
Harry Atdmaja terpaku pada sosok yang ada di samping putranya itu. Sahabatnya yang menghilang untuk menikah dengan wanita Inggris, sahabatnya yang sudah belasan tahun tidak bertemu dengannya. Kini tepat ada di depannya.
"Oh Tuhan... Kau benar benar John... John Mahardika..." kata Harry terkejut.
"Ya Tuhan... Harry... Jadi kau Harry Atdmaja sahabatku?" sahut John.
Keduanya melepaskan tawa mereka seraya saling berpelukan. Istri John juga bang Billi hanya menatap keduanya dengan bingung.
"Jadi inikah istri Inggrismu yang cantik itu?" tanya Harry.
"Benar Harry... ini istriku yang aku puja dan bisa membuatku tinggal di Inggris selama belasan tahun," jawab John seraya memperkenalkan istrinya pada Harry.
"Jangan bicara disini John, ikutlah denganku. Oh ya Tuhan... aku masih tidak mempercayai semua ini," kata Harry seraya mengajak John menuju kantornya.
John dan istrinya mengikuti Harry tanpa memperdulikan sekitar. Begitu juga dengan Harry, ia hanya menoleh ke belakang dan menyuruh bang Billi mengikuti mereka.
*****
Harry dan John tertawa bersama setelah mereka saling bertukar cerita. Keduanya saling melepaskan kerinduan dengan cara mereka masing-masing.
"Bagaimana rasanya tinggal di Inggris? Kau benar benar melupakanku John," ujar Harry.
"Itu tidak benar, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Tapi bisnisku disana yang memaksaku untuk tetap tinggal lebih lama, Harry."
"Yah... aku memang pernah dengar soal bisnis restoranmu itu John. Lalu apa yang membuatmu bisa kembali ke Indonesia?"
"Jangan pura pura tidak tahu Harry, kau sudah dengar tadi. Kami adalah orang tua Brey, orang yang kalian tolak. Kau lah yang memaksaku kembali kesini."
Harry melepaskan tawanya, "ternyata ada hikmahnya juga karena masalah anak anak kita John."
"Sikap putra sulungmu membuatku sangat marah Harry. Mengapa ia sangat mirip sekali denganmu?" ejek John.
Harry kembali tertawa, "oh ya ampun, aku benar benar minta maaf atas sikap Billi, John. Didikanku yang keras membuatnya jadi tidak sopan pada orang yang lebih tua. Dan masalah putriku, jika saja sejak awal aku tahu Brey adalah putramu, mana mungkin aku memisahkan mereka."
"Aku memaklumi sikap putramu, ia bersikap seperti itu karena sangat menyayangi adiknya. Aku justru bangga padanya," ujar istri John.
"Tapi aku benar-benar menyesal atas ucapannya yang menghina putra kalian. Kemarilah Billi, papi akan mengenalkanmu pada mereka."
"Santai saja, mungkin ini karena ada kesalahpahaman yang terjadi," jawab John.
Bang Billi dengan malas mendekati mereka. Siapapun mereka, ia tetap tidak ingin Bella jatuh ke tangan pria seperti Brey.
"Billi... ini John Mahardika sahabat papi saat sekolah, dulu pria inilah yang membantu papi membangun usaha hotel dari kecil hingga hotel kita sesukses ini. Minta maaflah atas sikap kasarmu tadi," perintah Harry kepada Billi.
Bang Billi membungkukkan tubuhnya, "maaf atas perbuatanku tadi om."
John tertawa, "sudahlah... lupakan kesalahpahaman kita tadi. Harry, putramu ini benar benar sama persis denganmu. Apa kau sudah menikah?"
Bang Billi menegakkan tubuhnya lagi, ia paling malas jika seseorang membahas soal pernikahan dengannya.
"Putraku sepertinya lebih suka melajang John, ia sering kabur jika aku membahas masalah pernikahan," kata Harry sambil terkekeh.
__ADS_1
"Ya Tuhan... benarkah itu? Kau akan menyesal Billi, pernikahan itu suatu ikatan yang kuat dalam hubungan."
"Kau dengarkan ucapan om John, Bill. Pernikahan tak menakutkan seperti yang kau bayangkan."
Bang Billi menghela nafasnya, ia benar benar tidak menyukai pembahasan ini. Melihat wajah putranya yang semakin kesal, Harry pun akhirnya mencari pembahasan lain.
"Kau tahu Billi, kenapa papi memberi nama hotel kita menjadi Hotel J?" tanya Harry.
Bang Billi menggelengkan kepalanya.
"J adalah inisial dari nama om John Mahardika, sampai papi mati pun, papi tidak akan pernah melupakan jasanya kepada papi."
Bang Billi terkejut, ini pertama kalinya ia tahu masalah ini. Karena sebelumnya, ayahnya selalu merahasiakan semuanya.
"Apa yang kau katakan, Harry. Semua keberhasilanmu ini, bukan karena jasaku. Tapi karena kerja kerasmu yang sangat luar biasa," ujar John.
"Kau selalu merendahkan diri, John. Aku tak akan pernah melupakannya. Saat aku berada dalam masa sulit, saat aku dan istriku sangat terpuruk. Kau lah orang yang pertama membantuku, kau lah orang yang ada di balik kesuksesanku ini."
"Kau jangan berlebihan, Harry. Kau adalah satu satunya sahabat terbaikku. Oh iya, bagaimana kabar istrimu?"
"Iya sangat bahagia John. Tapi kebahagiannya bukan bersamaku. Ia bahagia bersama Tuhan disana."
John dan istrinya terkejut.
"Maksudmu?"
