
Berita menyebar dengan cepat. Vela sendiri memilih menenangkan diri di perpustakaan yang sepi. Buku-buku berserakan di depannya, namun pikirannya kosong. Vela rela? Tentu saja tidak. Saga itu orang yang spesial, Vela tidak mungkin rela mereka putus hubungan. Tapi hubungan itu terasa ambigu. Kosong dan memuakkan.
Vela tersadar saat seseorang mengambil tempat dan duduk di depannya. Vela hanya melirik sekilas dan menghela napas sebelum menatap lagi bukunya.
Jessa menopang dagunya. "Gue emang gak setuju sama hubungan lo, tapi gue gak nyangka lo lepas Saga gitu aja."
Vela terdiam dan berpikir. Lalu mengangkat kepalanya. "Salah gak sih kalau gue marah?" tanyanya.
"Gak. Gak sama sekali. Lo wajib marah sama segala yang berhubungan dengan Saga. Wajib Vel. Saganya aja yang gak tau diri."
"And then, i did. Makanya gue putusin."
"Marahnya karena apa dulu?" tanya Jessa.
"Kita gak cocok Jess. Dunia kita beda. Gue jelas-jelas gak bisa masuk dunia dia, dan dia gak bisa nerima dunia gue. Awalnya gue yakin gue sanggup, tapi sekarang gue sadar, Saga mencintai kebebasan. Dan gue gak bisa kasih dia kebebasan itu."
"..."
Vela menarik napas. "Dia emang sama sekali gak peduli dengan gue suka atau gak, tapi yang pada akhirnya sakit hati itu gue. Gue selalu bilang sesuatu dan percaya sama dia, tapi gak ada pembuktian." Vela menggeleng dan menatap bukunya lagi. "Gue capek sakit hati. Gue gak setahan banting itu," gumamnya.
"...Gue tau Vel. Berantem bukan alasan utama lo marah sama Saga."
Vela mematung. Bahunya perlahan turun bersamaan dengan paru-parunya kosong. "Lo bener. Ada alasan lain kenapa gue marah dan mutusin Saga," gumamnya lirih dan memposisikan buku berdiri hingga menutupi kepalanya.
Jessa menarik napas setengah miris. Tak tega sebenarnya tapi Vela suka memendam sesuatu seorang diri.
"Saga berantem karena orang lain. Selalu orang yang sama dan akan selalu menjadi alasan untuk semua hal yang Saga lakuin. Gue emang benci kalau Saga berantem...tapi gue lebih benci lagi karena alasannya itu masih tetap Shilla."
Jessa samar-samar mendengar getaran di balik suara Vela.
***
Desya: Jangan ke kelas dulu Vel
Desya: Saga nyeremin
Desya: Gue ngerasa gak aman
"Saga cari gue di kelas. Kemungkinan dia nemuin gue juga di sini," kata Vela pada Jessa. "Gue gak mau debat dulu sana dia. Gue mau ke ruang osis. Lo ikut?"
"Ngapain gue ke ruang osis? Mati gaya gue ntar."
"Sekarang gak ada acara. Paling cuma dua-tiga orang di sana lagi jaga. Lo harus temenin gue Jess."
"Ko lo maksa sih?"
"Gak mau?"
"Kalau ujung-ujungnya lo maksa gak usah nanya," kata Jessa ketus namun tangannya meraih tangan Vela dan mengajaknya keluar perpustakaan dengan tujuan ruangan osis.
"Kak," panggil seseorang saat berada di koridor. Vela sudah dapat menebak apa yang akan orang itu katakan saat melihat ternyata yang memanggilnya adalah Qiandra.
"Kenapa?" tanya Vela biasa.
Qiandra dengan ekspresinya yang biasa. Selalu berseri dan segar. Ciri khas Qian yang ceria. Icon gadis polos dan lugu. Tapi ekspetasi Vela kandas saat gadis itu mulai berbicara.
"Kakak beneran putus sama Kak Saga?"
Vela tersenyum miring yang tidak kentara. Image baik Qiandra seolah pupus dalam pandangan Vela.
"Iya. Bahagia 'kan lo?" sahut Jessa tersenyum manis.
Qiandra manyun. "Kak, Qian emang suka Kak Saga. Tapi bukan berarti Qian bahagia di atas penderitaan orang lain. Qian masih menghormati Kak Vela."
"..."
__ADS_1
"Qian bingung."
...mungkin sekarang Qian masih biasa-biasa aja. Tapi pelan-pelan, dia mulai ngeluh. Bilang inilah, itulah seolah-olah dia confused banget sama apa yang harus dia lakuin terhadap hubungan lo sama Saga. Ujung-ujungnya dia bisa bahaya buat hubungan lo...
