
Taehyung's POV
Aku duduk sendiri, memikirkan apa yang baru saja terjadi. Apa aku salah meninggalkannya begitu saja? Tapi aku tidak suka perihal ia berbohong. Bahkan ia merundung seseorang yang lemah. Kekerasan fisik? Astaga. Itu terlalu kejam.
Aku melempar gelang yang aku pakai. Gelang yang aku hadiahi juga untuk Seolhyun saat aku menyatakan perasaanku. Aish. Aku malas menyebut nama itu.
Aku terdiam. Apakah kisah cintaku berakhir seperti ini?
"Taehyung-ah.." panggil seseorang tiba-tiba. Aku menengok ke sumber suara.
"Eoh, Yoori-ya." Jawabku.
"Kau tidak akan masuk kelas?" Tanya nya. Aku hanya menggeleng. Ia berjalan mendekati ku, duduk disampingku.
"Mianhae, Taehyung-ah. Seharusnya aku tidak mendekatkan kau padanya." Ucap Yoori sambil menunduk.
"Aish. Bicara apa kau? Kau tidak salah." Aku menepuk pundaknya, "Ah, ne. Ini salahku. Aku yang terlalu jatuh cinta dengan fisiknya." Lanjutku.
"Itu manusiawi. Kau tidak bisa menyalahkan dirimu karena suka dengan kecantikan seseorang." Jawabnya sambil menggenggam tanganku untuk meyakinkanku. Aku tidak bisa berbohong, entah apa yang terjadi tapi jantungku seperti sedang marathon di dalam sana. "Lalu bagaimana? Kau sudah memutuskan apa yang harus kau lakukan?" Tanya nya. Aku hanya menggeleng lemah.
"Aigooo.. lihatlah. Kau sedang sedih karena wanita." Ucapnya dengan nada meledek sambil merangkulku. Jantungku sudah tidak tau berlari secepat apa sekarang, kurasa sebentar lagi jantungku turun ke perut. "Ayolah, Taehyung-ah, kita harus menjadikan ini pelajaran. Dan tentu kita harus meminta maaf pada Jimin karena tidak mempercayainya. Padahal niatnya baik." Ucapnya lagi. Aku mengangguk setuju.
"Ah, benar." Ucapnya tiba-tiba. Ia mencengkram tanganku dan berkata, "Apa kita harus menagih kembali atas apa yang telah kita berikan? Aish. Wanita itu. Untung aku tidak bangkrut." Aku tertawa melihatnya menggerutu dengan wajah seriusnya.
"Aish, jinjja. Lepaskan tanganku, bodoh. Dia yang salah, mengapa aku yang kau siksa?" Ujarku. Dia hanya tersenyum menyebalkan. "Kan kau pacarnyaaa hahahaha" jawabnya sambil tertawa puas.
"Sudahlah, Taehyung-ah. Ayo kita ke kelas. Kita tidak boleh melewatkan kelas, dikit lagi kita ujian kenaikan kelas." Ajaknya.
"Kau saja. Aku malas bertemu dengannya." Jawabku.
"Aish. Kau ini. Kau sudah dewasa, kau tidak bisa membawa masalah pribadimu ke dalam kelas. Anggap saja kau tidak pernah kenal dengannya. Ayolah." Ajaknya lagi sambil menarikku.
Akhirnya aku pasrah, aku menurutinya. Aku mengikuti Yoori jalan ke kelas.
Ah, wanita ini. Dia bisa menenangkanku, bisa membuatku berpikir positif. Dan yang jelas, dia sukses membuat jantungku berubah posisi.
.
.
Ketika kelas selesai, aku lihat Jimin yang sedang merapikan tasnya untuk segera pulang.
"Jimin-ah, bisa kita bicara sebentar?" Tanyaku hati-hati. Ia hanya mengangguk.
"Aku ikut." Ucap Yoori. Aku dan Jimin pun mengangguk.
"Apa yang ingin kalian bicarakan?" Tanya Jimin to the point.
"Ah.. aku. Aku ingin meminta maaf. Aku minta maaf karena mengabaikan nasihatmu waktu itu. Aku terlalu buru-buru ingin menjadikan dia milikku." Ucapku merasa bersalah.
