
Najwa baru saja akan pulang setelah membantu papanya di restoran, tidak terlalu banyak membantu sebenarnya hanya saja untuk menghabiskan waktunya karena dia juga tidak ada jadwal kuliah hari ini, jadi Najwa memutuskan untuk berada di restoran seharian.
waktu menunjukan pukul 08 malam dan Najwa memutuskan untuk pulang lebih dulu dari sang papa dan memesan taksi, mengingat sang papa yang masih sibuk..
Menaiki taksi dan mengatakan alamat rumahnya Najwa menyandarkan punggungnya, mendengarkan musik sambil menikmati perjalanan pulang.
Najwa tersentak saat tiba- tiba taksi online yang dia naiki berhenti "Ada apa Pak?"
"Ada kecelakaan Mbak.."
"Ya ampun.." Najwa akan turun namun supir taksi mencegahnya..
"Jangan mbak, gimana kalau itu cuma modus?" Najwa mengeryit..
"Modus?"
"Iya mbak, mungkin saja dia pura- pura terus pas kita keluar komplotannya datang kita di todong gimana.."
Najwa kembali duduk dengan ragu bagaimana jika perkataan supir taksi ini benar jalanan yang Najwa lewati memang sedikit sepi, namun melihat asap yang menguar dari kap mobil membuat Najwa memutuskan turun.
"Loh mbak?"
"Bapak tolong panggil ambulans.."
Najwa melihat seorang pengemudi di dalam mobil yang terluka, dengan menggedor pintu Najwa berusaha membangunkan pria tersebut.
"Mas, bangun Mas! Masnya dengar saya?"
Supir taksi yang tadi duduk juga mulai penasaran dan mendekat "Ya ampun kecelakaan beneran mbak."
"Iya pak, sudah panggil ambulan.."
"Sudah Mbak,"
"Kita harus keluarkan orangnya dulu pak"
"Iya mbak.." Najwa mengambil batu dan memecahkan kaca di sebelah dan membuka pintu, supir yang kaget pun memekik "Aduh hati- hati mbak biar saya saja.."
Najwa meringis "Saya panik pak, takut orangnya keburu mati.. hehe.."
"Ambulansnya gimana ya pak?"
"Gak tahu mbak, kok lama ya?"
"Mas gak papa?" Supir taksi memiringkan wajahnya dan meletakkannya bersandar di pohon.
Najwa memicing sepertinya dia pernah melihat siapa pria yang bersandar di pohon tersebut. "Ah.. mas yang waktu itu?" Ya, kemarin dia juga berebut taksi dengan pria itu "kita bawa ke rumah sakit aja pak.. takut keburu gak sadar.. itu udah lemes gitu.."
Supir taksi mengangguk lalu memapah pria yang hampir pingsan itu ke dalam taksi.
"Kayaknya ini masnya mabuk mbak.." Supir taksi berbisik pada Najwa setelah berhasil membaringkannya di kursi belakang.
"Masa?"
"Hehe.. bau alkohol mbak.."
__ADS_1
Najwa menghela nafasnya "Ya udah pak, kita lanjut jalan.."
...
"Pak saya urus administrasi dulu ya.. bapak tungguin saya, saya juga belum bayar taksi bapak.."
"Eh, iya mbak.." supir taksi mendudukan dirinya di depan ruangan UGD sambil melihat ke arah Najwa pergi "Si mbaknya baik banget ya.."
Najwa pulang setelah memastikan keadaan Gavin stabil, dan hanya ada beberapa luka kecil dan di tubuhnya, mungkin benar pria itu mabuk makanya terlihat lemas dan kecelakaan.
"Rugi gak sih nolongin orang mabuk.." gumamnya sambil memasuki rumah.
"Nana, dari mana saja kamu.." Mama bertanya khawatir harusnya Najwa sudah sampai di rumah dua jam lalu.
"Assalamualaikum Ma.." Najwa mencium tangan mamanya "Tadi ada yang kecelakaan, nungguin ambulans nya lama.. ya udah, kita bawa langsung ke rumah sakit.."
"Kita?"
"Aku sama pak supir taksi.." Najwa terkekeh.
Mama menghela nafas lega " Kenapa tidak beri tahu mama.."
"Aku mau telpon mama pas udah nyampe rumah sakit, eh.. hapenya mati"
"Ya udah.. kamu pasti capek, istirahat sana!" Najwa mengangguk dan berjalan ke arah kamarnya.
...
Najwa berjalan riang ke arah kelasnya seperti biasa dia akan mendengarkan musik lewat headset nya sambil berjalan.
Najwa mengeryit ada apa dengan Sarah, Najwa yakin tadi dia melihat ke arahnya.
"Sarah, hei..?" Najwa berjalan mensejajari Sarah yang masih acuh padanya. "Eh aku kemarin pulang dari restoran.. ketemu.." Najwa menghentikan ucapannya saat Sarah melihat ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Cukup Naj, aku gak mau dengar apa pun kata- kata kamu, mulai sekarang.."
