
Setelah kembali ke kantor, Aisyah dan Reyhan tidak banyak berbicara. Mereka hanya berbicara seperlunya saja.
"Ya Allah, semoga Reyhan bisa mengerti keputusanku ini. Dan semoga ini memang jalan terbaikku." ucap Aisyah dalam hati. Aisyah kembali melanjutkan pekerjaannya setelah beberapa saat terdiam karena ada yang mengganggu pikirannya.
......................
POV : Reyhan
Reyhan masih merasa aneh dan marah dengan semua ini. Banyak pertanyaan muncul di benaknya, tapi tidak tahu kepada siapa ia harus menanyakan semua pertanyaan ini. Reyhan dan Panji adalah teman dekat sewaktu kuliah dulu. Bahkan mereka sudah berteman dari awal masuk kuliah.
"Kenapa Panji bisa melakukan ini semua kepadaku? Bukankah dia tahu jika aku sudah lama menyukai Aisyah. Apa semua ini karena Siska?" Gumamnya.
Beberapa saat lalu, ada sebuah kesalahpahaman diantara mereka berdua (Panji dan Reyhan). Namun, Reyhan tidak mengira jika sampai seperti ini akhirnya. Reyhan menyambar handphonenya yang berada diatas meja kemudian mengetikkan sesuatu untuk menelepon seseorang.
"Dimana Lo sekarang? Jam 5 sore ini gue tunggu lo di tempat biasa" Ucap Reyhan dengan nada amarah dan langsung mematikan teleponnya.
Reyhan memijat dahinya yang terasa pusing karena kepenatan hari ini. Ia merasa sedang kacau dan ingin sekali meluapkan emosinya. Namun, Ia harus tetap tenang.
Sesampainya Reyhan di tempat yang sudah Ia janjikan tadi, dia melihat sosok Panji dengan santainya. Muka Reyhan pun semakin memerah karena menahan amarahnya. Tangannya sudah mengepal dan rasa ingin menghantamkan tinju pun sudah sangat memuncak, namun ia urungkan niatnya dan lebih memilih untuk berbicara walaupun sulit.
"Ada apa Rey, tumben Lo minta gue buat ketemu. Lo udah denger kabarnya ya ternyata?" Tanya Panji sambil tertawa.
"Maksud Lo kaya gini apa, hah?"
"Ternyata bener, Lo udah tau. Gercep banget itu cewek."
"Kalo sampe Lo nyakitin Aisyah, gue ga akan tinggal diam."
"Coba aja kalo Lo bisa. Apa yang bakalan Lo lakuin, hah? Pernikahan gue sama Aisyah 1 bulan lagi. Lo udah gak bisa apa-apa, Reyhan Pratama!" Jelas Panji dengan muka penuh kemenangan dan beranjak pergi.
5 menit berlalu ketika Panji pergi, Reyhan masih berdiam diri. Dan memikirkan cara agar bisa memberi tahu Aisyah tentang niat Panji yang sebenarnya.
...----------------...
Aisyah bersikap seperti tidak terjadi apapun, Ia bekerja seperti biasa.
"Rey, ini materi presentasi untuk meeting jam 10 siang nanti dan ini dokumen yang harus kamu tandatangani." Jelas Aisyah sembari menyerahkan beberapa dokumen.
"Ah iya, kau bisa meletakkannya di sana. Saya sedang memeriksa beberapa dokumen." Tunjuk Reyhan ke sebuah meja. Dia tidak menengok sedikitpun kepada Aisyah dan sibuk dengan beberapa dokumen ditangannya yang sedang dia baca.
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Aisyah singkat.
"Aisyah, ada sesuatu yang ingin saya beri tahu tentang Panji." Ucap Reyhan dengan ragu.
"Apa?"
"Sebenarnya, ada maksud lain Panji melamar mu. Sebenarnya dia hanya ingin membuatku merasakan apa yang pernah dia rasakan."
"Kamu ini ngomong apa sih?! Maaf jika saya menolak lamaran darimu, tapi kamu tidak bisa seperti ini Reyhan. Saya sudah memilih Panji dan kamu harus menerima kenyataannya." Tegas Aisyah.
"Tapi Aisyah, kamu harus mendengarkan saya dulu. Ini bukan tentang saya yang tidak bisa menerima kenyataan, tapi ini tentang Panji yang memang memiliki maksud lain." Bantah Reyhan dengan cepat.
"Sudahlah Reyhan, saya tidak ingin mendengar apapun jika kamu hanya ingin menjelekkan Panji. Walau bagaimanapun, dia itu temanmu juga. Maaf, saya permisi." Aisyah tidak ingin banyak berdebat dan memilih untuk pergi meninggalkan ruangan Reyhan.
Aisyah merasa Reyhan sangat keterlaluan dan tidak mau menerima kenyataan. Saat sedang berjalan menuju ruangannya, ponselnya bergetar dan terlihat panggilan masuk dari Panji.
"Assalamu'alaikum. Aisyah, pulang kerja ini aku jemput ya? Kita harus membeli beberapa barang untuk keperluan pernikahan kita." Terdengar suara Panji dari ponsel tersebut.
"Wa'alaikumsalam, baiklah Mas. Aku akan segera membereskan pekerjaanku hari ini. Nanti aku kabari lagi kalo sudah beres." Jawab Aisyah.
