Cermin Misteri

Cermin Misteri
Jangan Tengkar Waktu Ashar


__ADS_3

Calista tiba-tiba terbangun dari tidurnya yang cukup lelap. Ia melirik ke arah jam dinding, kedua jarum jam menunjuk pada angka 6. 'Gawat! Terlambat!'. Ia bergegas menuju kamar mandi sambil mengomel.


"Mama kok nggak bangunin aku sih?!"


"Emang kamu minta dibangunin? Kamu aja udah tiga hari nggak ngomong sama Mama. Kenapa sih, Cal? Kalau ada masalah tuh ngomong!"


Calista tak menghiraukan omongan mama. Selain karena masih marah, ia ingat bahwa ada tugas kimia yang belum ia kerjakan dan harus dikumpulkan hari ini. Sejak awal ia memang berencana berangkat lebih pagi agar bisa menyontek dari teman sebangkunya.


Calista menyabet tas dan mengayuh sepedanya kencang-kencang.


"Cal!!"


Teriakan mama yang menyusulnya keluar tak dihiraukan. Semakin lama suara itu terdengar semakin sayup-sayup seiring dengan laju sepedanya yang semakin jauh.


Sekolah masih sepi saat Calista sampai. Hanya terlihat dua tiga orang siswa yang berada di ruang kelas. Itupun bukan teman satu kelas Calista. Ia bergegas menuju kelasnya namun ternyata ruangan itu juga masih sepi.


'Ah, syukurlah...belum terlambat' pikir Calista lega. Ia mengeluarkan buku catatan dan bersiap menyalin pe er. Sembari menunggu temannya, Calista mencoba untuk mengerjakan beberapa soal. Beberapa menit berlalu, hingga ia hampir menyelesaikan semua soal pe er nya. Namun tak ada satu orang pun yang datang. Calista melihat di sekeliling, sepi!


"Tumben anak-anak belum datang?!" gumam Calista heran. Ia bangkit dari tempat duduknya, perlahan ia melangkah keluar kelas. Gelap! Calista terhenyak!


'Kenapa gelap?!' pikirnya. Sesaat kemudian ia baru sadar bahwa ini sudah malam. Calista teringat, bahwa setelah pulang sekolah tadi dirinya langsung tertidur. Tanpa mengucap salam, tanpa menyapa mama, Calista langsung menuju kamar dan mengunci diri. Ia tidak peduli teriakan mama yang menyuruhnya makan.


Jantung Calista berdegup sangat kencang, ketika ia menyadari bahwa ruang kelasnya juga sudah gelap. Ia berlari keluar kelas, menyusuri lorong-lorong sekolah yang gelap. Tak ada seorangpun disana. Sekolah sudah sepi! Calista terus berlari sambil menangis. Gubrak!!!


"Aw!" Ia menabrak sesosok tinggi besar dan terpental.


"Pak Umar?" tanya Calista dengan nada terisak.


"Eh....kamu manusia? Kamu kenapa jam segini masih ada di sekolah?" tanya pak Umar sembari mengarahkan senter ke wajah Calista.


"Pak Umar tolong saya, Pak! Saya mau pulang!"


"Lagian sudah malam kenapa masih di sekolah? Kalau sudah waktunya pulang itu ya pulang! Jangan malah kelayapan"

__ADS_1


"Saya...saya nggak tahu, Pak! Tapi tolong antar saya pulang, Pak!" Calista tergagap meminta pertolongan. Suaranya terdengar parau menahan tangis. Wajahnya pucat pasi penuh keringat dingin.


"Ya sudah, ayo!" ajak Pak Umar.


Mereka berdua menyusuri lorong sekolah yang gelap dan sepi. Selangkah demi selangkah, melewati kelas-kelas tak berpenghuni. Calista mencengkeram kuat lengan baju pak Umar. Nafasnya masih tak beraturan, denyut jantungnya memburu. Sesekali ia melirik ke arah kelas-kelas kosong itu. Dari sudut matanya ia melihat ada makhluk-makhluk yang sedang berdiri mengawasinya. Calista memejamkan matanya, tak berani menoleh.


"Pak, ayo cepat!"


"Sabar dong, lagian....lah, malah mati"


Belum sempat pak Umar melanjutkan kalimatnya, lampu senter digenggamannya mati.


"Pakkk....jangan bercanda dong!"


"Siapa yang bercanda?! Ini lampu emang mati sendiri. Baterainya apa gimana sih ini?" gumam pak Umar sembari menghentak-hentakan senternya. Namun lampu itu tetap tidak menyala. Calista mulai panik dan menangis. Lorong di hadapannya kini benar-benar gelap.


