidak sabar ingin membuka semua kebusukan manusia itu.
"Bagaimana, Appa?" Tanya Jimin tidak sabar. "Intinya saja, Appa. Apakah dia memiliki ibu?" Ucap Jimin tidak sabaran.
"Ehmm.. disini tertulis bahwa ia seorang yatim piatu. Ia tinggal di Asrama milik perusahaan keluarga Jeon yang menampung tuna wisma dan dia mendapat beasiswa dari perusahaan induk milik J-Comp." Jelas Ayahnya. Mata Jimin membulat.
"Jeon dan J-Comp.. ah, benar. Itu perusahaan milik keluarga temanmu bukan? Jeon Jungkook dan Jung Hoseok? Apakah mereka tidak mengenal Seolhyun?" Tanya Appa Jimin.
"Ah, ne. Benar, Appa. Itu perusahaan milik keluarga temanku. Tapi.. kurasa mereka tidak ada yang tau." Jawab Jimin.
"Apakah informasi ini sudah cukup?" Tanya Ayahnya.
"Tentu, tapi apa aku boleh membawa salinan datanya?" Izin Jimin dengan penuh berhati-hati.
"Ne, bawalah. Appa tidak mau ada pembullyan disekolah ini. Bantu Appa jadikan sekolah ini berisi dengan murid-murid yang adil dan bertanggung jawab, Jimin-ah." Ucap lelaki paruh baya itu sambil tersenyum.
"Baik, Appa. Kalau begitu aku permisi." Pamit Jimin sambil membungkukkan badannya.
.
.
"Dimana Jimin?" Tanya Hoseok.
"Molla." Jawab Taehyung singkat.
"Ah benar, dia tidak makan?" Tanya Namjoon.
"Emm, mungkin ia sedang bertemu Appa nya." Jawab Yoori. Yang lain hanya mengangguk mengerti.
Di kantin Seolhyun dan Taehyung sedang menyantap makanannya dengan lahap. Begitu pula dengan Namjoon, Hoseok dan Yoori. Mereka makan bersama.
"Lihatlah. Wanita ****** itu makan bersama Yoori dan BTS."
__ADS_1
"Dia sangat pintar cari muka."
"Hahaha. Padahal dia tidak lebih dari seorang pembully."
"Dia hanya berlindung kepada Yoori."
"Benar, jika Yoori tidak ada dipihaknya, ia tidak bisa apa-apa."
"Tentu. Dia akan menjadi babu disekolah ini hahahaha."
Celoteh murid-murid lainnya yang sedang memandang Seolhyun dengan jijik. Mereka sangat membenci Seolhyun karena sifatnya yang sombong dan kasar.
Yoori yang mendengar itu rasanya sudah panas. Seperti ada kobaran api yang berkoar ditelinganya.
Yoori pun membanting sumpit yang sedang ia pegang ke meja. Ia langsung menengok ke arah orang-orang yang bergosip tentang Seolhyun.
"Ya! Kalian diamlah! Sebelum ku pindahkan nampan makanan ini ke wajah kalian! Atau ku robek mulut kalian satu persatu!" Teriak Yoori membuat seisi kantin hening dan menatap makin kesal kearah Seolhyun.
"Mwo?! Apa yang kalian lihat? Lanjutkan makan kalian, pabo!" Taehyung menambahkan dengan suara beratnya yang rendah dan wajah datar tapi cukup menyeramkan.
Yoori dan Taehyung memang terlihat kasar dan menyeramkan, namun mereka seperti itu tidak untuk membully orang yang lemah. Mereka melakukannya hanya untuk membela yang menurutnya benar. Walaupun sikap mereka sebenarnya tidak bisa dibilang sepenuhnya benar.
"Yoori-ya, lanjutkan makanmu sekarang juga." Ucap Namjoon dengan tegas sambil menyerahkan sumpit baru kepada Yoori. "Kau juga, Taehyung-ah. Makan makananmu sebelum aku benar-benar marah." Lanjutnya. Membuat Yoori dan Taehyung menurut kepada Namjoon.
.
.
Istirahat sudah selesai. Semua kembali ke kelas masing-masing dan menunggu guru mata pelajaran berikutnya.
Jimin memasuki kelasnya dengan senyum penuh kemenangan.
"Dimana Yoori?" Tanya Jimin pada Taehyung, ia segera ingin menjelaskan apa yang terjadi.
"Ia sedang berada di toilet." Jawab Taehyung yang heran dengan Jimin.
"Seolhyun-ah, kau ingin aku membukanya sekarang atau nanti? Di depan Yoori?" Tanya Jimin dengan senyuman liciknya sambil menunjukkan sebuah map yang berisi data pribadi miliknya.
Wanita bernama Seolhyun itu sudah tidak bisa mengatur detak jantungnya lagi.
"Apa itu, Jimin-ah?" Tanya Taehyung yang semakin heran karena melihat respon Seolhyun yang panik.
"Ahh.. kau penasaran, Taehyung-ah? Kau mau melihat isinya sekarang?" Jimin bertanya balik.
Taehyung pun kesal dengan tingkah Jimin. Ia langsung merebut map yang sedang dipegang Jimin.
Keadaan dikelas itu sangat hening, melihat pertunjukkan itu. Mengamati apa yang sebenarnya terjadi. Sedari tadi juga ada seseorang di depan pintu yang sedang memperhatikan kejadian itu. Namun ia tetap bungkam, menunggu semuanya selesai.
"Mwo?! Apa ini, Park Jimin?" Teriak Taehyung kaget melihat isinya.
