Cinlok Dengan Boss

Cinlok Dengan Boss
Bab. 24 Sangat Perduli


__ADS_3

"Akira? Kamu mengenal Akira?" tanya Aarav.


"Silakan masuk dulu ke dalam, Pak," ucap Raka.


Tanpa menyahuti ucapan Raka, Aarav akhirnya masuk ke dalam rumah kontrakan itu lalu duduk di kursi kayu yang ada disana.


"Bu Akira itu boss saya, Pak," ucap Raka memberitahukan pada Aarav.


"Kamu karyawannya Akira?" tanya Aarav.


"Betul, Pak. Saya karyawannya Bu Akira, saya OB di kantor beliau," jawab Raka.


Aarav menganggukkan kepalanya, rasa penasaran terhadap Raka dan Akira yang tadi mengobrol di cafe kini sudah terjawab. Rupanya pria yang ada di hadapan Aarav itu hanyalah seorang OB.


Aarav kembali menelisik penampilan Raka, memang secara penampilan pria itu sangat sederhana tapi secara wajah, Aarav akui Raka itu tampan dan begitu mirip dengan ayahnya.


Mirip? Aarav jadi teringat lagi dengan hal itu.


Pria itu ingin menanyakan asal usul Raka yang duduk di hadapannya tapi tentunya tidak sekarang ia akan melakukannya pelan-pelan.


Kebetulan sekarang ini ada pembicaraan mengenai Akira yang membuat Aarav bisa mencari tahu lebih lanjut.


"Sejak kapan kamu menjadi OB dikantor Akira?" tanya Aarav.


"Baru saja, Pak. Belum ada satu tahun saya bekerja di sana," jawab Raka.


"Oohh, pantas aku tidak pernah melihatmu selama ini," ucap Aarav.


Raka menganggukkan kepalanya.


Aarav kemudian menelisik isi ruang tamu rumah kontrakan tersebut untuk melihat foto keluarga milik kakak, entah kenapa Aarav benar-benar penasaran dengan pria yang usianya lebih mudah darinya.


Raka bagaikan magnet yang menariknya untuk mencari tahu informasi tentang pria itu. Semua tentang Raka, Aarav jadi ingin tahu padahal ia jelas-jelas tidak mengenal Raka.


"Berapa usiamu?" tanya Aarav kemudian setelah menelisik ruang tamu yang tidak ada foto keluarga Raka disana.


"23, Pak." jawab Raka.


Ingin sekali Aarav menanyakan pada Raka siapa orang tua pria itu. Tapi ia tahan, rasanya tidak etis bila ia menanyakan sekarang pasalnya mereka baru saling mengenal.


Pada akhirnya Aarav mengundang Raka makan malam ke rumahnya karena Aarav ingin mengenalkan pada sang ibu bila ada seseorang yang mirip dengan ayahnya.


Raka yang mendapat undangan makan malam dari Aarav tentu saja tak menyangka bila ia diundang oleh orang terpandang seperti Aarav untuk datang ke rumah pria itu.


Tapi undangan itu justru membuat Raka kebingungan, pasalnya bila malam hari ia harus kuliah, sedangkan bila menolak ia merasa tidak enak pada Aarav.

__ADS_1


"Maaf Pak kalau nanti malam saya tidak bisa karena saya harus kuliah malam," ucap Raka pada akhirnya ia memilih untuk berkata terus terang.


"Kapan kamu bisa datang kerumah untuk makan malam?" tanya Aarav.


"Malam senin, Pak. Saya liburnya hanya malam senin saja," jawab Raka.


"Baiklah, kalau begitu kamu bisa datang malam senin," ucap Aarav.


"Terima kasih undangan makan malamnya, Pak. Saya usahakan malam senin nanti bisa datang ke rumah anda," ucap Raka.


Aarav menganggukkan kepalanya, kemudian mengajak Raka untuk bertukar nomor ponsel karena hendak mengirimkan alamat rumahnya kenomor ponsel milik Raka.


Setelahnya, pria tampan itu segera pamit dan pergi dari rumah kontrakan tersebut.


Setelah kepergian Aarav dari rumah kontrakannya, Raka segera melihat pada nomor ponsel yang baru saja tersimpan.


Raka tak menyangka bila Aarav mau berteman dengannya, meminta nomor ponselnya, dan juga mengundangnya makan malam ke rumah pria itu.


