Cinta Atau Hukuman

Cinta Atau Hukuman
Rasa apa ini...?


__ADS_3

" Apa semua ini benar pak..?" tanya Renata seolah tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


" ini semua benar..nak Renata, besok kamu datang langsung aja ke kampus, ini surat keteranganya dari sekolah" pak Kepsek berusaha menyakinkan Renata, bahwa semua itu benar adanya.


Setelah semua urusannya dirasa cukup, Renata memohon ijin kepada pak Kepsek, untuk meninggalkan ruangan itu.


Sementara itu di tempat lain Edo masih mencari cari sosok Renata, penat dia mencari..akhirnya sosok yang ia cari, ketemu juga.


" Re...Renata...!!" Edo memanggil Renata seraya melambaikan tangannya kearah Renata. Dia segera berlari menghampiri Renata.


" Kamu ngilang kemana aja..? dari tadi aku nyariin kamu, main ngilang gitu aja" dengan napas masih tersengal sengal, Edo menyerbu intan dengan beberapa pertanyaan.


"Aku...? tumben kamu nyariin aku? nggak seperti biasanya" Renata berkata sembari menunjuk dirinya.


" Ya iyalah..kamu pikir aku nyariin siapa lagi? kan kamu yang tadi bareng sama aku.." ucap Edo seraya mendekat ke arah Renata.


" Re..?"


"Hemm..." Renata menyahut sesuka hatinya.


" ya ampun Renata...! memang nggak ada jawaban lain yang lebih sopan selain hemm....? " Edo menepuk keningnya seraya menggeleng gelengkan kepalanya, seumur umur baru kali ini ada cewek yang begitu cuek terhadap dirinya.


" Mau nggak hari ini kita jalan jalan...? secara kita kan sudah lulus, bosen kali di rumah terus..." Edo berharap Renata tidak menolak ajakannya itu.

__ADS_1


" nggak...nggak...aku nggak mau nanti kalau aku sampai di kira kita berdua ada apa apa, bisa bisa aku di bully habis habisan sama fans kamu.." Renata berkata sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Re...aku ni serius..? mau nggak?" Edo mengulangi pertanyaannya.Tiba tiba bell sekolah berbunyi menandakan istirahat pertama, para siswa dan siswi berhamburan keluar, melihat idola mereka ada disana, para siswi perempuan berlari ke arah Edo.


"Kak Edo...!!" para siswi perempuan memanggil Edo sembari berlari ke arahnya.


" Mati, aku......" ucap Edo.


" Nah aku bilang juga apa....? noh..! layani dulu penggemarmu" Renata berkata sembari menutup mulutnya karena tawanya hampir meledak menyaksikan kejadian itu. kini, Edo terjebak dengan gadis gadis itu, ia berusaha keluar dari kerumunan para gadis.Dia melihat kesana kemari, sepertinya dia sedang mencari sosok Renata...Hari ini dia tidak ingin


kehilangan Renata untuk yang ke dua kalinya.


Edo berusaha keluar dari kerumunan para fansnya itu.


"Sial...!!" umpat Edo seraya memukul stang kemudinya. Kini dia harus menelan rasa kecewa nya lagi, untuk mendekati Renata, entah kapan dia bisa bertemu lagi dengan Renata, tidak mudah untuk mendekati Renata...karena gadis itu begitu tertutup.


Renata sudah sampai di sebuah toko buku, dia ingin membeli perlengkapan tulis untuk persiapan besok, dia benar benar menggunakan uang pemberian bu Dina hanya untuk keperluan pendidikannya saja. Setelah selesai membeli alat alat tulis, Renata ke luar dari dalam toko tersebut, gadis itu sangat menyukai deretan pertokoan tempat dia membeli buku, kerena Di deretan toko itu merupakan kios penjual bunga bunga segar, Renata sangat menyukai semua jenis mawar, itulah alasannya dia suka berlama lama di daerah itu, dia merasa seperti ada sebuah kenangan indah di tempat itu. Kerena keasikan memperhatikan bunga bunga yang begitu indah, tanpa sengaja Renata menabrak seseorang.


Bughh..!! Renata menabrak seorang pria yang sedang membawa buket mawar, Mawar mawar yang begitu indah itu berserakan di mana mana.