Perkataan Jessa terngiang di kepala Vela. Matanya menatap Qiandra lekat-lekat, sementara gadis itu sendiri menampakkan ekspresi bingungnya.
Well, Vela akui, ini sedikit mirip dengan pernyataan Jessa.
"Kita duluan ya Qian." Vela menampilkan senyumnya dan segera menarik Jessa melanjutkan langkah mereka ke ruang osis.
Qiandra menatap kepergian kedua kakak kelasnya itu. Bibirnya yang mungil mengatup dan jari-jarinya saling memilin. Sesekali dia akan menghela napas entah karena apa. Sampai kemudian dia menyadari ada orang lain yang datang dari arah belakang.
"Kak Saga." Qiandra setengah tak percaya karena terlalu kaget Saga sudah ada di belakangnya. Gadis itu memindahkan kedua tangannya yang bertaut dari depan ke belakang.
Saga hanya menatap sedetik untuk kemudian melanjutkan langkahnya.
"Kakak cari Kak Vela ya?" pertanyaan Qiandra menghentikan Saga. "Bukannya kalian udah putus?"
Qiandra menggigit bibir dalamnya kuat-kuat saat Saga mendelik tajam dan menakutkan padanya. Qiandra menyesal karena terlalu memberanikan diri.
"Gue gak putus sama cewek gue. Ngerti lo?" kata Saga dengan penekanan dan suaranya yang dalam.
"Ta-tapi Kak Vela bilang kalian udah putus."
"Kapan Vela bilang kayak gitu sama lo?" tanya Saga membalikkan tubuhnya.
"B-baru aja."
"Dianya kemana?"
"Tadi ke arah situ sebelum Kakak datang."
Saga diam. Dia menatap Qiandra hingga gadis itu mengerut di tempatnya berdiri. "Gue tegesin sama lo, Vela masih cewek gue sampai kapan pun. Inget lo."
Qiandra memejamkan matanya saat Saga berbalik meninggalkannya. Benar, dia tidak seberani Vela.
***
"Gue cuma nanya kek gitu doang, masa tiba-tiba gue mau dihajar?"
Satria menggeplak kepala Benji. "Lo inget dulu lo bilang apa tadi."
"Anjir, gue kira lo yang mutusin Vela. Ternyata elonya yang diputusin. Haha..." sambung Harsa dengan gaya mencibir meniru ucapan Benji beberapa saat yang lalu. "Gak heran kalau mau dihajar. Harusnya tadi beneran."
"Salahnya dimana?"
"Alah, capek ngomong sama lo Peng. Gue duluan."
"Sat. Bang Sat. Bang Satria."
Satria mengacungkan jari tengahnya.
***
"Mau kamu apasih Ga?"
Vela lelah sebenarnya. Wibawa mantan ketua osisnya pudar karena kelakuan Saga yang terus cari gara-gara. Tali tas yang tersangkut sebelah di pundak kanannya dia jatuhkan hingga terhempas di dekat kakinya. Seragamnya keluar sebagian dan kusut di beberapa tempat.
"Aku tuh capek ngadepin kamu. Gak cari masalah bisa 'kan?"
"Baru keluar lo sekarang?" balas Saga mengabaikan keluhan Saga. Saga bangkit dan melompat turun dari atas meja yang bertumpuk.
"Kamu mau apa sebenarnya?" tanya Vela melunak.
"Gak ada. Mau liat lo aja."
__ADS_1
Vela mengangkat sebelah alisnya kemudian tertawa sekali. "Gak lucu. Gak guna," katanya tapi Saga hanya diam.
"Kamu tau Ga, kenapa Osis bahkan sampe anak pramuka gak mau turun tangan ngurus kamu? Karena mereka hormatin kamu. Walau kamu brengsek tapi mereka respect. Satu-satunya ikatan senior junior yang aku benci sampe mereka buta cuma karena kamu seniornya."
"Vel, gue mau ketemu lo bukan mau bahas itu."
"Tapi aku mau ketemu kamu cuma mau bahas masalah itu. Kalau kamu mau bahas masalah lain, maaf, aku gak punya waktu." Vela membungkuk mengambil tasnya.
"Fine. Jangan harap gue bakal berhenti," seru Saga mengangkat tangannya emosi. Cowok itu mengambil tasnya dan berjalan melewati Vela yang berdiri di pintu gudang hingga bahu mereka sedikit bersenggolan.
