Cinderella Story

Cinderella Story
Uang 1000 Yuan


__ADS_3

Xiao Zhan, pemuda berusia dua puluh dua tahun, sedang menikmati waktu santai dengan menonton film favorit sambil tiduran di sofa panjang rumahnya. Permukaan meja di depannya hampir tertutup oleh sampah bungkus makanan kecil yang menemaninya menonton. Sampah itu bahkan tercecer hingga ke lantai, tapi pemuda itu tidak peduli sama sekali.


“Ya, ampun, Zhan Zhan si Pemalas!” Suara sang ibu meninggi begitu melihat keadaan kacau putra bungsunya di ruang tengah. “Mau sampai kapan kau menonton? Apa kau tidak punya pekerjaan untuk dilakukan?”


“Aku lelah, Ibu,” jawab pemuda yang memiliki tahi lalat di bawah bibir dengan santai sambil memasukkan kripik ke dalam mulutnya. Kedua sudut bibirnya bahkan dipenuhi remah-remah makanan.


“Lelah apanya?” Nyonya Xiao berkacak pinggang. “Sejak bangun pagi kerjamu hanya tiduran saja. Sayur yang Ibu minta kau cuci apakah sudah selesai?”


“Sudah.”


Nyonya Xiao melangkah menuju dapur dan mencari sayurnya. “Di mana kau menaruhnya?”


“Masih ada di mesin cuci,” Xiao Zhan menjawab di sela tawanya karena adegan lucu dari film. “Ibu ambil saja.”


Mata sang ibu terbelalak. “Apa?! Mesin cuci?” Suaranya naik satu oktaf saking terkejutnya, kemudian melenggang ke tempat mesin cuci dan membuka penutupnya. Benar saja, sayur yang ia minta agar Zhan mencucinya ada di dalamnya. Ia menepuk kening dengan frustasi. “Astaga, Zhan Zhan … apa kau tahu fungsi mesin cuci untuk apa?”


“Tahu, untuk mencuci,” ucap Xiao Zhan sambil tertawa dengan lucunya. “Makanya kutaruh di sana.”


Jengkel dengan kelakukan putra bungsunya yang sangat malas, wanita yang baru saja memasuki usia empat puluh tahun itu melangkah lebar ke arah televisi dan mencabut stop kontaknya.


Seketika Xiao Zhan langsung merengek. “Ibu … aku, kan, sedang menonton ....”


Dengan geram, Nyonya Xiao menarik telinga putranya itu hingga Xiao Zhan mengaduh.


“Kalau tidak ada kerjaan, pergi keluar untuk jaga toko!”


“Jaga toko tidak menyenangkan, Ibu. Aduuuh ... sakit ... lepaskan telingaku.”


Alih-alih melepaskan, sebaliknya, sang ibu justru lebih kencang menariknya hingga suara erang kesakitan Zhan makin kuat.


“Jaga toko atau Ibu putuskan telingamu?!”


“Aaahh ... baiklah ... baiklah ... aku keluar jaga toko.”


“Tidak akan tidur lagi?”


Setiap kali disuruh jaga toko, pemuda pemalas itu selalu tidur. Ia bahkan tidak melayani pelanggan yang datang, malahan menyuruh mereka mengambil sendiri barang yang diperlukan, dan meminta mereka menaruh uang dalam jumlah pas ke atas meja. Ia tidak melayani uang kembalian karena terlalu malas untuk bangun. Untungnya seluruh warga di desa Chengdu telah memahami sifat malas putranya yang satu ini sehingga mereka mau bekerjasama.


Warga di Chengdu ini juga sangat baik. Meski Xiao Zhan sering tidur saat menjaga toko, tapi mereka tidak pernah dicurangi.


“Tidak ... aku tidak akan tidur.”


Setelah berjanji, Nyonya Xiao baru melepaskan tangan dari telinga putranya.

__ADS_1


Pemuda itu mengelus telinganya yang sakit dengan wajah cemberut, lalu berjalan keluar.


“Tunggu!” Ibu menahan langkah Xiao Zhan.


“Bereskan dulu sampah-sampah ini.” Ia menunjuk sampah bekas makanan pemuda itu.


Setiap kali disuruh melakukan satu pekerjaan, Xiao Zhan akan mendesah berat seakan itu adalah pekerjaan yang paling berat sepanjang hidupnya.


