
"Saya akan kembalikan sisanya, karena saya sudah mengatakan saya ikhlas, jadi harusnya mas gak perlu repot mengganti uang saya, dan saya maklum kalau mas gak mau berhutang budi, dan menggantinya, tapi saya gak terima tanda terimakasih dalam bentuk uang.. cukup katakan terimakasih itu sudah sangat membuat saya senang."
...
Gavin menatap uang yang ada di rekeningnya, Najwa benar- benar mengembalikannya dan hanya mengambil uang yang dia keluarkan untuk pengobatan Gavin kemarin.
Gavin tidak menyangka ada gadis seperti Najwa, bahkan Nadia pun selalu meminta uang padanya untuk belanja, baru beberapa minggu mereka menjalin hubungan Gavin hampir membuat satu rekeningnya habis.
Tidak masalah, lagi pula Nadia kekasihnya..
Memikirkan Nadia, Gavin hanya bisa menghela nafasnya, Gavin tahu ada sesuatu yang di masukan Nadia pada minumannya semalam.
Gavin tidak akan mabuk hanya karena satu botol bir saja, namun semalam dia merasakan tubuhnya memanas dengan kepala pusing hanya dengan satu gelas saja.
Gavin terbiasa dengan obat- obatan, tentu saja Gavin tahu obat apa yang masuk ke dalam tubuhnya, itu obat perangsang..
Yang Gavin pikirkan mengapa Nadia memasukan obat perangsang pada minumannya, apa Nadia ingin mereka menghabiskan malam bersama, tapi kenapa harus menggunakan minuman, ah.. tentu saja Nadia tidak tahu kalau Gavin tidak sebaik yang gadis itu pikirkan.
Sampai hari ini Gavin belum menghubungi Nadia setelah merasa pusing luar biasa Gavin memutuskan pergi dan merasa marah pada dirinya kenapa bayangan Nana-nya semakin tak terlihat dalam diri Nadia.
Gavin bisa saja masuk perangkap Nadia namun dia memilih menabrakkan dirinya pada pohon untuk membuatnya tak sadarkan diri.
Perangkap bodoh yang tidak akan mempan padanya..
Gavin menghela nafasnya lalu menurunkan kedua kakinya, dia akan melihat- lihat sebelum memutuskan pulang, sebenarnya dia baik- baik saja hanya luka kepala saja karena itu fokus dalam kecelakaan Gavin, membuatnya tak sadar.
Gavin menaiki lift dan pergi ke lantai satu dimana terletak taman disana, semoga bisa memberikan ketenangan padanya.
Gavin mendudukan dirinya di kursi taman dan merasakan teduhnya matahari.
Matahari tidak terlalu menyengat dan bagus untuk anak- anak yang bermain di taman karena suasananya teduh dan sejuk, Gavin bahkan melihat beberapa anak berseragam sepertinya tertawa dan bercanda dengan membentuk lingkaran, salah satu dari mereka ada yang memakai kursi roda dengan kepala botak.. Gavin semakin memfokuskan diri dan kebanyakan dari mereka berkepala botak namun memakai tutup kepala.
Gavin terus memperhatikan ke arah para anak itu yang mengelilingi seorang gadis berkerudung yang di tutup matanya dan mencari anak- anak yang mengelilinginya, tunggu dia tidak salah lihat kan dia gadis berkerudung yang menolak uangnya, Gadis itu sedang berjalan mencari seseorang, anak- anak itu tidak berlari seperti permainan petak umpet pada umumnya namun mereka hanya menggeser tempat mereka saat gadis itu mendekati mereka pelan.
"Bukankah kita harus lebih banyak bersyukur?" Gavin tersentak saat seorang wanita paruh baya duduk di sebelahnya, sepertinya dia juga seorang pasien.
Gavin masih tidak bicara hingga wanita paruh baya itu berkata "Setiap hari ada satu anak diantara mereka yang meninggal.."
"Anak seusia itu sudah harus menderita sakit yang menakutkan bahkan merenggut nyawa.."
"Setidaknya kita yang hanya sakit demam atau pegal- pegal, darah tinggi tidak berhak mengeluh.."
__ADS_1
"Anak sekecil itu, pasti harus menahan sakit yang amat, ketika penyakit mereka kambuh.."
Gavin melihat Najwa panik saat membuka mata nya yang tertutup kain dan meraba seorang anak yang duduk di kursi roda.
Beberapa detik lalu dia sedang tertawa dan Gavin lihat itu.. namun sekarang anak itu sudah tak sadarkan diri.
Gavin melihat Najwa menggendong gadis itu ke dalam bangsal yang bersebrangan dengannya, Gavin tersentak dan berdiri saat Najwa hampir terjatuh karena menggendong anak itu, lalu Najwa mendudukan dirinya di lantai masih memeluk anak itu dan terisak.
