
“Baiklah. Puas?”
“Sangat puas. Rupanya kau sangat dermawan, Tuan Wang.” Perasaan pemuda manis itu kini sangat bahagia. Ia bisa mendapatkan banyak uang hanya dengan menjawab pertanyaan saja. Sangat praktis.
Yibo menyandarkan punggung ke kursi dan melipat tangan di dada. “Jadi, Xiao Zhan, dengan siapa kau datang malam ini?”
Zhan menghitung dalam hati setiap pertanyaan yang akan dijawab karena itu merupakan uangnya. Satu. “Kakakku. Dia mendapatkan undangannya.”
“Siapa namanya?”
Dua. “Xiao Yu.”
Yibo mengangguk mengerti. “Mengapa kau ikut dengannya kemari?
Tiga. “Memangnya tidak boleh?”
Yibo menggeleng. “Itu bukan jawaban, Zhan Zhan.”
“Jangan memanggilku begitu!” Protes Zhan seketika. Panggilan itu membuatnya terdengar seperti anak manja. Walaupun itulah yang selalu dikatakan ibunya.
“Memangnya kenapa? Kukira panggilan itu sangat cocok untukmu.”
Xiao Zhan berpikir sejenak. “Baiklah, terserah padamu.” Ia tidak ingin membuat Tuan Kaya Raya di hadapannya tersinggung sehingga batal memberikan uang kepadanya.
“Jadi, mengapa kau datang kemari, Zhan Zhan?” Yibo mengulangi pertanyaannya seraya mengambil minuman dari atas meja.
“Aku ingin jadi Cinderella.”
Yibo nyaris menyembur minumannya ke arah Zhan kalau saja ia tidak menelannya dengan cepat. Akibatnya ia tersedak dan terbatuk beberapa saat. Yibo segera menaruh gelasnya ke atas meja dan mengusap mulutnya dengan serbet yang disediakan.
“Apa kau bilang? Cinderella?” tanya Yibo di sela batuk kecilnya.
Bibir Zhan merengut. “Memang kenapa? Itu impianku.”
Sebelum Yibo sempat menjawab, si kepala pelayan sudah datang kembali membawakan makanan mereka.
Binar di mata Zhan tidak menyembunyikan kegembiraannya ketika melihat berbagai jenis masakan dihidangkan ke atas meja. Sebagian besar adalah hidangan laut.
“Linguini—pasta—daging asap sebagai makanan pembuka,” ucap si kepala pelayan sebelum mengundurkan diri.
“Cobalah,” Yibo menuturkan. “Rasanya pasti sesuai dengan seleramu.”
Tanpa diminta pun Zhan memang sudah akan mencobanya. Dengan garpu, ia memutar linguini dan mencobanya sesuap. Wajahnya sumringah, terkesan akan rasanya.
“Ini enak,” komentarnya.
Yibo tersenyum. “Makanlah sesukamu.”
“Kau yang akan membayar semua ini, ‘kan?”
“Tentu saja, Tuan Xiao Zhan yang tidak mau mengeluarkan uang sepeser pun. Kau bisa makan apa pun yang kau mau selama aku bersamamu.”
Kalimat itu bagaikan nyanyian surga yang indah. Zhan tidak ragu lagi kalau Yibo memang orang kaya. Ucapannya barusan mengisyaratkan bahwa ia memiliki sejumlah uang yang tidak berseri yang bisa digunakan semaunya. Ini luar biasa!
__ADS_1
Lagi-lagi mata Zhan membidik bros yang dipakai oleh Yibo. “Boleh aku bertanya padamu?”
“Kau harus membayar seribu yuan untuk satu jawaban,” sahut Yibo sambil tersenyum jahil sebelum menyantap linguini miliknya.
“Iish, kau mengambil untung dari orang miskin sepertiku. Sungguh tidak bermoral,” cibirnya.