"Baiklah, Aisyah. Sampai bertemu nanti sore. Assalamu'alaikum"
Waktu berlalu dan tak terasa sudah hampir waktunya pulang. Ketika Aisyah akan menghubungi Panji untuk memberi tahu pekerjaannya sudah selesai, ponsel Aisyah pun bergetar dan ada satu notifikasi pesan dari Panji.
"Aisyah, aku sudah di depan kantormu. Apa pekerjaanmu sudah selesai?"
"Aku sudah selesai, aku akan turun sebentar lagi."
Ketika Aisyah keluar dari ruangannya, Reyhan pun juga sudah bersiap untuk pulang. Reyhan ragu untuk mengajaknya pulang bersama, walaupun ajakan itu selalu saja ditolak. Ketika Reyhan mulai membuka mulutnya, Aisyah langsung mendahuluinya dengan berpamitan.
"Pak Reyhan, saya permisi pulang duluan. Mas Panji sudah menjemput saya." Aisyah langsung berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Reyhan.
Reyhan yang mendengar ucapan Aisyah itu langsung terdiam dan mengepalkan tangannya.
"Apa-apaan si Panji ini? Kenapa harus menjemput Aisyah segala? Apa dia memang benar-benar menyukai Aisyah? Apa dia benar-benar akan menikah dengan Aisyah? Kenapa Aisyah tidak mempercayaiku? Ya Allah, semoga saja Panji tidak akan menyakiti Aisyah." Batin Reyhan.
Reyhan melanjutkan langkahnya dan berjalan di belakang Aisyah. Ketika sampai di lobby dan melihat Aisyah masuk kedalam mobil Panji. Panji yang sedang menutupkan pintu mobil untuk Aisyah, melihat ke arah Reyhan dan tersenyum sinis. Melihat itu, Reyhan kembali terbawa emosi dan berjalan gontai menghampiri mobil Panji. Namun, langkahnya terhenti ketika mobil tersebut mulai melaju dan meninggalkan kantor Reyhan.
"Sial*n Lo Panji. Sedikit aja Lo berani nyakitin Aisyah, Gue gak akan tinggal diam." Gumam Reyhan dengan emosi sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Mobil melesat dengan cepat membelah jalanan kota sore hari ini. Aisyah dan Panji sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun. Hingga akhirnya, Panji memulai percakapannya dengan Aisyah.
"Aisyah, apa kau tau betapa senangnya aku saat kamu menerima lamaranku?" Ujar Panji sambil tersenyum dengan sesekali melihat kearah Aisyah.
"Aku menerimamu karena aku yakin kamu adalah orang yang baik dan bisa membimbingku untuk menjadi lebih baik." Jawab Aisyah dengan tatapan tetap ke depan.
"Terimakasih banyak Aisyah."
"Sama-sama, Mas."
Setelah kurang lebih 20 menit perjalanan, mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan di kota. Selama berbelanja, Aisyah tidak banyak berbicara seperti biasa. Aisyah hanya berbicara seperlunya saja. Aisyah masih memikirkan ucapan Reyhan pagi tadi yang membuatnya sedikit terganggu.
"Aisyah, kamu kenapa? Dari tadi aku liat, kamu melamun terus. Apa ada yang sedang kamu pikirkan?"
Ucapan Panji membuyarkan lamunan Aisyah. Aisyah kembali memilih barang-barang untuk dibelinya.
Setelah beberapa lama memilih barang dan dirasa cukup, Aisyah dan Panji segera membayarnya. Pada saat sedang menunggu antrian, Panji mengajak Aisyah untuk pergi makan. Dan kemudian mereka pun mampir ke sebuah restoran terdekat.
"Aisyah, apa ada sesuatu yang mengganggumu? Kamu bisa menceritakan semuanya kepadaku. Aku ini akan menjadi suamimu sebentar lagi." Ucap Panji dengan lemah lembut dan membuat Aisyah merasa dia memang harus menceritakan apa yang Reyhan ucapkan tadi siang.
"Reyhan, Mas. Dia pernah melamar ku dan aku menolaknya karena sudah memilih dirimu. Tapi, Reyhan seperti tidak menerimanya dan dia malah membicarakan dirimu yang tidak-tidak. Itu sangat menggangguku, Mas."
Panji terdiam dan merasa sangat senang mendengar ucapan Aisyah ini.
"Sudahlah, Aisyah. Mungkin memang Reyhan masih belum bisa menerimanya. Dia butuh waktu, apalagi dia tau jika aku yang melamar mu. Sekarang, lanjutkan makannya, dan kita harus segera pulang." Jawab Panji dengan sangat tenang.
...----------------...
Terkadang, adakalanya niat baik jadi terlihat buruk dan niat buruk bisa tertutup rapat oleh sikap baik yang dibuat-buat -Reyhan Pratama
HALLO GUYS🤗🤗🤗
PENASARAN GAK SIH SELANJUTNYA GIMANA? 🤠PENASARAN DONG PASTINYAðŸ¤
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE-nya ya, biar author nya makin SEMANGAT BUAT UPDATE🥰🥰
ADD juga ke list novel favorit kalian🤗🥰
Terimakasih 🥰🥰
__ADS_1