Cinta Atau Hukuman

Cinta Atau Hukuman
Mimpi Buruk


__ADS_3

Renata sudah sampai di warung makan tempat dia bekerja.


" Gimana pengumuman kelulusannya nak Renata?"


" Lancar bu, alhamdulillah..... Renata dapet nilai paling tinggi"


" Syukurlah ibu ikut senang dengarnya, oh ya..untuk selanjutnya gimana..? apa nak Renata mau ngelanjutin kuliah?"


" iya..bu, Renata sudah daftar, ikut jalur beasiswa prestasi, doain ya bu...Renata bisa masuk universitas terbaik di Jakarta.."


" Tentu nak..Ibu selalu berdo'a untuk gadis sebaik kamu" Ibu Dina sang pemilik warung memang begitu menyayangi Renata, dia adalah gadis yang cantik dan pintar, Renata selalu mendapat peringkat pertama di sekolahnya.


" Oh ya..ibu denger, banyak anak kolongmerat di universitas yang nak Renata maksud, siapa tau ada yang nyantol satu" Renata tersipu malu mendengar gurauan bu Dina.


" Ibu bisa aja..mana ada kolongmerat yang mau sama gadis miskin kayak Renata bu, lagian Renata masih pengin mengejar cita cita Renata"


" Kamu itu cantik, baik, laki laki mana yang tidak menyukai gadis secantik kamu"


Mendengar jawaban bu Dina, Renata hanya geleng geleng kepala, dia pergi ke belakang untuk mencuci piring piring kotor yang sudah menumpuk. Dia kadang tersenyum geli sendiri membayangkan kata kata bu Dina.


" Mana ada yang mau sama gadis miskin kayak aku..hi..hi..hi" seraya bergumam Renata geli sendiri membayangkan sang kolongmerat yang jatuh cinta padanya.

__ADS_1


Hari sudah menunjukan pukul 7 sore, ini sudah saatnya warung bu Dina tutup, sebelum pulang, Renata membantu bu Dina mengemasi barang barang di warung tersebut, hari ini dia ingin tidur lebih awal, dia sudah tidak sabar untuk melihat hasil


pengumuman calon mahasiswi yang bisa diterima lewat jalur beasiswa. Setelah di rasa semua sudah selesai, kemudian Renata berpamitan untuk pulang.


"Bu...Renata pulang dulu ya.."


" Tunggu sebentar nak...ini Ibu ada sedikit rezeki, terimalah.. siapa tau bisa bantu untuk keperluan kamu masuk universitas"


"Tapi bu...ini terlalu banyak, gaji Renata yang kemarin sudah ibu kasihkan" Renata berusaha menolak pemberian ibu Dina, memang..tidak bisa dipungkiri dia sangat membutuhkan uang untuk biaya pendidikannya.Tapi, Renata tidak pernah suka mengharapkan belas kasihan orang lain, dia percaya selama kita mau berusaha rezeki sudah diatur.


" Tolong jangan menolak nak..Ibu selama ini sudah menganggap nak Renata seperti putri ibu sendiri, ibu menyisihkan uang ini memang untuk kamu nak, ibu tau...kamu begitu ingin masuk universitas..kalau kamu anggap ibu seperti ibu sendiri, terimalah pemberian ibu ini nak".


" Terima kasih bu...Renata akan menggunakan uang ini dengan baik, Renata janji..kelak jika Renata menjadi orang sukses, Renata akan mencari ibu"


Ibu Dina mengusap rambut Renata dengan penuh kasih sayang, dia begitu kagum dengan perjuangan Renata selama ini, demi membiayai sekolahnya bekerja apapun dia tidak merasa malu, selama itu halal..dia akan melakukannya. Ibu Dina tidak habis pikir, kenapa mamanya Renata tega menelantarkan putrinya seperti ini.


" Ibu do'akan..semoga kelak nak Renata menjadi orang sukses"


" Amin...sekali lagi terima kasih bu, Renata pamit pulang dulu y.."


