Cinta Najwa

Cinta Najwa
Perasaan Najwa


__ADS_3

Gavin sedang mengawasi targetnya, ternyata dia seorang turis yang sedang berlibur, namun di tengah jalan mobilnya tiba- tiba mogok, Gavin memutuskan untuk menghentikan pengintaiannya karena sudah menemukan jadwal turis itu besok dan akan melakukan tugasnya di esok hari.


Gavin meninggalkan mobilnya di tengah jalan dan memutuskan mencari taksi, namun saat menemukan taksi Gavin malah berebut dengan seorang gadis.


"Loh, Mas saya duluan.."


"Kamu tidak lihat kaki ku sudah masuk dan pasti aku yang lebih dulu.."


"Gak bisa gitu dong Mas, jangan mentang- mentang kakinya panjang terus bilang ini taksi Mas.. gara- gara kaki Mas masuk duluan."


"Loh?.." Gavin tak peduli saat gadis itu berdecak kesal, dia mendudukan dirinya.


"Jalan Pak..!"


"Pak ke restoran Samara ya!"


"Gak bisa pak, saya sudah duluan.."


"Jadi saya harus kemana ya?"


"Restoran Samara, Pak.."


"Jalan Mawar Pak!"


Gavin hanya bisa pasrah saat supir taksi menyarankan mereka untuk berbagi taksi saja, dan Gavin juga tak ingin mengalah karena ego nya, dia bisa malu..


Sepanjang jalan gadis itu nampak duduk dengan gelisah, bukan- bukan karena salah tingkah seperti wanita- wanita yang berusaha menarik perhatian Gavin, namun entah kenapa matanya justru tak bisa lepas dari gadis di sebelahnya.


Saat Gavin bertanya apa yang dia lakukan, gadis itu berkata menghindari sesuatu yang tidak di inginkan, oh ayolah.. memang apa yang akan terjadi saat Gavin bahkan tak bisa melihat kulit paha atau bahkan leher jenjang.. hanya ada aroma parfum yang tercium di hidungnya.


Tapi anehnya justru tatapan Gavin tak lepas darinya di saat semua wanita berlomba mendekat gadis ini justru menjauh,


Awalnya Gavin kira aroma lembut yang dia cium dari taksi yang dia naiki, parfum mobil yang baru mungkin, namun setelah di hirup lebih dalam ternyata aroma tersebut datang dari gadis berkerudung di sebelahnya.


Hingga saat gadis itu menerima panggilan yang Gavin yakin itu ayahnya, karena sesekali dia memanggilnya Papa, gadis itu menyebutkan kata Nana..


"Siapa namamu?" Gavin melihat gadis itu mengerutkan keningnya, sedangkan Gavin mengutuk diri sendiri, kenapa mendengar nama Nana membuatnya sensitif memangnya di dunia ini nama Nana hanya satu, dan sudah jelas Nana nya adalah Nadia.. "Lupakan!."


...


Najwa mencebik saat Gavin bertanya namanya lalu sedetik kemudian berkata lupakan..


Supir taksi menghentikan mobilnya di depan restoran Najwa..

__ADS_1


"Ini restorannya mbak..?"


"Oh, iya Pak.. mau makan dulu pak? mumpung masih ada promo gratis 50% kalau posting di sosial media.."


"Wuuuahhh untung dong Mbak.


"Alhamdulillah kita juga di untungkan pak..


"Nanti saya mampir deh mbak, nganter dulu Mas ini" Gavin menoleh dan melihat restoran yang terlihat asri, dari depan terlihat arena bermain anak.


"Ya udah pak, makasih ya.


Assalamualaikum..!" Najwa meletakkan uang sesuai argo dan keluar dari taksi bahkan tanpa menyapa Gavin.


Gavin mengerutkan keningnya saat merasa sesuatu yang aneh dengan dirinya, kenapa dia seperti pernah melihat gadis berkerudung itu tapi dimana?


"Jadi ke jalan Mawar Mas? atau mau makan dulu di sini?"


"Huum" Gavin bergumam lalu menyandarkan dirinya di kursi seraya menutupi hatinya yang gelisah.


Supir taksi terkekeh lalu melajukan mobilnya kembali.


...


"Kamu kesini?"


"Hmm.. abis anter Sarah aku langsung ke sini.. kamu naik taksi?"


Najwa tersenyum canggung, merasa tak enak hati dengan Amar, padahal dia tidak bohong Papanya memang akan menjemput, namun karena restoran sedang sibuk jadilah Najwa naik taksi.


"Bisa bicara sebentar.."


Najwa mengangguk dan mengikuti amar duduk di kursi dekat rak buku.


