Casual Lover

Casual Lover
Bab 3


__ADS_3

"Americanonya gak ada. Latte mau?"


Saga menggeleng. "Gak usah. Kemanisan."


Vela mengernyit. "Jangan gitu. Machiato deh."


"Sama aja. Manis juga."


"Kopi pait mau?" tanya Vela kesal.


"Mau."


Vela mendengus dan bangkit dengan hentakan kaki dengan kekakuan Saga. Saga benci sesuatu yang manis. Dia lebih baik tidak makan dan minum daripada mencicipi sesuatu yang mengandung gula itu.


Saga menoleh menatap Vela saat Vela meletakkan satu cup Mocha dengan alis terangkat. Tapi Vela balas menatapnya dengan senyum tipis dan datar membuat Saga mau tak mau meminumnya juga.


Vela tersenyum. "Kalau anteng 'kan ganteng," katanya lalu menyedot Caramel Machiatonya.


"Kapan-kapan kita ke sini lagi ya Ga," kata Vela saat melihat video yang tadi dia rekam.


Saga mengangguk. "Hm, kapan lo mau aja."


Vela tersenyum miris. Jempolnya menekan icon posting di layar ponselnya dan melihat instastorynya yang bertambah satu.


Vela menatap Saga. "Bukan kapan kamu bisa?" Vela menatap bola mata Saga. "Aku kapan aja mau, kamu aja yang yang gak punya waktu sefleksibel aku."


"..."


Vela menggedikkan bahunya dan mengaduk Machiatonya. "Mungkin aja nanti kamu gak punya waktu padahal aku mau."


Saga hanya diam memandangi Vela. Tangan menarik sebelah tangan Vela untuk ia genggam. "Nanti gue ajarin sampai bisa main skateboard."


"Sampai bisa main skateboard gak sebentar loh."


"... Artinya kita bakal ke sini lagi. Pas lo lagi mau dan gue pastiin gue bisa."


Vela tidak menjawab lagi dan lebih memilih untuk menikmati minuman. Tidak tertarik menjawab kata-kata Saga yang terdengar seperti janji itu untuknya. Saga memang tak pernah mengingkari janjinya, tapi itu jika dia benar-benar berjanji. Tapi, saat ini tak ada kata janji yang terucap. Jadi Vela tidak berharap banyak jika Saga memenuhinya.


"...Vel..."


Vela menatap Saga yang ternyata sudah memandanginya dari tadi.


"Jadi pacar gue ya?"


Vela tersenyum sinis yang tipis. "Beneran atau boongan?"


Saga tidak langsung menjawab dengan pertanyaan setengah sarkas Vela. Matanya hanya menatap mata Vela yang seolah sedang menertawakannya, sebelum mengalihkan pandangannya.


"Gak usah dijawab," katanya menyedot Mochanya dengan tegukan besar. "Lupain aja yang tadi gue omongin."


"..."


"...Vel."


"..."


"Jangan dijawab ya."


"...Oke."


***


Brakk

__ADS_1


"Lo kenapa Gi?"


Vela melihat temannya yang tomboi itu menggrebrak meja dengan kesal. Bukannya menjawab, Gita malah mengambil salah satu minuman yang entah milik siapa, dan meminumnya.


"Punya gue, *****!" seru Desya memukul belakang kepala Gita dan mengambil minumannya.


"Anak-anak keluar masuk ekskul seenak mereka aja. Gue kesel, dikira ekskul gue rumah dia," sungut Gita menggebu-gebu.


"Jangan bilang kalau lo mukul orang lagi," ujar Vela mengaduk baksonya.


"Atau ngerusakin pintu," sambung Anin.


"Atau banting Angga lagi," sambung Desya.


Kemudian ketiganya terkekeh begitu Gita hanya diam mendengar komentar mereka. Secara tak langsung mengiyakan karena bagi teman-teman dekat Gita ini, sikap Gita jika marah selalu sama. Yang menyedihkan, hanya akan ada selalu satu korban yang sama. Yaitu Angga, teman dekat seperjuangan Gita di ekskul Karate. Salah atau tidak, cowok itu akan selalu menjadi pelampiasan emosi Gita.


"Kasian tau si Angga. Tapi kayaknya dia suka deh sama lo Gi," ujar Anin.


Vela terkesiap. Menutup mulutnya dengan punggung tangan saat melihat semburat merah menjalar samar dari leher ke pipi Gita. Namun Gita menutupinya dengan sangat baik. Gadis itu menopang dagunya menyembunyikan rona itu.


"Nonsense," gumam Gita membuat Desya dan Anin tertawa menggodanya.


"OMG Gigi, lo blushing!" Vela menahan tawanya membuat Gita melotot padanya.


"Gue gak!" pekiknya. "Sialan lo pada."


Ponsel Vela bergetar dalam kantong roknya beberapa kali.


Jessa: Sekarang si Qian lagi caper sama cowok lo


Jessa: Buruan sini


Jessa: Usir


Jessa: Di lap.basket indoor


Vela meneguk minumnya dan menyudahi acara makannya membuat yang lain bertanya-tanya.


"Lo mau kemana Vel? Buru-buru banget," ujar Anin.


"Gue mau ke lantai tiga," jawab Vela tenang dan segera pergi membuat yang lain hanya diam dan memahami tanpa perlu mengikuti.