"Ne, mianhae, Jimin-ah. Aku juga bersalah karena terlalu mempercayai orang itu. Aku bahkan kesal denganmu ketika dirimu berusaha menjelaskan yang sebenarnya." Yoori menambahkan.
Aku lihat Jimin tersenyum.
"Gwenchana, aku hanya melakukan tugasku sebagai teman. Dan aku memaklumi jika kalian tidak percaya. Ia bermain peran sangat bagus. Ku rasa dia cocok menjadi pemain film." Ucap Jimin sambil tertawa dan menepuk pundakku. "Ah, sudahlah. Semua sudah berakhir. Ku harap tidak ada lagi kejadian seperti ini." Lanjutnya.
"Aigoooo.. lucunya masa-masa ini. Ya, benar. Ku harap kita tidak lagi seperti anak kecil. Aku rindu kalian. Aku juga merasa kesepian jika salah satu dari kalian tidak ada disampingku." Ujar Yoori sambil menggandeng lenganku dan Jimin.
__ADS_1
"Setuju." Ucapku dan Jimin berbarengan. Kami pun tertawa bersama dan saling merangkul.
Aku bahagia.
Hanya kalimat itu yang bisa aku sampaikan.
.
.
Yoori's POV
Tidak banyak yang ku lakukan ketika pulang sekolah. Aku hanya berbaring dan mendengarkan lagu.
Entah ada keinginan dari mana, aku membuka buku ku. Mengecek ada tugas atau tidak.
"Aish. Mengapa tugas ini menyebalkan?" Gerutu ku saat melihat ada tugas matematika.
Aku berusaha mengerjakannya. Tapi aku tidak mengerti sama sekali. Aku benci matematika. Oh, aku lebih benci matematika daripada Seolhyun. Matematika lebih menyebalkan. Ku rasa aku butuh bantuan seseorang. Tapi siapa? Oppa ku? Ah, aniyo. Dia tidak pintar matematika seperti ku. Taehyung dan Jimin? Aish. Dua bocah itu pasti mengabaikan tugas ini dan memilih game bodohnya. Aku terus memutar otak ku.
Ah... aku lupa. Pacarku pintar.
Aku langsung mengambil ponsel ku dan menghubunginya. Ku harap ia tidak sibuk.
"Oppa, bisakah kau membantuku sekarang juga? Ini sangat berbahaya, Oppa." Sapaku di telepon.
"Sapaan macam apa ini? Ada apa, chagi?" Jawabnya disebrang sana.
"Kau sibuk? Kalau tidak, cepatlah kesini. Ini darurat, oppa. Dan aku tidak menerima penolakan." Pintaku.
Batinku senang. Mengerjakan tugas bersama pacarku tidak apa-apa kan? Kalian pasti juga mau merasakan ini, ya kan?
Setelah 20 menit aku menunggu, ia datang. Aku langsung mengajaknya ke kamar ku.
"Ya! Jangan tutup pintu mu jika kau tidak ingin ku dobrak." Teriak Yoongi Oppa dari lantai bawah. "Namjoon-ah, singkirkan pikiran mesum mu dulu dan bantu adikku dengan benar." Lanjutnya.
"Ne, hyung. Jika aku kebablasan, maafkan aku." Jawab Namjoon Oppa sambil tertawa puas. Aku juga tertawa mendengarnya dan membayangkan ekspresi Oppaku.
Aku langsung duduk di kursi belajarku dan mengajak Namjoon Oppa duduk di kursi yang sudah ku sediakan disebelah ku.
"Jadi, kau butuh bantuan apa?" Tanya nya.
Aku langsung menyodorkan buku matematika ku dan berkata, "Ini. Aku sangat membencinya." Ucapku. Ia malah tertawa dan mengacak rambutku.
"Kau ini. Ini sangat gampang." Katanya.
"Aish. Gampang menurutmu." Aku menggerutu.
"Baiklah, Tuan Putri. Akan ku ajarkan. Baik, sekarang kau tulis angka dari soalnya lalu masukkan rumus yang ini." Jelasnya. Aku pun mengikuti apa yang ia arahkan.