"Aku suka kamu Najwa.." tanpa basa- basi Amar langsung mengatakan perasannya pada Najwa,


Najwa mengedipkan matanya tak percaya dengan apa yang di katakan Amar.


" Aku tahu kamu menghindar dan malah mendekatkan aku dengan Sarah, tapi jika kamu tahu aku suka kamu.. harusnya kamu tahu kalau cinta juga tidak bisa di paksakan, aku menyukai kamu bukan Sarah, gak seharusnya kamu melemparkanku pada Sarah yang sama sekali aku gak punya perasaan apapun."


"Jadi aku mau bertanya, bisakah aku mendekati kamu lebih jauh.." Najwa menegang.


"Aku.." Najwa menghela nafasnya "Maaf kalau aku lancang, tapi aku gak bermaksud memperlakukan kamu seperti barang, kata melemparkan itu sepertinya aku sangat jahat.. aku sama sekali gak tahu tentang perasaan kamu sama aku.."

__ADS_1


"Tentang Sarah, dia lebih dulu suka sama kamu jadi aku hanya ingin dia bisa lebih dekat dengan kamu.. aku pikir jika mendekatkan kalian akan bagus kamu baik dan aku yakin kamu cocok dengan Sarah.."


"Lalu kamu? apa kamu juga suka sama aku?" Amar tak peduli tentang Sarah, yang ingin Amar pastikan adalah perasaan Najwa, dan bisakah mereka mulai pendekatan dengan serius.


Najwa menunduk "Maaf, aku hanya menganggap kita teman.."


Amar menghela nafasnya "Aku ngerti.." Amar tersenyum dan membuat Najwa semakin tak enak hati.. dia dengar dari Sarah jika sepertinya Amar memang menyukainya tapi tidak menyangka secepat ini Amar akan mengungkapkannya.


"Aku hargai kejujuran kamu, tapi mulai sekarang tolong jangan berusaha mendekatkan aku lagi dengan Sarah, karena jika Sarah salah faham dia akan tersakiti, rasa cinta itu tidak mudah untuk berpindah tempat, jika itu terjadi maka cinta itu sendiri tidak sungguh- sungguh, dan aku bersungguh- sungguh cinta sama kamu, perasaanku juga bukan jenis yang egois yang hanya mengharapkan balasan, jadi kamu tenang saja dan jangan merasa terganggu atau terbebani.." Najwa tertegun di merasa tertohok jadi niat baiknya mendekatkan Amar dan Sarah salah..?


Mungkin tidak salah jika saja yang Amar sukai bukan dirinya, tapi Najwa..?


"Maaf.."


"Tapi kita masih teman kan Naj..?"


Najwa mengangguk merasa bersalah.


"Makasih, aku pulang dulu.." Amar tersenyum dan Najwa bisa melihat tatapan Amar juga penuh kekecewaan, hanya kata Maaf yang dia ungkap, tanpa bisa membalas perasan Amar.


...


Najwa menelungkupkan wajahnya di meja belajarnya dia baru saja mengatakan masalahnya pada sang Mama..


"Aku salah ya, Ma?"


Mama mengelus kepala Najwa yang memakai penutup kepala, seperti katanya Najwa memangkas habis rambutnya tak bersisa "Kamu gak salah, cuma.. kamu gak perlu ikut campur apa lagi kalau kamu tahu Amar sebenarnya menyukai kamu.. urusan perasaan itu sudah ada yang mengatur, dan memang benar tak bisa di paksakan"


"Aku gak tahu, aku kira dia sama perhatiannya kayak ke orang lain.. dan aku gak paksa Amar."


"Iya, tapi kamu terus mendorong Amar dekat dengan Sarah.."


"Jadi sebenarnya anak Mama ini suka sama Amar atau tidak.." Mama tersenyum menyeringai.


"Aku.. aku gak kepikiran sampai suka- sukaan atau punya hubungan Ma, aku takut saat aku menyukai seseorang, dan orang itu menjauh karena kondisiku.." Najwa tersenyum sendu "Lagi pula siapa yang mau sama cewek penyakitan.."


"Nana!"


Najwa menunduk "Kamu spesial, anak mama luar biasa, jangan jadikan penyakit kamu penghambat kebahagiaan kamu, selama itu masih dalam batas kewajaran, Mama ingin kamu menikmati hari- hari kamu. diantara beribu orang akan ada satu orang yang menerima kamu tanpa melihat kondisi kamu."


"Dan jangan menyerah tentang penyakit kamu, Mama yakin kamu akan sembuh jadi kamu gak boleh berkecil hati.."


....

__ADS_1


__ADS_2