Raka juga bertanya-tanya, kenapa bisa orang yang baru kenal dengannya memperlakukannya seperti itu.


Ada apa sebenarnya?


*****


Digudang itu ternyata sudah ada Lina yang datang lebih dulu darinya. Kedatangan Akira tentu saja disambut oleh kepala gudang dan staff gudang disana.


Wanita cantik itu langsung diarahkan masuk ke dalam gudang tersebut.


"Ini pakaian yang baru diproduksi bulan ini, Bu." ucap kepala gudang yang bernama Rohmi.


"Ada berapa model pakaian yang sudah terproduksi?" tanya Akira mengambil salah satu pakaian di sana.


"Untuk bulan ini baru 5 model pakaian yang kami produksi. Dua model dres dan juga 3 model setelan," jawab Rohmi.


"Lalu di mana stok pakaian yang kamu bilang waktu masa jualnya habis?" tanya Akira.


Wanita cantik itu datang ke gudang karena ingin melihat stok pakaian yang dilaporkan oleh Rohmi kekantor pusat beberapa hari yang lalu.


Pakaian itu menurut Rohmi hanya memenuhi gudang saja.


Oleh karenanya Rohmi meminta atasannya datang ke gudang untuk melihat sendiri stok pakaian tersebut, tapi yang datang bukan hanya atsannya saja melainkan boss besar bersama dengan sekretarisnya.


"Mari ikut saya Bu, stok pakaiannya ada di ruangan sebelah," ucap Rohmi.


Tanpa menjawab ucapan Rohmi, Akira mengikuti wanita itu yang mengarahkannya menuju gudang dimana stok pakaian dengan masa jual sudah habis.

__ADS_1


Setibanya di sana, Akira meihat puluhan tumpuk pakaian yang ada disana dengan berbagai model dan ukuram.


"Banyak sekali?" tanya Akira menatap pada Rohmi.


"Iya, Bu. Model pakaian yang ada disini sangat kurang peminatnya dibutik kita, sehingga tidak habis dijual dalam waktu 6 bulan," ucap Rohmi.


"Benarkah? Tapi kenapa selama ini tidak ada laporan seperti itu pada saya?" tanya Akira.


"Saya sudah melaporkannya pada Bu Safa, Bu," jawab Rohmi.


Wanita yang disebut oleh Rohmi itu tentu saja langsung gemetar. Iya takut ditanyai macam-macam oleh Akira yang tentunya akan membuat kariernya anjlok.


Akira kini beralih menatap Safa selaku staff gudang diperusahaannya.


"Maaf Bu, Rohmi memang sudah mengirimkan laporan itu pada saya, tapi tidak saya sampaikan pada anda karena saya pikir saya bisa menangani masalah ini sendiri," ucap Safa.


"Kalau begitu apa rencanamu untuk menangani masalah ini?" tanya Akira.


"Semua pakaian ini bisa kita jual ke pasar untuk diobral. Walaupun harganya lebih murah tapi perusahaan tidak akan mengalami kerugian," ucap Safa.


Akira memikirkan ucapan Safa, ia juga setuju dengan solusi yang karyawannya itu berikan.


Tapi Akira teringat pada Raka yang penampilannya sangat sederhana membuatnya mengurungkan niatnya untuk menyetujui solusi dari Safa.


"Tidak usah, sebaiknya kita bagikan saja semua pakaian ini untuk karyawan kita," ucap Akira menolak solusi yang Safa berikan padanya.


"Bila seperti itu perusahaan akan mengalami kerugian Bu," ucap Safa.


"Tidak masalah Safa, itu juga untuk karyawan kita," ucap Akira.


Safa menganggukkan kepalanya, ia tidak bisa menentang keputusan yang sudah Akira ambil.


Akira menoleh pada Lina yang berada di sebelah kirinya.


"Minta semua data karyawan agar mendapatkan pakaian yang akan kita bagikan ini," ucap Akira.


"Baik Bu," ucap Lina.


"Jangan lupa, pastikan Raka dapat juga," ucap Akira.


Hahh?


Bukan hanya Lina saja yang terheran melainkan Safa dan Rohmi yang ada di sana juga sama terherannya.


Kenapa Akira menyebut nama Raka sebagai penerima pakaian tersebut? Ada apa dengan Akira kenapa wanita itu sangat perduli pada Raka?

__ADS_1


__ADS_2