Cermin Misteri

Cermin Misteri
Malam Yang Panjang


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun Enid masih terjaga. Matanya terbelalak menatap sosok perempuan yang tiba-tiba muncul dari bawah ranjangnya. Perempuan dengan gaun penuh darah itu menggelayar tubuh Enid dengan tangannya yang hitam dan lengket. Rambutnya terurai dan menutupi sebagian wajahnya yang rusak. Enid tak bisa bergerak, tubuhnya kaku bahkan mulutnya hanya menganga tak mampu besuara. Tangan perempuan itu menggerayangi paha, perut, dada, hingga leher Enid. Mulutnya menyeringai menampakkan giginya yang penuh taring dan darah. Wajahnya yang menyeramkan semakin terlihat jelas oleh Enid yang hanya terdiam. Nafasnya tersengal ketika perempuan itu mencekik lehernya. Semakin erat cengkeraman perempuan itu, semakin sulit Enid bernafas. Tes! Setetes darah dari mulut perempuan itu menetes masuk tepat di mulut Enid yang menganga.


"Uhuk...uhuk..."


Enid terbangun dari tidurnya setelah merasakan tenggorokannya yang gatal. Ia duduk di sisi ranjang sembari mengusap wajahnya.


"Astagah! Untung cuma mimpi" gumam Enid lalu bangkit dari tempat tidurnya untuk mengambil air minum. Sayangnya ia lupa mengisi botol air di meja kamarnya. Perlahan ia keluar dari kamar menuruni tangga menuju dapur. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 02.00. Pantas saja sepi, seluruh penghuni rumah ini sudah terlelap. Hanya terdengar derap langkah Enid yang menuruni tangga. Tiba-tiba ia merasakan ada sosok yang mengikutinya. Ia meraba-raba tengkuknya yang terasa dingin. Enid melambatkan langkahnya, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Perlahan ia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.


"Hah...syukurlah" Ia merasa lega karena tak ada apapun disana.


'Mungkin ini hanya perasaanku saja, karena mimpi buruk tadi' pikir Enid. Ia melanjutkan langkahnya menuju dapur.


"Pantas saja dingin, ternyata ibu lupa menutup jendela" Enid mengomel sendiri melihat jendela dapur yang masih terbuka. Jendela besar itu menghadap langsung ke pekarangan rumah Enid. Dari situ ia bisa melihat dengan jelas pohon mangga besar yang ditanam oleh pemilik rumah sebelumnya. Konon kabarnya, pohon itu dijadikan tempat gantung diri oleh sang pemilik rumah. Enid begidik mengingat cerita seram itu, ia buru-buru menutup jendela dan korden nya.


Jantung Enid serasa benar-benar berhenti ketika ia berbalik. Sosok perempuan yang ia lihat di mimpi kini muncul dihadapannya. Perempuan itu tengah duduk di meja makan, menatap ke arah Enid dengan matanya yang hanya putih. Bibirnya yang penuh dengan darah menyunggingkan senyum menyeringai. Ia menyodorkan gelas yang berisi cairan berwarna merah pekat kepada Enid. Secara tiba-tiba ia sudah berada di samping Enid dan menggenggam tangannya.


Dengan sekuat tenaga Enid mengibaskan tangannya. Ia berlari ketakutan menuju kamar orang tuanya. Perempuan itu masih mengikutinya dengan suara tawa yang mengerikan. Tanpa berfikir panjang Enid langsung menelusup dibalik selimut, menyelinap diantara Ayah dan Ibunya. Tangannya mendekap erat perut sang ibu.


"Bu.... Ada hantu, bu! Enid takut!" bisiknya sambil terus mendekap dan memejamkan mata. Namun tak ada jawaban, baik Ayah maupun Ibunya tetap terpaku pada posisinya.


"Bu..Ibu..Ayah... Enid takut! Enid tidur sini ya?" tanya Enid menggoyang-goyangkan tubuh ibunya. Tetap tak ada reaksi dari keduanya. Ia merasakan ada yang aneh pada tubuh yang ia peluk. Rasanya seperti sedang memeluk sebuah guling yang sangat padat. Enid mencium bau busuk yang muncul di sekitarnya. Perlahan ia membuka matanya dan menyadari bahwa dirinya sedang diapit oleh dua pocong! Matanya menghitam, giginya mencuat, seluruh wajahnya dipenuhi dengan belatung. Enid menjerit ketakutan! Ia menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Nid... Enid... bangun, Nak! Kamu kenapa? Enid!"