Vela gadis cerdas. Selalu berpikir logis dan pengendalian emosinya yang bagus. Begitu tenang dan terkendali. Itulah alasan kenapa dia bisa memimpin Osis tahun lalu dengan prestasi membanggakan sekolah.


Vela sebenarnya tidak perlu repot-repot peduli dengan Qiandra. Menurut Vela Qiandra bukanlah hal yang patut untuk Vela khawatirkan. Tapi inilah Vela, dia suka penasaran hanya untuk mengamati, bukan untuk bertindak.


"Gak gabung Jess?" Vela bertanya sambil duduk di kursi panjang di pinggir lapangan, sementara Jessa duduk di lantai sambil memainkan ponselnya.


"Tadinya gabung. Tapi gue eneg lama-lama liat si Qian," jawab Jessa acuh.


Vela mengamati Qian yang berada di pinggir yang lain. Gadis anggun itu sedang duduk bersama teman-temannya sambil melihat orang-orang bermain.


"Dianya gak ngapa-ngapain kok," kata Vela.


Jessa ikut menoleh, gadis berkuncir satu dan baju olahraga itu menghela napas dan memutar duduknya 45 derajat. Sikunya naik ke atas kursi samping Vela.


"Keliatannya emang gitu Vel. Qian emang tipe pasif yang sebenarnya gak bisa memulai sebuah hubungan. Tapi karena dorongan perasaan plus adanya lo sama Saga ngebakar dia."


"..."


"Lo tau Vel, mungkin sekarang Qian masih biasa-biasa aja. Tapi pelan-pelan, dia mulai ngeluh. Bilang inilah, itulah seolah-olah dia confuse banget sama apa yang harus dia lakuin terhadap hubungan lo sama Saga. Ujung-ujungnya dia bisa bahaya buat hubungan lo."


Vela tidak menjawab. Dia masih mengamati Qian yang menonton Saga yang justru terlihat acuh saja. Bahkan tidak untuk menoleh.

__ADS_1


Vela menatap Jessa. Yang ditatap justru melengos dengan reaksi Vela. Vela terkekeh dan memijat bahu sahabatnya itu.


"Mau ambil Psikologi dimana Jess? Luar atau dalem?"


"Serius Vel," gerutu Jessa kesal membuat Vela terkekeh.


Tanpa sadar Vela menatap ke lapangan lagi dan dengan mudah menemukan Saga yang juga menyadari kehadirannya. Vela tersenyum pada cowok itu sementara Saga membalasnya dengan senyum tipis. Bukan tipe Saga sekali kalau tersenyum lebar.


"Jam istirahat kok main? Makannya kapan?" tanya Vela saat Saga duduk di sampingnya.


"Udah tadi," jawab Saga menyisir rambutnya dengan tangan.


"Mau bilang kalau tadi kamu bolos?" sindir Vela.


"Gak bolos."


"Jadi yang bohong bagian mana? Yang udah makan atau gak bolos."


"...Dua-duanya," jawab Saga setelah diam beberapa detik.


Syarat pertama menjadi pacar Saga adalah kamu harus ekstra sabar. Menghadapi Saga sama seperti menjalani ujian hidup. Kalau gak sabar, ujian itu yang akan menjatuhkan.


Vela menghela napas laku bangkit berdiri. "Jess, gue duluan yah."


"Oke."


Vela berjalan agak kasar dan berat karena Saga tiba-tiba menggenggam tangannya hingga mau tak mau Vela harus menariknya agar mau berdiri.


"Lelet banget sih, cowok juga," gerutu Vela menarik Saga yang hanya berjalan malas-malasan. Keduanya berjalan menuju kantin karena Saga tiba-tiba mengeluh lapar. Vela hampir saja memukul kepalanya saking gemasnya.


"Vel, weekend gue mau sparing. Lo mau ikut gak?"


Vela berpikir sebentar sambil mengamati Saga yang sedang menyantap baksonya. "Aku udah janji sama anak Osis bantuin rapat turnamen."


Saga berdecak. "Bocah tu lagi."


"Siapa sih yang bocah?" tanya Vela akhirnya karena Saga terus-menerus mengucapkan kata itu.


"Gak ada. Minggu deh."


"Minggu persiapan."


"Ck. Senin?"


"Turnamennya."


"Ya udah. Gak usah."


Vela tertawa. "Canda. Gak usah ngambek. Gak cocok sama muka kamu."


"Gak lucu."


"Gak lagi ngelucu." Vela tersenyum manis. "Emang sparingnya berapa hari?"


"..."


Vela mencibir saat Saga benar-benar mengacuhkannya.


"Sabtu aku cuma ngawas. Kalau kamu mau nungguin bentar, aku temenin sparingnya."


And yup, hanya Vela yang bisa meluluhkan hati Saga. Vela bukan hanya sekedar menggunakan nada yang lembut dan tersenyum cantik. Tapi Saga entah kenapa selalu bisa menemukan ketulusan di baliknya. Terbaca jelas saat Saga menatap matanya.


"Kalau lama gue tinggalin."

__ADS_1


Vela mengulum senyum. Terbiasa dengan Saga dalam menyikapi sesuatu. Sebenarnya Saga itu pacar yang manis.


***


__ADS_2