Can We?

Can We?
06


__ADS_3

Yoori's POV


Sepulang sekolah, aku bosan hanya dirumah. Oppa ku sibuk, pacarku juga sibuk. Aish... membosankan sekali hidupku.


Aku langsung membuka hpku untuk menelepon pacar ku. Ya, pacarku. Kim Namjoon. Hebat bukan?


"Oppa.." sapaku.


"Ne, chagiya. Waeyo?" Jawabnya disebrang sana.


"Aku bosan dirumah. Aku akan keluar untuk sekedar cari makan, bolehkah?" Izinku.


"Tapi ini sudah malam." Jawabnya.


"Tapiiii... aku bosan oppaaaa" rengek ku.


"Yasudah, kau ke tempat latihanku saja. Setelah aku latihan, kita makan bersama. Bagaimana?" Tawarnya.


"Bolehkah aku kesana? Apa aku tidak mengganggu mu?" Tanyaku khawatir.


"Ani, chagiya. Kemari lah, sebentar lagi aku selesai." Jawabnya.


"Baiklah, aku kesana. See you, oppa". Aku langsung mematikan sambungan telepon dan berangkat ke tempat Namjoon oppa.


.


.


Ketika sampai di tempat Namjoon oppa latihan, aku langsung menuju ruangannya.


"Nunaaa.. Yoori nunaaa" teriak seseorang.


Aku mencari sumber suara, "Eohhh.. Jungkook-ah." Sapaku.


"Apa kau mencari Yoongi hyung? Sayangnya ia tidak ada disini." Ucapnya.


"Ohh, ani. Aku tidak mencari Oppa ku. Aku mencari pacarku." Jawabku sambil tertawa.


"Ah ya, aku lupa bahwa pacarmu ada disini hahaha." Balas Jungkook.


"Kita sudah lama tidak bertemu, Jungkook-ah. Kau semakin tampan." Ucapku. Ku lihat pipinya memerah dan tersenyum malu.


"Nuna jangan memuji ku seperti itu." Jawabnya sambil tersenyum. Aku hanya tertawa.



"Jungkook-ah, aku pamit ke atas ya. Sampai bertemu nanti." Pamitku.


"Emm.. nuna" panggilnya lagi.


"Ne?"


"Ah, aniyo. Aku hanya ingin bertanya, tapi tidak penting. Sudahlah, aku pulang dulu, nee~". Ucapnya lalu meninggalkanku sendirian. Aku menatap kepergiannya bingung.


Akupun langsung ke ruangan pacar kesayanganku.


Aku melihatnya sedang berdiri, mungkin ia belum selesai latihan.


"Oppaaa" sapaku. Yang dipanggil langsung menengok.


"Ohh chagiya, kau sudah sampai." Sapanya balik.


Aku langsung berjalan ke arahnya, "Ne, oppa. Apa kau belum selesai? Aku akan menunggu." Tanya ku.


"Sudah, aku sudah selesai." Ucapnya sambil memeluk pinggangku dan membelai rambutku.

__ADS_1


Akupun memeluknya.


"Apa yang kau lakukan? Kau tidak lihat? Aku penuh dengan keringat." Tanya nya.


"Ah, biarlah. Aku suka keringatmu" ucapku sambil tersenyum lebar.


"Kau nakal, chagiya." Ucapnya tiba-tiba yang berhasil membuat mataku ingin copot dari tempatnya.


"Ya! Kau mesum oppa!" Ucapku sambil memukul dadanya. Kami pun tertawa bersama.


"Yaaa! Bocah! Jangan pacaran disini!" Teriak seseorang tiba-tiba.


"Eoh, hyung. Kau ada disini?" Tanya Namjoon oppa pada orang itu.


"Waeyooo? Segeralah cari pasangan kalau begitu." Jawabku ke Seokjin oppa.


"Kau ini kenapa mirip sekali menyebalkannya seperti Yoongi?" Tanya Seokjin oppa heran.


"Tentu, dia adiknya." Jawab Namjoon oppa sambil tertawa.


"Aish... sudahlah oppa. Ayo kita makan." Ajakku.


"Ya, pergilah kalian berdua." Usir Seokjin Oppa. Lalu kami bertiga pun tertawa.


.


.


Aku dan Namjoon Oppa menelusuri jalanan Seoul yang cukup padat malam ini. Kami mencari tempat makan sambil menikmati indahnya Kota Seoul malam ini.


Tiba-tiba hpku berbunyi, seseorang meneleponku. Nama Kang Seolhyun tertera disana. Aku segera mengangkatnya.


"Ne, yeoboseyo." Sapaku.


Lalu Seolhyun menjelaskan keadaan yang sedang terjadi. Aku turut prihatin.


"Ada apa, chagiya?" Tanya Namjoon oppa.


"Ah, oppa. Temanku Seolhyun menelepon. Ia meminjam uang padaku, ia bilang ibunya masuk rumah sakit." Ucapku menjelaskan. Namjoon oppa tidak bergeming.


"Oppa?" Tergurku.


"Ahh, ne, chagi. Berapa banyak yang ia pinjam?" Tanya nya tiba-tiba.


"Hmm.. 1.000.000 won, oppa." Jawabku.


"Mwo? Apa dia tidak punya keluarga? Kenapa dia meminjam kepada temannya? Uang sebanyak itu?" Tanya Namjoon oppa terkejut.


