
Tiba tiba saja Leo teringat seorang gadis yang tadi menabraknya.
"Eh..kemana gadis tadi..?" tenyata Renata sudah pergi saat tadi Leo menoleh ke arah Faisal.
" ada apa? ...loe kayak lagi nyari seorang?" Faisal merasa heran dengan tingkah sahabatnya ini.
" iya..tadi Seorang gadis cantik menabrak aku, eh...belum sempat aku berkenalan dia sudah kabur duluan" Leo merasa bodoh kenapa tadi dia tidak bertanya siapa nama gadis itu.
" Hei..hello Leo Adiguna?, are you oke? what happened with you bro? " Faisal bertanya dengan nada agak mengejek, seorang Leo Adiguna yang begitu dingin dengan seorang cewek, tiba tiba tertarik dengan cewek yang baru aja dia temui? Faisal merasa penasaran dengan gadis itu.
" Hei...jangan loe pikir gue jatuh cinta sama cewek tadi ya...hati Gue cuman buat satu orang." Leo merasa tidak terima dengan ejekan Faisal.
" terus..ngapain loe bingung nyari dia? biasanya juga loe cuek sama cewek" Faisal terus meledek Leo.
" Bukan gitu bro...aku merasa dia..., akh...sudahlah" Leo tidak ingin meneruskan kata katanya, apa lagi mengatakan kepada Faisal kalau gadis itu mengingatkannya dengan Aurel, tatapan matanya, bunga kesukaannya, dia tau siapa Faisal pasti dia akan menyelidiki siapa gadis itu, kadang dia ingin mempunyai keyakinan seperti Faisal yang menganggap adiknya masih hidup di suatu tempat, tapi dia tidak ingin menantikan sebuah harapan palsu, yang ujung ujungnya hanya akan membawa rasa sakit.
Walaupun masih seorang mahasiswa Faisal tidak bisa di remehkan, keluarga nya yang nota bene mempunyai darah timur tengah, adalah seorang pemilik kilang minyak di salah satu negara di Timur Tengah , belum lagi beberapa aset berharganya di Dubai, seperti hotel, restaurant, dan masih banyak lagi..Ayahnya Salim Khan bukan orang sembarangan di negaranya. Dengan kekayaan yang begitu melimpah harusnya dia cukup bermanja manja dengan kekayaan bokap nya, tapi tidak dengan Faisal, sejak kecil dia bukan anak orang kaya manja, dia sendiri mempunyai perusahaan Arsitek yang maju dan berkembang. Dengan dia sebagai pemilik dan CEO nya si perusahaan nya itu, Leo juga sosok pekerja keras, mereka berdua selalu bekerjasama untuk sebuah proyek besar.Tidak heran jika nama keduanya cukup terkenal di kalangan pembisnis muda berdompet tebal.
__ADS_1
" katanya beli bunga...terus mana bunganya?" Faisal bertanya sembari menyelidik.
" Bunganya tadi jatuh, tanpa sengaja cewek tadi nabrak gue, gue lihat dia suka banget sama bunga itu, ya udah..gue kasih aja ke dia"
" Tumben...baik banget loe" Faisal terkekeh.
"ngomong ngomong ...ngapain loe sampai ke sini" kini Leo ganti yang mengejek Faisal.
" Gue baru aja ketemu klien di sekitar sini, trus tanpa sengaja gue lihat loe, ya udah gue samperin aja loe di sini" ucap Faisa
Leo pergi ke toko bunga untuk membeli bunga mawar lagi, sementara itu Faisal pergi meninggalkan Leo untuk urusan lain.
Setelah selesai membersihkan badannya, dia bersiap untuk pergi tidur lebih awal, masih banyak yang harus dikerjakan untuk esok hari, dia harus mencari tempat kos, berpamitan kepada bu Dina, dengan sisa uang yang diberikan bi Dina, dia bisa membayar kosnya untuk satu bulan ke depan sebelum dia mendapatkan pekerjaan part time . Malam semakin larut..Renata sudah terlelap dengan tidurnya, dia berharap malam ini mimpi Buruk itu tidak datang lagi dalam tidurnya, maka dari itu sebelum tidur dia harus meminum pil pemberian mamanya.
Malam pun berganti pagi..mentari mulai bersinar..udara pagi begitu segar, sungguh pagi yang indah...Renata sudah bangun sejak subuh tadi, dia sudah mempersiapkan segala nya, hari ini sepertinya mamanya tidak pulang, tapi walau bagaimanapun dia ingin mengabari mamanya, karena ini adalah hari pertamanya datang ke kampus baru, Renata mengambil ponsel nya...dia mulai menghubungi mamanya....
" ya, ada apa? ngapain pagi pagi gini telpon, kayak nggak punya pekerjaan aja" suara parau mamanya dari seberang sana terdengar begitu kasar, tapi Renata tidak peduli, dia sudah terbiasa dengan perlakuan mamanya yang kejam.
__ADS_1
" ma...hari ini, hari pertama Renata masuk ke kampus, itulah sebabnya Renata berpamitan kepada mama"
" aduh..Renata, cuman mau masuk kampus aja ribet, terserah kamu aja mau ngapain"
" ya udah cuman itu aja ya ma.., Renata berangkat dulu, jaga diri mama baik baik"
Klik..! suara telepon di putuskan begitu saja tanpa sahutan.
" Kenapa kamu begitu ketus sekali dengannya sayang..."Hendra bertanya pada Dewi dengan memeluknya dari belakang.
" Dengar aku Hendra, kamu tau kenapa aku begitu membencinya..? wajah nya selalu mengingatkanku dengan perempuan sialan itu, tapi tunggu dulu..darimana anak itu dapat uang untuk masuk universitas, selama ini dia kan cuman seorang tukang cuci piring" Dewi berkata seraya menaikan selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benang.
Renata sudah siap untuk pergi ke kampus, dia berdoa semoga hari ini semuanya berjalan dengan lancar. Renata terlihat cantik sekali, dengan atasan hem lengan 1/4, yang dipadukan dengan celana jeans, dia terlihat begitu cantik. Dia menuju ke halte bis, hanya menunggu beberapa menit, bis yang menuju ke arah kampus nya sudah datang, Renata segera masuk kedalam bis, beruntung karena hari ini penumpang bis tidak terlalu penuh, jadi dia bisa mendapatkan tempat duduk. Akhirnya bis yang dia tumpangi sampai di depan halte kampusnya.
Kampus yang begitu megah, dengan tempat parkir yang luas, dengan deretan mobil2 mewah, dengan taman yang begitu luas.di sinilah tempatnya anak anak kolongmerat.
" Benarkah gadis miskin kayak aku bisa melanjutkan kuliah di sini? rasanya seperti mimpi.." gumam Renata dalam hati.Awalnya dia merasa minder, tapi perasaan seperti itu dia buang jauh jauh, tujuannya hanya satu yaitu untuk belajar, karena di sinilah banyak melahirkan orang orang hebat....Renata sudah bertekad untuk mengubah nasibnya. Para mahasiswa mulai berdatangan, Renata masih berdiri terpaku di depan kampus. Banyak mahasiswa yang mengagumi kecantikannya, Renata hanya merasa heran...
__ADS_1
" Apa ada yang salah dengan ku..? kenapa mereka memperhatikan aku kayak gini.."gumam Renata dalam hati seraya mengeryitkan keningnya...( maklum Renata orangnya kurang peka)