
"Itu yang harusnya gue lakuin Nin, tapi seperti yang mereka bilang, gue gak sebaik itu turun tangan nyeret Saga ke BK."
Gemericik air hujan perlahan mereda. Kaca jendela mulai terlihat jernih dengan sisa air hujan yang membuat anakan kecil sungai di hampir seluruh permukaan. Namun masih dingin. Hujan reda menyisakan sunyi dan cengkraman suhu tak bersahabat pada kulit tipis Ravela Brianna—gadis delapan belas tahun, kelas akhir jenjang SMA.
Sang mawar yang terluka karena durinya sendiri.
Begitulah orang-orang menyebut Vela. Setidaknya lebih bagus dari dandelion di padang rumput yang luluh lantah diterbangkan angin, tanpa rumah dan pegangan. Mawar yang terluka terdengar lebih baik walaupun bermakna lebih miris.
"BK terlalu hangat untuk orang sedingin Saga."
Anin tersenyum tipis sambil bertopang dagu. Perlu pemahaman khusus untuk memahami seorang Ravela Brianna. Kadang dia begitu rahasia. Di waktu-waktu tertentu menjadi sangat terbuka—mudah terbaca layaknya buku yang terbuka.
"Tapi kapan?" sahut Anin.
"Kapan apa?"
Anin menghela napas dan melepas topangannya. "Lo tau Vel, ada saat dimana semua doa tiba-tiba dikabulkan. Ada juga saat semua yang kita tidak inginkan, menjadi sesuatu yang kita dapatkan."
"Itu yang selalu gue rasain. Kalimat lo yang terakhir."
Vela mengalihkan atensinya pada ponselnya yang terletak di atas meja, bergetar dengan notifikasi yang baru muncul.
Saga: Mau coklat atau kopi?
Me: Gak usah. Kamu pulang aja.
Vela menutup ponselnya. Udara dengan ajaib semakin terasa dingin padahal hujan sudah sepenuhnya berhenti. Ruang osis juga semakin sunyi seiring bertambah malamnya hari.
"Mau nginep di rumah gue?"
"Harusnya gue yang minta bukan lo yang ngawarin." Vela terkekeh. "Saga lagi sakit. Gak bisa jemput."
Anin tersenyum saja. Keduanya meninggalkan ruang osis setelah mematikan lampunya. Menyusuri lorong temaram yang masih dilalui beberapa anak osis yang sengaja tinggal untuk mengurus keperluan festival sastra esok hari.
Saga: Gue tunggu di depan. Kopi lo bakal dingin kalau lama.
__ADS_1
Me: Tapi aku gak mau pulang sama orang sakit.
"Hebat ya Saga, sakit tapi masih bisa keliaran," kekeh Anin.
"Namanya juga Saga." Vela tersenyum tipis. Matanya terpaku pada kerumunan dekat gerbang. Memperhatikan seseorang yang penampilannya sudah tidak wajar lagi untuk ukuran anak sekolah. Mempunyai banyak luka lebam dan setelan urakan khas anak jalanan. Dengan santainya memantik api di ujung rokoknya dan asap itu pun mengepul pelan.
Wajahnya sangat tidak bersahabat.
Me: Aku nginep di tempat Anin. Kamu mending pulang.
Vela menyimpan lagi ponselnya dan menatap ke arah kerumunan itu lagi untuk melihat reaksi sosok yang sedari tadi dia perhatikan. Seperti yang Vela duga. Saga yang tidak pernah bisa menerima bantahan apapun, melempar rokok yang baru dia sulut.
Vela merasa miris dengan Saga juga dengan dirinya sendiri. Terlebih dengan hubungan mereka yang ambigu. Pegangannya pada lengan Anin mengerat kala sosok Saga dengan penampilan menyeramkannya mendekat dengan langkah pasti.
"Kan gue udah bilang kalau lo kelamaan kopinya bakal dingin. Sekarang gimana kopinya?"
"Minum aja kopinya sama kamu sendiri."
Saga menyambar lengan Vela. "Lo kenapa sih?" mungkin dia frustasi mendengar kalimat singkat, padat dan menusuk dari Vela. Vela tidak tahu saja, ini adalah salah satu yang paling Saga benci.
"Aku mau pulang." Nada Vela terdengar setengah merengek setengah lelah sambil berusaha menarik lengannya.
"Tapi aku gak mau pulang sama orang yang lagi sakit," kata Vela ketus.
"Gue gak lagi sakit."
