
Restoran yang berada di dek lantai dua ini menyajikan pemandangan laut yang terlihat melalui kaca yang mengelilinginya. Yibo menuntun Zhan ke salah satu meja paling ujung demi mendapatkan privasi terbaik.
Zhan melemparkan pandangan was-was pada Yibo ketika duduk di kursi, berhadapan dengan Yibo, dan tiba-tiba kepala pelayan muncul di samping mereka seperti jin keluar dari botol. Sama seperti si penjaga pintu restoran, kepala pelayan ini juga tersenyum lebar dan penuh hormat pada Yibo. Zhan jadi bertanya-tanya siapa sebenarnya pria di hadapannya ini sehingga si kepala pelayan sendiri yang turun tangan menyambutnya.
Xiao Zhan memperhatikan sekitar selagi Yibo berbicara pada kepala pelayan. Ada dua orang selebriti yang duduk tidak jauh dari mereka. Satu laki-laki dan satu wanita, yang masing-masing bersama teman grup mereka. Yah, tidak aneh kalau mereka hadir dalam pesta mewah seperti ini. Zhan sudah tahu kalau perusahaan kakaknya cukup elit, tapi tidak menyangka akan se-elit ini.
Pesta di kapal pesiar adalah acara bergengsi jadi tidak heran kalau sejak masuk ke dalam kapal Zhan telah melihat berlian dan Dior bertemu dengan Gucci dan Armani, pameran kekayaan yang terang-terangan. Diam-diam mata Zhan melirik pada pergelangan tangan Yibo yang dilingkari arloji Rolex, lalu bergeser ke arah bros bulan bintang yang ada di dada kiri pria itu sambil bertanya-tanya berapa harga itu semua.
Dasar orang kaya, gumam Zhan, tapi itu sangat bagus. Ia tertawa senang dalam hati.
“Siapa namamu?”Yibo menyentak Zhan keluar dari lamunan setelah si kepala pelayan pergi meninggalkan mereka.
“Xiao Zhan. Dan kau?”
“Wang Yibo.”
Wang … Zhan mengernyit sesaat. Sepertinya bukan ‘Wang’ yang itu. “Baiklah, Tuan Wang. Jangan lupa untuk memberiku seribu yuan yang kau janjikan itu.”
“Jangan terburu-buru.”
“Kau tidak menipuku, ‘kan?”
“Tidak. Aku akan memberikannya setelah selesai makan. Bukankah kau bilang sudah lapar?”
“U-uh.” Zhan menunduk dan tanpa sadar mengerucutkan bibirnya.
Bibir Yibo mengulas senyum tipis. “Dengan siapa kau ke sini?”
Zhan mengangkat kepala. “Mengapa kau ingin tahu?”
“Kau tidak mungkin masuk ke sini tanpa undangan.” Yibo tidak ingin menjawab pertanyaan Zhan. “Siapa yang membawamu? Teman? Keluarga? Atau kekasih?”
__ADS_1
Zhan memutar mata. “Kau terlalu banyak tanya. Aku malas menjawabnya.”
“Oh, tapi kau sangat bersemangat sewaktu bercerita tentang Mesir tadi. Kau pasti membacanya dari majalah World Tour, bukan? Apa kau tidak ingin ke sana sekali saja seumur hidupmu?” Kalimat itu seperti sebuah tawaran namun senyum di wajah Yibo terkesan sedang menyindir karena bualan yang Zhan katakan di grup sebelumnya. “Kau harus pergi ke sana agar ceritamu terlihat sungguhan,” tambahnya.
Dengan kesal Zhan menjawab, “Apa kau ingin membiayai semua perjalananku ke sana?” Ia tidak suka dipermainkan. Jadi, ia akan menerima itu dengan serius.
“Tidak masalah. Kita bisa pergi bersama kalau kau mau,” jawaban Yibo di luar dugaan Zhan.
“Sungguh?” Matanya melebar tidak percaya.
“Kau tidak bohong?”
Yibo mengangguk bersama dengan kemunculan si kepala pelayan beserta seorang pelayan yang membawa baki minuman kemudian menyajikan di meja mereka.
“Koktail pesanan Anda, Tuan Wang,” kata si kepala pelayan sembari menuangkan minuman itu ke dalam gelas mereka, dan itu membuat Zhan semakin penasaran dengan identitas Yibo.
“Terima kasih, George,” ucap Yibo dengan anggukan kecil.
Mereka terlihat sangat akrab. Zhan menerima minumannya dengan senyum berterima kasih, dan menyesapnya sedikit. Ternyata rasanya sangat enak dan benar-benar beralkohol! Ia baru pertama kali merasakan minuman seperti ini. Seandainya saja ia bisa membawa pulang beberapa botol ….
Sambil memperhatikan Yibo yang berbicara tentang beberapa menu kepada si kepala pelayan, Zhan menyesap lagi koktailnya yang berwarna biru terang.
Setelah si kepala pelayan pergi bersama stafnya, Yibo mengangkat pandangan ke arah sepasang mata sejernih kristal milik Zhan yang sedang menunggunya.
“Ada apa?” tanyanya bingung.
Menggoyang pelan gelasnya, Xiao Zhan bertanya, “Siapa kau sebenarnya, Tuan Wang?”
“Bukan siapa-siapa,” jawab pria itu santai. “Aku hanya tamu di pesta ini, sama sepertimu.”
“Tapi kepala pelayan itu ....”
__ADS_1
“Dia kenalanku. Itu saja. Tidak ada yang spesial.”
Xiao Zhan memandang curiga. Baiklah, kalau aku rajin, aku akan mencari tahu tentangmu nanti. “Jadi bagaimana dengan tawaranmu sebelumnya?”
“Ke Mesir?” Yibo mengambil gelas koktail di depannya dan menyesap sedikit.
“Tentu saja. Kau tak boleh berbohong, Tuan Wang, atau aku akan menjadi arwah penasaran.”
Yibo tersenyum geli mendengarnya. “Aku ingin tahu sebenarnya apa tujuanmu ke sini? Apa kau sedang mengincar orang-orang kaya?”
“Sebelum kujawab, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?”
“Kesepakatan?” Yibo menarik sebelah alisnya.
“Satu pertanyaan, seribu yuan.” Xiao Zhan menyeringai lebar sembari membayangkan puluhan ribu yuan yang bisa dibawanya pulang hari ini.
“Kelihatannya kau begitu menyukai uang.”
“Apa salahnya? Aku rasa semua orang di dunia ini menyukai yang namanya uang. Hanya orang gila yang tidak mau uang.”
Yibo menyesap lagi minumannya sebelum ditaruh ke atas meja. “Apa toko di Chengdu itu milikmu?”
“Ayolah, Tuan Wang, jangan mengalihkan topik.”
“Jawab saja.”
“Kau saja belum menjawab pertanyaanku barusan,” balas Zhan cepat.
Yibo menghela napas. Menangani Zhan memang tidak mudah. “Baiklah. Setelah mendengarkan jawabanmu, aku akan memberimu uangnya.”
Senyum Zhan melebar. “Satu pertanyaan, 1000 yuan, ya? Jangan ingkar.”
__ADS_1
"Baiklah, puas?"
Bersambung.