
Mendapati dirinya diajak oleh Azzam dan Azzura membesuk Raka, boss cantik itu kebingungan.
Atas dasar apa dirinya membesuk Raka? Bila karena Raka karyawannya itu tidak masuk akal. Masa iya seorang bos membesuk OB.
Akira menggelengkan kepalanya, ia tidak mau. Lagi pula ia sudah mengirimkan parcel untuk pria itu, jadi ia tidak perlu lagi ke sana.
"Mama tidak tahu rumah om Raka. Kalian mending main dengan Pak Ujang saja sambil nunggu, jam istirahat nanti Mama yang antar kalian pulang," ucap Akira.
"Ya sudah deh. Ayo Pak Ujang kita main," ajak Azzam.
"Iya Den," ucap Pak Ujang.
Pria paruh baya itu kemudian menggandeng Azzam disisi kanan, lalu Azzura di sisi kirinya. Ketiganya keluar dari ruangan Akira untuk menuju taman kantor.
Pak Ujang tentu saja mengerti bila kehadiran Azzam dan Azzura dikantor akan mengganggu karyawan yang sedang bekerja, oleh karena itu ia membawa kedua anak boss-nya ke taman kantor untuk bermain.
Pria paruh baya itu bersama Azzam dan Azzura memainkan permain petak umpet. Selain menjadi supir, pak Ujang juga sekarang menjadi pengasuh untuk kedua anak kembar itu.
Setelah kepergian Pak Ujang bersama Azzam dan Azzura dari ruang kerjanya, Akira segera memanggil Lina agar masuk ke dalam ruangannya.
"Iya Bu, ada apa?" tanya Lina begitu masuk ke dalam ruangan Akira.
"Parcel yang saya minta kirimkan ke rumah Raka apa sudah kamu kirim?" tanya Akira.
"Sudah Bu, parcelnya juga sudah diterima oleh Raka. Tadi saya meminta pak Iwan sopir mobil kantor untuk mengantarkannya ke sana," jawab Lina.
Akira menganggukkan kepalanya. Sudah hanya itu saja yang ingin ia tahu mengenai parcel yang ia kirimkan tidak kurang tidak lebih.
Setelahnya Akira meminta agar Lina mendekat padanya karena Akira ingin menunjukkan sesuatu.
"Bagaimana menurutmu bila gaun ini aku kenakan di pesta ulang tahun perusahaan?" tanya Akira.
Wanita itu menunjukkan hasil desain gaun yang beberapa hari ini ia kerjakan pada Lina untuk meminta pendapat sekretarisnya.
Gaun itu berwarna merah maroon dengan panjang yang menjuntai menutupi kakinya. Bagian atasnya sedikit terbuka, dengan lengan baju yang panjang.
"Waahh, bagus itu Bu. Anda pasti cocok sekali mengenakan gaun itu," ucap Lina.
"Kalau begitu aku akan membuatnya untukku dan juga Azzura, dia akan mengenakan gaun seperti ini juga. Kalau untuk Azzam dia akan mengenakan stelan jas yang sudah aku buatkan," ucap Akira.
"Anda benar-benar hebat, Bu. Selain pandai merancang pakaian, anda juga pandai berbisnis. Tak salah saya bekerja dengan anda," ucap Lina memuji.
"Ahh, kamu ini bisa aja, Lin." ucap Akira.
__ADS_1
Wanita itu kemudian meminta Lina untuk mengeprint desain gaun yang tadi ia tunjukan.
Akira akan mulai mengerjakan gaun tersebut nanti malam dirumahnya.
Pesta ulang tahun perusahaannya memang masih satu bulan lagi, tapi gaun yang akan ia kenakan sudah ia rancang jauh-jauh hari seperti ini.
Di saat Lina sedang mengeprint, Akira memilih bangkit dari tempat duduknya. Wanita itu kemudian berjalan mendekat pada jendela.
Gorden yang sudah terbuka sejak tadi pagi mampu membuat matahari menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 siang, dan hanya sisa 30 menit lagi ia akan mengantarkan Azzam dan Azzura pulang sekaligus makan siang di rumah.
Posisi ruang kerjanya yang berada di lantai 6, masih bisa melihat Azzam dan Azzura sedang bernaung dibawah pohon mangga di taman kantor.
