Cinta Najwa

Cinta Najwa
Gavin Mahendra


__ADS_3

Indonesia 15 tahun lalu..


Gavin Mahendra..


Gavin di besarkan di sebuah panti asuhan hingga usianya sepuluh tahun.. lalu dia di adopsi oleh sebuah keluarga yang belum memiliki keturuan


Jika anak- anak lain di adopsi oleh keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang, lain halnya dengan Gavin.


Saat usianya 10 tahun sebuah keluarga datang dan membawanya dari panti untuk di adopsi.


Gavin kira dia akan seperti anak lainnya yang di sayangi dan di manjakan, namun ternyata Gavin hanya mendapat kesakitan.


Awalnya kedua orang tua angkatnya bersikap layaknya orang tua pada umumnya memperlakukannya seperti manusia meski dia tak pernah mendengar kata sayang, dan Gavin merasa cukup untuk itu.. asalkan dia memiliki keluarga yang lengkap tidak masalah.


Satu tahun Gavin bertahan, hingga ibu angkatnya mengandung dan saat itulah Gavin tahu bahwa dirinya ada hanya sebagai pemancing agar mereka memiliki anak, mitos kuno itu terjadi pada orang tua angkat Gavin, hingga Gavin mendengar kata- kata menyakitkan di balik pintu.


"Sayang kita sudah memiliki anak sekarang, jadi tidak ada gunanya kita mempertahankan anak itu bukan, kembalikan saja dia ke panti"


"Kau benar, tapi tidak bisa sembarangan kita sudah tanda tangan dan mengangkatnya menjadi anak.."

__ADS_1


"Katakan saja dia anak yang nakal dan bebal.. " Ibu angkat Gavin bersi keras, dan si ayah angkat hanya bisa mendesah dan berkata.


"Baiklah.."


Gavin membuka pintu dengan derai tangis di matanya "Aku mohon jangan kembalikan aku ke panti, aku mohon izinkan aku untuk tetap disini.. aku berjanji tidak akan nakal, dan akan melakukan apapun keinginan kalian, tapi aku mohon jangan buang aku.. Ma, Pa.


Si ibu angkat mendengus, dan kini dia menunjukan wajah yang sebenarnya, wajah yang sama sekali tak menampakkan kasih sayang untuk Gavin.


Si ayah angkat menoleh melihat istrinya "Bagaimana?"


"Baiklah, tapi mulai sekarang kau harus bekerja di rumah ini, mencuci, menyapu mengepel, bahkan memasak.. anggap saja itu sebagai biaya hidupmu di rumah ini.."


Gavin mengangguk "Baik Ma.." Baginya tak masalah melakukan itu, dia juga sudah biasa melakukannya di panti.


Waktu terus berjalan hingga kehamilan si ibu angkat berusia lima bulan, hari itu Gavin sedang mengepel lantai dan entah dari mana datangnya si ibu angkat tiba- tiba terpeleset karena lantainya basah, Gavin melihat ibu angkatnya terduduk di lantai dan menjerit kesakitan, hingga Gavin terkejut melihat darah mengalir dari sela paha si ibu angkat.


Sejak hari itu kehidupan Gavin semakin tersiksa, Ibu angkat Gavin tak segan menyiksa tubuh Gavin dengan cambuk jika sedikit saja Gavin membuat kesalahan dalam pekerjaan.


Tak jauh berbeda dengan sang ayah angkat yang dengan tega mengurungnya di gudang dan tak di beri makan hingga tiga hari.

__ADS_1


"Anak pembawa sial, kau sudah melenyapkan anak kami maka sudah sepatutnya kau membayarnya dengan nyawamu!" Gavin hanya bisa meringkuk dengan lemah di sudut gudang karena tubuhnya sudah lemas, dengan perut kosong dan kulit penuh lebam di sekujur tubuhnya.


"Maafkan, aku Ma, Pa.. jangan sakiti aku lagi.." lirihnya, jika saja keputusannya untuk menetap tidak seperti ini, Gavin memilih untuk kembali ke panti, meski disana juga tak lebih baik, Gavin kerap mendapat perundungan hanya karena wajahnya berbeda dari teman- temannya, Gavin memiliki paras tampan wajahnya sedikit ke bule- bulean dengan rambut sedikit pirang, karena itu, anak- anak yang memiliki rasa iri kerap mengerjainya dan Gavin tak pernah berani untuk mengatakannya pada kepala panti, jika terluka Gavin memilih berkata bahwa dia terjatuh dan menjadi lebam, oleh sebab itu kepala panti menyebutnya anak nakal, karena selalu saja terlihat berwajah memar akibat jatuh.


Gavin sudah muak, tubuhnya sudah penuh dengan luka dan terasa semakin sakit, sebagian luka cambuk bahkan ada yang mengeluarkan nanah mungkin karena infeksi, dengan sisa kekuatannya Gavin mencoba melarikan dari neraka itu.


Berjalan tak tentu arah dengan tubuh yang lusuh dan penuh luka, Gavin kecil terus melangkah meski tak tahu harus kemana, Gavin berhenti saat tubuhnya tak bisa lagi menopang, Gavin jatuh terduduk di sebuah gang kecil dan menyandarkan dirinya di dinding, memejamkan mata karena lelah dan Gavin merasa dirinya akan mati karena tubuh lemahnya.


Gavin mencoba membuka mata saat mendengar suara- suara di sekitarnya, Gavin tertegun saat melihat seseorang pria sedang menusuk seorang pria lainnya yang kini bahkan sudah berlumuran darah dan tak bernyawa.


Pria itu telah di habisi..


Gavin tercekat, saat si pria yang telah menghabisi lawannya melihat kearahnya dengan menyeringai, jantung Gavin berdegup kencang saat pria tinggi itu berjalan ke arahnya, dan berkata.


"Diam, atau Mati!" desisnya, dan Gavin hanya bisa mengangguk takut lalu beberapa saat kemudian dia kehilangan kesadarannya.


...


Like..

__ADS_1


Komen..


Vote..


__ADS_2