Cara Allah Menyayangiku

Cara Allah Menyayangiku
Kebimbangan


__ADS_3

Sesampainya di depan rumah Aisyah, Panji memarkirkan mobilnya dipinggir jalan karena Panji harus segera pulang.


"Salam untuk ayah dan Zahra, bilang aku mampir lain kali karena harus segera pulang. Kamu jangan terlalu memikirkan kata-kata Reyhan. Dia hanya butuh waktu untuk menerima semua ini. Sekarang, masuklah." Ucap Panji dan langsung Aisyah langsung mengangguk paham.


"Baiklah, Mas hati-hati di jalannya. Aku masuk dulu ya, Assalamu'alaikum"


"Iya, Aisyah. Wa'alaikumsalam"


5 detik kemudian, mobil tersebut kembali menyusuri jalanan.


Saat ini, Panji sangat merasa senang. Karena apa yang dia inginkan sudah terpenuhi.


"Sayang, aku sedang menuju rumahmu. Kau bersiaplah." Sapa Panji kepada seseorang dari ponselnya dan 5 detik kemudian memutuskan panggilan tersebut.


"Reyhan.. Reyhan, coba aja sebisa Lo buat bikin gue buruk dimata Aisyah. Lo gak akan bisa! sampe kapanpun gue bakalan tetep terlihat baik dimata Aisyah." Gumam Panji dengan puas sambil mengemudikan mobilnya.


Panji mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah seseorang yang tadi sudah ia hubungi.


Sementara itu, Aisyah merasa sangat lelah sekali hari ini, dan dia juga merasa sangat terganggu oleh kata-kata Reyhan tentang Panji. Aisyah yakin Panji tidak akan melakukan hal tersebut. Namun di satu sisi, Aisyah pun tidak bisa begitu saja mengabaikan kata-kata Reyhan, terlebih lagi Reyhan bukanlah seseorang yang suka berbicara tanpa ada alasan.


Aisyah tersadarkan ponsel yang bergetar, diambilnya ponsel tersebut dan satu pesan muncul dari Reyhan.


"Aisyah, apakah kamu ada waktu besok? saya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu tentang alasan saya berbicara seperti hari ini."


Setelah membaca pesan Reyhan, Aisyah tak langsung menjawabnya dan merasa tak perlu menjawab pesan dari Reyhan tersebut. Karena, menurut Aisyah hal ini sama saja dengan menjaga hubungannya dengan Panji yang mana sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Aisyah kemudian meletakkan ponselnya kembali diatas nakas dan memilih untuk segera membersihkan diri.


Reyhan yang menunggu balasan dari Aisyah, merasa gelisah dan frustasi. Bagaimana tidak, Aisyah adalah wanita yang dia cintai dari sejak dulu dan baru saja ia menyampaikan isi hatinya namun ditolak dengan cara yang sangat tidak terbayangkan olehnya.


"Kenapa Aisyah hanya membaca pesanku dan tidak membalasnya? Apakah dia tidak mempercayaiku sama sekali? Aku hanya ingin dia tahu semuanya." Gumam Reyhan sambil terus melihat layar ponselnya.


"Apakah sebaiknya aku telepon saja? Ah tidak, bagaimana jika ia masih bersama dengan baj*ngan itu? Sial!" Gerutu Reyhan sambil masih menggenggam ponselnya.


Gelisah tak menentu karena tak kunjung mendapatkan balasan dari Aisyah membuat Reyhan terjaga semalaman. Sayup-sayup adzan subuh sudah mulai terdengar dan pada saat matanya melihat kearah jam dinding, Reyhan terkejut karena ternyata sudah masuk waktu subuh.


"Astaghfirullah, kenapa aku tidak mengantuk sama sekali? padahal aku tidak memejamkan mata semalaman." Ucap Reyhan terperanjat dari tempat tidurnya.


Kemudian Reyhan Segera bersiap untuk mandi karena ia harus segera pergi ke Masjid. Walaupun keluarga Reyhan terbilang pengusaha sukses, orang besar, juga terpandang juga kesehariannya selalu disibukkan oleh kehidupan duniawi dan waktunya banyak dihabiskan untuk bekerja, tapi Reyhan dan keluarganya tetap tidak pernah meninggalkan kewajibannya. Reyhan selalu pergi ke Masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah entah itu di rumah ataupun di kantor tempatnya bekerja.


"Rey, ayo. Papah tunggu di bawah ya." Ajak Papah Reyhan dari luar pintu kamar.

__ADS_1


"Iya, Pah. Bentar lagi Rey turun." Jawab Reyhan sambil menyisir rambutnya.


Setelah selesai bersiap-siap, Reyhan segera turun dan menghampiri papahnya yang sudah menunggu.


"Ayo, Pah." Ajak Reyhan.


"Ini sajadahnya, Pah." Ucap mamah Reyhan sembari memberikan sajadah.


"Makasih ya, Mah. Papah sama Rey ke masjid dulu." Jawab papah Reyhan.


Setelah selesai melaksanakan shalat, diperjalanan pulang Reyhan teringat kembali akan Aisyah yang tak kunjung membalas pesannya.


Sementara Aisyah, ia kembali membaca pesan dari Reyhan dan berniat untuk membalasnya namun setelah mengingat kembali apa yang Panji katakan, ia kembali mengurungkan niatnya.


Aisyah tengah bersiap-siap untuk pergi bekerja. beberapa saat kemudian pamit untuk segera pergi ke kantornya.