“Haaah ... haaah ... apa? Kau ini masih muda, tapi sudah mendesah seperti itu! Katanya mau jadi Cinderella? Menjadi Cinderella itu harus rajin.”


“Salah, Bu. Kalau terlalu rajin, tidak ada gunanya aku memiliki pembantu. Yang kulakukan sekarang adalah persiapan untuk menjadi orang kaya. Orang kaya itu menikmati hidup dengan berbaring, menonton, dan makan. Semua pekerjaan dilakukan oleh pembantu. Aku hanya tinggal menyuruh mereka. Makanya Ibu tak boleh menyuruhku bekerja.”


Setiap kalimat yang dituturkan Zhan membuat emosi sang ibu mendidih. “Berhenti bermimpi! Cepat kerja!”


“Iyaa, aku ke depan.” Sambil menggerutu, Zhan terpaksa pergi ke depan rumah untuk menjaga toko.


Ibunya memiliki sebuah toko kelontong yang diwariskan oleh ayah yang telah meninggal dalam kecelakaan. Mereka hidup pas-pasan. Tidak kaya, juga tidak miskin. Selain penghasilan toko yang menopang hidup keluarganya, ia memiliki seorang kakak laki-laki, Xiao Yu, yang bekerja di kantor bergengsi. Gaji Yu itulah yang menutupi setiap pengeluaran di rumahnya.


Kalau ditanya kenapa Xiao Zhan tidak bekerja setelah lulus kuliah seperti kakaknya? Jawabannya karena ia terlalu malas untuk bekerja. Ia bercita-cita menjadi seorang Cinderella zaman now, yaitu mencari orang kaya untuk dinikahi agar bisa hidup nyaman. Ia menyakini bahwa cerita Cinderella yang mengubah kehidupan gadis miskin menjadi kaya setelah bertemu pangeran adalah nyata. Ia juga pasti akan mengalaminya.


Sambil membuka-buka majalah World Tour yang menuliskan berbagai pengalaman menjelajahi negara asing, Xiao Zhan berbaring di dipan kayu panjang depan toko. Ya, hobinya adalah rebahan, di mana pun dan kapan pun.


Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilat berhenti di depan tokonya.


Seorang pria berpakaian formal jas hitam-hitam melompat keluar dari bagian depan mobil, jelas seorang asisten atau semacamnya. Pria itu membuka pintu belakang disusul kemunculan seorang pria lain yang lebih berwibawa.


“Tuan Wang, hanya ada toko ini,” kata pria di sampingnya.


Pria bernama lengkap Wang Yibo itu mengangguk sehingga pria di sampingnya, sang asisten bernama Si Cheng, melangkah menghampiri Xiao Zhan.


“Pemisi,” sapanya.


Pemuda manis itu menggeser sedikit majalahnya dan mengintip dengan sebelah mata ke arah tamunya. Begitu melihat Si Cheng, otak Xiao Zhan langsung bekerja menelisik melalui penampilan. Pria itu berambut pendek gelap, dipotong teramat pendek, nyaris menyerupai penampilan seorang tentara. Xiao Zhan tersenyum mengejek, pria kantoran biasa, gumamnya dalam hati. Bukan orang kaya. Namun, ketika dilihatnya Wang Yibo yang berdiri di belakang Si Cheng, ia menurunkan majalah sepenuhnya dan menilai keseluruhan penampilan pria borjuis tersebut.


Xiao Zhan memperhatikan wajah pria itu. Jujur saja ia belum pernah melihat wajah setampan itu sepanjang hidupnya. Kulit putih susu yang bersih, terkesan sangat bening. Tulang pipi tinggi dan bibir tebal yang sensual. Wajah seperti itu mungkin akan tampak cantik seandainya tidak ada sepasang mata gelap yang tajam, alis hitam tegas serta garis rahang yang lebih tegas lagi.


ql


Dengan penampilan yang bersih dan terawat, tidak perlu waktu lama bagi Zhan untuk menyimpulkan bahwa Wang Yibo adalah pria kaya raya. Seorang konglomerat. Seketika ia memasukkan pria itu ke dalam daftar orang kaya incarannya demi menuju kehidupan Cinderella.


Zhan bangun, dan duduk dengan anggun. Ia telah melatih gaya ini setiap pagi. Sambil tersenyum ramah, ia berkata kepada Si Cheng, “Ada apa?”


“Boleh kami meminjam kamar kecil di toko Anda?”

