Cermin Misteri

Cermin Misteri
Jamu Gendong


__ADS_3

Sarah terus saja memijat ***********, tak peduli nyeri yang ia rasakan. Bagi Sarah yang penting saat ini adalah air susu nya bisa keluar dengan lancar. Pikirannya semakin carut marut mendengar tangisan bayi mungil yang ada di sampingnya. Bayi itu terus menangis kelaparan, tidak mendapatkan asupan makanan yang cukup karena air susu Sarah yang tidak lancar.


"Jangan terlalu stress, pikirkan saja bayinya," mbok Darmi mencoba menenangkan. Sarah hanya tersenyum tipis menanggapi nasehat mbok Darmi. Bagaimana ia tidak stress, Sarah harus menanggung semua beban dosa ini sendirian. Lelaki yang menghamilinya tiba-tiba menghilang. Keluarga Sarah sendiri mengusirnya karena dianggap membawa aib. Sati-satunya orang yang mau menerima Sarah adalah mbok Darmi, mantan pengasuhnya dulu.


"Simbok sudah pesankan jamu buat neng Sarah, biar air susunya lancar. Nanti diminum ya! Agak pahit memang rasanya, gak apa-apa kan? Usaha buat anak"


"Iya , mbok. Terimakasih"


"Hari ini simbok mulai kerja di rumah haji Mansyur. Pulangnya sore, tapi bisa juga sampai malam. Nak Sarah gak apa-apa kan di rumah sendiri?"


"Gak apa-apa, mbok. Nanti kalau sudah sehat, biar Sarah saja yang kerja. Maafin Sarah ya, Mbok. Sarah jadi ngrepotin mbok Darmi."


"Sudah, jangan terlalu mikir aneh-aneh. Simbok malah seneng Nak Sarah disini, rumah jadi ndak sepi. Simbok berangkat dulu ya!"


"Hati-hati, mbok!"


***


Hari sudah menjelang petang, mbok Darmi belum juga datang. Sembari menggendong bayinya yang menangis, Sarah menunggu mbok Darmi dengan perasaan cemas. Ia takut terjadi sesuatu, apalagi mbok Darmi pergi dengan sepeda. Perempuan tua itu juga sudah mulai menderita rabun senja.


"Permisi!"


Seorang perempuan muda datang mengetuk pintu dengan membawa botol minuman di tangannya.


"Oh...ya, cari siapa mbak?" tanya Sarah.


"Anu...ini mbak, jamunya," perempuan itu menyodorkan sebotol ramuan berwarna hijau. Ragu-ragu Sarah menerima botol jamu itu.


"Ini tadi yu Darmi yang pesan" kata perempuan itu meyakinkan Sarah, seolah ia bisa membaca keragu-raguan di wajahnya.


"Oh..iya. Terimakasih, mbak" jawab Sarah yang kesulitan menerima jamu itu sambil mengayun-ayun bayi nya yang semakin rewel.


"Anak pertama ya?"


"Iya"


"Mungkin lapar itu mbak. ASI nya sudah lancar?"

__ADS_1


Sarah hanya menjawab dengan senyuman getir.


"Mbak belum sempat mandi ya? Sini saya bantu, mbak" penjual jamu itu menawarkan bantuan untuk menggendong bayi Sarah. Namun ia ragu-ragu untuk memberikan bayinya.


"Tenang saja. Saya juga pernah punya anak kok, mbak. Jadi tau bagaimana caranya mengurus bayi. Mungkin karena mbaknya merasa risih belum mandi. Jadi nular ke bayinya. Yang namanya anak, itu sangat peka terhadap perasaan ibunya. Apalagi anak bayi. Makanya dia rewel, soalnya ibunya juga lagi gelisah." Perempuan itu mengulurkan tangan dan berbicara panjang lebar , seolah tengah membius Sarah. Tanpa sadar secara perlahan-lahan ia justru memberikan bayinya. Ajaib! Bayi Sarah langsung berhenti menangis ketika sudah berada di pelukan penjual jamu itu. Sarah tersenyum lega. Ia mulai mempercayainya.


"Mbak, saya nitip sebentar bisa ya? Saya mau mau mandi dulu, nggak lama kok!"


"Silakan. Nggak usah buru-buru" jawabnya dengan tersenyum melihat bayi Sarah.


