Casual Lover

Casual Lover
Bab 4


__ADS_3

Vela hendak ke gerbang untuk pulang saat tiba-tiba sebuah motor matic berhenti di depannya.


"Gak pulang bareng Saga?"


"Ada janji sama temennya. Lo mau nawarin gue nebeng?"


"Ck, udah naik!"


Vela memijit bahu Jessa saat gadis itu berdecak menanggapinya.


"Kangen gak ke Othello?" tanya Jessa.


"Kangenlah. Apalagi traktiran lo, kangen banget gue."


"Yeu, tau aja lo gue gak pernah nraktir. Tapi kali ini gue yang bayar deh," kekeh Jessa.


"Wah wah, gue jadi curiga kalau lo lagi hoki," ujar Vela mengernyit.


"Tenang beb. Ada yang mau gue bagi sama lo nanti."


Vela mendengus. "Tuh kan, tau gue kalau ada apa-apanya."


***


"Ini mah bukan hoki Jess, matahin hati orang itu jahat."


"Ya emang gue gak mau."


"Lonya yang sengaja. Tau gue, udah. Lo balas dendam sama Derro karena phpin lo. Sekarang lo yang phpin dia. Trus lo seneng banget sampe mau nraktir gue."


Jessa menggedikkan bahunya acuh. "Suka-suka guelah. Yang penting gue happy."


Vela mengganguk. "Boleh gue bilang sesuatu?"


"Apa?"


"Gue yakin kalau lo beneran gabisa move on. Kesimpulannya lo beneran jatuh cinta sama si Derro."


"Bullshit!" umpat Jessa bersungut-sungut membuat Vela terkekeh. "Gue emang pernah suka. Tapi kayak yang lo tau gimana si Derro."


Vela tidak menjawab lagi. Gadis itu mengaduk Machiatonya dan menyedotnya. Begitupun dengan Jessa. Vela paham betul bagaimana kisah teman seperjuangannya dari SMP itu. Dari mulai jatuh cinta sampai patah hati. Sampai menjadi gadis beku seperti ini.


"Lo gimana sama Saga? Masih sama?"


"Sama apanya?"


"Sama statusnya."


Vela mengangkat wajah dan terdiam bersamaan dengan Jessa yang menatapnya dalam-dalam.


"Masih betah sama status 'pacar bayangan'nya?"


***


Vela sakit hati. Memang benar statusnya dengan Saga hanyalah kekasih bayangan. Fakta itu kembali dengan tamparan telak di hati Vela, menyadarkan posisinya yang tidak lebih dari seorang pengganti. Ya, dia hanyalah seorang pengganti.


"Saga salah besar nempatin lo di posisi itu. Lo juga salah dengan nerima semuanya apa adanya. Gue gak mau kalau akhirnya lo yang terluka Vel."


Kata-kata Jessa melayang di kelapa Vela. Benaknya terus mengulang percakapan yang sama beberapa detik setelah Jessa pergi dengan motornya. Jessa benar, sialnya Vela tidak suka jika kenyataan itu terus diungkit.


Vela benci kenyataan. Vela lebih benci pada dirinya sendiri yang tidak bisa menerima kenyataan itu. Vela benci mengingat kalau suatu saat nanti dia yang harus mundur.


"Vel, ngapain kamu berdiri di situ?"


Vela tersadar saat suara lembut sang ibu mengalun memanggil namanya. Senyum Vela terkembang dan melanjutkan langkah yang sempat terhenti karena melamun.

__ADS_1


"Mama mau pergi lagi?" tanya Vela saat sampai di atas teras. Melihat ibunya masih rapi dengan setelan kerjanya. Wanita paruh baya itu hanya berdehem untuk menjawab.


"Hu'um."


"Mama jadi buka klinik?"


"Jadi. InsyaAllah, bulan depan semua dokumennya udah jadi. Sekarang Mama ke rumah sakit dulu."


"Oke. Sukses ya Ma."