Harry menganggukkan kepalanya, wajahnya sangat sedih saat mengingat mendiang istrinya.
"Tidak apa apa John, itu sudah lama berlalu. Aku akan menceritakannya nanti. Kau lah yang menghilang John, bahkan semua kontakmu kau non aktifkan."
"Ada masalah tersendiri saat itu. Sulit sekali menjelaskannya, yang jelas aku menetap di Inggris bukan karena istriku saja, Harry."
"Sepertinya kita banyak kehilangan waktu untuk saling mengetahui satu sama lain, John. Aku harap kita bisa menebusnya nanti."
"Kau benar, masih banyak yang harus kita bicarakan. Tapi saat ini, bisakah kita membahas anak anak kita terlebih dahulu? Aku datang dengan niat baik, Harry. Putra kami saat ini sangat kacau, keadaannya semakin memprihatinkan karena sangat merindukan Bella."
Harry terkekeh geli mendengar ketidaksabaran sahabatnya.
"Kau memang tidak pernah berubah John, selalu saja langsung ke pokok permasalahan. Kau tidak perlu khawatir, kita atur pernikahan mereka secepatnya," jawab Harry membuat semuanya terkejut.
"Bebaskan adikmu Billi...pilihan adikmu sudah tepat, Tuhan mentakdirkan mereka bertemu tanpa perjodohan," imbuh Harry.
Bang Billi terkejut atas keputusan ayahnya, walaupun Brey adalah putra sahabat ayahnya tapi apa yang dilakukan Brey tetap tidak baik. Ia tetap tidak ingin adiknya menikah dengan pria itu.
Melihat ekspresi wajah bang Billi yang sangat keberatan membuat John Mahardika beranjak dari tempat duduknya. Pria itu mendekati bang Billi seraya menepuk pundaknya.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, aku tahu kau sangat mengkhawatirkan Bella. Tapi kau bisa memegang janjiku Billi, putraku akan membahagiakan Bella. Ia sudah berubah, kenakalannya tidak akan pernah dilakukan lagi. Jika ia menyakiti Bella, aku lah orang pertama yang akan menghukumnya," ujar John.
Bang Billi terkejut mendengar ucapan pria itu. Ia menatap ayahnya yang menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih om, aku sedikit tenang. Baiklah, aku akan menyerahkan Bella pada keluarga kalian. Tolong jaga adikku dan sayangi ia seperti kami yang sangat menyayanginya."
__ADS_1
John Mahardika memeluk bang Billi, dan suara tawa pun berderai di ruangan itu.
*****
Brey mengendarai mobilnya menuju hotel J, ia sangat mencemaskan kedua orang tuanya karena sampai saat ini belum ada kabar sama sekali.
Sesampainya di hotel, Brey langsung bertanya pada staf resepsionis. Dan staf tersebut langsung menunjukkan arah kemana orang tuanya berada. Ia tak menyangka akan semudah itu mendapat jawaban.
Seorang staf lain justru mengantarkannya ke kantor pemilik hotel J. Brey pun langsung mengetuk pintu kantor tersebut.
"Masuk..."
Suara seorang pria terdengar dari dalam ruangan. Dengan ragu Brey membuka pintu itu. Brey terkejut melihat ayahnya sedang berpelukan dengan salah satu pria disana. Ia yakin jika pria itu adalah ayah Bella. Kedatangan Brey membuat semuanya terkejut.
"Ya Tuhan, kenapa kau kemari, nak," ujar ibunya.
"Apa yang terjadi disini?" tanya Brey kebingungan.
"Jadi inilah pria tampan yang akan menjadi menantuku?" tanya Harry.
John terkekeh, "benar Harry, inilah putra kami Bryan Mahardika yang kalian panggil Brey."
"Yah... akhirnya aku tahu kenapa ia playboy John. Lihatlah wajahnya itu, campuran Indo-Inggris, sangat tampan. Wajar jika banyak wanita yang mendekatinya," kata Harry seraya tertawa.
Brey terbelalak, "aku janji tidak akan seperti itu lagi om. Aku sangat mencintai Bella."
"Aku tidak butuh janjimu, aku butuh bukti. Jika kau sampai menyakiti adikku, aku akan membunuhmu, tidak perduli siapa orang tuamu," ancam bang Billi.
Sontak John dan Harry kembali tertawa.
"Ya Tuhah, kalian serius sekali. Jangan menakutinya Billi. Brey kemarilah...!" pinta Harry.
Brey mendekati pria itu, ia masih bingung melihat keakraban antara ayahnya dan ayah Bella.
"Jangan bingung Brey, aku adalah sahabat ayahmu. Dan tentu saja aku merestui hubungan kalian," ucap Harry membuat Brey terbelalak.
"Sahabat? Jadi pelukan tadi?" tanya Brey.
"Itu adalah pelukan kesepakatan kami menjadi besan. Selamat datang dalam keluarga Atdmaja, Brey," jawab Harry.
Brey menatap ayah dan ibunya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Brey duduk di antara mereka dan mendengarkan masa lalu ayah dan sahabatnya itu. Wajah Brey sangat senang, ia akhirnya bisa mendapatkan Bella kembali. Tuhan berada di pihaknya, ternyata kekasihnya adalah putri dari sahabat ayahnya sendiri.
Brey beranjak dari tempat duduknya, "om... aku akan menemui Bella."
Bang Billi ingin mencegahnya namun Harry dengan cepat menahan putranya.
"Temuilah kekasihmu itu," ucap Harry.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Brey langsung berpamitan pada mereka. Ia bahkan nyaris berlari keluar ruangan membuat mereka kembali tertawa melihatnya.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...