Cerita Cinta Remaja

Cerita Cinta Remaja
IRISAN RINDU


__ADS_3

Sudah satu Minggu Rey dan para sahabatnya pindah sekolah, dan sudah seminggu pula persahabatan antara mereka terjalin. mereka terlihat lebih akrab. Saat ini mereka berenam sedang berada di kantin.


" Eh, Ya lo mau nerusin kemana, kuliah nggak?? " Tanya Sinta.


" Nggak tau deh, kamu kan tahu gimana kondisi aku. Aku nggak mau jadi beban ibu aku, dan juga nggak mungkin hingga dini gua sendiri " Jawab Ria dengan senyum getir.


" Tapikan kalau masalah biaya, Lo bisa nggak ngajuin beasiswa. Lagian lo kan pinter nggak kayak gue kelewat pinter hehehe.... " sahut Nissa cengengesan.


" Iya Ya, ajuin aja beasiswa, soal ibu Lo, Lo kan bisa ngekost, terus tinggal bareng deh " Timpal Devan. Yang disetujui yang lainnya.


" Nggak tau lah, gimana baiknya aja " Jawab Ria. " Kalo kalian gimana " Sambungnya.


" Kalo kita mah sama kaya Rey Di universitas Abadi, ya nggak Rey " Sahut Alex


" Hmm " jawab Rey Datar.


" Gimana kalo kita nanti jalan jalan " ajak Devan penuh semangat.


" Ayo ayooo " Timpal Alex tak kalah antusias nya.


" Emm.... Kalo gue ngikut Ria aja deh, hehehe " jawab Sinta. Mereka balikan pandangannya ke Ria.


" Hmm, gue juga " tambah Nissa.


" Kenapa? " Tanya Devan kecewa.


" Kalian ikut aja nggak papa, kan sama Alex, Devan di juga Rey " Jawab Ria.


" Emang kenapa nggak ikut? " Tanya Rey datar. Sedangkan kedua temannya terkejut, karena biasanya Rey selalu dingin dan acuh kepada setiap wanita, dan kini dia peduli dengan Ria.


" Emm.. aku kerja sambilan " Jawab Ria kikuk. Ketiga lelaki tersebut terkejut dengan jawabannya.


" APA!!! " teriak mereka bertiga, sehingga orang-orang yang ada di kantin mengalihkan pandangannya kemeja mereka.

__ADS_1


" Kagak usah teriak teriak Mansyur, kita kagak budek " Sambar Sinta kesal.


" Lo kerja sambilan? " Tanya Alex masih terkejut


" Iya, hehehe " Jawab Ria cengengesan.


" Kenapa? " Tanya Rey singkat.


" Kenapa apanya " Tanya Ria Balik karena bingung.


" Kenapa kerja sambilan? " Tanya Rey dengan tegas


" Aku bantuin ibu, kan gak mungkin itu membiayai sekolah keperluan sekolah aku sendiri. Aku nggak mau jadi anak yang manja " Jawab Ria Santai.


" Ayah lo_ " tanya Alex hati hati


" Udah stoppp " Potong Sinta dengan tegas, sehingga mereka terhenyak menatap Sinta bingung. " Nggak usah dilanjutin " tambahnya. Sinta tau sudah mereka tetap mau melanjutkan pembicaraan, pasti akan menjerumuskan pada pembahasan ayah Ria. Dan itu akan membuatnya sedih, Sinta tak ingin sampai itu terjadi begitu pun dengan Nisa.


" Kenapa gue kan cuma tanya " Tanya Alex bingung


" Kan udah gue bilang berhenti, gue nggak mau betty lagi " Ucap Sinta dan Nissa tegas.


" Emm... Aku mau ke perpustakaan dulu ya, emm ada buku yang aku butuhkan " Ucap Ria langsung pergi, Ria tak ingin mereka melihatnya menangis, terutama Sinta dan Nissa. Dan Sinta serta Nissa tau Ria ingin sendiri jadi tak menyusulnya.


" Kalian sih, kan udah gue bilang, mulai sekarang jangan pernah ada yang bahas soal ayahnya Ria, soalnya Ria belum mau terbuka kalian semua. " Perintah Sinta Tegas


" Gue balik duluan " Ucap Rey tiba tiba, dan tanpa menunggu jawaban mereka Rey pergi begitu saja, Rey bukan mau kembali ke kelas tetapi Rey mencari keberadaan Ria. Rey mencari ke perpustakaan seperti yang Ria katakan kepada teman-temannya tadi tetapi tidak menemukannya, jadi hari berinisiatif mencarinya ke taman dan ternyata benar sehingga berada taman sedang menangis.


" Nih " ucapnya sambil menyodorkan sebuah tisu.


" Makasih, kenapa kesini? " Tanya Ria bingung.


" Ada larangan kah? " sambil duduk di sampingnya

__ADS_1


" Tidak " Jawab Ria singkat.


" Terus?? " cuap Rey sambil menaikkan alisnya.


" Nggak jadi " Jawab Ria ketus.


" Kenapa nggak dihabisin akan siangnya, terus katanya tadi mau ke perpustakaan kenapa nggak jadi malah ke taman?" Tanya Rey heran.


" Nggak papa, lagi nggak nafsu makan dan lagi pengen suntuk aja " Jawab Ria sambil tersenyum, Rey tahu senyum itu adalah sentum terpaksaan.


" Riaa, kalau kamu mau nangis, nangis aja. Rapuh bukankah hal yang memalukan " Ucap Rey dengan lembut.


" Ya, aku tau. Terkadang aku juga bingung, kenapa aku serapuh ini, kenapa aku tidak setegar karang, Kenapa ayah aku melakukan semua itu kepadaku. Apa yang telah aku lakukan hingga membuatnya begitu " Ucap Ria dengan suara serak dan mata berkaca-kaca. Rey yang melihat itu tak tega, kemudian meraih kepala Ria dan sadarkan di bahunya dia merasa nyaman. Ria hanya menurut. " Aku hanya rindu ayahku, aku rindu pelukan seorang ayah " jawab Ria irih sambil memejamkan mata nya.


Selang beberapa saat mereka kemudian kembali ke kelas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2