Cara Allah Menyayangiku

Cara Allah Menyayangiku
Keputusan Terbaik


__ADS_3

"Mereka datang." Ucap ayah kemudian bangun dari tempat duduknya dan segera menghampiri sumber suara.


"Wa'alaikumsalam. Mari masuk" Jawab ayah saat membukakan pintu. Dan benar, Panji beserta orang tuanya sudah tiba.


Setelah berada di dalam ruangan, mereka memulai dengan percakapan ringan untuk beberapa saat. Setelah dirasa cukup, pak Ahmad pun memulai percakapannya mengenai maksud dan tujuan mereka datang ke rumah Aisyah.


"Jadi begini, Pak Haris. Kedatangan kami kemari itu adalah melamar putri bapak, nak Aisyah untuk menjadi istri anak kami, Panji." Jelas Pak Ahmad yang tak lain adalah ayah dari Panji.


Pak Ahmad dan pak Haris sudah saling mengenal dan bisa dibilang cukup dekat karena mereka pernah berada di satu kantor yang sama.


"Baik pak, saya terimakasih sebelumnya untuk niat baiknya, Pak Ahmad dan keluarga. Untuk keputusan semua ada di Aisyah, pak." Jawab ayah Aisyah.


"Jadi gimana, nak? Apa kamu bersedia menerima lamaran nak Panji?" Sambung ayah bertanya kepada Aisyah.


Aisyah yang sedari tadi masih bingung dengan apa yang harus ia jawab kini malah mendapatkan pertanyaan tersebut.


"Ya Allah, apa yang harus aku jawab?" batin Aisyah.


Beberapa saat, ruangan tersebut hening karena semua orang menunggu jawaban Aisyah.


"Bismillahirrahmanirrahim, sebelumnya terimakasih atas niat baik Mas Panji dan keluarga untuk melamar saya. Restu Allah dan restu orang tua insya Allah akan selalu ada. Saya menerima lamaran ini." Ucap Aisyah dengan nada lembutnya. Setelah beberapa paat terdiam saat mengambil keputusan.


Semua yang sudah Allah tuliskan untuk menjadi takdir seseorang, maka itu akan terjadi dengan sendirinya.


"Alhamdulillah, semoga dengan semua ini kita bisa lebih mempererat tali silaturahmi dan kekeluargaan kita. Mungkin di pertemuan kita selanjutnya kita bisa membicarakan tentang tanggal pernikahan anak-anak ya, pak Haris." ucap pak Ahmad dengan senyum lebarnya.


Dalam hati kecil Aisyah, ia masih belum menginginkan ini semua. Namun, rasa kasih sayang Aisyah kepada ayahnya sangatlah besar dan iapun rela melakukan apapun yang diinginkan sang ayah kecuali hal yang tidak baik.


Setelah beberapa lama, akhirnya keluarga Panji pun pulang.


"Terimakasih nak, kamu sudah menerima lamaran dari keluarga nak Panji. Ayah yakin, kau akan selalu bahagia." ucap ayah sambil mengelus kepala Aisyah.


"Tidak perlu berterimakasih, ayah. Aisyah juga percaya bahwa mungkin inilah jodoh yang sudah Allah siapkan untuk Aisyah. Ayah do'akan saja semoga Aisyah bisa selalu bahagia." Jawab Aisyah sambil memeluk ayahnya.


...----------------...


Sayup-sayup Adzan subuh sudah berkumandang. Hembusan angin di pagi hari saat hari libur itu sungguh membuat siapapun yang menghirup nya menjadi lebih bersemangat, begitupun Aisyah dan Zahra. Selesai melaksanakan Shalat subuh, Aisyah dan Zahra lanjut membereskan seisi rumah kemudian memasak untuk sarapan.

__ADS_1


Hari ini mereka berziarah ke makam sang ibu. Sesampainya di pemakaman, tak terasa air mata Aisyah jatuh begitu saja.


"Assalamu'alaikum, Bu. Aisyah datang bu bersama ayah dan Zahra. Ibu apa kabar?" lirih Aisyah sambil mengusap batu nisan bertuliskan nama ibunya.


Selesai mengaji dan berdoa untuk sang ibu, mereka semua kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ada sebuah mobil terparkir di depan halaman rumah Aisyah.


"Mobil siapa ya? Ayah baru liat" tanya ayah heran.


"Gak tahu yah, Aisyah juga baru liat." jawab Aisyah singkat.


Ternyata mobil tersebut adalah mobil Reyhan.


"Lho, Reyhan? Ada apa ya datang kesini?" tanya Aisyah saat melihat lelaki yang bersandar pada pintu samping mobil itu.


