
Satu jam setelah Yibo menyelesaikan acara makan bersama Zhan, Si Cheng mendatangi Yibo yang tengah duduk di salah satu sofa empuk tak jauh dari acara pesta itu. Lelaki itu memberikan Ipad supaya Yibo bisa melihat hasil penemuannya.
“Dia datang bersama kakaknya,” beritahu si asisten.
Yibo mengangguk pelan sementara matanya menatap layar Ipad.
“Aku tahu.”
Kemudian, Si Cheng menggeser layar Ipad yang seketika memunculkan sebuah wajah asing bagi Yibo. Dia mirip Xiao Zhan tapi lebih dewasa.
“Namanya Xiao Yu. Dua puluh delapan tahun. Bekerja di Queen Law Firm sebagai asisten Gao Kwansun—direktur perusahaan—sekaligus penerjemah. Sudah bekerja di sana selama empat tahun. Sejauh ini dia tidak memiliki catatan khusus karena kinerjanya yang baik.”
“Kalau Kwansun belum berganti asisten selama dua tahun lebih, berarti dia sesuai dengan kriteria pria tua itu,” ujar Yibo sembari mengamati wajah Xiao Yu. “Apa dia menikah?”
Si Cheng menggeleng. “Informasinya mengatakan dia masih lajang.”
“Hmm.” Lalu jari Yibo menggeser layar. Seorang wanita muncul di sana. “Ini pasti ibunya, bukan?” Tidak sulit menerkanya kalau dilihat dari kemiripannya.
“Benar. Namanya Mu Lienmei, usia empat puluh tujuh tahun, ibu rumah tangga. Ia melanjutkan toko yang ditinggalkan oleh suaminya yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas delapan tahun silam.”
“Jadi bisa dikatakan pemasukan rumah tangga mereka hanya berdasarkan penjualan toko serta gaji Xiao Yu karena putra bungsunya tidak mau bekerja.” Yibo mengatakan itu sembari mengingat kondisi toko Xiao Zhan di Chengdu serta pemuda pemalas yang berjaga sambil tiduran di dipan.
“Tapi mereka tidak hidup kekurangan,” timpal Si Cheng.
“Aku tahu. Gaji yang diberikan Queen Law termasuk besar. Jika pandai mengelolanya, mereka tidak akan jatuh miskin.” Pandangan Yibo kembali fokus pada laporan di tangannya. “Jadi mereka hanya tinggal bertiga?”
“Tampaknya begitu. Ibunya memiliki seorang kakak laki-laki yang tinggal di Beijing.”
“Apa kau mencari informasi mengenai orang itu juga?”
Si Cheng menggeleng. “Tidak, Tuan Muda. Karena kupikir tidak ada kaitannya aku tidak mencarinya lebih detail. Tapi jika Anda mau, aku bisa segera mencarikan informasinya.”
“Tidak perlu buru-buru,” jawab Yibo cepat. “Lakukan nanti saja. Lagipula orang itu berada di Beijing, cukup jauh dari Chengdu. Lalu informasi mengenai Xiao Zhan?”
Si asisten terkejut. “Ternyata Anda sudah tahu namanya.”
Bibir Yibo menyunggingkan senyum miring, sementara matanya memandangi foto-foto Zhan yang ada di Ipad, hasil pencarian informasi asistennya.
“Xiao Zhan, si putra bungsu,” Si Cheng memulai laporannya. “Usianya dua puluh dua tahun. Baru lulus tahun ini dari Universitas Sichuan Jurusan Pangan.”
Kening Yibo sedikit mengerut mendengarnya. “Pangan? Bukan Pariwisata?” Karena jurusan itulah yang kelihatannya cocok dengan Zhan, mengingat pemuda itu sangat pandai bercerita tentang penjelajahannya keliling dunia.
Si Cheng menggeser layar. “Di sini ada keterangannya.”
Yibo membaca dan tertegun sesaat. “Baiklah,” desahnya. Sekarang ia menjadi penasaran mengapa Zhan mengambil jurusan Pangan untuk kuliahnya. “Lalu hasil akademiknya?”
