Cinta Najwa

Cinta Najwa
Misi Selesai


__ADS_3

New york, Amerika serikat..


Suasana malam yang hening tak membuat seorang pria bergeming sama sekali dari tempatnya, dengan rokok di antara celah bibirnya pandangannya menatap jauh ke depan dimana targetnya berada.


Seorang pria yang baru saja keluar dari sebuah Club malam dengan dua wanita di sisinya, tampak sedikit terseok karena sudah mabuk berat..


"Cih, pecundang pun harus aku yang melenyapkannya.." Pria itu membuang rokok yang tersisa setengah dan menginjaknya dengan kaki agar api di ujungnya mati.


Merapatkan jaket hoodie nya Gavin berjalan tegap ke arah pria yang masih meracau dengan kata- kata mesum di antara kedua wanita di sisinya, Gavin melewati dengan sedikit menyenggol si pria, yang mengumpat padanya.


"Sialan kau tak melihat aku ada di depanmu!"


Gavin tak peduli dan terus berjalan tanpa menoleh hingga beberapa detik berlalu terdengar teriakan dari dua wanita di belakang Gavin, tanpa perlu menoleh, Gavin tahu targetnya sudah tidak bernyawa.


Misi selesai..


Gavin mengetikkan sebuah pesan di ponselnya, dan tak berselang lama sebuah pesan kembali masuk, sebuah notifikasi di ponselnya mengatakan bahwa telah masuk sejumlah uang ke dalam rekeningnya.


Gavin melihat tangannya yang bersih tanpa darah lalu membuang sebuah suntikan yang sejak tadi di genggamnya ke tong sampah.


...


-Pengusaha tekstil telah meninggal dunia di depan club malam Xxx, hasil autopsi membuktikan korban meninggal karena terlalu banyak minum alkohol, dan terkena serangan jantung-


Gavin menuangkan minuman di dalam botol ke dalam gelas kristal, lalu sedikit menggoyang kemudian menyesapnya, namun matanya tak lepas dari berita tentang kematian si pengusaha tekstil..


Gavin mendengus melihat istri si pria yang mati menangis dan berkata tak menyangka jika suaminya pergi secepat itu "Peran yang bagus.."

__ADS_1


Dua hari lalu sang istri yang menangis tersebut mendatangi Gavin dan memintanya untuk membunuh suaminya sendiri, dengan alasan suaminya terlalu banyak bermain juga jajan di luar dan tidak memperdulikannya.


Gavin tak peduli dengan kisah si istri yang tersakiti oleh suaminya yang selingkuh, yang dia pedulikan adalah berapa banyak uang yang akan masuk ke rekeningnya.


Mematikan tv, Gavin berjalan ke arah kamarnya yang ada di lantai dua masih dengan minuman di tangannya, sesekali Gavin menyesap minuman berwarna merah pekat itu, dengan tatapan yang datar dan tanpa ekspresi.


Gavin Mahendra..


Seorang pembunuh bayaran..


Pria kejam tak peduli siapa targetnya, perempuan, laki- laki bahkan anak kecil sekalipun, dia akan melenyapkan sesuai permintaan si pembunuh sesungguhnya.


Ya,


Pembunuh sesungguhnya.. karena Gavin hanya menjalankan perintah sesuai dengan uang yang masuk ke rekeningnya.


Memasuki ruangan Gavin menggerakan telunjuknya di lemari kaca berisi botol kecil.


Gavin mengambil satu botol lalu memasukannya ke dalam suntikan dan menyuntikannya ke tangan kiri..


Memejamkan mata menikmati rasa nikmat yang menjalar ke urat nadi dan dengan cepat memenuhi darahnya.


Melempar suntikan yang telah kosong ke tong sampah, lalu berjalan ke arah meja dan membuka kunci hingga terlihatlah beberapa senjata terpampang di depannya.


Mengambil senjata laras panjang dan memeriksa bahwa keadaannya siap untuk ia gunakan, memasukan kedalam tas besar lalu menutupnya..


Malam ini dia akan membunuh seorang pejabat, dan atas permintaan si klien, yang ingin si pejabat mati dengan peluru tepat di jantungnya, maka Gavin akan memastikan bahwa keinginan kliennya tersebut terpenuhi.

__ADS_1


Memasuki mobil jeep nya, Gavin segera memacunya ke tempat tujuan.


...


"Anak- anak kita berhak mendapat pendidikan lebih dan tak hanya wajib belajar sembilan tahun saja, mereka layak meraih mimpi mereka, untuk itu saya akan membuat program beasiswa bagi mereka yang berprestasi hingga lulus kuliah.. dan tak hanya itu kita juga akan memperluas lapangan pekerjaan untuk mengurangi angka pengangguran di kota kita."


Terlihat seorang pria yang sedang berpidato di atas podium tepat di sebrang gedung dimana Gavin berada dan mengatakan serta mengumbar semua visi dan misinya jika terpilih menjadi kepala propinsi tahun ini.


Marvin hanya mendengus lalu melihat bahwa senjatanya sudah mengarah tepat pada jantungnya.


Riuh tepuk tangan menggema saat para pendukungnya terkagum dengan kata-kata si pejabat, yang akan mencalonkan diri sebagai kepala propinsi tersebut, namun bagi Gavin saat inilah saat yang tepat untuk dia melenyapkan si pejabat.


Shuuuutt..


Peluru itu melesat tanpa suara dan dengan hitungan detik langsung menembus jantung si pejabat hingga tak ada lagi suara yang terlontar dari mulutnya.


Kini riuh tepuk tangan berganti dengan jeritan dari para peserta pendukung karena jagoan mereka telah tumbang.


Gavin merapikan kembali tas nya setelah memasukan senjata laras panjangnya..


Berjalan dengan tenang Gavin memasuki lift yang akan membawanya pergi ke lantai bawah, terdengar teriakan aparatur polisi yang mencari si pelaku penembak. Gavin bahkan melewatinya dengan tenang tanpa rasa curiga sama sekali.


Misi selesai..


Pesan kembali terkirim dan terbalas dengan jumlah uang yang lagi- lagi memenuhi rekeningnya.


Gavin membuka kartu di ponselnya dan membuangnya, memastikan tak akan ada yang tahu tentang kejahatan yang baru saja dia lakukan.

__ADS_1


....


__ADS_2