
Festival Sastra tahunan Bima Aksa mengharuskan osis kerja ekstra karena bukan hanya dari dalam sekolah saja, sekolah lain pun banyak ikut berpartisipasi. Mengingat kepemimpinan osis baru yang baru berumur satu bulan, mengharuskan Vela dan kawan-kawan ikut berpartisipasi untuk turun tangan membantu para Junior osisnya.
Vela sudah kelas dua belas. Masa jabatannya sudah berakhir sekitar sebulan yang lalu. Namun dia tidak dapat lepas tangan begitu saja karena event ini masih sangat baru bagi juniornya. Di sinilah tugas Vela untuk membimbing.
Jadilah di sini dia sekarang, dibandingkan siswa kelas dua belas lainnya yang sedang menikmati festival, Vela dan Anin selaku mantan ketua dan wakil ketua osis, sibuk mendampingi Junior osisnya mengurus Festival.
"Rame ya Kak. Tahun kemaren serame ini juga gak?"
"Lebih rame, De," jawab Vela terkekeh sambil bertopang dagu melihat festival dari belakang panggung. "Soalnya tahun kemarin kita ngundang bintang tamu spesial. Artis."
"Lah, emang boleh? Kok gak kasih tau? 'Kan bisa gue undang juga."
Vela menggedikkan bahunya. "Gak ada yang nanya."
Dean, ketua osis pengganti dirinya duduk di sampingnya. "Sorry ya Kak, harusnya lo sekarang nikmatin acaranya, bukan ikut ngurus. Jujur aja ternyata osis yang segampang yang gue bayangin," katanya menyesal.
Vela mengangguk. "Santai aja De, dulu gue juga gitu kok. Gue dulu lebih ngerepotin daripada lo. Untung aja Kak Bayu orangnya nyantai. Nanti, kalau jabatan lo udah habis, bantu juga adek-adek lo."
"Pasti Kak." Dean mengangguk dan tersenyum lebar membuat Vela mau tidak mau tersenyum juga.
"Sini coba liat susunan acaranya."
Anin bergabung setelah selesai dengan kegiatannya mengotak-atik background musik panggung. Gadis itu membawa laptop yang terpasang dengan speaker panggung ke hadapan Vela.
"Dean track paskishow ini apaan nih? Lo mau nambahin acara baru?" tanya Anin.
"Iya Kak. Usulan temen yang kebetulan anak Paski. Banyak yang setuju. Gue sih oke-oke aja. Anak Paski seneng kok ambil bagian. Gak pa-pa 'kan ya?"
"Gak pa-palah De. Makin banyak acara makin bagus. Yang penting menarik aja sih. Kita dulu gak kepikiran buat ikutin Paski iya gak Vel?"
Vela mengangguk saja dengan senyum tipis.
"Eh, laptopnya lowbat nih. Gue balik ke sana dulu ya. Bye," pamit Anin kembali ke tempatnya semula.
"Gue juga cabut deh Kak," ujar Dean ikut bangkit mengemasi kertas-kertas kerjanya. "Cowok lo lama-lama nyeremin kalau liatin."
__ADS_1
"Hm? Dimana?" tapi Dean sudah ngacir duluan ke depan panggung membiarkan Vela sendirian duduk di sana.
Vela mengedarkan pandangannya untuk menemukan Saga. Tapi terlalu banyak orang. Apalagi posisinya di belakang panggung. Matanya tak kunjung menemukan sosok Saga.
Vela menghela napas dan mengambil ponselnya.
Me: Kalau mau gabung, sini
Saga: Tau dari mana lo nomor gue?
Me: Kamu hapus pun, aku tau. Hafal aku nomor kamu. Sini, gak usah ngumpet. Capek aku carinya
Tidak ada balasan lagi. Vela menutup ponselnya dan menumpukan dagunya di atas meja di bawah tenda osis ini. Dia sendirian duduk di sana. Hanya ada beberapa petugas osis yang sibuk mengatur musik panggung bersama Anin di sebelah kiri depannya. Dan beberapa orang berlalu-lalang untuk sekedar lewat.
Ada seseorang duduk di sampingnya membuat Vela menoleh. Dia tersenyum tipis. "Sekarang aku paham kenapa Dean bilang kamu nyeremin. Bukan karena takut, tapi wajah hancur kamu itu loh," katanya setengah menyindir.
"Tuh bocah emang takut."