Si Cheng menunjukkan lembar fotocopy ijazah milik Zhan. “Bisa lulus tepat waktu saja sudah bagus.”
Yibo tertawa geli dalam hati mengetahui semua fakta tersebut. Ia dapat membayangkan betapa ibu serta kakaknya pasti sangat pusing menghadapi Zhan, pemuda malas itu. Seperti kata Si Cheng, kalau Zhan bisa lulus kuliah tepat waktu saja, mereka pastilah sangat bersyukur sehingga tidak mengharapkan kalau pemuda itu bisa bekerja. Yibo tak habis pikir, masih ada tipe orang seperti itu di dunia ini.
Kemudian, Yibo menyerahkan Ipad-nya kepada Si Cheng sambil berkata, “Terima kasih kerja kerasmu malam ini.”
“Bukan masalah besar, Tuan Muda. Tapi kalau boleh tahu, apa yang ingin Anda lakukan terhadapnya?”
Tiba-tiba suara Zhan menggema dalam benak Yibo. “Tuan Wang, aku mencintaimu. Menikahlah denganku!” Tanpa sadar bibir Yibo mengukir sebuah senyum. “Menurutmu dia orang seperti apa?”
Si Cheng mengerutkan dahi seraya berpikir. “Tidak sopan, berani, nakal, dan hanya mencari keuntungan untuk dirinya sendiri.”
“Apakah dia terlihat lemah?”
Si Cheng nyaris tergelak. “Dari sisi mana pun dia sama sekali tidak terlihat lemah.” Tangan lelaki itu menyentuh pipinya seolah masih merasakan sakit ditendang oleh Zhan sewaktu di dalam mobil.
“Menarik, bukan?” gumam Yibo. “Tolong carikan riwayat kesehatannya.”
Si Cheng tampak terkejut. “Untuk apa, Tuan Muda?”
“Hanya untuk memastikan bahwa dia sehat.”
. . .
Senyum Yibo masih bertahan di wajahnya ketika matanya berhasil menemukan Xiao Zhan di tengah hamparan orang yang hilir mudik di hadapannya. Pemuda itu, seperti yang dilihat Yibo sebelumnya, sedang bercerita dengan semangatnya dalam satu grup. Entah negara mana lagi yang diceritakannya.
Merasa ada yang memperhatikannya, kepala Xiao Zhan berpaling dan langsung bertemu pandang dengan Yibo yang berada di seberang aula. Ia mengedipkan sebelah mata secara nakal ke arah Yibo sebelum berbicara pada grupnya. Setelah itu, Xiao Zhan terlihat dalam perjalanan menuju tempatnya sambil tersenyum manis.
Pangeranku, aku takkan melepaskanmu, batin Xiao Zhan sambil memandang Yibo lekat dengan mata yang bersinar cerah.
__ADS_1
“Ikut aku,” tutur Yibo kepada Zhan yang berhenti di depannya.
“Untuk apa?”
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Baiklah.”
Yibo merasa aneh ketika Xiao Zhan tiba-tiba menjadi begitu penurut kepadanya. Saat ini pun pemuda itu bahkan berani mengaitkan tangannya pada lengan Yibo seakan mereka sepasang kekasih. Karena tidak merasa terganggu, maka Yibo membiarkannya.
Namun, lain lagi dengan Si Cheng, yang matanya terbelalak terkejut memandang tingkah mesra dua orang yang berjalan lebih dulu di depannya.
...* * *...
Xiao Zhan diantar Si Cheng masuk ke dalam sebuah ruang kantor kecil yang ada di dalam kabin.
“Ada apa? Apa kau akan memberiku beberapa puluh ribu yuan lagi?” Pemuda manis itu terkekeh. Ia bisa merasakan kalau dompet di saku belakang celananya akan tebal dalam sekejap.
Yibo tidak mengindahkan pertanyaan konyol tersebut. Ia akan langsung pada poinnya saja. “Apa kau sungguh ingin menikah denganku?”
Di sisi lain, Si Cheng yang berdiri di belakang Zhan tampak benar-benar terkejut.
“Tentu saja!” jawab Zhan ringan.
