Cinlok Dengan Boss

Cinlok Dengan Boss
Bab. 23 Kamu Mengenal Akira?


__ADS_3

"Tunggu," ucap Aarav.


Saat itu juga Raka menghentikan langkah kakinya lalu membalikan tubuhnya menghadap pada Aarav.


Dua kali bertemu dengan Aarav tentu saja Raka merasa segan bila tidak mengindahkan ucapan pria itu.


Aarav sendiri dua kali bertemu dengan Raka, dua kali juga dirinya seperti melihat seseorang yang ia kenal sehingga ia mencegah agar Raka pergi dari sana.


Pria itu ingin memastikan sesuatu.


Aarav segera melepas kacamata yang Raka kenakan, lalu menatap lekat pada pria di hadapannya tepatnya bagian mata, alis, hidung, dan bibir milik Raka.


Raka benar-benar mirip dengan seseorang yang Aarav kenali itu. Tapi saat melihat penampilan Raka yang terlihat sederhana secepat mungkin ia menggelengkan kepalanya.


Dalam hatinya walau mirip, tapi belum tentu sedarah.


"Kenapa, Pak?" tanya Raka bingung dengan perlakuan Aarav padanya.


Aarav menggelengkan kepalanya kemudian memasangkan lagi kacamata tersebut pada Raka.


"Siapa namamu?" tanya Aarav.


"Raka, Pak," jawab Raka.


"Baiklah, kamu boleh pergi," ucap Aarav.


Raka menganggukkan kepalanya, kemudian pamit terlebih dahulu pada Aarav lalu pergi dari sana.


Sembari berjalan pulang ke rumah kontrakannya, Raka terus memikirkan apa yang tadi Aarav lakukan padanya.


Ia juga terpikirkan dengan wajah tampan pria yang berbicara dengannya tadi.


Dalam benaknya ia kini jadi bertanya-tanya kenapa bu Akira dan pak Aarav bisa berpisah, padahal bila dilihat olehnya Aarav tampan dan kaya, sangat sempurna menjadi suami Akira yang cantik dan kaya juga.


Karena berjalan sembari melamun, Raka jadi tidak sadar bila dirinya nyaris tertabrak mobil yang melaju tidak jauh dari tempatnya menyeberang.


Cekiitt.


Beruntung mobil tersebut bisa mengerem sehingga tubuh Raka tidak sempat tertabrak.


Raka yang sadar dirinya hampir tertabrak mobil, semakin terkejut karena pemilik mobil itu ialah Akira.


Akira baru saja mengantarkan Azzam dan Azzura pulang ke rumah, dan sekarang ini ia hendak menuju gudang pakaian milik perusahaannya.


"Ternyata kamu Raka. Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Akira yang mengeluarkan kepalanya dari bagian kaca jendela mobil.


Bukannya menjawab, Raka justru diam saja karena masih terkejut bertemu dengan Akira disituasi seperti itu.

__ADS_1


"Sudah tidak usah dijawab, kamu tunggu disana saja, saya mau parkirkan mobil dulu ," ucap Akira menunjuk pada Cafe di tepi jalan.


Raka tentu saja tidak bisa menolak, sehingga ia akhirnya menganggukkan kepala lalu berjalan menuju Cafe yang Akira tunjuk.


Melihat Raka yang sudah berjalan ke arah Caffe, Akira segera pembelokan mobilnya masuk ke parkiran Cafe. Kebetulan sekali dirinya bertemu dengan Raka disini karena ia juga ingin menanyakan kondisi pria itu.


Setelah berhasil memarkirkan mobilnya, Akira langsung menghampiri Raka yang sudah duduk disalah satu kursi dengan meja bernomor 4.


"Kamu dari mana Raka?" tanya Akira setelah berada di hadapan Raka.


"Dari ATM, Bu," jawab Raka.


"Katanya kamu sakit ya?" tanya Akira.


Entah kenapa dirinya begitu perduli pada Raka. Padahal pria itu hanyalah seorang OB di perusahaannya yang statusnya tentu saja tidak level dengan dirinya.


"Flu dan demam saja, Bu," jawab Raka.


"Oohh, saya pikir kamu sakit keras," ucap Akira membuat Raka melototkan matanya.


'Sakit keras? Jadi Bu Akira pikir aku ini sedang sakit keras,' batin Raka.


Pria itu jadi teringat pada parcel yang ia terima tadi. Pantas saja ia dapat parcel ucapan semoga lekas sembuh ternyata ia dikira sakit keras pikir Raka.