Yibo mendengus. “Yang kulihat tentangmu, Zhan Zhan, kau itu tidak miskin. Tidak ada orang miskin yang bisa menaiki kapal pesiar seperti ini. Kau memang pandai mengarang cerita.”
“Jih, pelit!” Karena kesal, Zhan memakan linguini dalam satu suapan besar sebagai pelampiasan.
“Jadi apa artinya menjadi Cinderella bagimu?” Yibo melanjutkan pertanyaannya.
Xiao Zhan menelan habis makanannya sebelum menjawab, “Menikah dengan orang kaya.”
Yibo menggeleng pelan serta mendecak. Ia sudah memperkirakan jawaban tersebut. Motif Zhan tidak sulit untuk diterka dari sikapnya yang menginginkan banyak uang.
“Apa kau pikir kehidupan orang kaya itu menyenangkan?”
“Mengapa tidak?”
“Coba jelaskan lebih spesifik, bagaimana menurutmu kehidupan orang kaya itu?”
“Ini satu pertanyaan yang lain, bukan?” Zhan mengingatkan.
“Tentu saja.”
Maka dengan senang hati Zhan akan menjawabnya. “Mereka berpesta, keliling dunia, dan menikmati hidup.” Dan terutama bermalas-malasan. Namun, Xiao Zhan tidak ingin mengatakan bagian terakhir tersebut.
“Begitukah menurutmu?”
“Berapa usiamu?”
“Dua puluh dua tahun.”
“Apa kau bekerja?”
“Tidak,” jawab Zhan ringan.
“Mengapa?”
“Aku ini penganut kaum rebahan.”
“Yang ingin menjadi Cinderella,” Yibo langsung menimpali sebelum menyimpulkan, “Kau pemalas yang ingin menikmati hidup dengan menikahi orang kaya.” Tawanya meledak, mengejek Zhan.
Wajah Zhan merona merah karena malu bercampur jengkel. “Memangnya salah? Setiap orang kan berhak untuk bermimpi.”
Tawa Yibo berhenti tak lama kemudian. “Impianmu tidak realistis,” ujarnya. “Kalau mau kaya, kau harus rajin.”
“Tidak, ah, aku harus terbiasa memberi perintah sambil berbaring. Kalau aku tidak terbiasa dengan itu, maka ketika menjadi orang kaya aku akan sungkan memberi perintah kepada para pelayan.”
Yibo menggeleng, tak habis pikir dengan cara berpikir Zhan yang blak-blakan dan aneh. Namun, di sisi lain, itu artinya Zhan memiliki pribadi yang tidak biasa dengan cara berpikirnya tersebut. Dirinya saja sedikit kesulitan menangani pemuda itu.
Tak mungkin kami akan cocok, batin Yibo sembari menatap lekat Zhan. Dia masih harus menunggu informasi dari Si Cheng.
__ADS_1
Setelah menghabiskan makanan pembuka, hidangan utama disajikan. Sebagian besar adalah makanan laut.
“Tempura king scallop—kerang lapis tepung—dengan saus pedas manis ini sangat lezat,” Yibo berkomentar. “Makanlah.”
Sekitar tiga macam hidangan utama disajikan. Hidangan kerang, ikan, kemudian lobster. Xiao Zhan menikmati semua makanan dengan riang karena ia tidak ingin kehilangan kesempatan emas ini.
Sudah lama dia hanya melihat semua bentuknya dari majalah tapi kini ia bisa menikmatinya. Sungguh takdir yang indah! Lihat, kan, aku tidak perlu bekerja susah payah untuk menikmati ini semua, pikir Xiao Zhan.
Hidangan makan malam itu selezat yang dijanjikan Yibo. Mereka menikmatinya sambil berbincang ringan. Perbincangan dalam bentuk tanya jawab yang diberikan Yibo padanya dengan imbalan uang.