"Oh, anak itu pasti sudah meninggal.." Gavin menoleh melihat wanita paruh baya yang masih duduk di sebelahnya.
"Setiap hari ada saja penderita kanker yang meninggal.."
"Lalu gadis itu..?" Gavin menunjuk Najwa yang mendudukan dirinya di kursi, anak di gendongannya sudah di ambil dokter dan suster.
"Oh, dia selalu menyempatkan waktu untuk menghibur mereka meskipun.."
"Bu.." Wanita paruh baya itu menghentikan ucapannya saat mendengar seseorang memanggilnya. "Ibu kebiasaan kalau pergi gak bilang- bilang.."
Gavin menoleh melihat seorang pria seusianya menghampiri mereka "Maaf Mas, Ibu saya gak ganggu kan?"
Gavin hanya menggeleng "Ibu kalau ngobrol tuh jangan suka panjang- panjang nanti orang yang denger bosan.."
"Ih, ibu cuma cerita soal Najwa.."
"Ya udah mas, saya sama ibu saya pergi dulu.. makasih sudah menjadi pendengar yang baik untuk ibu saya."
"Ya.."
"Ya sudah nak ganteng ibu pergi dulu ya.. jangan lupa banyak bersyukur ya!"
...
Gavin menghampiri Najwa yang masih duduk dengan tatapan kosong "Kau baik- baik saja?."
Najwa mendongak dan melihat Gavin ada di sana "Ngapain Mas nya di sini.."
"Jalan- jalan sambil nunggu infusan habis.." Najwa mengangguk.
"Aku lihat tadi kau bermain di sana, lalu apa yang terjadi.."
Najwa menghapus air matanya "Ami meninggal.." setelah dari ruangan Gavin, Najwa menyempatkan diri untuk berkunjung ke teman- temannya dan menghibur dengan mengajak mereka bermain, kebetulan sekali cuacanya sangat bagus.. mereka sangat senang dan bermain bersama, sampai saat Najwa mendekati seorang anak bernama Ami dia tak bergeming bahkan tidak bersuara saat Najwa menangkapnya, dan rupanya gadis kecil itu sudah tiada.
__ADS_1
"Gadis kecil itu..? Dia siapamu?"
"Bukan siapa- siapa"
"Kenapa harus menangis.." Najwa mendongak dan melihat Gavin yang mengatakannya tanpa rasa bersalah, memang harus punya hubungan untuk bersedih dan kehilangan..
"Aku jadi ingin bertanya, apa nanti jika kamu mati apa orang lain tidak boleh menangisimu?"
Gavin terkekeh "Tidak akan ada yang menangisiku, aku kira mungkin orang- orang akan senang jika aku mati.."
"Kalau begitu aku juga ingin sepertimu, tidak perlu ada yang menangis dan bersedih jika aku mati.."
"Ya sudah Mas Gavin, infusnya sudah habis ayo ku antar ke ruanganmu" Najwa meraih tiang infus yang sejak tadi di bawa Gavin. "Ayo!"
Gavin mengeryit saat melihat Najwa sudah kembali ceria, meski tatapan matanya masih menyiratkan kesedihan namun Najwa sudah tersenyum "Kau tahu namaku..?"
Najwa mengangguk "Dari suster.. juga dari papan pasien.."
"Kau tahu mabuk itu tidak baik untuk kesehatan.."
"Apa lagi sampai membuatmu celaka, bukan seperti yang kau bilang jika kamu mati orang- orang tidak akan menangisi mu.."
"Tapi itu merepotkan orang lain, membawamu ke rumah sakit dengan susah payah sangat merepotkan.."
Gavin menipiskan bibirnya, saat Najwa tak berhenti mengoceh.
"Nah, sudah sampai.. istirahat dulu sebelum pulang ya!"
Najwa akan pergi namun tubuhnya tiba- tiba limbung, dan Gavin menahannya agar tidak terjatuh "Kau baik- baik saja..?"
Najwa segera bangun dan menjauh "Ah, iya gak papa.."
"Kau.." Gavin terkejut saat melihat darah keluar dari hidung Najwa "Kau baik- baik saja.. kau mimisan.."
Najwa menyentuh hidungnya dan benar saja hidungnya mimisan "Aku pasti kelelahan.. aku pinjam toilet ya.." Najwa segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan hidungnya.
Kepalanya berdenyut sakit dan dengan sekuat tenaga Najwa menahan dirinya agar tidak terjatuh..
Najwa mengaduk tasnya dan mencari obatnya lalu menegaknya dengan segera, Najwa menyandarkan dirinya di pintu dan memejam berharap setelahnya rasa sakitnya kembali hilang.
"Hei kau baik- baik saja?" Najwa mendengar Gavin mengetuk pintu dan bertanya namun dia tetap merasa lemas bahkan hanya sekedar menjawab Gavin.
__ADS_1
...