Tak melewatkan kesempatan itu, Sarah bergegas menuju kamar mandi untuk secepatnya membersihkan diri. Guyuran air yang membasahi tubuhnya terasa seperti surga. Dari kamar mandi, sayup-sayup ia mendengar seseorang sedang bersenandung.


Wis cep menengo anakku


Kae bulane ndadari


Koyo buto nggegilani


Lagi nggoleki cah nangis


Tak lelo, lelo, lelo ledung


Tak emban slendang Batik Kawung


Yen nangis mundak ibu bingung


Sarah menghentikan gerakan gayungnya, ia menajamkan telinga untuk mendengar senandung itu. Suaranya terdengar sangat menyayat, merintih dan terasa pedih. Tiba-tiba bulu kuduk Sarah meremang, ia menggerayangi tengkuknya yang terasa dingin. Sarah langsung mempercepat aktivitasnya. Semakin cepat ia mengguyurkan air, semakin jelas pula suara senandung yang menyayat itu.


Sarah segera keluar kamar mandi dengan tubuhnya yang masih basah. Perempuan itu sudah tidak ada di ruang tamu! Yang tampak justru mbok Darmi yang sedang menggendong bayinya.


"Kalau maghrib begini, sebaiknya bayinya digendong. Jangan dibiarkan sendirian juga" kata mbok Darmi.


Sarah tak menjawab. Ia masih tertegun tak mengerti.


"Mbok tadi nyanyi?" tanya Sarah memastikan.


"Nyanyi? Nyanyi apa? Simbok ngomong aja fals, kok menyanyi. O ya..itu jamunya sudah simbok bawakan. Tadi simbok ketemu penjualnya di rumah Haji Mansyur, makanya dia nggak mampir kesini. Diminum ya!"

__ADS_1


"Jamu?"


"Iya, jamu yang tadi pagi mbok bilang. Supaya ASI mu lancar"


Sarah terhenyak mendengar kalimat mbok Darmi. Perlahan-lahan ia mendekati mbok Darmi, memegang tangannya untuk memastikan bahwa itu benar pengasuhnya dulu.


"Nak Sarah kenapa?" tanya mbok Darmi bingung dengan perilaku Sarah.


"Mbok, tadi.... ada perempuan yang datang kesini...mengantar jamu.." Sarah bercerita dengan terbata-bata. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.


"Tadi....dia juga menggendong anakku, mbok. Aku menitipkannya sementara aku mandi!"


"Dia membawa jamu di gendongan?!"


Sarah mengangguk perlahan.


"Rinestu!"


"Ri...nestu?"


"Nama perempuan itu Rinestu. Dia meninggal tujuh bulan lalu bersama bayi yang dikandungnya. Korban tabrak lari dan sampai sekarang pelakunya belum ditemukan. Simbok lupa bilang, kalau menjelang maghrib sebaiknya pintu ditutup saja. Karena di waktu itu juga Rinestu ditabrak. Beberapa bulan ini banyak warga yang bilang kalau mereka masih sering melihat hantu Rinestu keliling dengan jamu gendongnya. Namun baru kali ini dia mampir ke rumah. Untung bayimu tidak dibawa."


Bulu Sarah merinding mendengar cerita mbok Darmi. Ia begidik ngeri, membayangkan apa yang baru saja dialaminnya.


"Tapi mbok, tadi dia juga memberikan sebotol jamu itu kepadaku"


Sarah menoleh ke samping menunjuk ke arah meja. Betapa terkejutnya ia karena ternyata yang tergeletak disitu adalah sebuah batu nisan kecil!


"Mbok! Itu?!"


Mbok Darmi menghampiri batu nisan itu. Diatasnya terukir sebuah nama.


"Kita ke rumah kyai sekarang! Aku takut bayimu kenapa - napa!"


"Tapi tadi dia malah langsung diam waktu digendong Rinestu, mbok."


"Justru itu, diamnya ini bukan berarti dia sudah tidak rewel. Tapi karena hal lain! Ayo, sebelum semuanya terlambat!"

__ADS_1


Sarah segera meraih bayinya. Ditatapnya makhluk mungil yang ada digendongannya. Ia seperti sedang terlelap, namun alisnya bertaut.


__ADS_2