"Eh, kenapa?"
"Kamu tahu Naj, aku rasa kamu cewek paling munafik yang aku kenal" Najwa mengeryit.
"Kamu bilang gak suka Amar tapi jelas kamu bohong, dan di belakang aku, kamu mendekati Amar.."
Najwa mengeryit bingung "Huh? aku gak.."
"Udah lah Naj, aku males temenan sama cewek munafik kayak kamu, kalau kamu suka kenapa gak bilang suka sih Naj, kenapa buat aku malu di depan Amar.."
"Tunggu Sar, emang Amar ngomong apa sama kamu?" Najwa memegang tangan Sarah.
"Gak penting" Sarah menepis kasar tangan Najwa lalu pergi.
"Sarah.."
Sepanjang dosen menerangkan Najwa tidak bisa fokus dan malah terus melihat ke arah Sarah yang berubah dingin padanya, sebenarnya apa yang Amar katakan pada Sarah sampai Sarah marah padanya, padahal Najwa memang tidak punya perasaan apapun pada Amar.
Jam pelajaran selesai dan Najwa merapikan buku- bukunya, Najwa melihat Sarah yang pergi terburu-buru, dan meninggalkannya.
__ADS_1
Najwa menghela nafasnya, lalu keluar kelas.. Najwa melihat sekitarnya berharap bisa bertemu Amar, tapi ternyata Amar yang biasanya menunggunya di depan gerbang untuk mengantarnya pulang juga tidak terlihat, Najwa ingin bicara dengan pria itu, sebenarnya apa yang di katakan Amar pada Sarah, sampai Sarah marah padanya.
Bukankah semua sudah di selesaikan, dan dia berjanji tidak akan mendekatkan Amar dan Sarah lagi..
Najwa menggeleng pelan saat pikiran buruk merasukinya, mungkinkah Amar marah dan menjelekannya di depan Sarah.. "Astagfirullah.."
"Mending aku pergi ke rumah sakit, lihat pria kemarin, apa dia sudah sehat.." Najwa melambai dan memasuki taksi yang akan membawanya ke rumah sakit.
...
Najwa mengeryit saat melihat ranjang rawat pria semalam kosong "Kemana?"
"Eh, mbak yang semalam nganter mas ini ya?"
"Iya sus, udah pulang ya, bagus deh kalau sudah sembuh.."
"Loh, belum mbak, Mas Gavin minta di pindah ke ruang VIP katanya disini gak nyaman.." Najwa melongo tak percaya.
"Oh namanya Gavin, hehe.. orang kaya kayaknya ya sus.."
Suster tertawa "Mbak mau jenguk, ruangannya di lantai tiga ruangan anggrek no 14.."
"Ya sudah makasih sus, aku jenguk dia sebentar ya.." Najwa pergi ke arah lift yang akan membawanya ke lantai tiga.
Najwa mengedarkan pandangannya mencari ruangan yang di sebutkan suster tadi, hingg dia melihat ruangan Anggrek no 14 di depannya.
Mengetuk pintu lalu masuk saat terdengar suara berat menyapanya.
"Assalamualaikum.." Najwa mengeryit melihat Gavin diam tanpa menjawab salamnya 'Non muslim mungkin' gumamnya dalam hati.
Gavin masih memperhatikan gadis berkerudung di depannya, diakah yang menolongnya semalam "Masnya sudah baikan ya.." Najwa meletakkan parsel buah di atas nakas.
"Kamu yang menolongku?"
"Oh, iya.. saya yang bawa mas ke rumah sakit.."
Gavin mengangguk ".., aku akan mengganti uangmu untuk perawatanku kemarin.."
"Eh, gak usah mas.. saya ikhlas.."
Gavin menggeleng "Aku tidak suka berhutang budi pada orang lain.." Najwa mengedikkan bahu.
"Terserah Mas kalau gitu.."
"Berikan nomer rekeningmu" Najwa mengatakan nomer rekeningnya, sedangkan Gavin mengotak ngatik ponselnya.
Tak lama Najwa mendengar notifikasi di ponselnya dan membelalakan mata saat melihat jumlah uang yang di berikan Gavin "Ma..mas gak sebanyak ini.."
"Tidak apa, anggap itu tanda terimakasihku.."
Najwa menghela nafasnya uang yang Gavin transfer adalah sebanyak seratus juta sedangkan dia hanya menghabiskan sekitar 5 juta untuk perawatan Gavin, itupun menguras tabungannya.. "Saya akan kembalikan sisanya, karena saya sudah mengatakan saya ikhlas, jadi harusnya mas gak perlu repot mengganti uang saya, dan saya maklum kalau mas gak mau berhutang budi, dan menggantinya, tapi saya gak terima tanda terimakasih dalam bentuk uang.. cukup katakan terimakasih itu sudah sangat membuat saya senang."
...
....
__ADS_1