"Gak. Gak ada yang perlu ditakutin dari kamu," jawab Vela cuek.
"Emang ancur banget?" tanya Saga.
Vela mengangguk. "Hu'um. Bikin jelek. Pantas orang-orang pada serem," katanya asal. "Kan udah dibilang obatin dulu, aku males ngeladenin kalau kamunya kaya gitu."
Saga menghela napas menatap angel side Vela yang sempurna itu. Terlalu malas menjawab jika Vela sudah bertingkah acuh tak acuh seperti ini. Kepalanya rebah di bahu Vela. Selain karena mengantuk, Saga juga tidak memungkiri perasaan uring-uringan yang disebabkan oleh Vela. Saga agak merindukan perhatiannya.
"Gak punya handsaplast," gumam Saga memejamkan matanya.
Vela tidak bereaksi selama beberapa detik. Gadis itu hanya diam sambil sesekali menarik napas panjang. Tak tega juga, akhirnya Vela membuka softcase baby bluenya. Mengambil dua buah dari sekian banyaknya handsaplast yang selalu Vela stock di baliknya. Hanya untuk Saga.
"Lo marah? Lo marah 'kan Vel?" tanya Saga tanpa mengangkat kepalanya.
Vela tidak menjawab. Gadis itu tanpa kata menempelkan handsaplast itu di buku-buku jari Saga. Saga menghela napas lagi. Menekan kepalanya pada bahu Vela dan tangannya ganti menggenggam tangan Vela. Membiarkan keheningan membungkam dan perlahan dikuasai rasa nyaman.
Vela tersenyum miris. Tangannya kanannya menangkup tangan Saga yang menggenggam tangan kirinya. Membiarkan rasa nyaman itu mengisi waktu mereka yang sedikit.
__ADS_1
◻ ◻ ◻
"Coklat atau teh?"
"Kopi."
Vela terkekeh mendengar jawaban singkat Saga. Puas melihat wajah datar laki-laki itu saat mendengar pertanyaannya. Tanpa menjawab lagi Vela segera ke dapur membuatkan Saga kopi dan membawakan beberapa camilan.
"Banyak banget. Lo tau 'kan gue gak suka ngemil," ujar Saga mengambil kopinya.
"Coba, Ga. Enak. Kesukaan aku itu," jawab Vela lalu mengacak rambut Saga sekilas sebelum berlalu ke kamarnya. Berganti pakaian karena hari ini Saga mengajaknya untuk jalan-jalan.
"Ko wangi sih?" gumam Saga saat menaiki motor membuat Vela membaui dirinya sendiri.
"Kenapa? Gak suka wanginya? Berlebihan?" tanyanya.
"Gak. Cuma bikin pusing. Kayak narkoba, bikin candu," katanya lalu memasang helm.
Vela mencubit pinggangnya sambil menahan senyum. "Emang kamu pernah coba narkoba?"
"Belum sih."
"Belum? Coba aja kamu pakai, aku duluan yang bunuh kamu sebelum masuk penjara."
Saga tertawa saja dan melajukan motornya. Hari ini Saga mengajak Vela ke Skate Park. Saga ini orang yang tidak neko-neko. Tidak berlebihan. Dan anti mainstream. Dia tidak menyukai jalan-jalan ke pantai, Mall, atau restoran. Saga menyukai sesuatu yang instan. Maksudnya adalah sesuatu yang melibatkan dirinya dan Vela secara langsung. Mengenalkan Vela pada dunianya yang menyenangkan.
"Coba naik yang ini deh Vel."
"Pegangin tapi," sahut Vela bangkit dari posisi jatuhnya saat bermain skuter. Lalu naik ke atas skateboard hitam yang dipijaki salah satu kaki Saga.
Lalu Saga berlari kecil menarik tangan Vela. Mereka mencobanya berulang kali, berulang kali juga Vela tidak sanggup untuk bertahan lebih dari sepuluh detik. Akhirnya Saga memutuskan untuk jalan biasa dengan salah satu tangan menarik tangan Vela yang berada di atas skateboard agar Vela bisa sedikit santai.
Vela mengeluarkan ponselnya dengan tangannya yang lain dan membuka aplikasi instagram. Lalu merekam Saga dari belakang. Tak lupa tautan tangan mereka.
"Ga, lihat sini coba," panggilnya. Dan Saga menoleh untuk kemudian tersenyum lebar di wajahnya yang badboy.
__ADS_1
◻ ◻ ◻