Vela menatap kepergian Saga dengan dengusan tak percaya. Kedua bahunya merosot turun dan tubuhnya bersandar di pintu. Vela menyeret langkahnya ke arah kiri, hanya untuk menemukan beberapa anak osis menatap ke arahnya.
Vela tertegun. Tatapan kecewa setengah menguatkan itu melayang ke arahnya. Dean maju satu langkah ke depannya. "Maaf Kak, harusnya Osis bisa ngatasin masalah ini tanpa ngandelin lo lagi. Besok, gue bakal coba ngomong sama Bu Dewi."
Vela menggeleng cepat. "Gak. Gue bakal ngomong sama Saga. Kalian pulang aja," kata Vela dan kakinya berbalik, berlari menyusul Saga.
Setelah berlari menyusuri koridor kelas sebelas, Vela melihat Saga sedang di halaman menuju parkiran. Vela berlari lagi untuk lebih dekat.
"Kak Saga."
Vela melihat Qiandra menghampiri dari arah depan Saga. Tapi Vela tidak peduli, kakinya melangkah lebar menghampiri keduanya.
"Ga," panggilnya membuat Saga menoleh. Raut wajahnya datar tapi tak membuat Vela gentar.
"Gue mau ngomong," kata Vela menggenggam pergelangan tangan Saga. Tapi cowok itu menahannya.
"Kalau lo mau bahas masalah itu lagi, sorry gue gak punya waktu."
"Gak. Kita bakal bahas masalah lo," sahut Vela memaksa menarik tangan Saga sampai akhirnya Saga mengikutinya menjauhi Qiandra.
"Kalau lo terus-terusan kayak gini, lo bakal nyesel," omel Vela sambil terus menarik Saga. Sengaja mengubah bahasanya menunjukan dia serius. Tanpa di duga, Vela membawa Saga ke dalam ruang osis yang sudah kosong.
Saga mengernyit sambil menatap ruangan itu. "Gue ada hubungannya sama ruang osis?" tanyanya sarkas.
Vela menatap cowok itu datar. Sebelum menunjuk sebuah papan reklame di dinding yang berisi banyak tulisan.
"Baca. Ini aturan bobot Bima Aksa. Inget lagi lo udah nabung berapa," kata Vela memukul papan itu dengan telapak tangannya.
"30 lagi Ga. Tiga puluh. Lo bakal di DO kalau poin lo udah seratus. Lo udah kelas dua belas. Kita udah mau lulus. Gue mohon sama lo, jangan cari masalah lagi."
Saga melengos membuat Vela menarik lengannya. "Anak osis udah nyerah. Besok mereka mau ngomong sama guru BK. Gue yakin gak perlu bobot lo nyampe seratus, lo udah pasti di DO."
"Lo pikir gue bakal mati kalau di DO? Gak bakal ngaruh."
"Saga!" Vela menarik lengan Saga. "Lo pikir Shilla seneng liat lo kayak gini?"
"Kenapa gue harus mikirin Shilla soal ini?" nada suara Saga menunjukan rasa tidak suka yang kentara. Cowok itu menghadap Vela sepenuhnya lalu gantian dia yang memegang lengan Vela.
"Stop bawa-bawa Shilla dalam masalah gue, masalah lo, dan masalah kita. Ini gak ada hubungannya sama sekali dengan Shilla."
Vela menepis tangan Saga dan menatap matanya. "Fine. Gue cuma mau lo gak buat masalah lagi, Ga. Gue peduli sama lo," katanya mendorong lengan Saga dengan telunjuknya. "...Walaupun kita udah putus."
Saga tertawa sekali. "Lucu. Tapi gue juga capek. Gue capek bilang ini sama lo, cuma.gue.yang.berhak.mutusin," katanya penuh penekanan di akhir.
Saga menarik pergelangan tangan Vela untuk dia genggam walaupun Vela mati-matian menahan lengannya. "Sampai gue yang mutusin, lo masih jadi pacar gue."
Vela menatap tidak percaya sambil menggeleng kecil. "Gue mulai mikir, kalau gue nyesel pernah kenal sama lo."
Saga tidak menjawab apa-apa. Tapi alisnya bertaut dan dahinya berkerut. Vela membuang pandangannya lurus, yang hanya dapat memandang leher cowok itu karena perbedaan tinggi mereka.
"Berhenti, oke?"
"..."
"Gue bakal ngomong sama anak Osis kalau lo gak bakal bikin ulah lagi. Terserah lo mau apa, tapi jangan bikin sesuatu yang nambah bobot. Gue peduli Ga, sama lo. Lo mantan yang baru lima hari gue."
__ADS_1
"Oke. Tapi gue mau lo."