"Kau sudah besar, Taehyung-ah. Kau bisa membaca dengan jelas apa itu. Dan kau pasti mengerti apa isinya." Jawab Jimin santai sambil menatap Seolhyun.
Taehyung pun membacanya berulang kali. Berusaha mencerna.
"Seolhyun-ah, jelaskan padaku. Apa maksudnya kau yatim piatu? Kau bilang Ibu mu sakit?" Tanya Taehyung dengan suara pelan namun berat. Membuat seisi ruangan kaget. Jimin yang melihat itu semakin tersenyum.
__ADS_1
"Bahkan kau tinggal di asrama milik keluarga Jeon? Lalu rumah siapa yang aku datangi setiap aku bertemu denganmu?" Tanya Taehyung yang semakin membuat seisi ruangan kelas ramai.
"Aish. Kau berlagak kaya untuk merundung seseorang!" Teriak seseorang yang sudah muak dengan perilaku Seolhyun.
"Apa maksudmu merundung?" Tanya Taehyung yang bingung.
"Aku sudah menduganya." Ucap seseorang yang sedari tadi berdiri diambang pintu. Mendengar semua percakapan.
"Yoori-ya! Aku bisa menjelaskan!" Ucap Seolhyun yang spontan karena terkejut melihat Yoori.
"Kenapa kau panik, Seolhyun-ah? Belum tentu ia mendengar semuanya." Jimin penuh kemenangan. "Woahh, Yoori-ya. Kemarilah, kau harus melihat ini." Ucap Jimin.
Yoori pun berjalan menghampiri mereka. Yoori langsung mengambil data yang sedang di pegang Taehyung.
"Jelaskan ini." Pinta Yoori sambil melempar kertas itu ke arah Seolhyun.
Tetapi Seolhyun hanya menangis.
"Selain ini, apa maksudnya merundung?" Tanya Yoori sambil melihat seisi kelas.
Seseorang mengacungkan tangannya, ingin menjelaskan.
"Seolhyun selalu merundung seseorang jika kau dan Taehyung tidak ada ditempat kejadian. Bahkan ia tidak jarang memakai kekerasan fisik." Jelas seseorang mengenai hal itu. Seisi kelas mengangguk setuju.
"Apakah itu benar, Jimin-ah?" Tanya Yoori.
Jimin pun mengangguk, "Ne, benar. Aku pernah melihatnya secara langsung. Bahkan Hoseok hyung dan Namjoon hyung juga pernah melihatnya." Jawab Jimin.
"Aku." Seseorang angkat bicara. "Aku bahkan pernah disiram air kotor di toilet olehnya."
"Aku juga. Ia pernah menjambakku karena perihal susu tumpah." Jelas seseorang lainnya. Dan seterusnya. Korban-korban Seolhyun terus mengangkat tangannya dan menjelaskan keburukan Seolhyun.
Yoori melirik Seolhyun, "Aish. Kau menjijikan." Ucapnya. Seisi kelas menahan tawanya.
"Lalu jika Ibu mu sudah meninggal, kemana uang yang ku berikan padamu?" Tanya Yoori. Seolhyun hanya menunjukkan ponsel barunya, yang tandanya uang itu ia pakai untuk membeli ponsel.
Yoori menghela napas kasar. "Aku tidak peduli jika kau miskin atau bahkan kau gelandangan. Aku tetap akan berteman denganmu." Ucap Yoori yang membuat seisi ruangan kaget, termasuk Seolhyun yang langsung senyum penuh kemenangan.
"Tapi, jika sudah seperti ini.. kau bukan lagi temanku. Aku tidak punya teman seorang pembohong, perundung. Bahkan kau mengaku kaya raya hanya untuk orang yang lemah tunduk padamu." Lanjut Yoori sambil menunjuk Seolhyun tepat didepan wajahnya.
"Benar. Itu jauh lebih busuk." Ujar Taehyung membenarkan. "Aku sudah muak." Lalu Taehyung meninggalkan kelas.
"Taehyung-ah!" Teriak Seolhyun.
"Aigoo.. kau sedih Taehyung meninggalkanmu? Ah, tentu kau sedih. Ketenaranmu akan pudar, bukan begitu?" Tanya Jimin dengan wajah meledek.
"Kau! Minta maaflah pada teman-teman yang sudah kau rundung!" Pinta Yoori. Seolhyun menggeleng kuat sambil mengeluarkan airmatanya.
"Shiro? Ah, kau maunya aku bilang kejadian ini pada Hoseok sunbae? Agar ia bisa berbincang dengan orangtuanya untuk segera mencabut beasiswamu, begitu?" Tanya Jimin dengan nada meledek khasnya yang imut.
Seolhyun terpaksa maju ke depan kelas, membungkuk 45° dan meminta maaf.
"Lakukan itu dengan hati yang bersalah. Jangan hanya sebuah pertunjukkan." Ucap Yoori. Jimin yang mendengar itu langsung tertawa.
Yoori pun keluar kelas, mencari keberadaan Taehyung. Ia tau pasti Taehyung sangat butuh teman.
__ADS_1
Sebelum Yoori meninggalkan kelas, Yoori menatap mata Seolhyun dalam dan berkata, "Ini bukan masalah uang. Aku tidak pernah merepotkan berapa banyak uang yang ku keluarkan untuk temanku. Tapi ini tentang kejujuran. Tidak ada orang yang suka dibohongi, Seolhyun-ah. Ku harap kau bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Mulai sekarang, urusi dirimu sendiri. Dan jangan pernah kau berani menyentuh Taehyung sedikitpun. Kau hanya memanfaatkannya. Bodoh."