Tidak terasa sudah 1 jam aku bergulat dengan soal-soal bodoh ini. Tugas ini hanya 3 soal, tapi mematikan. Namun, tugas ini cepat selesai karena bantuan dari pacarku.
Aku merasa lelah, aku menyandarkan kepalaku ke pundak Namjoon Oppa.
"Aku lelah, Oppa." Rengekku.
"Aigooo.. lihatlah. Kau manja sekali." Ucapnya sambil melihat ke arahku. "Ah, benar. Ku dengar ada suatu kejadian dikelasmu. Apa itu?" Tanya nya.
__ADS_1
Aku pun menceritakan apa yang terjadi dikelasku hari ini. Aku menceritakan dengan posisi ternyamanku. Yaitu menyandarkan kepala ku dipundaknya dan merangkul lengan kekarnya. Ia juga menyandarkan pipinya di kepalaku.
"Malang sekali Taehyung. Padahal ia sangat susah jatuh cinta pada seseorang." Ucap Oppa dan aku pun mengangguk setuju.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Ah ya, Oppa. Ini tahun terakhirmu di SMA." Ucapku.
"Lalu?" Tanya nya.
"Laluuu? Ya lalu kau mau lanjut kemana?" Jawabku kesal.
Ia tertawa, "Aku akan lanjut berkuliah dan menjalankan perkejaanku sebagai musisi." Jelasnya. Aku mengangguk paham.
"Kau akan menjadi orang sibuk, Oppa. Apakah kau akan kuliah diluar negeri?" Tanyaku. Jujur, aku takut jauh darinya. Aku menarik napasku dalam-dalam, menyiapkan diri mendengar jawabannya.
"Tidak, kurasa aku akan tetap berada di Korea. Aku ingin masuk Universitas di sekitaran Seoul saja. Aku ingin tetap berada didekatmu dan tentu dekat dengan BTS." Jelasnya lagi. Aku tersenyum mendengarnya. Aku menempelkan hidungku pada pundaknya, menghirup aroma khasnya dalam-dalam. Lalu aku memejamkan mataku.
"Aku suka wangimu, Oppa." Ujarku begitu saja seperti tidak ada filter antara pikiranku dan mulutku.
"Kau membuatku ingin nakal padamu." Ucapnya sambil mengusap bibirku. Dan kurasakan jarak kita semakin dekat, hembusan napasnya terasa menyapu wajahku. Lalu ia mencium bibirku dengan lembut. Aku membalas ciumannya. Ia mulai ******* bibirku halus.
"Oh-oh-owoah
Oh-oh-owoah-owoah
Oh-oh-owoah
Deonggideok kungdeoreoreo
Eolssu". Tiba-tiba ponselnya berdering, menandakan salah satu member BTS menelponnya. Dan jelas saja itu membuatku kaget dan langsung turun dari pangkuannya. Membenarkan posisi bajuku yang tidak karuan.
"Ah, waee?" Ia mengangkat telepon dengan kesal. "Ne, ne. Aku segera kesana." Jawabnya malas.
"Waeyo, oppa?" Tanyaku.
"Molla. Tiba-tiba Taehyung menyuruh kita bertemu ditempat latihan." Jawabnya sambil berdiri dan mengambil jaketnya.
"Aish. Si brengsek itu." Kesalku.
"Gwenchana, kita lanjut nanti." Jawabnya sambil mengedipkan matanya nakal. Aku hanya tersenyum.
"Kalau begitu aku pamit dulu. Kau istirahat, chagiya." Pamitnya dan mencium bibirku singkat.
"Oppa, tunggu." Ucapku menahannya. Dia terlihat bingung. "Benarkan dulu kancing bajumu, oppa. Kau ceroboh sekali." Gerutu ku.
"Ah, gomawo chagiya." Dengan begitu ia keluar kamarku.
Aku tersenyum melihatnya. Membayangkan aku dan dia.
"Min Yoori!" Teriak seseorang dari ambang pintu. "Kau ini. Apa telingamu bermasalah?" Ucapnya.
"Ah, Oppa. Wae?" Jawabku.
"Dimana Namjoon?" Tanya Oppaku.
"Dia sudah pergi, baru saja." Jawabku. Ia langsung pergi tanpa berpamitan. Aish. Orang itu tidak ada sopan santunnya.
__ADS_1