"Aish.. oppaa.. mungkin hubungan keluarganya tidak sebaik yang kita pikirkan." Jawabku.


"Lalu kau sudah tanya? Ibunya ada dirumah sakit mana?" Tanya nya lagi.


"Ah.. itu. Dia belum menjawabnya" jawabku.


Namjoon Oppa hanya mengangguk.


"Kau boleh baik, tapi lihat siapa yang kau beri kebaikanmu itu. Apakah ia pantas menerima kebaikanmu atau tidak." Ucapnya sambil mengelus rambutku, lalu membelai tanganku lembut. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.


.


.


.


Taehyung's POV.

__ADS_1


Aku sedang menemani Jungkook bermain game. Ia tiba-tiba datang kerumah ku dan meminta main game bersama.


Ketika aku sedang asik memainkan game ku, pacar kesayangku meneleponku. Aku pun langsung mengangkatnya.


"Ne, chagiya." Jawabku.


"Chagii, aku butuh uang sekarang. Ibu ku masuk rumah sakit" ucapnya sambil menangis.


"Wae? Rumah sakit mana? Aku akan kesana sekarang." Jawabku panik


"Ah, aniyo. Tidak usah, chagi. Aku bisa sendiri. Tapi aku butuh uang, Appa ku tidak peduli pada ku dan Eomma." Tolaknya sambil menangis semakin kencang.


"Chagiya, dengarkan aku. Aku akan segera mengirimkan ke rekening mu, berapa yang kau butuhkan? Tapi, jangan menangis. Ku mohon." Ucapku padanya.


"Aku.. aku butuh 1.500.000 won. Karena Eomma ku butuh obat banyak dan peralatan medis yang mahal." Jawabnya sambil terisak.


"Baik, akan ku kirimkan. Jika kurang, bilanglah padaku. Jangan sungkan. Sudah dulu ya, aku akan segera mengirimkan uangnya." Aku pun mengakhiri teleponnya.


"Hyung, ada apa?" Tanya Jungkook.


"Ah, ini.. Pacarku sedang mengalami kesulitan, Eommanya mendadak masuk rumah sakit." Jelasku.


"Lalu?" Tanya Jungkook penasaran.


"Lalu ia meminjam uang padaku, padahal ia hanya meminta padaku akan ku kasih. Tidak usah meminjam. Benar bukan?" Jawabku.


"Tapi, hyung.. berapa banyak yang ia minta?" Tanya nya lagi.


Aku menatap Jungkook heran. Tidak biasanya dia berbicara seperti ini.


"Ia membutuhkan uang 1.500.000 won." Jawabku.


"Mwo? Oh.. waw" jawabnya dengan wajah kaget.


"Waeyo, Jungkook-ah? Tumben sekali kau menanyakan hal itu. Apa ada yang memengaruhi mu?" Tanya ku.


"Ah, aniyo hyung. Oh, apakah kau tidak menyusulnya kerumah sakit? Ku pikir dia akan membutuhkanmu saat ini?" Tanya Jungkook.


"Ani, dia tidak memberi tau ku ada di Rumah Sakit mana." Jawabku. Jungkook hanya mengangguk tanda mengerti. Atau.. pura-pura mengerti? Ah, molla.


.


.


Kebesokan harinya, Seolhyun tidak masuk. Mungkin ia sibuk mengurus Eommanya yang sakit. Ah, kasian sekali kesayanganku.


"Yoori-ya.. apa kau tau? Seolhyun tidak masuk karena Eommanya sakit." Ujarku memberi tau.


"Ah, ne Taehyung-ah. Aku sudah tau. Semalam ia panik dan meminjam uang padaku." Jawabnya.


"Oh? Dia juga meminjam uang padamu?" Tanya ku kaget. Yoori hanya mengangguk. Woah.. mungkin biaya pengobatannya mahal.


"Aish. Michin." Ucap Jimin tiba-tiba.


"Apa maksudmu, Jimin-ah?" Tanya Yoori dengan sinis.


"Wae? Apa aku salah mengeluarkan suaraku yang indah ini?" Jawabnya sambil tetap menatap ponselnya.


"Ya! Park Jimin! Kau jangan menilai Seolhyun seakan-akan dia orang jahat" aku angkat bicara.


"Tidak. Aku tidak pernah menganggap orang lain jahat jika dia memang tidak jahat." Ucapnya sambil tersenyum tipis.


Author's POV.


Sedangkan ditempat lain, seorang wanita sedang berjingkrak senang. Ia senang melihat rekeningnya penuh uang yang banyak.

__ADS_1


"Woahh.. daebak. Hari ini aku akan punya ponsel keluaran terbaru." Ucapnya antusias. "Punya teman bodoh, untung saja dia kaya raya. Mianhae, Yoori-ya, Taehyung-ah. Tapi ini sangat menguntungkanku." Lanjutnya dengan nada yang antusias.


Wanita itu jalan ke cermin, menatap dirinya. "Kang Seolhyun, kau cantik. Akan lebih cantik jika kau bisa mendapat uang banyak. Kau akan segera menjadi Tuan Putri! Aigooo, Seolhyun-ah kau sangat rupawan." Ucapnya memuji diri sendiri.


__ADS_2