Cermin Misteri

Cermin Misteri
Glundung Pecek


__ADS_3

21 Mei 1984


Tong... tong.. tong...


"Ono mayit.. ono mayittt.."


Tong... tong... tong..


"Sopo kui?" [mayat siapa itu?]


"Embuh, ra ono ndase!" [tidak tahu, tidak ada kepalanya!]


Seluruh warga berkerumun menyaksikan mayat tanpa kepala yang tergeletak di depan pos kamling. Hampir setiap hari di kampung ini tergeletak mayat-mayat tak dikenal, di pos kamling, di pasar, di depan rumah warga.


Beberapa ada yang utuh, ada yang wajahnya sudah rusak sehingga tak dapat dikenali. Ada yang dikuburkan secara layak, tak jarang pula yang dipendam begitu saja.


Tak ada yang tahu darimana mayat-mayat itu berasal. Kabar yang beredar, itu adalah mayat para bandit yang sengaja dihabisi oleh aparat, dengan alasan meresahkan masyarakat. Tanpa pengadilan, tanpa pengampunan, mereka yang 'terpilih' akan langsung dieksekusi.


***


22 Mei 1984, pukul 20.30


Sepasang suami istri sedang membicarakan penemuan mayat kemarin.


"Sum, kowe ngerti mayit sing ra ono ndase wingi?" [Sum, kamu tau mayat tanpa kepala kemarin?]


"Sopo kui?" [Siapa itu?]

__ADS_1


"Tibak e kui Kasiyan" [Ternyata itu Kasiyan]


"Kasiyan juragan selep kui?" [Kasiyan pemilik penggilingan padi itu?]


"Iyo.. sing crito Juki kimau. Jare nang lengen e ono gambar e macan. Sing gambar Yudi, saiki Yudi ilang mboh nyandi" [Iya.. yang cerita tadi Juki. Katanya di lengan ada tatoo gambar macan. Yang mentatoo Yudi, sekarang Yudi menghilang entah kemana]


"Lha ngopo yo, kok Kasiyan dipateni?" [Lha kenapa ya, kok Kasiyan dibunuh]


"Lha embuh. Mergo nggo tatoo paling. Makane Yudi saiki minggat" [Ya tidak tahu, karena pakai tatoo mungkin. Makanya sekarang Yudi menghilang]


"Minggat po diculik o Mas?" [Menghilang apa diculik ya Mas?]


"Lha kui embuh" [Ya itu, tidak tahu]


***


"Sum, arep nyang endi wengi-wengi? Iki urung manjing subuh lho" [Sum, mau kemana malam-malam? Ini belum subuh lho]


"Arep nyang pasar, adol jago!" [Mau ke pasar, jual ayam jantan!]


"Mbok yo ngenteni padhang to, Sum. Dikiro maling ngko peteng-peteng nyang pasar" [Mbok ya nunggu terang dulu to, Sum. Dikira pencuri nanti gelap-gelap ke pasar]


"Lek jek peteng ngene ki rung ono saingan e. Regone isih larang" [Kalau masih gelap begini belum ada saingannya yang jual. Harganya bisa mahal]


"Kowe po ra wedi di den i demit e Kasiyan? Ndas e rung temu lho, Sum!" [Kamu apa tidak takut dihantui arwahnya Kasiyan? Kepalanya belum ditemukan lho, Sum!]


"Alah,.. luweh medeni leh cah-cah njok mangan ning raono beras. Sek tak budhal adol pitik, nggo tuku beras!" [Alah, lebih mengerikan kalau anak-anak minta makan tapi tidak ada beras. Sebentar aku berangkat dulu jual ayam, buat beli beras!]

__ADS_1


"Sum, peteng-peteng kowe ngko dikiro maling, dibedil aparat lho!" [Sum, gelap-gelap kamu nanti dikira pencuri, ditembak aparat lho!]


"Yo kuburen!" [Ya nanti kamu kubur saja aku]


Sumi tak menghiraukan peringatan suaminya, ia terus saja berjalan keluar rumah.


"Sum... Sumi... woo..dubleg!" [Sum..Sumi..woo dasar tuli!]


***


Jalanan masih sangat sepi dan gelap. Tak ada lampu penerangan jalan di kampung itu. Hanya ada satu dua sepeda yang lewat.


'Petok... petok... petok..' Sumi melihat seekor ayam betina berkeliaran, diikuti oleh tiga ekor anak ayam.


'Ayam siapa sepagi ini berkeliaran? Lumayan lah kalau dijual, lagipula tak ada orang juga disini' batin Sumi. Tanpa pikir panjang Sumi sigap mengambil induk ayam itu dan membopongnya.


Jalan ke pasar masih sangat sepi, udara dingin menyelimuti suasana menjelang shubuh. Sumi merapatkan jaketnya, mempercepat langkahnya. Perasaannya tidak enak ketika melewati pos kamling tempat penemuan mayat kemarin, bulu kuduknya berdiri. Seolah ada yang mengikutinya, Sumi semakin mempercepat langkahnya, namun bawaannya semakin berat... semakin berat... semakin berat. Keringat Sumi bercucuran ditengah udara dini hari yang dingin, nafasnya terengah-engah.


Di depan Sumi tampak kabut pekat menyelimuti, dan sayup-sayup terdengar suara riuh suasana pasar. 'Mungkin karena diselimuti kabut menjelang shubuh, jadi pasar tidak tampak dari sini' pikir Sumi.


Ia bergegas menembus gumpalan kabut pekat, menuju tempat yang disangkanya adalah pasar. Semakin dekat Sumi melihat beberapa orang berjual beli. Suaranya riuh, persis seperti pasar. Dimana banyak orang menawarkan dagangannya. Yang berbeda adalah pakaian orang-orang itu. Para perempuannya memakai kemben dan gelungan cepol. Mereka tidak membawa tas belanjaan, namun menggendong 'rinjing' (sejenis bakul yang terbuat dari bambu dan digendong dengan kain menyamping). Para lelaki hanya mengenakan celana setinggi dibawah lutut, tanpa mengenakan atasan. Sumi tertegun, sulit percaya dengan apa yang dia lihat. Sementara itu ayam betina yang dibopongnya tiba-tiba terlepas dari gendongannya, menggelinding ke tanah, dan berubah menjadi kepala manusia! menggelinding memutari Sumi dan menyeringai menampakkan giginya yang penuh darah!


Sumi menjerit dan berbalik ketakutan! Ia hendak berlari keluar dari pasar aneh itu. Namun ketika hendak berbalik, ia justru dihadang seonggok bungkusan putih setinggi manusia, dengan kuncir diatas kepala, yang mengikuti Sumi sejak tadi. Seketika ia kaget, nafasnya terhenti! Sumi jatuh pingsan!


***


"Pak, ibuk nyandi to? Aku selak luwe ki" [Pak, ibuk kemana sih? Aku keburu lapar ini]

__ADS_1


"Mbuh mbokmu ki nglayap nyandi. Pamit e nyang pasar kaet peteng nganti bedhug kok ra bali-bali!" [Tidak tahu ibumu itu pergi kemana. Bilangnya mau ke pasar sejak subuh sampai siang kok tidak pulang-pulang]


__ADS_2