Enid merasakan ada yang mengguncang tubuhnya. Ia membuka mata dan melihat ibunya yang panik.


"Bu, ada pocong Bu!" kata Enid setelah ia terbangun membuka mata. Ia segera memeluk ibunya, memastikan bahwa ini bukan lagi mimpi. Ia meraba-raba setiap bagian tubuh ibunya. Lengkap.


"Kamu mimpi buruk, ya? Makanya jangan lupa berdoa dulu sebelum tidur. Nih minum dulu"


Ibu menyodorkan segelas air putih untuk Enid. Setelah minum ia sedikit merasa lega. Nafasnya sudah mulai teratur.


"Ibu tidur sini ya, temani Enid"


Enid kembali merebahkan tubuhnya dan memeluk ibunya. Saat ia hendak memejamkan mata, Enid teringat sesuatu. Teringat bahwa tadi pagi, kedua orang tuanya pergi ke luar kota. Mereka bilang kepada Enid bahwa akan menginap. Bulu kuduk Enid meremang, jantungnya kembali berdegup tak beraturan. Perlahan ia melepaskan pelukannya.


"Bu..." Enid memanggil ragu-ragu. Keringat dingin mulai bercucuran.


"Iya?" jawab ibunya.


"Ibu...tidak jadi me..nginap?" tanya Enid terbata-bata.


"Ayahmu mengajak langsung pulang. Katanya kasihan kalau kamu di rumah sendirian"

__ADS_1


"Ayah sama Ibu...kapan pulang? Kok Enid tidak tahu?"


"Tadi waktu kami pulang, kamu sudah tidur. Kamu bahkan lupa mengunci pintu, lho! Makanya Ayah dan Ibu bisa langsung masuk. Untung kami pulang. Kalau nggak, itu pintu bisa nggak dikunci semaleman. Kamu tidur dari jam berapa sih? Kok kayaknya capek banget, sampe Ayah nggak tega bangunin"


"Oh... Enid lupa, Bu. Iya..capek banget habis pelajaran olah raga tadi di sekolah"


"Pantesan kamu ketiduran sampai lupa baca doa. Jadinya mimpi buruk deh! Ya udah tidur gih, besok masih sekolah kan?"


Enid merasa lega, karena ibu menjawab pertanyaannya. Ia yakin bahwa perempuan itu adalah ibunya. Enid kembali memeluk ibu dan mencoba memejamkan mata kembali. Apalagi seperti biasanya, ibu selalu memberikan tepukan menenangkan di pantat Enid. Seperti sedang menidurkan seorang bayi berukuran besar.


Saat Enid mulai terlelap, sayup-sayup ia mendengarkan ibu melantunkan lagu. Suaranya begitu lembut sehingga membuat Enid semakin terbuai. Namun suara itu semakin lama semakin terdengar menyayat. Lirik lagu yang dinyanyikan pun begitu menyedihkan.


Enid terbangun kembali karena merasakan hal yang aneh. Ia menajamkan telinganya, berusaha mendengar lantunan lagu sang ibu.


'Bukan! Ini bukan suara Ibu'


Enid yakin betul itu bukan suara ibunya. Semakin teryakinkan karena ia ingat bahwa ibunya tak bisa bernyanyi se-merdu itu. Alunan lagu yang dinyanyikan perempuan itu membuat bulu kuduk meremang. Enid beringsut ketakutan. Ia hendak melepaskan pelukannya. Semakin ia bergerak, semakin kuat dekapan perempuan yang menyerupai ibunya itu. Tepukan tangannya pun terasa begitu berat, begitu dingin. Enid tak mampu lagi berteriak. Ia hanya menangis ketakutan dalam dekapan perempuan itu.


"Ssttt....jangan menangis. Tidurlah Nak. Tidur yang tenang" bisik perempuan itu tepat di telinga Enid. Nafasnya yang dingin begitu mencekam menjalar ke tubuh Enid. Membuatnya ketakutan.


Malam itu terasa begitu panjang bagi Enid. Ia berusaha terus memejamkan matanya namun sia-sia. Dekapan perempuan itu membuatnya tak bisa bergerak. Ia hanya bisa menangis sepanjang malam. Berharap pagi segera datang.

__ADS_1


__ADS_2