
Keesokan harinya...
Kepala Brey sangat sakit sekali akibat perbuatannya sendiri minum alkohol terlalu banyak. Ia memegang kepalanya saat terbangun dari tidurnya. Pria itu mencoba mengingat bagaimana ia bisa kembali ke rumahnya, namun ingatannya belum kembali sepenuhnya.
Brey memaksakan diri turun dari ranjangnya, ia langsung menuju kamar mandi. Dan saat tubuhnya tersiram air dingin, barulah ia ingat kejadian semalam. Matanya terbelalak lebar saat ingat ayah dan ibunya semalam yang menyambut kepulangannya. Brey segera menyelesaikan mandinya, ia segera bersiap-siap seraya keluar dari kamarnya.
Brey mencari keberadaan orang tuanya, saat melihat keduanya ada di ruang makan. Ia segera memeluk ibunya.
"Kau sudah bangun, nak?"
"Maafkan aku mah, seharusnya aku menjemput kalian di bandara. Apa aku sangat merepotkan kalian semalam?" tanya Brey.
"Tentu saja tidak, ayo kita sarapan," ajak ibunya.
Brey duduk diantara mereka, ayahnya justru menatapnya tajam.
"Apa itu caramu menyelesaikan masalah, Brey?" tanya ayahnya tajam.
"Pah, lebih baik kita sarapan terlebih dahulu," ujar ibu Brey.
"Terus saja kau memanjakannya, lihatlah sikapnya. Ia sudah dewasa, tapi sikapnya masih saja liar. Bukankah ia ingin menikahi wanita yang dicintainya, apakah seperti itu caranya."
"Maaf, pah," ujar Brey untuk pertama kalinya meminta maaf pada ayahnya.
Ayah Brey menatap kesedihan yang ada pada wajah putranya, kemarahannya pun mereda saat Brey mau mengakui kesalahannya sendiri.
"Baiklah, makan sarapanmu. Kau tidak boleh lemah Brey, anak satu satunya Mahardika tidak boleh lemah karena masalah cinta."
Brey menganggukkan kepalanya.
"Ayah Bella pemilik hotel J kan? Kami akan kesana Brey," ujar ibu Brey membuat Brey terkejut.
"Kalian akan langsung menemuinya?"
"Tentu saja, mereka berani memisahkan putrinya dari putra kami. Papa ingin tahu alasan yang sebenarnya dari mereka."
"Sebenarnya itu karena ulah Brey di masa lalu pah. Brey memang suka bermain wanita."
"Alasan itu tidak cukup kuat. Kau masih remaja yang tahunya bermain saja. Apakah seseorang tidak bisa berubah?"
Brey hanya bisa terdiam.
"Serahkan masalah ini pada kami nak, kau pasti akan mendapatkan Bella kembali. Tapi ingat Brey, mama tidak ingin kau menyakiti Bella jika memang kita berhasil meyakinkannya."
"Mama tenang saja, Brey benar benar mencintai Bella. Brey tidak akan pernah menyakitinya."
"Itu sudah cukup, papa dan mama akan mengunjungi pemilik hotel itu."
"Baiklah, Brey serahkan masalah ini pada kalian. Brey harap mereka akan mengubah keputusannya."
Ibu Brey memegang tangan putranya, ia berusaha menenangkan dan meyakinkannya. Mereka pun melanjutkan sarapan mereka.
*****
Harry Atdmaja (papi Bella) dan Billi Bastian Atdmaja (bang Billi) sedang berada di salah satu hotel milik mereka. Hotel J adalah salah satu hotel milik keluarga Bella. Sejak kejadian Bella ingin menikah, bang Billi akhirnya memutuskan untuk membantu ayahnya mengurus hotelnya di Jakarta.
__ADS_1
Walaupun kekasih bang Billi masih berada di Inggris, tapi pria itu memantapkan hatinya untuk kembali ke negaranya sendiri.
Siang itu mereka sedang meeting untuk membahas pembukaan cabang hotel barunya di Manado. Setelah selesai membahas pembukaan hotel J di Manado tersebut, mereka pun kembali ke kantornya masing-masing.
"Billi... ikut papi ke kantor," pinta Harry Atdmaja.
Bang Billi menganggukkan kepalanya seraya mengikuti ayahnya.
"Bagaimana Bella, papi tidak ingin melihatnya sakit Bill. Papi bahkan menyesal telah memukulnya," ujar Harry setelah mereka sampai di kantornya.
"Papi tenang saja, Bella menjadi urusan Billi."
"Bill... papi tidak tahu kenapa kau bersikeras tidak setuju dengan hubungan mereka. Sebenarnya apa yang terjadi Bill?"
"Pria itu tidak baik untuk Bella pi, aku sudah mencaritahu tentangnya."
"Apa kau masih ingat pesan mami sebelum meninggal? Jaga adikmu, sayangi ia. Bukankah yang kau lakukan ini malah menyiksanya Bill?"
"Karena aku sangat menyayanginya, aku melakukan hal ini pi."