" Maaf kak..bunganya jadi berantakan" Renata berusaha meminta maaf kepada Pria itu, sembari dia berjongkok untuk memunguti bunga mawar yang berserakan, tanpa dia sadari pria tampan itu memperhatikan Renata yang begitu asyik memungut mawar mawar tersebut, dari pandangan matanya tersirat kesedihan serta rasa pedih yang begitu dalam. Ada sebuah getaran yang entah dia sendiri tidak tau apa itu, Pria itu terus memandangi Renata yang masih memunguti bunga mawar itu.


" hemm...white rose..red rose, indah sekali bunga ini kak" Renata tampak bahagia sekali mencium bunga mawar yang baru saja dia punguti.

__ADS_1


" apa ini untuk kekasih kakak...?" tanya Renata tanpa basa basi kepada cowok tampan itu.


" apa kamu menyukainya...? kalau kamu suka ambil aja, ini untuk kamu...aku bisa pesan lagi kok" ucap pria tampan itu.


" eh..serius kak...? ini bener buat aku...? terima kasih banyak ya kak, tapi ....apa kekasih kakak tidak marah...ini kan harganya mahal..." ucap Renata bertubi tubi.


" Kamu salah kok, bunga itu bukan buat kekasihku, tapi untuk adik ku tersayang..hari ini adalah hari dimana dia pergi meninggalkan kami untuk selama lamanya...Dia sama seperti kamu, sangat menyukai white rose dan red rose" tanpa terasa pria tampan itu menitikan air mata, ada rasa sedih yang begitu mendalam dari tatapan matanya...


" eh maaf..aku jadi mengingatkan kakak pada adik kakak yang sudah tiada" Renata meminta maaf sambil menyatukan kedua tangannya di depan bibirnya. Kemudian dia memandang wajah tampan itu, entah perasan apa yang dia rasakan saat memandang wajah itu...


Sejenak pria itu berpikir " mata itu..., ucapan maaf itu, tidak...tidak..ini pasti hanya kebetulan saja" pria itu segera menghapus angan angan itu. Tiba tiba dari arah belakang seorang pria yang tak kalah tampannya, memanggil pria yang telah memberikan bunga kepada Renata.


"Leo..Leo..." panggil seseorang dari seberang sana seraya melambai ke arah Leo, ya..pria tampan itu tak lain adalah Leo Adiguna, putra dari Adrian Adiguna pemilik perusahaan properti terbesar di Jakarta. Leo menoleh ke sumber suara tersebut.


" Faisal...? hei...sini" seraya berteriak Leo membalas lambaian Faisal, seorang pria tampan bak model kelas dunia menghampiri Leo.Sungguh pria itu begitu tampan, hidung mancung, wajah timur tengahnya sungguh di atas rata rata, Faisal yang nota bene berdarah Pakistan Indonesia, terlihat sangat tampan dengan pakaian casualnya.


" Hei..ngapain lho disini..bro" Frans bertanya seraya meninju dada bidang Leo.


" Gue sengaja kesini beli bunga rose..kamu pasti ingat ini hari apa" Leo menundukkan kepalanya dengan lesu.


" Gue tau ini hari apa...Dia masih ada di suatu tempat Leo, gue bisa ngerasain itu, gue yakin Aurel masih hidup.." Faisal percaya bahwa jasad yang mereka temukan terbakar di dalam mobil, bukan Aurel, tapi jasad anak lain. Itulah sebabnya dia tidak pernah mau datang ke pemakaman Aurel, karena dia yakin Aurel masih hidup sampai saat ini.


"Hentikan Sal....sudah jelas di tangan jasad itu memakai gelang Aurel, bahkan kita membelinya bertiga, kamu yang memilihnya sendiri, apa kamu lupa? "Leo berusaha meyakinkan Faisal.

__ADS_1


" Sudah lah Leo, aku tidak ingin berdebat, biarkan aku dengan keyakinan ku ini, aku tidak ingin mengubah keyakinan ku ini sampai kapanpun" percuma jika mereka harus berdebat, ujung ujungnya pasti sebuah pertengkaran..


__ADS_2