“Kenapa?”
“Karena kau kaya!”
Yibo tersenyum. “Apa kau tahu siapa aku?”
Xiao Zhan berpikir sejenak. “I don’t know,” ucapnya seraya mengangkat bahu. “And I don’t care.”
“Don’t you want to know who I am?”
“Tell me.” Siapapun dia, bagi Zhan, Yibo tetap adalah tambang emasnya.
“Aku berasal dari Wang Empire.”
Zhan mematung seketika. Wajahnya memucat dalam hitungan detik.
Xiao Zhan tertawa keras sambil memegangi perutnya. Tawa yang penuh kesenangan. Tawa yang membuat Yibo bertukar pandang bingung dengan Si Cheng. Baiklah. Yibo memutuskan untuk duduk dan menunggu Xiao Zhan menghentikan tawanya.
Si Cheng melayani Yibo dengan menuangkan teh dari teko keramik ke dalam cangkir berukir bunga persik. Pria itu menyesap tehnya sebanyak dua kali sebelum menaruhnya kembali ke atas meja, lalu meminta Si Cheng agar menyediakan teh satu lagi.
“Untukku, Tuan Muda?” tanya si asisten.
“Kau mau?”
Si Cheng langsung menggeleng. “Tidak perlu, Tuan Muda. Terima kasih.”
“Kalau begitu tuangkan untuk Zhan Zhan.”
“Zhan Zhan?”
Jari Yibo menunjuk ke arah pemuda manis yang masih tertawa. Tubuhnya bahkan telah merapat ke dinding. “Dia Zhan Zhan,” beritahunya.
Ekspresi Si Cheng terlihat rumit saat memandang Xiao Zhan. “Tampaknya dia tidak waras.”
“Hmn. Mungkin saja. Malah bagus, bukan?”
Si Cheng menatap Yibo. “Apa yang ingin kau lakukan terhadapnya, Tuan Muda?”
Yibo belum menjawab, melainkan ia mengangkat cangkir dan menyesap sekali lagi tehnya. Setelah mengembalikan cangkir ke tempatnya, ia baru memandang Si Cheng dan menjawab tanpa ragu.
“Aku ingin menikahinya. Dia akan menjadi senjata yang bagus dalam Wang Empire.” Bibir Yibo mengulas senyum saat menatap Zhan yang masih dengan selera humornya. “Aku tidak sabar melihat wajah para saudara dan ibu tiriku, serta bagaimana Zhan Zhan akan menghadapi mereka semua. Aku menantikan kegilaan mereka.”
“Tapi apakah Tuan Besar akan setuju?”
“Kakek akan setuju denganku. Yang lain mungkin tidak, terutama paman. Tapi aku tidak peduli.” Pandangan Yibo terarah pada si asisten. “Si Cheng, segera siapkan tempat untuk calon istriku di rumah.”
Walau tidak yakin, tapi Si Cheng tidak bisa membantah. “Baik, Tuan Muda.”
Sekitar lima belas menit, Xiao Zhan baru berhenti tertawa.
“Aduuh, pipi dan perutku sampai sakit.” Ia mengusap pipinya. “Itu tadi sangat luar biasa, Tuan Wang. So amazing!”
__ADS_1
Yibo menyuruh Xiao Zhan duduk di kursi di seberang mejanya. “Jadi apakah kau suka dengan berita itu?”
Xiao Zhan duduk lalu meneguk minuman yang disediakan hingga habis. Tampaknya ia tertawa sampai begitu kehausan.
“Sangat suka!” seru Zhan girang seraya meminta Si Cheng mengisi ulang cangkirnya yang telah kosong. Si asisten melakukan dengan patuh. “Kau sungguh dari Wang Empire?” ulangnya untuk memastikan.
Yibo mengangguk membenarkan.
Zhan tersenyum lebar. “Kalau begitu kau harus menikahiku, Tuan Wang!”
Memiringkan kepala, Yibo tersenyum membalas Zhan. “Tentu saja. Kau akan menikmati kehidupan Cinderella yang kau idam-idamkan itu setelah menikah denganku.”
“Sungguh?”