Namun, di sela-sela waktu makan, beberapa tokoh ternama menghampiri meja mereka dan bercakap-cakap sedikit dengan Yibo, termasuk dua selebriti yang dilihat Zhan sebelumnya. Mereka adalah publik figur besar yang tentunya datang ke pesta sebagai investor. Zhan semakin ingin tahu tentang Yibo. Pasti bukan orang biasa.
Bibir Zhan sudah gatal ingin bertanya tapi ada syarat imbalan tersebut sehingga ia harus memikirkan baik-baik bentuk pertanyaannya supaya ia tidak kehilangan banyak uang. Ia telah memperoleh 10.000 yuan dari tanya jawab, setara dengan harga satu botol koktail yang diminumnya. Zhan hampir-hampir tak percaya, bahwa ia sudah dekat dengan gaya hidup konglomerat. Tinggal sedikit lagi, maka impiannya akan terwujud.
Seusai menikmati hidangan penutup, Zhan merasa inilah momen yang terbaik baginya untuk bertanya.
“Mmm, Tuan Wang,” panggilnya, “aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
Yibo tersenyum. “Silakan. Satu jawaban seribu yuan,” ingatnya.
“Aku tahu,” ketus Zhan jengkel. Karena itu dia hanya akan mengajukan satu pertanyaan saja.
Bibir Yibo menyungging senyum jahil. Ia merasa kepribadian Xiao Zhan sungguh menarik. Sepanjang berbicara dengannya ia tidak merasa bosan sedetik pun. Karakternya unik. Ada sisi keras kepala, pendirian teguh, serta bertindak sesuai keinginannya sendiri. Zhan tipe yang tidak terpengaruh pada lingkungan. Terlepas dari sifat malasnya, Xiao Zhan adalah pemuda yang antik. Tidak, mungkin sifat malasnya itu adalah salah satu nilai antiknya.
Sewaktu makan tadi, Zhan sempat menjatuhkan alat makannya. Biasanya orang akan mengambil sendiri, untuk kemudian disingkirkan, tapi pemuda itu malah membiarkannya dan menyuruh pelayan yang lewat untuk membereskannya.
“Kenapa kau tidak ambil sendiri?” Yibo bertanya.
Hanya satu kata jawaban Xiao Zhan. “Malas.” Tapi kemudian ia menambahkan. “Aku membantu para pelayan itu melakukan pekerjaannya dengan baik. Kalau aku ambil sendiri apa gunanya mereka dibayar.”
Yibo menggeleng sambil tersenyum membayangkan kejadian tersebut. Xiao Zhan benar-benar berpikir dari sudut pandang yang berbeda, walaupun sebenarnya agak keliru.
“Tuan Wang!”
Suara Xiao Zhan yang sedikit keras mengembalikan kesadaran Yibo. “Apa pertanyaanmu?” tanyanya setelah mendeham.
Xiao Zhan diam sejenak, mengumpulkan tekad untuk bertanya. Masalahnya uang yang dipertaruhkan sangat banyak. Seribu yuan.
“Berapa harga bros yang kau pakai itu?”
Kepala Yibo menunduk memandang bros bulan bintang di dadanya. “Ini?” Dan Zhan mengangguk dengan ekspresi serius.
“Mengapa kau mau tahu?”
“Jawab saja!” Xiao Zhan punya firasat bahwa benda itu bukanlah barang murah.
“Bros ini harganya lima juta yuan—sekitar sepuluh miliar rupiah.”
Seluruh tubuh Zhan gemetar mendengarnya. Ia dapat merasakan aura dingin yang seketika menjalari wajah, punggung, tangan, hingga kakinya.
Lima juta yuan untuk sebuah bros ....
“Tuan Wang, aku mencintaimu!” Zhan berseru keras dengan perasaan yang terlampau girang. Ia telah menemukan pangeran bermahkotanya, dan takkan melepaskannya lagi. “Menikahlah denganku!” Tidak akan dilepaskan sampai mereka menikah.
__ADS_1
Bersambung