Andini pergi dengan mobilnya. Meninggalkan Vela yang betah dengan senyum lembutnya, untuk kemudian memudar bersamaan dengan mobil sang ibu yang menghilang di kejauhan. Kabar baik dari Andini tidak cukup membuat Vela berhenti memikirkan Saga. Namun semakin sering dia menghela napas, dadanya semakin sesak.


Vela: Semoga urusan yang kamu bilang penting itu gak bawa luka di wajah kamu.


Ga, waktu aku udah habis hanya untuk bersabar.


***


"Jadi kapan kita ngumpul-ngumpul Osis angkatan 2018/2019 nih?"


"Baru juga sebulan kita pensiun Ra."


"Gue sih pengennya tiap bulan kita reunian."


"Kayak anniversary aja lo tiap bulan. Punya pasangan aja gak."


"Ngaca Key, lo juga."


Vela mengetuk dagunya. "Bulan depan ada acara amal tahunan yang diadain komunitas. Komunitas khusus osis yang masa jabatannya udah habis. Sekolah kita udah jadi anggota tetap. Jadi, kita wajib gabung."


Vela menatap teman-teman osisnya satu-persatu meminta tanggapan.


"Gue dengar ada tes dulu. Bener gak sih?"


"Gue gak ikut boleh gak?" tanya salah satu teman perempuannya.


"Kenapa?"


"Gue pengen bebas aja sih. Pengalaman osis udah cukup neken gue."


"Jangan Fa, kita 'kan bareng-bareng. Masa hampir setahun kita bareng di osis lo masih terteken?"


"Gimana ya guys..."


"Jangan pesimis gitu dong. Lo gak sendirian. Gue tau lo takut tesnya, iya 'kan? Ngaku lo. Alesan tertekan segala."


"Wira goblok. Gue serius."


Vela mengembangkan senyumnya melihat suasana meja yang mulai ramai lagi. Seolah-olah keluhan yang baru saja terlontar tidak pernah ada.


Senyum yang kemudian pudar saat netranya menangkap sosok familiar di ujung kantin. Dengan segala penampilan sampai tatapan yang membuat Vela muak. Dari kondisi sampai tatapan yang dibuang saat menatap Vela. Berhasil membuat Vela gemetar karena emosi dan sakit hati.


Vela sontak berdiri dan bangkit meninggalkan kantin. Meninggalkan tanda tanya dari seisi meja begitu melihat perubahan drastis dari sang pemimpin.


"Vel. Vela."


Vela menghiraukan panggilan itu. Yang pasti kakinya melangkah tanpa arah pasti sementara Jessa mengikuti dari belakang.


"Ravela, lo mau muterin satu sekolah? Sekedar informasi luas sekolah itu 44x38 meter. Kelilingnya 164 meter. Lo yakin?"


Vela akhirnya berhenti. Bukan karena ucapan sarkas Jessa tapi karena orang yang dia hindari ada di depan matanya. Sudut bibir Vela berkedut, lalu memutar tubuhnya pada Jessa.


"Jess, gue mau ngomong berdua dulu sama dia. Bisa?"


Alis Jessa bertaut, namun akhirnya dia mengangguk. Gadis jangkung itu membalikkan tubuhnya meninggalkan Vela dan Saga berdua.

__ADS_1


Vela bingung harus memulai darimana. Matanya menelisik wajah Saga dengan alis bertaut kecewa. Saga sendiri membalas dengan tatapannya sebelum menghela napas.


"Gue udah bilang 'kan Vel, resikonya..."


"Iya aku tau. Begonya aku baru sadar sekarang," sahut Vela. Vela meremat ujung roknya dan menggigit bibir bagian dalamnya.


"Susah Ga. Susah ternyata berada di posisi Shilla. Ternyata memang benar, cuma Shilla yang bisa nerima kamu apa adanya. Bedanya sama aku, aku gak bisa nerima kamu semudah yang Shilla lakukan. Shilla nerima kamu yang suka tawuran tapi aku gak. Shilla nerima kamu yang suka bolos, tapi aku gak. Shilla nerima kamu yang suka ngerokok tapi aku gak. Shilla biarin kamu nyakitin diri kamu sendiri, tapi aku gak bisa..."