"Tapi jangan terlalu keras padanya. Kau sedang memisahkan Bella dengan pria yang dicintainya Bill. Itu akan menyiksa batinnya."
"Mengapa papi tiba tiba bersikap lemah seperti ini? Bukankah papi setuju dengan keputusanku?"
"Karena papi sangat menyesal telah memukulnya. Bella benar, selama ini papi terlalu keras mendidiknya."
"Ya Tuhan pi, ini semua untuk kebaikannya. Bella seharusnya mengerti mengapa papi mendidiknya dengan keras."
Harry menghela nafasnya, "papi harap kau bisa membuat Bella tersenyum lagi Bill. Hanya itu yang ingin papi katakan, kau kembalilah bekerja."
*****
John Mahardika dan istrinya tiba di hotel J. Mereka tak bisa menunggu lama lagi untuk menyelesaikan masalah putranya Bryan Mahardika (Brey). Keduanya langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan pemilik hotel tersebut.
"Apakah sudah membuat janji tuan?" tanya resepsionis tersebut.
John menggelengkan kepalanya, "tak bisakah kalian menghubungi pria itu? Katakan saja Mahardika ingin bertemu dengannya."
"Mohon maaf tuan, tanpa janji temu anda tidak bisa menemuinya."
"Aku sudah bilang, tolong hubungi saja pria itu."
"Tapi tuan..."
Braaakkk...
Seketika John Mahardika memukulkan kepalan tangannya ke meja resepsionis tersebut.
"Apa seperti ini cara kalian melayani tamu?" tanya John penuh amarah.
Seketika istrinya langsung menenangkan John.
"Atasan kalian jangan terlalu sombong. Tak bisakah ia menemui tamunya sendiri," teriak John.
"Mohon maaf tuan, itu sudah menjadi peraturan disini. Tolong jangan menyulitkan pekerjaan kami," ujar resepsionis itu lagi.
__ADS_1
Suara teriak John Mahardika membuat tamu yang lain menatap ke arahnya. Bang Billi yang ingin berkeliling hotel, tak sengaja mendengar keributan itu. Pria itu langsung mendekati meja resepsionis.
"Ada apa ini?" tanya bang Billi seraya menatap mereka.
"Begini pak manager... tamu ini ingin bertemu dengan pak Harry, tapi belum membuat janji temu. Kami hanya menjelaskan bahwa..."
"Presiden saja tidak sesombong pimpinan kalian," sergah John.
Bang Billi menatap John Mahardika.
"Maaf tuan, aku manager hotel disini. Apakah anda memiliki sesuatu yang penting hingga ingin menemui pemilik hotel ini?"
"Lebih dari penting, ini masalah harga diri seorang Mahardika."
Bang Billi mengerutkan keningnya.
"Mahardika? Aku sepertinya pernah mendengar nama itu. Mahardika..."
Bang Billi terbelalak saat mengingat nama itu.
"Oh jadi kalian orang tua dari Bryan Mahardika," ucap bang Billi.
"Kau bahkan mengenal putra kami," kata John.
"Kalian datang mencari keributan, apakah tidak malu hanya untuk membela putra kalian yang baji*gan itu."
John Mahardika terbelalak, amarahnya semakin besar saat mendengar penghinaan itu.
"Siapa kau? Berani sekali menghina putraku. Apakah pantas seorang yang terlihat berpendidikan sepertimu menghina anak orang lain?" bentak John.
Bang Billi tertawa, "aku Billi Bastian Atdmaja, kakak dari Bella sekaligus putra dari pemilik hotel ini. Aku mengatakan hal ini karena sesuai dengan kenyataan."
"Kau..."
"Berhentilah sayang, kita datang untuk membicarakan hal ini baik baik," kata istri John.
"Apa kau tidak mendengarnya mah, ia menghina putra kita."
"Aku tahu, tapi tenangkan dirimu pah. Ini demi putra kita juga."
"Setelah mendengar ucapannya, aku tidak menyetujui Brey menikah dengan Bella."
"Oh itu bagus, aku juga tak ingin menyerahkan adikku pada pria brengsek seperti putra kalian," celetuk bang Billi.
Harry Atdmaja segera keluar dari kantornya. Pria itu segera menuju resepsionis setelah mendapat kabar jika terjadi keributan karena ada seorang pria yang ingin menemuinya. Dan saat ia melangkahkan kakinya mendekati resepsionis, pria itu mendengar ketidak sopanan yang dilakukan putranya.
"Ya Tuhan Billi, jaga sopan santunmu. Apakah pantas kau mengatakan hal itu. Lihatlah keributan yang kau timbulkan saat ini," ucap Harry.
Seketika bang Billi terkejut mendengar suara ayahnya.
"Mohon maaf tuan atas ketidak..." Harry menghentikan ucapannya saat melihat pria yang ada di samping Billi.
Matanya terbelalak lebar karena sangat terkejut...
*****
__ADS_1
Happy Reading All...