Raka tidak tahu saja bila Akira lagi-lagi salah bicara. Wanita itu tidak sengaja berkata demikian karena menurutnya itu hal yang wajar.


Raka seorang pria jelek, miskin, dan juga penyakitan tidak sebanding dengan Akira wanita cantik, anggun dan kaya.


"Tidak Bu, saya hanya sakit biasa," ucap Raka.


Tidak lama kemudian datang pelayan mengantarkan coffe latte untuk Raka dan juga Akira.


"Kamu pesan minuman untuk saya?" tanya Akira setelah kepergian pelayan cafe tersebut.


"Iya, Bu, silahkan diminum," jawab Raka.


"Tidak, Raka, saya buru-buru harus pergi sekarang, Maaf ya," ucap Akira.


Wanita itu melihat coffe latte yang masih berasap.


Sejujurnya Akira juga ingin meminum cofe tersebut, tapi sayangnya kopi itu masih panas sedangkan dirinya harus pergi sekarang juga untuk mendatangi gudang pakaian.


Tapi ucapan Akira itu Raka anggap sebagai penolakan karena tidak ingin meminum kopi yang ia pesan.


"Tidak apa-apa, Bu," ucap Raka.


"Ya sudah, saya tinggal ya," ucap Akira kemudian bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Iya, Bu," ucap Raka.


Setelahnya Akira segera pergi dari Caffe meninggalkan Raka yang masih duduk sendirian disana.


"Ternyata jatuh cinta dengan boss sendiri itu tidak enak," gumam Raka sembari menatap kepergian Akira.


Fix bila seperti ini ia hanya bisa mencintai Akira diam-diam karena selamanya wanita itu tidak mungkin membalas cintanya ucap Raka dalam hati.


Raka tidak berharap banyak bila Akira akan membalas cintanya yang penting ia bisa terus mencintai wanita itu.


Pria itu kemudian melihat pada dua cangkir kopi di hadapannya. Mau tidak mau bila seperti ini ia harus menghabiskan semuanya, akan mubazir bila tidak ia minum semuanya.


"Berapa, Mbak?" tanya Raka pada kasier.


Dua cangkir kopi tadi sudah Raka habiskan dan kini pria itu hendak membayarnya.


Kasier di sana menyebutkan total yang harus Raka bayar karena sudah memesan dua cangkir coffe latte.


Setelah membayar kopi tersebut, Raka segera keluar dari sana untuk kembali ke rumah kontrakannya.


Pria itu tidak sadar bila sejak tadi ada seseorang yang mengikutinya, orang itu ialah Aarav, mantan suami Akira.


Aarav penasaran pada Raka, karena wajah Raka begitu mirip dengan salah satu anggota keluarganya yang tak lain ialah ayahnya.


Hingga akhirnya pria itu memutuskan untuk mengikuti Raka dari belakang tanpa sepengetahuan orangnya.


Aarav juga melihat bila tadi Raka dan Akira datang kecafe mengobrol sebentar disana.


Pria itu bertanya-tanya, bagaimana bisa Akira mantan istrinya itu mengenal Raka.


Semua itu membuat Aarav semakin penasaran dan ia akan mencari tahunya.


Raka sendiri yang tidak menyadari bila dirinya diikuti oleh Aarav terus berjalan hingga akhirnya ia tiba di rumah lalu masuk kedalamnya.


Baru saja masuk ke dalam rumah, pintu rumah tersebut diketuk oleh seseorang membuat Raka yang hendak mandi mengurungkan niatnya karena memilih membukakan pintu untuk seseorang yang datang itu.


"Boleh saya masuk?" tanya seseorang tersebut setelah Raka membukakan pintu rumahnya.


"Boleh, Pak Aarav, silahkan masuk," ucap Raka kemudian mempersilahkan orang tersebut masuk ke dalam rumahnya.


"Sepertinya kamu sudah tahu siapa saya," ucap seseorang tersebut yang tak lain ialah Aarav.


Karena saking penasarannya Aarav memilih mendatangi rumah kontrakan Raka, ia akan menanyaka apa yang ingin dia tahu dari Raka.


"Maaf, Pak, saya tahu nama Bapak itu dari Bu Lina asistennya Bu Akira," ucap Raka.


"Akira? Kamu mengenal Akira?" tanya Aarav.

__ADS_1


__ADS_2