
Bagas hanya tersenyum manis tanpa menjawab pertanyaan Risa. Risa tentu merasa risih dengan sikap Bagas saat ini. Segera ia meminum es jeruk miliknya dengan cepat lalu undur diri dari teman-temannya sembari menaruh uang di meja.
"gais duluanyaa, nih uang baksoku males ngantri" ucap Risa meninggalkan kantin.
--di kelas--
Risa melemparkan tubuhnya keras ke kursinya, terlihat jelas Risa sedang kesal, ia merasa kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa dengan mudah mengakui apa yang sebenarnya yang ia rasa. Ia ingin putus dari Bagas tanpa menyakiti hati siapapun. Risa terus memutar otak mencari ide yang bagus, kemudian Farel masuk menuju kursinya dengan segelas minuman dingin di tangannya, Risa yang melihat kedatangan Farel menunggu Farel duduk dikursinya lalu dengan sigap Risa meraih minuman dingin yang tinggal setengah diminum pemiliknya. Happp.
"makasihya" ucap Risa sambil tertawa.
"kamu pacaran?" tanya Farel tanpa menggubris minuman yang telah direbut teman sebangkunya itu. Terlihat raut muka Risa berubah cepat, ia kembali kesal.
"Iya"jawab Risa kesal.
" dengan Bagas?"tanyanya lagi.
"sama monyet" ketus Risa yang membuat Farel tertawa lepas. Risa kaget sekaligus heran entah apa yang membuat Farel tertawa.
"kamu nganggap Bagas monyet?" tanya Farel yang masih tertawa.
Risa hanya diam tak menjawab pertanyaan Farel, setidaknya mood Risa kembali naik karena teman sebangkunya itu.
beberapa menit terdiam bersama, Risa membuka suara.
__ADS_1
"kamu punya pacar rel?"tanya risa kepo.
"enggak"datar Farel.
"kenapa?" tanya Risa lagi.
"lagi males aja pacaran"jawab Farel datar. kemudian dianggukan Risa pertanda mengerti.
--pulang--
Di depan kelas Risa sudah terlihat Bagas yang menunggu sambil sesekali melirik jam tangannya. Risa yang baru saja berdiri di pintu kelasnya itu kembali kesal setelah melihat Bagas berdiri di depannya.
"Risa"lirik Bagas.
Risa tidak menjawab, ia berniat berlalu begitu saja tapi ia merasa akan sangat jahat bila melakukannya. Risa berjalan pelan ke arah Bagas.
Risa sebenarnya ingin sekali memberitahu Bagas isi hati sebenarnya tapi lagi-lagi ia merasa egois. Ia terus menimbang-nimbang.
"Kak aku pingin jujur, tapi aku takut melukai perasaanmu".
"Aku tau kamu mau ngomong apa ris, tapi aku mohon cobalah menjalani hubungan ini, aku sudah terlanjur sayang kamu ris"pinta Bagas. Risa lagi-lagi merasa iba, ia kemudia mengurungkan niatnya.
"Hm oke, mari kita coba" Risa memaksakan senyumnya dibalas Bagas dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Mari kuantar pulang"
---------
Berhari-hari telah terlewati tapi hari Risa masih tidak tentu arahnya. Kadang ia berpikir sudah jahat karena menerima Bagas hanya karena iba, tp ia merasa lebih jahat lagi apabila tidak mencoba. Ia sudah mencoba selalu mengangkay telpon ataupun sekedar membalas chat dari Bagas, tapi tetap saja kadang ia mengabaikan. Ia akan mencari Bagas ketika ia hanya merasa bosan dan itu membuatnya sadar ia jahat. Akhirnya setelah menimang dengan baik Risa akan menyerah dan meminta maaf agar hubungan mereka berdua berakhir baik.
Risa masih duduk dalam lamunannya, ia membayangkan apa-apa yang akan terjadi, kemudian ia dikagetkan dengan Ibu Meta yang sudah tepat berdiri di samping Risa.
"Kamu kenapato? daritadi mama panggil ga nyahut" tepuk mama Meta.
"eh mama, lagi mikir maa hehe"
"yahh kamu sibukyaa, yauda deh gajadi" ucap mama Rita sembari berjalan meninggalkan Risa tapi Risa lebih dulu menahan mamanya.
"Kenapa ma? Risa ga sibuk kok"
"itu mama mau minta tolong di beliin gula di *****mart"
"Risa bisa kok" sambil mengembangkan senyum ke mamanya. Risa segera menyambar jaket dan keluar dari kamar segera mengambil kunci motor yang tergeletak di meja.
--di jalan"
Baru saja berapa menit Risa mengendarai motornya, dilihatnya Bagas berboncengan dengan seorang wanita dengan mesra. Risa berpikir sejenak.
__ADS_1
"apa aku salah orangkali ya? tapikan Bagas biasanya naik mobil bukan motor" batin Risa. Untuk membuktikan keraguannya Risa memutuskan mengikuti laki-laki itu.
bersambung....