"..."


Vela menjeda sebentar. Takut kelepasan dan bawa perasaan.


"Shilla biarin kamu bebas, tapi aku gak bisa biarin kalau kebebasan yang kamu maksud adalah jalan yang kamu tempuh saat ini."


"..."


Vela menarik napas. "Aku memang gak bisa biarin. Tapi gak ada bisa aku lakuin. Satu-satunya alasan aku peduli adalah karena hubungan kita. Jadi, satu-satunya cara agar aku tidak peduli lagi adalah dengan cara memutuskan hubungan itu. Jadi aku gak ada kewajiban buat ngurus kamu lagi."


"Jangan belit-belit Vel." Vela terdiam mendengar suara dingin Saga bersamaan dengan kedua alis cowok itu yang saling bertautan tajam.


"...Aku nyerah."


Sudut bibir Saga berkedut. Orang-orang akan berpikir bahwa dia menyeramkan dengan luka lebam di beberapa tempat di wajahnya. Tapi tidak dengan Vela, Vela tidak melihat satupun emosi di dalamnya.


"...we're done." Vela memutar tubuhnya membelakangi Saga dan melangkah meninggalkan cowok itu.


"Inget perjanjian kita Vel," suara Saga tapi Vela tidak menoleh sama sekali.


"Gak pernah ada perjanjian. Aku cuma pernah bilang aku akan berusaha. Bukan janji," sahut Vela sambil terus berjalan kemudian mempercepat langkahnya.


Namun, tanpa suara Saga sudah berada di belakangnya dan menarik tangan Vela hingga gadis itu terpaksa berbalik.


"Gue yang memulai, jadi cuma gue yang berhak mutusin. Gak pernah ada kata putus yang berhak keluar dari mulut lo. Itu keputusan gue."


Vela mematung saat Saga berbicara kalem di depan wajahnya. Gadis itu mengerjap miris membalas tatapan dingin Saga. Saga bergeming untuk kemudian menarik tangan Vela kembali ke kantin.


Salah besar jika kalian mengira Vela luluh dan menurut dengan mudah. Vela itu cerdas.


Vela berdiri kaku di depan meja Saga. Meja yang diisi oleh teman-teman cowok itu. Mereka sama. Sama-sama awkward saat sama-sama menyadari suasana.


Saga menarik tangan Vela hingga Vela terpaksa duduk di sampingnya. Vela bisa merasakan tatapan menghunus Saga tapi Vela tidak menoleh padanya sama sekali. Genggaman tangan Saga mengerat di bawah meja sebelum Saga melepasnya.


"Mau makan apa?" tanya Saga.


Vela meliriknya. "Gue udah makan," jawabnya biasa membuat Saga mendelik tajam.


"Lah, kok ngomongnya tiba-tiba sadis gitu sih?" tanya salah satu teman Saga—Benji menghentikan acara makannya.


Vela tersenyum tipis. "Biasa aja kok. Kayak gue sama lo."


"Lah. Lah. Ada apaan nih? Roman-romannya—"


"Lo mending jangan ngomong Peng," sahut temen Saga yang lain—Satria menghentikan Benji.


Tatapan Saga terasa melubangi kepalanya namun Vela malah tersenyum tipis. "Gue balik dulu yah, gak enak duduk di sini," Vela mulai bangkit.


"Lah, kenapa? Cowok lo 'kan di sini."


"Udah putus kok."


Vela mengulum senyum pada wajah cengo yang dapat dia lihat. Vela sengaja mengeraskan suaranya dengan tujuan perkataannya dapat di dengar orang sebanyak mungkin. Vela menyempatkan dirinya menoleh pada Saga yang memberikan tatapan membunuh dan wajah yang keras. Vela bisa lihat pembuluh darah muncul di permukaan kulit tangan Saga yang mengepal.


Maka dari itu, Vela langsung membalikkan tubuhnya seratus delapan puluh derajat meninggalkan meja itu.


***

__ADS_1


__ADS_2