"Ya udahlah ayo jalan pelan-pelan"


"Pak, tapi ini gelap! Nggak kelihatan"


Calista semakin mengeratkan genggaman tangannya. Dalam kegelapan ia masih merasakan banyak pasang mata yang terus memperhatikannya. Bulu kuduknya meremang, jantungnya terpacu kian hebat. Langkah kaki Calista semakin cepat mengikuti pak Umar yang juga setengah berlari.


"Pak Umar, tunggu jangan cepat-cepat!" pinta Calista yang mulai lelah mengimbangi langkah pak Umar.


Tetapi tiba-tiba 'duk!'


Kakinya tersandung sesuatu yang menyebabkan ia terjatuh. Genggaman tangannya lepas dari tangan pak Umar. Ia meringis kesakitan.


"Pak Umar!" panggil Calista. Namun tak ada jawaban. Sepi! Senyap!


"Pak Umar!!" Calista memanggil sekali lagi dengan suara yang lebih keras, namun tetap tak ada suara. Gadis itu mulai panik. Ia segera bangkit dengan kaki tertatih yang masih sakit. Calista berlari sambil menangis ketakutan.


'Duk!' "Aw..." Kaki Calista kembali tersandung sesuatu. Ia jatuh tersungkur, tak hanya kakinya, kepala Calista juga membentur benda keras. Ia terhuyung sembari memegang dahinya yang sedikit berdarah. Calista menangis kencang! Tempat disekitarnya gelap. Ia tak dapat melihat benda-benda disekitarnya.

__ADS_1


Calista meraba benda padat yang membentur kepalanya. Perlahan ia mulai merasakan dengan indera perabanya. Merasakan bentuknya, merasakan teksturnya. Lambat laun ia mulai menyadari bahwa itu adalah batu nisan! Calista memicingkan mata, berusaha memastikan dalam kegelapan. Ia menjerit ketakutan! Tak hanya satu, di sekeliling Calista terdapat banyak sekali batu nisan. Ia sedang berada di tengah kuburan!


Calista bangkit dan berusaha untuk berlari kembali. Dalam tangisnya, sayup-sayup ia mendengar ada banyak suara yang juga menangis mengiringi suaranya. Ia menutup telinganya sambil terus berlari ketakutan. Beberapa kali kakinya membentur batu nisan namun tak ia hiraukan.


Langkah Calista terhenti tatkala ia melihat bayangan putih di hadapannya. Bayangan itu semakin dekat, semakin dekat, semakin jelas! Sesosok buntalan tubuh manusia berwarna putih sedang mendekat ke arahnya. Meloncat loncat, semakin dekat, semakin dekat, semakin memperlihatkan wajah rusaknya yang sedikit terbuka. Wajah penuh darah yang sudah bercampur tanah!


Calista tak kuasa menahan tangisnya. Ia beringsut mundur ke belakang. Beg! Tiba-tiba ia merasakan punggungnya membentur sesuatu. Tangis Calista semakin menjadi-jadi. Ia tak berani menatap sesuatu yang ada di belakangnya. Hingga ia merasakan tangan seseorang yang menyentuh lengannya.


"Ayo!"


"Pak Umar?!" Calista menoleh ke arah suara yang mengajaknya dan mengenali sosok itu. Tanpa berfikir panjang ia mengikuti langkah pak Umar yang terus menggandengnya.


"Pak Umar, ini kita dimana?" tanya Calista panik.


"Ikut saja!" jawab pak Umar.


"Kenapa kita bisa disini, Pak? Ini jalan keluarnya lewat mana?"


Pak Umar tiba-tiba berhenti.


"Lho, bukannya kamu tadi mau pulang? Ini adalah tempat pulang yang sebenarnya, Nak!" Pak Umar menoleh ke arah Calista. Melihat gadis itu dengan tatapan dingin dan tajam. Wajahnya pucat pasi, senyumnya menyeringai dengan memperlihatkan gigi-giginya yang menghitam. Sosok yang menyerupai pak Umar itu tertawa sambil mencengkeram pergelangan tangan Calista.


Calista menjerit sekuat tenaga. Menjerit dalam tangis yang lagi-lagi diikuti suara aneh.


"Lepaskan! Lepas!" ia berusaha melepaskan cengkeraman tangan sosok itu. Namun sayang tak berhasil. Tangan itu terus mencengkeram Calista, menyeretnya semakin jauh masuk ke dalam kuburan.


Sementara itu di rumah kedua orang tua Calista mulai khawatir.


"Pa, ini sudah tengah malam. Anak kita belum pulang, ayo kita lapor polisi, Pa!" rengek mama sambil menahan tangis.


"Kita cari dulu ke sekolahnya. Katamu tadi dia pakai seragam kan?"


"Iya, tapi kalau nggak ada gimana?"

__ADS_1


"Besok kita lapor polisi kalau emang belum ketemu. Makanya Ma, jangan suka berantem sama anak sendiri!"


__ADS_2