“Benar.”
“Janji?”
“Tentu saja.”
Dengan isyarat jari, Xiao Zhan menyuruh Yibo bangkit berdiri mengikutinya, dan pria itu melakukan dengan agak bingung.
“Apa kau akan secepatnya menikahiku?” tanya Zhan lagi.
“Kapan pun kau mau.”
Yes!
Sebagai bukti rasa gembiranya, Zhan langsung melompat memeluk Yibo, dan tanpa diduga tangan Yibo secara spontan menahan pantat Zhan setelah kaki pemuda itu melingkar erat di pinggangnya. Sekali lagi Si Cheng melotot terkejut.
“Kalau begitu apa sekarang kita telah menjadi kekasih?” tanya Zhan di depan wajah Yibo.
“Ya. Tentu saja.”
Zhan tersenyum lebar lalu memiringkan wajah untuk menemui bibir Yibo, seketika itu juga mereka berciuman.
Melihat adegan tersebut, Si Cheng menarik napas dalam seraya memalingkan wajah. Tiba-tiba saja dia merasa panas sehingga sedikit mengendurkan kerah bajunya.
Awalnya Yibo terlihat kaget, namun akhirnya keduanya tampak menikmati hisapan bibir satu sama lain. Suara yang ditimbulkan oleh aktifitas keduanya lama-kelamaan mulai mengganggu juga, Si asisten menduga kalau mereka sudah ketagihan dan tidak mau mengakhirinya sehingga ia mendeham.
Ciuman pun berhenti. Kedua kepala itu menoleh menatap Si Cheng yang berdiri canggung dan sedikit malu.
“Apakah aku harus keluar, Tuan Muda?” tanyanya kikuk.
“Oh.” Yibo menurunkan Xiao Zhan sehingga kedua kaki pemuda manis itu menapaki lantai. Sepertinya dia baru menyadari jika di sini bukan hanya ada mereka berdua.
Xiao Zhan tersenyum sangat bahagia. Hal ini adalah apa yang selalu ia idam-idamkan. Siapa sangka kalau ia tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk bertemu pangeran berduitnya dan hidup nyaman dalam kelimpahan.
“Yibo, apa kau mau bertemu kakakku?”
“Nanti saja. Pada saat aku datang melamar ke rumahmu. Sekalian aku bertemu ibumu.”
Senyum Xiao Zhan mengembang sempurna. Senyum yang Yibo yakin tidak akan luntur sampai besok hari, bahkan mungkin sampai berhari-hari.
“Aku punya ide yang lebih menarik.” Yibo langsung meraih tangan Zhan serta merta menariknya keluar kabin.
Mereka melangkah terus di sepanjang koridor kapal, lalu turun ketika menemui tangga di ujung. Rupanya Yibo membawa Zhan ke sebuah toko perhiasan yang terdapat di kapal pesiar itu, layaknya mall, apa pun yang kau cari, lengkap tersedia di dalam kapal mewah itu.
“Berikan aku cincin yang paling indah dan mahal untuk kekasihku,” kata Yibo kepada gadis penjaga di toko yang langsung melakukan perintahnya.
“Bagaimana dengan yang ini, Tuan?” Gadis itu menyodorkan sebuah cincin platina berukir dengan batu berlian berukuran sedang di tengahnya.
Mata Xiao Zhan berbinar melihat benda mengilat tersebut.
Yibo mengambil keluar cincin itu dari kotak beledru warna navy lalu mengikatnya di jari manis Xiao Zhan.
“Sangat indah,” gumam pria itu seraya menatap jari Xiao Zhan yang berhias cincin darinya. “Apakah ini cukup?”
Dengan semangat Xiao Zhan mengangguk. “Sudah cukup,” jawabnya.
Yibo tersenyum dan mengarahkan jari Zhan ke bibir lalu mengecupnya.
“Aku akan segera menikahimu,” janjinya.
Senyum Xiao Zhan yang secerah matahari musim panas membuat siapa pun tidak akan menyadari kalau mereka tengah berlayar di bawah langit gelap malam tanpa bintang.
__ADS_1
Bersambung.