__ADS_1


Ternyata mau pinjam toilet. “Oh, boleh. Silakan.” Ia bangkit dan mengantar dua tamunya menuju kamar kecil di dalam toko.


Tak sampai lima menit, kedua tamunya telah keluar.


“Terima kasih banyak atas bantuan Anda,” ucap Si Cheng. “Karena sepanjang perjalanan ini tidak ada pom bensin, kami kesulitan menemukan kamar kecil.”


“Aku mengerti,” jawab Xiao Zhan, masih menjaga keramahannya. “Ini memang desa kecil, rumah warga pun jarang-jarang. Kalau boleh tahu Anda mau ke mana, Tuan?”


“Sungguh memalukan karena aku mengambil jalan yang salah hingga sampai ke sini.”


“Oh, begitu.”


Di belakangnya, Yibo berdeham, memutus percakapan si asisten dengan Xiao Zhan.


“Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu. Terima kasih.” Si Cheng membungkuk dengan sopan, lalu memutar tubuh. Ketika hendak melangkah Zhan menarik ujung jasnya.


“Tunggu dulu!” kata Xiao Zhan. “Bayarannya mana?” Telapak tangannya menengadah.


Si Cheng terlihat bingung sehingga pemuda manis itu meringis. “Aish, masuk toilet umum harus bayar, bukan?”


“Tapi ini bukan toilet umum.”


“Sama saja. Kalian telah memakai listrik dan air milikku. Jadi harus bayar.” Baik Si Cheng ataupun Yibo terpelongok menatapnya. Zhan melanjutkan lagi. “Tuan-tuan yang terhormat, tidak ada yang gratis di dunia ini, kecuali udara. Jadi kalian pinjam kamar kecil juga harus bayar.” Ia menggerakkan jarinya meminta uang dari Si Cheng.


Si Cheng menoleh sesaat ke arah Yibo, dan pria itu menganggukkan kepala sehingga Si Cheng mengeluarkan dompet dan memberikan ke dalam tangan Zhan uang sejumlah 10 yuan—sekitar 20.000 rupiah.


Namun, Zhan menolaknya. “Huh, cuma 10 yuan? Untuk beli mie ayam bakso tidak cukup! 100 yuan!”


Si Cheng membelalak terkejut. “Apa? 100 yuan? Kau ini preman kecil!” Seketika ia melupakan segala kesopanan yang tadi diperlihatkannya. “Mana ada bayar kamar kecil sampai 100 yuan?!”


“Ada, kok!” balas Zhan cepat. “Kamar kecil di tokoku. Harganya 100 yuan. Mau bayar atau tidak?!” serunya galak.


Si Cheng mendengus. “Huh, kau ini kecil-kecil sudah jadi penipu! Pokoknya aku sudah membayarmu 10 yuan. Itu seharusnya cukup.”


Xiao Zhan jadi geram. “Baiklah, kalian tidak mau bayar, ya?” Ia menggulung lengan kaosnya hingga ke ketiak. Si Cheng mengambil sikap waspada, dikiranya Zhan ingin bertarung, tak tahunya pemuda itu berdiri di tengah jalan dan berteriak. “Para Warga Chengdu, di sini ada orang yang— mmmph---”


Secara tiba-tiba mulut Xiao Zhan dibekap oleh Si Cheng karena panik. “Tuan Wang, bagaimana ini?” tanyanya kepada Yibo.


Yibo memandang Xiao Zhan yang menatapnya dengan menantang. “Kau ikut denganku,” katanya.


Xiao Zhan menyingkirkan tangan Si Cheng dari mulutnya. “Akhirnya mau bicara baik-baik denganku, ya?” Zhan berujar sombong, dikiranya Yibo akan bernegosiasi dengannya sehingga ia dengan senang hati mengikuti pria kaya tersebut.


Sebelum pergi ia berteriak dari depan toko. “Ibu, aku pergi sebentar. Tokonya tidak ada yang jaga!” Kemudian, masuk ke dalam mobil Yibo yang mewah.

__ADS_1


Begitu mobil itu pergi, Nyonya Xiao keluar mencari keberadaan anaknya dengan bingung. “Ke mana anak malas itu pergi? Bukannya dia biasa tidur?” Ia memandang ke sekeliling dan tidak melihat mobil sedang hitam yang melaju lurus di depannya.


Bersambung


__ADS_2