
Dibawah langit diruangan yang kecil tatapan kosong disana, menggertak jiwa, menabur rasa, masi dalam ingatan tentang lelaki penghangat hati, rasa nyaman dalam sukma membawa jari lentik mengetik satu demi satu huruf dalam layar handphone, tenggelam dalam arus perasaan adalah keharusan dalam fikirnya.
"Selamat malam" kalimat pembuka pemecah kerinduan, terbalaskan dengan satu kata meluluhkan jiwa,"Wanitaku", Sudah jelas senyum terus terukir dalam wajah mungil Reini.
Degg. Rasa hangat tumbuh sekejap dalam hati, hanya sebab satu kata penabur rasa.
Jatuh cinta? apakah iya? Satu demi satu pertanyaan muncul dalam benak, Secepat itu?"Argghh..Saya ingin bertemu". Detik demi detik terdengar lantang dalam ruangan sunyi menunjukan tepat pukul 12.00. Namun rasa kantuk tak kunjung menjumpai, hanya harapan tentang waktu segeralah bergerak cepat, bukan karena malam merindukan fajar namun ada sosok manusia yang sedang dalam kehangatan cinta.
Pertemuan, satu kata yang cocok untuk keadaan sekarang, dengan harap dalam tenang seuntai doa terucap "Semoga saja", Kedua tangan yang ditengadahkan dalam lembut menyatuh dengan wajah menandahkan ketulusan, Mata sayu sedikit demi sedikit tertutup dalam kesunyian malam.
__ADS_1
Disisi berbeda dengan tatapan dibalik jendela kaca termenung dalam fikiran, Masih tentang wanita pemikat, "Akankah rinduku terikat dalam jiwanya?jika iya?akan kupastikan tidurnya tidak nyanyak". Keduanya terikat dalam satu fikiran menembus kejiwa menyatu ke hati dan menimbulkan kenyamanan, pantas saja sebab dari akibat adalah kerinduan.
Fajar Muncul terlihat bahagia, mungkin karena sosok yang sedang jatuh cinta tak dapat dipastikan.
Reini terbangun dalam tidurnya, berharap kepada pagi semoga membawa kebahagiaan dihari ini, Masi dengan aktifitas seperti biasa masuk kuliah dan bertemu dengan Airin.
Airin teringat dengan pertanyaan tentang kehamilan yang diajukan reini membuat wajah bingung airin berubah menjadi wajah mengerikan karena marah, Kepedulian Airin sama halnya dengan kepudulian orangtuanya.
Dava sedang bersiap-siap menuju perusahaan dan berencana mengajak reini jalan-jalan, hari yang indah dalam kehidupan kedua pasangan ini.
__ADS_1
Perkuliahan reini sudah selesai namun mata mengerikan terus memandang kearah reini, tatapan ratu iblis karena telah kehilangan anaknya, kalimat itulah yang cocok untuk keadaan airin sekarang.
Reini nampak takut namun capat atau lambat tetap saja iya harus merasakan hangatnya kebersamaan dengan yang dicinta, Langka demi langka menuju sosok teman yang berada sekitar lima meter dengan dirinya, tangan mungil itu menggengam tangan temannya berusaha mengatakan semuanya berharap semoga temannya memahami, awalnya airin tidak rela dengan hubungan temannya sebab takut reini disakiti,"jika harus merasakan pahitnya jatuh cinta lebih baik jangan memulai",kalimat airin kepada reini namun airin juga sedang berpacaran jadi tidak terlalu menentang hubungan temannya, harapan airin semoga reini merasakan kebahagiaan.
Keduanya berpelukan dan setelahnya mengaitkan jari kelinking dengan janji tak akan menangis jika bertemu dengan pahitnya percintaan, Reini dan airin berjalan menuju kantin yang berada disekitar kampus dengan senyuman yang indah diwajah keduanya.
Airin terus mendesak reini agar dipertemukan dengan orang yang dicintainya itu.
Bersambung...
__ADS_1