Wanita itu juga bisa melihat pak Ujang yang sedang mengipasi kedua anak kembarnya. Sepertinya mereka kegerahan pikir Akira.
"Apa kamu sudah memesankan makan siang untuk saya?" tanya Akira pada Lina.
"Belum Bu, saya pikir anda ingin makan siang di luar," jawab Lina.
"Jam istirahat nanti aku akan mengantar Azzam dan Azzura pulang, lalu makan siang di rumah, jadi kamu tidak usah memesankan saya makan siang," ucap Akira.
Hufftt.
Terdengar helaan nafas lega dari Lina. Ia pikir tadi dirinya membuat kesalahan karena tidak memesankan Akira makan siang, tapi ternyata tidak. Boss-nya itu justru akan pulang dan makan siang di rumah.
"Oiya, sehabis jam istirahat kamu datang kegudang penyimpanan pakaian, saya juga akan langsung kesana setelah mengantarkan Azzam dan Azzura pulang, kita akan bertemu disana," ucap Akira.
"Baik, Bu," ucap Lina.
Gudang penyimpanan pakaian letaknya lumayan jauh dari kantor sehingga Akira memilih mendatanginya langsung dibandingkan datang ke kantor lebih dulu.
*****
Raka yang tadi pagi tidak bisa bekerja dikarenakan sakit, kini sudah merasa lebih baik.
Pria itu saat ini sedang menyalin buku catatan milik Zaskia dan akan dilanjutkan dengan mengerjakan tugas yang belum selesai ia kerjanya.
Pria itu memilih membuka satu persatu buku catatan milik Zaskia lalu menyalin di buku catatan miliknya.
Tanpa ia sengaja buku milik Zaskia yang satunya lagi jatuh tersenggol oleh sikutnya.
Brukk.
__ADS_1
Buku yang jatuh itu mengakibatkan halaman di dalamnya terbuka memperlihatkan isi halaman didalam buku tersebut.
Raka yang menjatuhkan buku itu segera mengambilnya kembali. Saat raka meraihnya tidak sengaja ia membuka halaman yang terdapat sketsa wajah seseorang.
Kening Raka mengkerut melihat sketsa wajah tersebut karena sketsa itu seperti wajah dirinya.
"Seperti wajahku," gumam Raka.
Ia amati dengan lekat gambar seseorang itu, tapi tetap saja ia melihat gambar itu seperti dirinya.
"Apa Zaskia sendiri yang gambar ini?" tanya Raka bergumam sendiri.
Satria juga bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa maksudnya Zaskia menggambar wajah dirinya.
Pria itu memilih mengabaikan gambar tersebut. Ia kembali melanjutkan menyalin buku catatan milik Zaskia.
Hingga akhirnya Raka selesai menyalinnya.
Pria itu lanjut mengerjakan tugas yang kemarin belum selesai ia kerjakan.
Satu jam berlalu Raka akhirnya selesai juga mengerjakan tugasnya.
Pria itu kemudian bangkit dari tempat ia duduk, lalu masuk kedalam kamar untuk mengambil dompetnya.
Ia berencana untuk mengambil uang ke ATM karena didalam dompetnya hanya tersisa lima ribu saja.
Raka tidak pernah mengisi uang banyak-banyak didompetnya, ia hanya mengambil secukupnya untuk kebutuhan sehari-hari dan juga membeli pertalite untuk motornya.
Setelah berhasil menemukan dompetnya, pria itu segera berangkat ke ATM terdekat.
Beruntungan ATM terdekat itu jaraknya tidak sampai satu kilo meter sehingga tidak butuh waktu lama untuk Raka sampai di sana.
Brukk!
Begitu keluar dari ATM tubuh Raka ditubruk oleh seseorang yang hendak masuk kedalam ATM.
"Kamu lagi, kamu lagi. Sengaja ya kamu nabrak saya," ucap pria tersebut.
Raka terkejut, lagi-lagi ia bertubrukkan dengan pria yang sama seperti saat direstoran kemarin.
Orang itu tak lain ialah Aarav Adiputro mantan suami Akira.
Bertemu dengan mantan suami pujaan hatinya tentu saja membuat Raka semakin minder.
__ADS_1
"Maaf, Pak," ucap Raka mengalah kemudian berlalu dari sana.
"Tunggu," cegah Aarav membuat Raka menghentikan langkah kakinya.