
#3. PELARIAN YANG PANJANG
Sambil berlinang air mata, chan shan terus berlarian sekuat tenaga, rasa takut dan amarah yang tidak bisa dia lampiaskan, seolah memberi energi yang cukup besar baginya.
Setelah beberapa jam berlari, matahari mulai menampakkan ufuknya diarah Timur, dan tanpa chan shan sadari ternyata chan shan sudah terlalu dalam masuk kedalam hutan. Merasa dirinya sudah dalam kondisi aman, dia menoleh ke belakang. Dari ketinggian dia masih bisa menyaksikan sisa sisa kepulan asap yang membakar desanya, terbayang nasib ayahnya yang di tangkap para perampok terbayang wajah ibu dan kedua saudaranya, tak kuasa dia menahan tangis, seakan lututnya bergetar dan tak mampu menopang tubuh kecilnya.
Dia pun menangis sejati jadinya sambil terduduk memeluk lututnya. Satu hal yang lekat pada ingatannya, tato kalajengking merah dilengan para pembunuh itu. Amarahnya pun memuncak, darahnya mendidih, tapi rasa lelah setelah berlari semalam membuatnya tertidur dan bermimpi.
Dia melihat ibu dan kedua saudaranya berlari lari kecil di sebuah taman yang indah. Chan shan menghampiri mereka, dia tersenyum melihat mereka bahagia, diapun berlari ingin memeluk ibunya...ibu yang sangat di sayanginya, akan tetapi cahaya terang tiba-tiba menyadarkannya,
Ternyata matahari sudah cukup tinggi dan menyikapi wajahnya yang masih terlihat lelah, tapi yang harus dia hadapi sekarang adalah rasa haus dan lapar yang mulai menyerangnya. Sendirian di hutan lebat tanpa air dan makanan untuk anak seusianya mungkin bukanlah hal yang mudah.
__ADS_1
Tetapi satu hal yang sangat di syukuri oleh chan shan adalah, ketika dia berusia lima tahun , dia dan kakaknya chan long selalu diajak oleh ayahnya untuk berburu kedalam hutan tanpa membawa bekal apapun. Dulu dia suka mengeluh ketika di ajak berburu dan hanya makan dedaunan dan buah buahan di hutan,
Tapi hari ini dia merasakan manfaat dari apa yang telah ayahnya lakukan itu.
Dengan tubuh yang lemah, chan shan menyusuri hutan untuk lebih dahulu mencari buah buahan untuk dimakan. Tak perlu mencari cukup lama dia sudah menjumpai pohon yang di carinya...dan kebetulan ada buahnya yang masak .
Yahh, mungkin satu buah nangka cukup untuk menghilangkan lapar gumamnya dalam hati.
"Aah untungnya buah ini belum di Petik oleh kara, gumamnya dalam hati sambil terus mengisi perutnya yang kosong. Setengah dari buah nangka yang jatuh tadi sudah tinggal kulitnya saja, chan shan merasa kalau perut kecilnya sudah penuh, diapun mencari tumbuhan yang mengandung banyak air untuk diminum.
Setelah lapar dan harusnya hilang , chan shan duduk bersandar pada akar pohon, jeritan adiknya yang masih kecil terus mengiang di telinganya, dalam hati dia bertekad,
__ADS_1
"Suatu saat aku harus menjadi orang kuat untuk membela orang orang yang lemah".dan diapun tertidur
Hari sudah beranjak senja, ketika chan shan terbangun diapun mencari pokok pohon yang di rasanya aman untuk melewati malam. Maklum didalam hutan itu masih terdapat banyak hewan buas,terutama serigala yang lolongannya terdengar sampai desa mereka.
Sambil menyusuri hutan yang mulai gelap, chan shan juga mengumpulkan ranting pohon untuk di jadikan perapian.
" untunglah dulu ayah pernah mengajarkan kami cara untuk membuat api, batinnya...sambil memandangi api yang mulai menyala di sela akar pohon yang akan di jadikannya tempat untuk tidur. Setelah ia rasa asap dari perapiannya untuk mengusir nyamuk chan shan memanjat pohon pohon tersebut dan mencari dahan cukup besar sejenak dia duduk dan meratapi langit memandang bulan dan bintang..
"Semoga malam ini tidak turun hujan"
Gumamnya dalam hati.
__ADS_1