"Hmm, iya ini saya kebetulan lewat sini jadi saya pikir sekalian mampir ke sini." Jawab Reyhan sambil memberikan jinjingan berisi kue-kue kering kesukaan Aisyah.


"Assalamu'alaikum, Om. Saya Reyhan, temen kuliah Aisyah dulu. Om masih ingat saya?" sapa Reyhan sambil mencium punggung tangan ayah Aisyah.


"Wa'alaikumsalam, Oalah... Iya saya ingat. Mari masuk nak Reyhan, kita ngobrol di dalam saja. Tidak baik mengobrol di jalan seperti ini." Jawab ayah sambil mempersilahkan Reyhan masuk.


"Terimakasih Om, tapi sepertinya saya harus langsung pulang. Ada yang harus saya urus di rumah." Tutur Reyhan sambil kembali mencium punggung tangan ayah Aisyah.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian ponsel Aisyah pun bergetar tanda ada pesan masuk. Aisyah melihat layar ponselnya dan ternyata pesan dari Reyhan.


"Maaf ya, saya datang tiba-tiba. Saat lewat toko kue yang biasa kamu beli, saya jadi teringat kamu. Akhirnya saya beli dan mampir ke rumah kamu. Semoga suka ya Aisyah."


Setelah membaca pesan tersebut, Aisyah pun tersenyum dan langsung membalasnya dengan ucapan terimakasih.


...--------------...


Beberapa hari berlalu. Aisyah mendengar kabar dari ayahnya jika pernikahannya dengan Panji akan digelar 1 bulan lagi. Sementara itu, Reyhan yang masih belum mendapatkan jawaban dari lamarannya pun ingin segera mengetahui jawaban Aisyah.


Aisyah pun berniat untuk memberitahukannya kepada Reyhan. Jam istirahat hari ini dia akan membicarakannya dengan Reyhan, agar dia tak membuat Reyhan menunggu lebih lama lagi. Terlebih, acara pernikahan Aisyah akan digelar sebentar lagi.


"Rey, makan siang nanti saya mau bicara sama kamu. Apa bisa?" Tanya Aisyah saat sedang memberikan dokumen untuk Reyhan tandatangani.


"Tentu saja, saya akan tunggu kamu di lobby seperti biasa."

__ADS_1


"Terimakasih Rey."


Aisyah pun kembali ke ruangan nya dan membereskan semua dokumen karena waktu istirahat sebentar lagi. Tidak lama kemudian, tibalah waktunya istirahat. Aisyah bergegas turun ke lobby dan melihat Reyhan sudah menunggunya di sana.


Sesampainya di restoran tempat mereka biasa makan siang, mereka langsung memesan makanan. Selama menunggu makanan datang, Aisyah memulai pembicaraannya dengan sedikit ragu karena ia tidak ingin membuat Reyhan kecewa.


"Rey?" Ucap Aisyah dengan suara pelan.


"Iya, Aisyah. Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Sebelumnya saya mau minta maaf karena sudah membuatmu menunggu terlalu lama untuk jawaban ini."


"Tidak apa, Aisyah. Jadi apa jawabanmu?"


"M-Maaf Rey, saya tidak bisa menerima lamaranmu. Karena saya sudah menerima lamaran Panji lebih dulu."


Deg... Mendengar kata-kata yang terucap dari mulut Aisyah sungguh sangat membuat hati Reyhan sakit. Bukan karena Aisyah tidak menerima lamarannya, tapi yang ada dalam batin Reyhan kenapa lelaki itu harus dia.


"Panji, katamu? Maksudmu, Panji teman kuliah kita dulu?" Tanya Reyhan sedikit terkejut.


"Iya, Rey. Maaf, mungkin hari ini juga akan menjadi hari terakhir kita makan bersama. Karena aku tidak ingin membuat Panji merasa tidak nyaman." Lirih Aisyah.


"Baiklah, karena itu sudah keputusanmu. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu."


Mendengar ucapan itu, Aisyah merasakan sakit yang tidak bisa diungkapkan. Tak terasa, air mata Aisyah pun kembali membasahi pipi.


...--------------...


Satu hal yang paling menyesakkan jiwa adalah harus berpura-pura ikut bahagia ketika melihat orang yang dicintai memilih orang lain -Reyhan Pratama


HALLO GUYS🤗🤗🤗


PENASARAN GAK SIH SELANJUTNYA GIMANA? 🤭 PENASARAN DONG PASTINYA🤭


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE-nya ya, biar author nya makin SEMANGAT BUAT UPDATE🥰🥰


ADD juga ke list novel favorit kalian🤗🥰

__ADS_1


Terimakasih 🥰🥰


__ADS_2