Renata pergi meninggalkan warung bu Dina, hari ini setidaknya hatinya begitu lega, biaya untuk membeli keperluannya

__ADS_1


saat masuk universitas sudah ada. Sesampainya di rumah Renata tidak menemukan mamanya, seperti biasanya mamanya mungkin pulang larut malam bersama kekasihnya. Sungguh hari yang begitu melelahkan, malam semakin larut Renata sudah terlelap dalam tidurnya, hari ini dia tidur begitu pulas, setelah seharian bekerja dia bisa beristirahat dengan tenang.


" Non..lompat Non.. ayo lompat...!"


" Tidak pak...Aurel takut.."


Tiba tiba mobil meledak...


Keringat dingin bercucuran di wajah Renata, seperti biasanya gadis cantik itu bermimpi buruk, mimpi yang selalu datang di tiap tidurnya, mimpi yang selalu membuatnya takut untuk memejamkan mata di malam hari, Renata terbangun..dengan nafas tersengal sengal serta peluh bercucuran.


"Siapa gadis kecil itu...? kenapa dia selalu datang di tiap mimpiku...apa hubungannya dengan ku..." seribu pertanyaan berkecamuk di kepala Renata, kepalanya selalu sakit luar biasa ketika dia berusaha untuk mengingat semua itu.Renata memegangi kepalanya yang begitu sakit tiba tiba bayang bayang buram serta suara suara anak laki laki terngiang ngiang di kepalanya Renata terus memegangi kepalanya yang begitu sakit, peluh terus bercucuran di wajah dan tubuhnya..tapi suara suara itu semakin nyata.


" kakak...Fais...ayo kemari" suara anak kecil serta gelak tawa anak laki laki itu terus terngiang ngiang di kepala Renata.


" Stop...stop...!!hentikan...hentikan...!!" Renata terus berteriak teriak sambil memegangi kepalanya yang sakit.


" Obat...obat..dimana obat itu, aku butuh obat itu" tangannya mulai meraba raba nakas kecil di sebelah tempat tidurnya, dengan cepat Renata segera menelan pil itu, pil yang bisa menghilang kan rasa sakit di kepalanya, serta menghilangkan bayang bayang bocah kecil yang selalu mengganggunya, gadis itu meneguk air putih dengan cepatnya, kemudian dia mengelap sisa air di bibir dan lehernya, Renata menghela napas lega...kepalanya sudah tidak terasa sakit lagi.


Malam ini dia akan terjaga lagi, setiap mengalami mimpi Buruk, gadis itu tidak akan memejamkan matanya lagi, dia takut..jika memejamkan matanya mimpi itu akan datang lagi dan lagi, Renata menghidupkan lampu kamarnya, dia memilih untuk menghabiskan malamnya dengan membaca buku, rutinitas seperti ini hampir tiap malam dia lakukan semenjak kecil, sakit kepala serta mimpi Buruk selalu menghampirinya. Kemudian dia melihat botol obat itu, yang hanya tinggal beberapa pil tersisa, dia harus bilang kepada mamanya kalau obatnya hampir habis. Setidaknya dia bersukur, mamanya selalu membelikan obatnya tepat waktu, entah apa yang akan terjadi jika dia tidak mengkonsumsi oba itu.


Walaupun mamanya tidak peduli dengan pendidikan nya, setidaknya mamanya peduli dengan kesehatannya itu.Malam semakin larut, hari menunjukan pukul 2 dini hari, Suara berisik serta ribut ribut terdengar dari ruang tamu, Renata membuka sedikit pintunya untuk mamastikan kalau itu mamanya, ternyata benar, mamanya dipapah oleh om Hendra, mereka berdua mabuk berat, kadang mereka tertawa, kadang entah nicara apa, melihat adegan itu Renata menitikan air matanya dari balik daun pintu, dia hanya bisa berdo'a semoga mamanya cepat bertobat dan segera di beri hidayah.Terdengar pintu kamar mamanya di hempasan, entah apa yang mereka berbuat Renata tidak ingin mengetahuinya, dia begitu takut dengan mamanya..

__ADS_1


__ADS_2