Setibanya di kantor, ia melihat Reyhan yang baru saja masuk ke ruangannya tampak tidak seperti biasa. Aisyah yang melihatnya memilih untuk mengabaikannya dan segera masuk ke ruangan tempatnya bekerja. Aisyah pun memulai pekerjaannya seperti biasa. Hingga ia selesai dengan pekerjaannya dan akan memberikan dokumen kepada Reyhan, ia teringat kembali pesan yang dikirim Reyhan. Aisyah merasa bahwa Reyhan pasti akan terus membahasnya.


"Baiklah, aku akan meminta tandatangannya nanti saja saat akan pergi meeting. Ayo fokus, Aisyah." Gumam Aisyah kepada dirinya sendiri.


Jadi, Aisyah memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya sampai waktu mereka ada meeting siang nanti.


Setelah beberapa lama, Aisyah melihat jam sudah menunjukan pukul 10 kurang 15 menit dan segera merapikan berkas yang akan dibawa meeting nanti, juga beberapa berkas yang harus di tandatangani Reyhan. Aisyah segera menuju ke ruangan Reyhan. Begitu sampai di ruangannya, Aisyah mengetuk pintu namun tidak ada jawaban. Dan tak menunggu lama, Aisyah langsung masuk ke ruangan dan melihat Reyhan sedang terbaring. Aisyah langsung menghampiri Reyhan dan memeriksa keadaannya dan ternyata Reyhan mengalami demam. Aisyah terkejut dan langsung menelepon seseorang.


"Halo, Pak. Ia ini saya Aisyah. Bisa minta tolong bantu bawa Pak Reyhan ke Klinik? Badannya demam tinggi." Ucap Aisyah dengan cepat kepada seseorang yang ada di teleponnya.


"Rey, dari kapan kamu demam gini? Kenapa kamu ga telepon aku?" Ucap Aisyah agak kesal.


"Maaf Aisyah, saya gak mau ngerepotin kamu. Saya pikir saya cuma butuh istirahat saja sebentar." Jawab Reyhan dengan lemah.


"Ya sudah, sebentar lagi Pak Handi kesini, kita ke Klinik. Aku akan telepon Pak Andri untuk kita meeting diundur besok." Reyhan yang merasa tidak perlu ke Klinik dan hanya butuh istirahat sebentar, namun Aisyah tidak memberinya kesempatan untuk menolak.


"Tidak ada penolakan untuk kali ini, Reyhan Pratama." Lanjut Aisyah Dan kemudian dia langsung menghubungi Pak Andri dan memberi tahukan bahwa meeting diundur esok hari karena Reyhan sakit.


Pada akhirnya, Reyhan pun tak bisa menolak dan segera pergi ke klinik.


Sesampainya di klinik, Aisyah mengurus semua admistrasi. Disela-sela aktivitasnya saat ini, Aisyah mendapatkan pesan dari Panji yang mengingatkan dia jika esok mereka harus segera mengurus berkas-berkas ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan nya.


Aisyah tidak membalas pesan tersebut dan hanya membacanya saja. Setelah beberapa saat akhirnya pemeriksaan Reyhan selesai dan tak menunggu waktu lama merekapun kembali ke kantor. Diperjalanan menuju kantor, Aisyah melihat Panji yang baru keluar dari toko baju bersama seorang wanita sambil bergandengan tangan. Aisyah seolah tidak percaya bahwa itu adalah Panji.


"Aisyah, kamu sedang apa melihat apa?" Tanya Reyhan.

__ADS_1


"Tidak, Rey. Aku hanya sedang melihat pemandangan saja." Jawan Aisyah sambil membalikan badan.


"Apakah kamu sedang melihat Panji yang baru keluar dari toko baju bersama wanita?" Tanya Reyhan lagi dan membuat Aisyah terkejut.


"Ba-bagaimana kamu tau, Rey?" ucap Aisyah terbata-bata.


"Saya pun melihatnya Aisyah. Saya juga punya mata. Mau saya bantu menyelesaikannya?" Cetus Reyhan.


"Maaf, Rey. Aku akan mengurus semua ini. Mungkin Mas Panji bersama wanita itu hanya sekedar teman" lirih Aisyah.


"Teman darimana?" Gerutu Reyhan.


Aisyah tidak menjawab sama sekali kemudian membuka ponselnya dan membalas pesan dari Panji dengan mengiyakannya apa yang panji katakan. Aisyah tidak mau berfikiran buruk kepada calon suaminya.


Sesampainya di kantor, Aisyah langsung masuk ke ruangannya dan merenungkan apa yang barusan dilihatnya. Aisyah harus menanyakan langsung kepada Panji tentang kebenarannya esok hari saat bertemu, dia tidak ingin hal ini mengganggu pikirannya.


Seperti yang Panji katakan kemarin, hari ini Aisyah dan Panji akan pergi ke KUA untuk mengurus berkas-berkas pernikahannya. Diperjalanan, Aisyah memberanikan diri untuk bertanya tentang apa yang dilihatnya kemarin.


"Mas, aku boleh tanya sesuatu?" Ucap Aisyah mengawali pembicaraan.


"Boleh, dong. Mau tanya apa?" Jawab Panji dengan santainya.


"Tapi Mas harus jawab jujur ya." Sambung Aisyah.


"Iya, emang mau tanya apa?" Jawab Panji sambil menoleh ke arah Aisyah.


"Kemarin siang, aku lihat kamu keluar dari toko baju sambil bergandengan tangan dengan wanita. Dia itu siapa, Mas?" Selidik Aisyah.


Panji terkejut dan mendadak menghentikan mobilnya dipinggir jalan.


...****************...


HALLO GUYS🤗🤗🤗


PENASARAN GAK SIH SELANJUTNYA GIMANA? 🤭 PENASARAN DONG PASTINYA🤭


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE-nya ya, biar author nya makin SEMANGAT BUAT UPDATE🥰🥰


ADD juga ke list novel favorit kalian🤗🥰


Terimakasih 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2