
"Lompat Non..lompat!! non harus selamat" suasana kala itu begitu mencekam, dengan raut wajah kepanikan sang supir berusaha mengendalikan laju kendaraan nya, sang supir berteriak kepada seorang gadis kecil cantik untuk segera melompat keluar dari kendaraan itu.
" Tidak pak..Aurel takut, Aurel akan tetap di dalam mobil"
" Tidak Rel..kamu harus selamat, mama kamu sedang menunggu mu dirumah".
Kini sang supir tidak mampu lagi menguasai laju kendaraan ya, mobil sudah menabrak pembatas jalan, mobil yang mereka tumpangi terus bergerak cepat menyusuri tebing tersebut. Sebuah tangan kecil mendorong Aurel keluar dari dalam mobil, hingga membuat tubuh Aurel terhempas keluar, tubuh mungil itu serasa terbang di udara.
"Dukk...prakkk" kepala Aurel membentur batu yang cukup besar, hingga darah segar keluar dari dalam kepala dan hidungnya, gadis kecil itu terkulai tak sadarkan diri dengan luka di kepalanya yang cukup parah.
" Duarr....!!!" suara ledakan terdengar dari dalam jurang, mobil habis terbakar beserta penumpang yang ada di dalamnya. Senja yang begitu menegangkan, seseorang harus meregang nyawanya karena ulah orang yang tak bertanggung jawab. Asap mobil masih mengepul di dasar jurang.
" Apa kamu yakin semua yang ada di dalam mobil sudah tewas?"
" Aku yakin sayang...tidak ada yang selamat dari kecelakaan maut ini"
Dua orang pria dan wanita berdiri diatas tebing, dimana sebuah kecelakaan maut baru saja terjadi. Mereka berdua tersenyum penuh kemenangan, dengan apa yang baru saja mereka rencanakan.
Keesokan harinya, di sebuah Pemakaman Umum, para pelawat sudah mulai meninggalkan tempat pemakaman itu satu persatu. Hanya tinggal 3 orang yang masih tertunduk pilu di depan makam yang masih baru dengan taburan bunga diatasnya. Perasaan hancur serta sedih berkecamuk di hati mereka, terutama sang mama yang belum mengikhlaskan kepergian sang putri.
" Bangun sayang...jangan tinggalin mama seperti ini, kamu lihat sayang..mama tidak akan membiarkan kamu sendirian di dalam sana..mama akan menemani kamu, mama akan bacakan dongeng kesukaan kamu..."
__ADS_1
" Cukup Siska...sadarlah... Aurel kita sudah tidak ada lagi, biarkan dia beristirahat dengan tenang di sisi Nya, jangan kamu persulit langkahnya..." Adrian berusaha menyadarkan istrinya.
" hust....kamu diam mas, putri kita sedang tidur, jangan sampai dia terbangun, kasian dia kecapaian".Siska meletakan jari telunjuknya pada bibirnya, seolah dia memberi isyarat kepada Adrian untuk tidak berisik, dia terus terisak sambil memeluk Nisan itu.Adrian meraih Siska ke dalam pelukannya, wanita itu berusaha berontak untuk melepaskan diri dari pelukan suaminya, dia hanya ingin memeluk Nisan itu, Adrian semakin mempererat pelukannya dia tidak ingin istri nya larut dalam kesedihannya, Siska terus berontak sesekali dia memukul mukul dada bidang suaminya, hatinya begitu hancur setelah kepergian putri nya.
Adrian juga merasa hancur sama seperti istrinya, tapi dia harus tetap berusaha tegar, berusaha mengikhlaskan kepergian Aurel, masih ada putra pertama mereka yang membutuhkan mereka berdua.
" Sadarlah...sayang, Aurel kita sudah meninggal, dia sudah beristirahat dengan tenang di sisinya...ikhlaskan dia...ku mohon demi aku dan Leo.."
Seketika Siska mulai menyadari situasi yang tengah dia hadapi, dia terus memandangi pusara itu sesekali pandangan nya beralih ke Leo, dia terus menggeleng gelengkan kepalanya.