"Kamu sakit!" seru Vela.
"..."
Banyak hal yang Saga benci di dunia ini. Salah satunya adalah saat prinsipnya yang melemah jika berhadapan dengan Vela. Saga tidak pernah bisa menerima perlawanan dari seseorang, tapi Vela adalah pengecualian. Di satu sisi, egonya terluka saat ada seseorang yang berteriak padanya. Namun berbenturan dengan kerja ototnya yang menolak untuk bertindak. Saga hanya diam dengan tatapan tajamnya.
Napas Vela tiba-tiba terasa memendek. Yang jelas napasnya tersendat dan sesak oleh perasaannya sendiri. Dia menatap wajah dingin Saga yang semakin terasa beku. Saga nampak pias karena tingkahnya. Tapi laki-laki itu hanya diam.
"Kalau kamu mau kita pulang, obatin dulu luka kamu sendiri," lanjut Vela tak tahan lagi menatap wajah Saga. Gadis itu menarik tangan Anin dan berlalu cepat meninggalkan Saga.
__ADS_1
◻◻◻
Vela adalah puncak dimana Saga menemukan hal yang paling ia benci. Saga tidak pernah suka menarik kata-katanya. Saga benci menurut. Tapi Vela adalah pengecualian. Selalu dan selalu, Vela akan selalu menjadi pengecualian.
Saga benci saat dia harus marah jika Vela mengabaikan pesannya.
"Santai Ga, itu garpu tarok dulu."
Saga baru sadar jika garpu yang dia pegang mangacung tegak seolah siap menyerang siapa saja. Salahkan Vela dengan semua sikap acuhnya. Gadis itu bahkan tidak membalas satupun pesan darinya, sialan.
Saga bangkit dengan wajah pias setelah membanting garpunya. Tubuh jangkung dengan beberapa lebam di wajah membuatnya tampak mengerikan sekaligus memprihatinkan. Langkahnya mantap ke arah ruang osis tempat seseorang yang dia yakini berada di sana. Seseorang yang berhasil membuatnya uring-uringan setengah mati.
"Biarin dia ketemu pawangnya. Emang lo sanggup lawan dia?"
"Perasaan gue aja atau emang iya, kalau si Saga gak sadar kalau udah baper?"
"Diem aja lo Peng. Jangan bahas itu dulu."
"Tch, iya deh Sat."
Begitulah percakapan teman-temannya mengiringi kepergian Saga. Saga sendiri masa bodo, langkah panjangnya semakin dekat dengan ruangan osis. Ruang yang sebenarnya anti untuk Saga datangi, kalau bukan karena Vela. Sial, lagi-lagi dia.
Saga berdiri di ambang pintu. Menatap tajam pada seseorang yang baru keluar dari ruangan membuat orang itu bergidik dan cepat-cepat angkat kaki dari sana. Atensi Saga tertuju ke dalam ruangan. Kedatangannya yang tanpa suara bukan berarti tak menarik perhatian. Aura yang menyeramkannya itulah yang menjadi pertanda.
Vela berada dalam satu garis lurus dengannya. Berdiri di balik meja dan tertegun dengan kedatangan Saga. Wajah Vela memaling ke samping dengan tarikan napas yang dibuang hingga paru-parunya terasa kosong. Gadis itu menatap rekan osisnya. Merasa sungkan melihat tatapan terganggu dari juniornya di organisasi itu. Vela tidak mengatakan apapun. Dia hanya memutari meja dan meninggalkan ruangan itu. Menghampiri Saga.
"Hape lo mana?" tanya Saga langsung.
Vela tidak menjawab. Tapi tangannya tetap merogoh kantong roknya dan mengeluarkan benda persegi panjang itu.
"Mau ngapain?" tanya Vela akhirnya melihat Saga mengutak-atik ponselnya.
"Ngehapus nomor gue," jawabnya. "Kalau lo sama sekali gak mau ngebales pesan gue, mending gak usah simpen nomor gue sekalian," lanjutnya membuat Vela tertegun dan dengan kaku mengambil ponselnya lagi.
Tidak ada emosi apapun yang dapat Vela lihat. Hanya sebuah raut yang tidak memiliki ekspresi. Pun saat laki-laki itu berbalik meninggalkannya dengan mudah. Semudah dia menginterupsi rapat dadakan osis dengan death glarenya yang mengancam.
__ADS_1
Dia sama sekali tidak tersenyum. Bahkan tidak hanya untuk menyeringai.
***