Cermin Misteri

Cermin Misteri
Angkot Pengantin


__ADS_3

Arkana pergi ke kampung mencari ayahnya yang sudah tiga tahun tak ada kabar. Setelah pamit mau pulang kampung tiga tahun lalu, ayahnya tidak kembali. Pantas saja waktu itu ia dan ibunya tidak boleh ikut. Alasannya jauh dan menghabiskan banyak biaya jika mereka bertiga pulang kampung. Arkana curiga, jangan-jangan ayahnya sudah menikah lagi di kampung, makanya melupakan ia dan ibunya. Dengan membawa kecurigaan bercampur kemarahan, Arkana berangkat ke kampung.


Pukul 4 sore, Arkana sudah sampai di terminal terakhir. Tinggal naik satu angkot lagi, maka Arkana sudah sampai ke kampungnya. 6 jam perjalanan darat membuat Arkana lapar dan kelelahan. Ia mengisi perut dan beristirahat sejenak di warung pojok dekat terminal.


"Nasi Rames sama Kopi satu ya, Bu!"


"Iya, Mas"


Arkana menikmati makanan sambil berbincang dengan pemilik warung.


"Bu, kalau ke Wonoageng berapa jam lagi ya kira2?"


"Masih jauh, Mas. Paling Mas nya maghrib nyampek sana"


"Sekitar dua jam berarti ya Bu, perjalanannya?"


"Iya kurang lebih segitu. Lha tapi angkot terakhir ke Wonoageng barusan berangkat lho, Mas"


"O.. ya? habis ini sudah gak ada lagi, Bu?"


"Setahu saya itu yang terakhir, Mas. Lha wong gak banyak kok angkot yang ke Wonoageng"


"Kalau penginapan dekat sini dimana ya, Bu?"

__ADS_1


"Waduh.. gak ada Mas. Kampung kecil mana ada hotel. Mas nginep di musholla terminal aja. Sepi sih memang, tapi aman kok!"


Arkana tersenyum menanggapi saran pemilik warung. Mulutnya terus memproses makanan yang terus ia jejalkan.


Satu jam Arkana menghabiskan waktu di warung sambil menikmati kopinya. Otaknya terus berfikir, kemana ia selanjutnya setelah ini. Karena Arkana tidak mau kalau harus menginap di musholla terminal. Pasti mengerikan, tidur sendirian di tempat asing nan sepi. Membayangkannya saja sudah membuat Arkana begidik. Dari jauh tampak sebuah angkot warna kuning terparkir di terminal


"Bu, kalau itu angkot kemana?" tanya Arkana sambil menunjuk ke arah terminal.


"Yang mana to, Mas?"


"Itu yang warna kuning"


"Kalo angkot yang di terminal ini tu semuanya ke Wonoageng. Tapi masa masih ada angkot jam segini?"


Di dalam angkot sudah penuh dengan penumpang. Untungnya masih ada sisa satu tempat di depan sebelah sopir. Biasanya kalau angkot di kampung begini, paling depan memang diisi tiga orang. Arkana lega karena akhirnya ia segera sampai di kampungnya tanpa harus menginap di terminal. Tanpa menunggu lama angkot langsung berangkat setelah Arkana naik. Di depan langit senja sudah mulai menguning, perlahan hari mulai gelap. Dingin menyelemuti udara pegunungan yang dilewati angkot. Arkana merapatkan jaketnya dan memeluk tas nya erat-erat untuk mengusir dingin. Ia tidak mengira bahwa udara kampung akan sedingin ini, lebih dingin daripada di gunung yang biasa ia daki. Arkana mencium semerbak wangi bunga melati, ia tersenyum sembari membatin bahwa hawa perkampungan memang berbeda. Namun bau itu justru membuat bulu kuduk Arkana merinding. Tak lama kemudian bau harum tersebut berganti dengan bau amis, semakin lama semakin anyir, semakin pekat! bau darah! Arkana menutup hidungnya, manahan nafas karena bau itu terlalu menyengat. Ia mengamati penumpang lain di sebelahnya, tampaknya biasa saja, seperti tak merasakan apapun. Mungkin karena sudah terlelap. Arkana menoleh ke belakang, sama para penumpang lain juga terlelap. Wajah mereka pucat pasi, seperti tak ada darah.


Kenapa mereka semua tidur? Apakah mereka semua baru saja menempuh perjalanan jauh, sehingga sangat kelelahan?


Arkana menciumi tubuhnya, tasnya, mencari sumber bau anyir yang tak juga hilang. Ia terkejut ketika melihat sopir yang membawa angkot tersebut ternyata juga tertidur. Hawa dingin semakin menyelimuti suasana di dalam angkot. Tak sengaja tangan Arkana menyentuh lengan penumpang sebelahnya. Sangat dingin! Tiba-tiba setetes darah terjatuh dari hidung penumpang itu. Arkana kaget, hendak menjerit! Namun ia menahan dengan membekap mulutnya sendiri. Kemudian sesuatu yang sangat dingin menggelayar di tengkuk Arkana. Ia tak berani menoleh, matanya ditutup rapat, tangannya meraba handle pintu. Ditariknya handle pintu itu, namun tak juga terbuka. Semakin ia berusaha menarik pintu, semakin kuat pula cengkeraman di lehernya. Arkana tak bisa bernafas, teriakannya tercekat oleh sesuatu yang semakin membelit lehernya.


***


"Argh..." Arkana terbangun dan merasakan sekujur tubuhnya nyeri. Ia terbangun diatas sebuah ranjang yang terbuat dari bambu.

__ADS_1


"Syukurlah kamu sudah sadar, Le" seorang nenek dengan baju kebaya ungu muncul dari balik pintu membawa air putih untuk Arkana.


"Nenek siapa? ini dimana, Nek?" Arkana belum sepenuhnya sadar. Ia melihat sekelilingya, dinding rumah ini terbuat dari bambu. Kenapa masih ada rumah model begini di zaman milenial? pikirnya.


"Kemarin warga menemukan kamu di tepi jurang. Kamu pingsan disitu, untungnya tidak sampai jatuh. Kamu darimana?"


"Saya mau ke Wonoageng, Nek. Saya naik angkot dari terminal. Terus tiba-tiba....."


"Kamu pasti naik angkot pengantin"


"Angkot pengantin?"


"Kemarin ada angkot iringan pengantin yang jatuh di jurang itu, tempatmu ditemukan warga. Seluruh penumpangnya tak ada yang selamat dan sampai sekarang, jasad mereka juga masih ada di jurang itu" kata Nenek sembari menyalakan lampu minyak.


Arkana begidik mendengar cerita Nenek. Terbayang kejadian saat ia di dalam angkot, yang ternyata semua bukan manusia!


"Nek, kok masih pakai lampu minyak?"


"Sudah gelap, waktunya menyalakan lampu to!"


"Maksud saya, apa tidak ada listrik?"


"Listrik masuk ke kampung ini itu tahun 1985. Dan pada tahun itu, saya sudah mati!" jawab Nenek sambil tersenyum memandang ke arah Arkana.

__ADS_1


Arkana terkesiap, wajahnya pucat seketika tatkala Nenek itu semakin mendekat kearahnya. Lambat laun ia mulai sadar bahwa ini bukan dunianya!


__ADS_2