" Tidak...tidak...!!! Aurel....!!!" tiba tiba tubuh itu terkulai tidak sadarkan diri di dalam pelukan sang suami. Adrian mengecup lembut kening sang istri, tanpa dia sadari air matanya menetes di wajah tampannya.
"Mama..mama..bangun...jangan tinggalin Leo, jangan pergi seperti Aurel, mama...!"
7 Tahun kemudian....
Renata berjalan terburu buru menuju rumahnya, hari ini adalah hari pengumuman kelulusan di sekolahnya. Semua teman temannya berpesta merayakan kelulusan nya , mereka mencoret coret seragam mereka, tanpa terkecuali Renata..dia langsung pulang ke rumah nya, hari ini dia lulus dengan nilai tertinggi dia sudah tidak sabar untuk memberitahukan kabar gembira ini kepada mamanya.Dia berharap bisa mendapatkan bea siswa di Universitas impiannya. Renata terus melangkah kan kaki nya, sesekali dia berlari lari kecil untuk mempercepat langkah nya. Tanpa terasa Renata sudah sampai di depan halaman rumah nya yang cukup kecil dan sederhana.
"Assalammu'alaikum....mama...mama..lihatlah aku mendapatkan nilai terbaik disekolahku" Renata terus berteriak sambil mencari cari mamanya..
" Hei...!! dasar anak nggak tau di untung...nagapain kamu teriak teriak kayak gitu" wanita itu terus melahap makanannya tanpa menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
" Mama aku lulus dengan nilai tertinggi, mama bangga kan dengan prestasi yang aku capai"
Dengan tetap melahap makanan ya wanita itu tidak sedikitpun menoleh ke arah Renata.
"Hei...dengerin ya...kamu mendapat nilai tertinggi atau nggak, mama nggak peduli, yang penting kamu cepet selesain pekerjaan kamu, karena sebentar lagi temen mama mau jemput mama kesini..ngerti!"
Tanpa terasa air mata menetes di wajah cantik Renata, dia tidak habis pikir kenapa mamanya begitu membencinya, padahal selama ini dia sudah berbuat banyak untuk mamanya, dia berusaha menjadi seorang anak yang baik, bahkan untuk biaya hidup dan sekolah nya dia mencari biaya sendiri dari hasil membantu mencuci piring di sebuah warung makan dekat dengan rumahnya, dengan upah yang tidak seberapa. Dia mengumpulkannya untuk membeli buku dan keperluan lainnya, itulah alasannya Renata tidak ikut melakukan pesta kelulusan bersama temannya, karena dia tidak mempunyai uang untuk itu semua, bahkan sering kali dia menahan laparnya saat jam istirahat, dia menghabiskan waktu istirahatnya untuk membaca buku.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, Renata bersiap untuk segera berangkat bekerja, dia harus bekerja dengan giat untuk mengumpulkan uang, dia berharap sekali bisa memperoleh bea siswa di kampus yang cukup terkenal di Jakarta.
" Mama...aku berangkat kerja dulu ya..."
Merasa tidak ada jawaban dari mamanya, Renata hanya bisa menghela nafas, dia berjalan ke arah pintu, ketika dia berusaha membuka pintu, tiba tiba saja pintu sudah terbuka dari luar.
" Hai cantik...mau berangkat bekerja ya.." seorang pria yang sudah tidak asing lagi menyapa Renata dari balik pintu
" Hai..om Hendra, om mau jemput mama ya..masuk aja, mamanya ada di dalam kok" Renata terus berjalan
meninggalkan Hendra yang masih terpukau melihat kepergian Renata.
" Bahkan putrinya..begitu cantik seperti dirimu.." Hendra tersentak dari lamunanya, ketika seseorang memeluknya dari belakang.
__ADS_1
" Hai..kenapa melamun sayang...sudah lama ya nunggunya..kanapa bengong aja di sini nggak langsung masuk aja le kamar..aku kangen tau.."
" Dewi...apa apaan sih kamu, ini masih siang nggak enak kalau ada yang ngeliat, kamu sudah siap kan..? " Hendra menarik tangan Dewi yang tak lain adalah mamanya Renata...